Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 37


__ADS_3

Hai... Hai...Hai...👋


Gimana Reader....😉


Semakin seru dan membuat penasaran kah? 😊


Tulis dikolom komentar yaaa 😉


Trus jangan lupa like, vote dan love yaaa😍


💛💛💛


Sebuah perkembangan yang baik buat Ergin, putra Aiyla sudah mulai mau berbicara padanya. Ada harapan besar bagi Ergin untuk dapat mengambil hati anak lelaki itu.


"Ibu...Bukannya ibu pandai menunggang kuda?" ungkap Azaam seraya membelai lembut kepala seekor kuda.


Ergin terkejut atas apa yang barusan dikatakan oleh Azzam. Sedangkan Aiyla hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya membenarkan perkataan putranya.


"Jagoan.. Apakah kau ingin melihat anak kuda yang baru lahir?" ucap Gul dengan bersemangat.


Sahabatnya itu sangat senang melihat Azzam dapat menikmati suasana dipeternakan itu. Berusaha membiarkan Aiyla dapat bersama Tuan Ergin, Gul ingin Aiyla bisa sedikit menghilangkan kesedihan yang dirasakan sahabatnya itu selama ini.


Azaam menoleh kearah ibunya seperti meminta izin padanya melalui isyarat dari tatapan matanya yang polos. Memberikan senyuman lalu mencium dahi putranya.


"Kau harus tanyakan pada Tuan Ergin...Nak," ungkap Aiyla dengan menatap wajah putranya dengan penuh cinta.


Ergin melihat betapa dekatnya Gul dengan putra Aiyla, begitu juga Aiyla dengan putranya yang memperlihatkan kasih sayang dimata Ergin.


"Tentu saja boleh," balas Ergin pada anak lelaki yang ada dihadapannya seraya tersenyum dan membelai lembut rambut kepala Azzam.


Gul dan Azzam pergi kekandang kuda untuk melihat anak kuda yang baru saja berumur seminggu. Wajah anak lelaki itu sungguh penasaran dan sangat antusias untuk segera sampai dan ingin melihat anak kuda yang dimaksud itu.


Sedangkan Aiyla dan Ergin sedang berjalan keluar dari kandang kuda. Mereka berdua bermaksud untuk menunggang kuda. Awalnya Aiyla menolak ajakan Ergin, namun tanpa menyerah Ergin terus memintanya menunjukkan bahwa Aiyla bisa menunggang kuda. Akhirnya Aiyla luluh hatinya dan menerima ajakan Ergin.


"Dimana kau belajar cara menunggang kuda," tanya Ergin penasaran dengan Aiyla.


Setelah melihat sendiri dengan terlatih Aiyla menaiki keatas pelana dan mengendalikan kuda tersebut untuk berjalan mengiringi langkah kaki kuda milik Ergin.


Sungguh jarang ditemukan wanita saat ini yang memiliki hobi yang sama dengan dirinya yaitu menunggang kuda. Hobi yang sama membuat Ergin menjadi lebih bahagia dan bersemangat untuk segera memiliki wanita yang tengah berkuda disampingnya.


Menyusuri ladang dan hutan dengan perbukitan, kuda yang mereka tunggangi berjalan pelan sesuai dengan tali kekang yang dipegang oleh kedua tangan mereka berdua.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku ingin melihat seberapa hebat dan lihai kau menunggangi kuda ini? " ungkap Ergin dengan senyum meremehkan Aiyla.


Aiyla menerima tantangan yang diberikan lelaki disampingnya itu dengan membalas balik meremehkan Ergin dengan sudut ujung bibirnya seraya menatap pada laki-laki itu.


Dengan batas finis yang telah ditentukan mereka, yaitu jika salah satu diantara mereka berdua yang sampai lebih dulu ketempat penginapan yang ada di peternakan dimana mereka berkumpul tadi, maka akan dianggap menang.


Aiyla dan Ergin bersiap dengan posisi masing-masing. Memberikan semangat pada kuda yang mereka tunggangi dengan membelai lembut dibagian samping leher kuda.


Dengan saling menatap, mereka berdua mulai menghitung bersama.


Satu...Dua... Tiga...


Secara bersamaan mereka langsung menarik tali kekang dengan kencang dan sedikit menendang perut kuda dengan kaki sebagai tanda untuk segera berlari kencang.


Cukup jauh lintasan yang harus mereka lalui berdua, karena mereka telah lama berjalan meninggalkan penginapan disaat mereka berkumpul tadi.


Aiyla merasa sedikit terhibur atas apa yang dilakukannya kali ini. Menunggang kuda terkadang dapat melepas segala perasaan sedih yang ada dihati dan pikiran.


Kini ia kembali mengingatkan akan sosok lelaki yang dibanggakannya. Medapatkan segala kasih sayang dari lelaki itu.


Terlintas kembali pada masa kecil yang bahagia disaat Aiyla belajar pertama kali dengan ayahnya dikampung. Ayah Aiyla memang seorang peternak dan memiliki dua ekor kuda untuk membatu kerja ayahnya dipeternakan tersebut.


Dari sanalah Aiyla dapat dengan lihai dan cekatan dalam menaiki kuda ketika dirinya menggiring sapi masuk kedalam kandang setelah habis merumput disebuah lahan yang luas.


"Tuan akan tertinggal," ucap Aiyla yang melihat Ergin yang memperlambat langkah kaki kudanya.


Ergin hanya ingin menghabiskan waktu berdua agar lebih lama dengan memperlambat lari kudanya. Berusaha hanya menyeimbangi saja lari kuda yang ditunggangi Aiyla.


Namun tak ingin pula diketahui oleh Aiyla, bahwa dirinya sengaja dengan tindakan dirinya yang memperlambat lari kudanya.


"Aku akan menang." ungkap Aiyla yang sangat senang mengalahkan Ergin.


Kuda yang ditunggangi Aiyla lebih sampai dulu dari pada kuda Ergin. Padahal Ergin sengaja membuat wanita itu memenangkan taruhan yang dibuatnya.


Para pegawai yang melihat dari jauh Aiyla dan Ergin yang barusan sampai dengan berlomba memacu kuda yang sedang ditunggangi mereka berdua.


Mereka semua kagum dan terkejut bahwa Aiyla dapat duduk diatas pelana kuda dengan lihai dan santai.


"Selamat... Nyonya, kau bisa mengalahkan Tuan Ergin, " ungkap salah satu dari mereka seraya bertepuk tangan.


"Ya...Kau benar Tuan Mehmed. Aku akan belajar lebih dengan Aiyla dalam hal ini," balas Ergin seraya tersenyum.

__ADS_1


Aiyla hanya tersipu malu atas ucapan dari salah satu dari mereka dan balasan dari Ergin, dimana semua mata tertuju pada dirinya dengan Ergin yang datang secara bersamaan.


Murad yang barusan melihat kedekatan Ergin dan Aiyla memasang wajah tak percaya. Seperti curiga bahwa Ergin telah mengutarakan isi hatinya kepada wanita dihadapanya itu.


"Aku tahu kau sudah mengutarakan perasaan mu. Pada wanita itu... Ergin, kalau tidak mana mungkin kau tersenyum bahagia dengan wajah terlihat jelas dimata mu," batin Murad dihatinya.


Murad berdiri dan mendekati Aiyla dengan mengulurkan tangannya kedepan Aiyla untuk membatu Aiyla turun dari kuda.


Sebenarnya tanpa bantuan itupun Aiyla mampu turun dari kuda itu. Namun dirinya tak ingin menolak bantuan atasannya itu yang dilihat oleh semua mata yang ada disana.


Ergin tahu atas sikap yang dilakukan oleh Murad. Dirinya tahu benar bahwa lelaki itu sedang mengambil simpati dan kesempatan agar disukai oleh Aiyla.


Hari mulai gelap matahari kembali berputar sesuai dengan putarannya dan berganti menjadi malam.


Aiyla sedang menatap lepas kearah depan. Suasana disini sungguh dingin terasa sampai dikulit padahal dirinya telah memakai sweter yang tebal.


"Aku teringat akan ayah... Dirinya yang membuat aku bisa menunggangi kuda walaupun ibunya merasa tak senang akan putusan suaminya itu, " batin Aiyla dengan tersenyum menatap langit dimalam itu.


Aiyla adalah anak tunggal, ayahnya selalu membawa kemana saja ayahnya pergi. Termasuk pada saat menggiring sapi balik ke kandang dengan menunggang kuda.


Dirinya ingat benar bahwa ibunya terkejut ketika melihat putri semata wayangnya sedang menunggang kuda bersama suaminya.


Senyum telah menghiasi diujung bibir dari wajahnya, Aiyla sedikit terhibur akan masa kecilnya yang penuh rasa bahagia dan mendapatkan kasih sayang penuh pada kedua orangtuanya.


"Ayah...Ibu, semoga kalian ditempatkan disurga yang indah disana," ucap lirih Aiyla seraya mengusap kedua pundak dan lengannya karena udara dingin merayap masuk kedalam kedalam sweternya malam ini.


Tiba-tiba seseorang datang dari belakang dengan membawa sebuah kain tebal yang besar sehingga menutupi separuh tubuhnya.


"Kau menikmati suasana disini," tanya Gul yang ikut memandang lepas kearah depan.


Aiyla yang tadinya terkejut dengan kedatangan seseorang secara tiba-tiba, kini dapat mengendalikan rasa kagetnya setelah melihat yang datang adalah Gul.


"Kau ingat Gul saat kita masih kecil, bermain dipeternakan tempat ayahku bekerja. Pada saat itu kita merasakan kebahagian walaupun kita hidup jauh dari kemewahan," ungkap Aiyla dengan tatapan matanya yang menerawang menembus kenangan indah itu.


Gul tersenyum dengan menatap sahabatnya, dan membenarkan perkataan dari Aiyla. Rasa rindu akan kedua orangtua menyelinap dihati keduanya.


Walaupun tak serindu Aiyla yang telah ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya, namun Gul masih memiliki keluarga yang masih lengkap saat ini.


"Aku juga rindu...Ayah dan Ibuku La," ucapnya yang telah meneteskan bulir bening diujung matanya.


Gul memang jarang pulang kampung, bukan berarti tak ingat akan keluarga yang ada dikampung. Wanita itu setiap bulan selalu menyisihkan gajinya buat kedua orangtuanya.

__ADS_1


Untuk meraih kesuksesan dikota Gul menekan rasa rindu terhadap kedua orangtuanya dengan terus bekerja dan tak ingin menghabiskan uang untuk sering pulang kerumah. Hubungan mereka hanya lewat telpon setiap bulannya.


Kedua orangtua Gul mengerti akan tindakan anak gadisnya, yang sangat jarang pulang kerumah.


__ADS_2