
Author butuh suplement nih πͺπͺbiar tambah semangat ππdengan cara klikπππ
1. πLike diakhir bacaan π
2. π Love jadikan favorit π
3. π Gift sekuntum mawar lebih juga boleh π
4. π― Vote π
5. β Rate Star 5 π
Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author ππ Semoga masih tetap setia π dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam ππ
Jom lanjuuut ngebaca π¨π¨π¨
π₯Happy Readingπ₯
π π π
Sebuah sentuhan dari tangan kecil telah mendarat diwajah Gul, menepuk ringan wajah Gul yang masih terlelap. Gul membuka matanya secara perlahan-lahan dan terlihat putri kecilnya yang telah terbangun, sedang berada disampingnya dan begitu juga Murad.
Ayah dan anak itu sengaja membangunkan Gul yang masih mengantuk. Melihat wajah mereka berdua Gul tersenyum. Pertama kali disaat pagi hari, Gul membuka matanya terlihat dua orang yang sangat dicintainya telah berada disampingnya.
Dilec menepuk wajah ibunya seraya memanggil sapaan kata ibu. Putri kecilnya itu sudah pandai berbicara dengan suara cedalnya. Gul terbangun dan Muradpun tersenyum telah berhasil membuat wanita disampingnya terbangun.
"Ada apa sayang? Membangunkan ibu sepagi ini? "
Tanya Gul pada putrinya seraya melirik kearah Murad. Dilecpun tersenyum seakan mengerti perkataan dari ibunya lalu putrinya berbaring diatas tubuh Gul.
Setelah mendengar sebuah isyarat dari Murad barulah Gul mengingat bahwa mereka berniat untuk pulang kampung kerumah kedua orangtuanya.
"Dilec anak ibu yang cantik dan pintar, ibu lupa bahwa hari ini kita akan bertemu dengan keluarga ibu dikampung. Sebentar lagi Dilec akan bertemu dengan kakek dan nenek dikampung ya Nak..."
Gul bangkit dari tidurnya seraya mengangkat tubuh putrinya, kemudian berjalan kearah kamar mandi. Baju tidur yang dikenakannya masih memikat mata dan membuat tergoda bagi yang melihatnya walau dalam keadaan bangun tidur.
Murad bangkit dan tak sabar langsung memeluk tubuh Gul dari belakang. Dilec melihat ayah dan ibunya yang berdiri didepan seraya saling berpelukan.
"Murad...Ga enak dilihat putri mu itu. Ayo lepaskan!! Aku ingin segera mandi dan segera pulang kerumah untuk menyiapkan keperluan kita selama disana."
Terdengar suara Gul namun Murad masih tak ingin melepas pelukannya. Melihat keadaan seperti itu tentu membuat laki-laki itu bernafsu.
__ADS_1
"Berikan aku satu ciuman baru ku lepaskan."
Balas Murad yang tak malu dilihat oleh putri kecilnya yang hanya tersenyum lalu turun dari tempat tidur kemudian mengejar mereka berdua.
Gul menyambut putrinya karena pelukan Murad yang telah lepas dari tubuhnya. Gul menyentuh pipi putrinya kemudian pipi Murad secara tiba-tiba. Lelaki itu merasa senang atas tindakan yang diberikan oleh Gul padanya pagi ini.
Setelah tiga jam kemudian mereka berempat termasuk Nyonya Syukran telah berada dalam satu mobil yang sama menuju kekampung halaman Gul.
Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar dua jam setengah, sehingga Nyonya Syukran memutuskan untuk tidur selama perjalanan tersebut.
Sedangkan Gul menemani Murad yang sedang mengendarai mobil itu sendiri. Kali ini mereka tak meminta sopir pribadinya untuk mengantar karena tak tahu pulang dari sana beberapa hari.
"Sayang... Kalau seadainya mereka tak menerima mu bagaimana? "
Ungkap Gul merasa cemas dan khawatir karena selama pelariannya kekota kecil itu Gul berterus terang pada kedua orangtuanya bahwa dia sudah tidak memiliki hubungan dengan Murad dan satu hal lagi bahwa Gul tak memberitahukan bahwa Gul telah memiliki seorang anak perempuan.
Kenyataan ini yang membuat Gul khawatir dan cemas menyelimuti hatinya. Takut kedua orangtuanya tak dapat menerima dan merestui niat mereka untuk segera menikah.
"Aku yakin mereka aka menerima ku, jangan risau. Apalagi kita telah memiliki putri kecil yang cantik. Dilec akan meluluhkan hati nenek dan kakeknya."
Ucap Murad seraya menggenggam tangan wanita yang sangat dicintainya. Murad begitu percaya diri dengan perkataannya.
"Apakah desa ini tempat tinggal Aiyla juga?"
Tanya Murad pada saat memasuki simpang kearah rumah Gul.
"Benar tiga rumah dari rumah ku adalah rumah orangtua Aiyla namun saat ini sudah dijual karena Aiyla hanya sebatang kara dan ikut suami kekota kecik tempat aku melahirkan Dilec."
Ungkap Gul sembari tersenyum menatap laki-laki yang ada disampingnya.
Mereka telah memasuki halaman yang luas dan begitu asri karena masih banyak ditemukan pepohonan hijau disekeliling perkarangan rumah.
Rumah itu sangat sederhana namun terkesan rapi, bersih dan tertata rapi. Gul mengetuk pintu rumah tersebut.
Mereka pulang tanpa memberitahukan kepulangan mereka berdua pada kedua orangtua Gul. Tentu saja wajah wanita paruh baya itu terkejut setelah membukakan pintu
Telah berdiri Murad bersama Gul dan dibelakangnya Nyonya Syukran yang menggedong cucu satu-satunya.
"Gulver.. Ya Tuhan... Putri ku... Mari masuk Nak... "
Ungkap ibu Gul dengan ramah dan sopan. Wanita itu sangat terkejut karena kedatangan mereka secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Perkenalkan bu... Ini Nyonya Syukran, ibunya Murad. "
Ucap Gul seraya memperkenalkan ibu kandung Murad pada ibunya. Rasa penasaran juga terlihat diraut wajah wanita paruh baya itu karena kedatangan mereka bersama seorang anak perempuan berumur lebih kurang 2 tahun.
"Ini putri kami."
Ungkap Murad dengan bangganya memperkenalkan anak perempuan yang sedang digendong ibunya.
Ibu melihat Murad sungguh dalam dan tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. Putri kita artinya putri Gul dan berarti adalah cucunya.
Mulutnya terbuka namun secepatnya ditutup dengan telapak tangan lalu mundur kebelakang karena begitu terkejutnya.
"Gulll.. Veeerrr... "
Ucapnya dengan suara berat dan terputus, matanya membulat seakan hendak keluar dari wajahnya.
"Tenang Nyonya, mari kita duduk terlebih dahulu. "
ungkap ibu Murad yang melihat keadaan wanita dihadapannya yang begitu shock dengan bijaknya dan menggiring tubuh ibu Gul untuk duduk diatas sofa tamu yang ada diruang tersebut.
Wanita itu tak berkedip menatap anak perempuan dan begitu juga Gul dan Murad secara bergantian. Matanya lebih lama menatap kearah putri kecil mereka berdua yang sekarang dipangku oleh ayahnya.
"Gul kau begitu tega menikah tanpa kehadiran kami berdua, dan baru saat ini kau bisa kemari setelah putri mu sebesar ini."
Terdengar pelan dan suara yang terbata-bata disaat berkata pada putrinya yang ada tepat dihadapannya.
"Ibu tak tahu, Apakah ayah mu dapat menerima semua ini disaat putri yang dibanggakannya tak menghargai dirinya sebagai sosok seorang ayah kandung. Seorang laki-laki yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang tapi tak berhak hadir disaat putri tercintanya menikah."
Ucap pilu terdengar keluar dari mulut ibunya Gul seraya meneteskan bulir bening dikedua ujung matanya.
"Nyonya... Jangan salahkan putri mu, tapi salahkanlah aku yang ada dihadapan mu ini. Aku yang terlalu bodoh sehingga Gul tak dapat berterus terang bahwa dirinya sedang hamil saat itu. "
Ucap Murad dengan hanyut akan masa disaat dirinya tak mengetahui maksud dari wanita yang ada dihadapannya kala itu sedang tengah berjuang atas janin yang didalam rahimnya.
"Apa... !!!"
Teriak ibu Gul dengan pikirannya yang tak bisa mengerti dan shock bahwa Gul menikah setelah diketahui hamil terlebih dahulu.
Tiba-tiba saja pandangan wanita itu mulai kabur dan lama kelamaan menjadi gelap. Dengan kepala berasa berputar sangat kencang sehingga terasa pusing.
Akhirnya ibu Gul tak sadarkan diri dengan tersandar diatas sofa panjang diruang tamu tersebut .
__ADS_1