
Bagaimana Reader....?Apakah Aiyla dan Ergin dapat segera menikah?😱
Tulis dikolom komentar yaaa 🙏
Like, Vote, love dan Gifh, serta Rate star 5😉😉
Jom Lanjut Ngebaca...🎉🎉
Salam hangat dan manis untuk Reader setia 😉😉
🌟🌟🌟
Aiyla masih dengan setia menunggu Ergin dirumah sakit. Lelaki itu telah dipindahkan keruang inap pagi ini. Sudah 3 hari lelaki itu berada dirumah sakit.
Aiyla bolak balik antara rumah sakit dan tempat ia bekerja. Beruntung ada Yaren yang juga setia menunggu majikannya itu.
"Yaren...Apa ia belum datang?" Tanya Ergin.
Lelaki itu seperti tak ingin jauh dan lama berpisah dengan Aiyla. Baru pagi ini sebelum kekantor menyempatkan diri melihat Ergin dan menyuapkan bubur pada lelaki itu.
Sore ini dirinya telah bertanya kembali, kapan wanita itu datang menjenguk kembali. Ergin seperti seorang anak lelaki yang sedang merengek untuk kedatangan seorang ibu.
"Tuan... Anda sudah tahu jam pulang dari kantor, sekarang baru saja jam 04.30 sore tentu Nyonya masih diperjalanan pulang dan menuju kemari, " ungkap wanita yang tersenyum melihat tingkah majikannya itu.
Ergin tak lepas pandangannya menatap jam diding yang menempel disalah satu dinding diruang inap tersebut.
Pergerakan jarum jam terasa lama baginya. Dengan sabar sembari membaca majalah yang ada diberikan Aiyla untuk mengusir rasa bosan berada diruang tersebut.
Dreet... Dret... Dreet...
Ponselnya berdering terlihat asistennya melakukan panggilan masuk. Segera menerima panggilan tersebut.
"Tuan... Kejadian penculikan yang terjadi dengan Nyonya Aiyla dan penembakan pada Tuan sepertinya sengaja ditutupi oleh seseorang. Pekerjaan mereka sangat rapi Tuan, sampai pihak berwajib tidak dapat menemukan bukti terjadinya penembakan ditempat lokasi kejadian. Penculik yang berhasil kabur tak dapat diketahui jejaknya. Pihak berwajib penutup kasus ini karena tidak ditemukan bukti kuat terjadinya penculikan disana dan penyebab tertembaknya Tuan karena kelalaian saja." Ungkap asisten pribadinya dengan nada serius dan kesal.
__ADS_1
Ergin mengerutkan dahinya, merasakan kejanggalan yang sangat terlihat didepan matanya. Tidak pernah terjadi penculikan dan penembakan ditempat kejadian dan peluru yang sempat bersarang didadanya hanya karena kelalaian semata.
"Jadi mereka pikir aku anak kecil yang baru memiliki mainan dan tanpa sengaja menembak diriku sendiri," balas Ergin kesal dan tak terima dengan apa yang disampaikan asistennya.
Mendengar perkataan dari Ergin membuat asistennya meminta maaf namun sejujurnya Ergin tidak menyalahkannya. Ini pasti ada ikut campur seseorang yang berpengaruh dikota ini.
"Baiklah...Selama aku tidak dikantor. Kau handle pekerjaan disana tapi buat laporan setiap harinya kepada ku dan setiap kau membuat keputusan harus kau bicarakan pada ku terlebih dahulu," ucap Ergin memberikan perintah yang tegas pada asisten yang saat ini diberikan kepercayaan penuh padanya.
Tak percaya dengan apa yang terjadi, sudah jelas peluru itu ditembakan pada lelaki yang melarikan diri tersebut. lukanya saja belum mengering, bisa-bisanya penculikan terhadap Aiyla tak pernah terjadi.
Pintu kamar terbuka dilihatnya wanita yang sedari tadi diharapkan kehadirannya. Tatapan mata Ergin dari kesal menjadi cemas dan khawatir.
Setelah melihat wajah Aiyla, lelaki itu merasakan ketakutan yang luar biasa sehingga Aiyla merasa bingung dengan tatapan Ergin terhadapnya.
"Ayaaaah," teriak Azzam dengan seikat bunga mawar ditangannya.
Anak lelaki itu sedikit meredakan kecemasan dan ketakutanya dengan suara manja memanggil dirinya.
Sikap manja dan tingkah laku putranya sedikit meredakan rasa tegang dan cemas yang melanda Ergin.
Kehadiran Azzam membuat riuh suasana diruang inap yang tadinya terasa sunyi. Celotehanya dan tawa riang menguasai seluruh ruang inap tersebut.
"Ayaah cepat sembuh, kita akan pergi nonton seperti yang pernah ayah katakan itu," ucap manja Azzam dengan bergelayut dipergelangan tangan Ergin.
Aiyla tersenyum melihat tingkah laku putranya yang begitu polos. Putranya benar-benar menganggap Ergin sebagai Ali.
Namun hatinya terselip kesedihan tak kala Azzam tak mengingat ayah kandungnya yang sangat mencintainya. Hadirnya sosok Ergin akankah Azzam lupa siapa ayah kandungnya.
Bulir bening diujung matanya jatuh tak dirasakan Aiyla. Ergin melihat wanita yang berdiri tak jauh darinya sedang memandang dalam Azzam yang tengah bermanja denganya.
Isyarat mata Ergin sengaja dituju pada Aiyla, wanita itu mengerti isyarat yang diberikan oleh lelaki yang ada dihadapannya.
Melangkahkan kakinya mendekati Ergin seraya tersenyum dengan mata yang telah berair.
__ADS_1
"Ada apa ?" Tanya Aiyla setelah berada dipinggir tempat tidur.
Ergin menatap lama wajah Aiyla, rasa cemas, sayang dan rasa khawatir membaur menjadi satu. Sehingga Ergin terdiam sesat dengan mata tak lepas menatap Aiyla.
"Menikahlah dengan ku...Walau ini bukanlah suasana yang tepat dan tak ada cincin ditangan ku, tapi aku memberikan hatiku pada mu seutuhnya," ungkap Ergin dengan meraih tangan Aiyla dan meletakkan tepat didadanya yang masih diperban.
Aiyla menitikkan bulir bening, rasa dihatinya bercampur menjadi satu. Ia tak menyangka lelaki itu begitu tulus dan penuh cinta yang ditawarkan padanya saat ini.
Menatap kearah Azzam yang turut mendengar perkataan ayahnya itu. Anak lelaki itu tahu maksud dari ayahnya. Menikah dalam gambaran Azzam adalah adanya ayah dan ibu yang tinggal satu rumah.
Azzam dan Ergin sama-sama sedang menunggu jawaban dari wanita yang berdiri dihadapan mereka berdua.
"Ya." Jawab singkat Aiyla.
Spontan dua lelaki yang ada dihadapannya memeluk tubuhnya secara bersamaan. Rasa bahagia itu menyeruak dihati ketiganya.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu sehingga kedatangan dokter dan asistennya yang telah berada didepan pintu tidak mereka sadari.
Dokter tersebut tak mau menganggu moment indah mereka bertiga. Dengan tersenyum melihat adegan yang sangat menyetuh hatinya.
Menunggu sampai Ergin meyadari kedatangan dokter dan asistennya yang setiap hari memeriksa kesehatan dirinya.
Ergin melepaskan pelukan dan begitu juga Azzam. Aiyla tersipu malu saat dokter dan asisten dokter tersebut memandangnya.
"Tuan saya akan melihat luka anda? " Ucap dokter dengan berjalan kearah Ergin bersama asistennya.
Dengan perlahan membuka perban yang menutupi luka didada Ergin. Terlihat luka yang hendak mengering itu ditekan oleh tangan dokter.
Terlihat wajah Ergin yang meringis menahan rasa sakit. Betapa tidak, luka gores sedikit saja kesentuh terasa perih. Apalagi ini sengaja ditekan agar memastikan luka yang mengering dilihat dari tak ada cairan yang keluar dari luka tersebut.
"Ini bisa dirawat jalan saja, luka Tuan sudah mengering. Besok pagi bisa pulang kerumah, tentu dirumah akan lebih cepat sembuh karena akan dirawat oleh nyonya Aiyla dengan baik." Ungkap dokter tersebut dengan tersenyum.
Hanya rona merah yang terlihat diwajah Aiyla, dirinya tersipu malu atas perkataan dokter tersebut. Ergin hanya menatap bahagia saat perkataan dokter terdengar ditelinganya dan menyelinap diruang hatinya yang telah lama ditempati Aiyla.
__ADS_1