
Hai... Hai... Hai... ππ
Masih setia ya Reader... ππ
Author ucapkan terima kasih dan mohon maaf kalau sekarang sangat sulit untuk nge-up perharinyaππ
Semoga tidak mengurangi rasa cinta kalian ya pada tulisan ini ππ
Jom lanjut ngebaca ππ¨π¨
π§Happy Readingπ§
π’π’π’
Terlihat jelas wajah yang berkerut dengan bola mata seakan keluar dari tempatnya. Murad membaca dengan seksama tulisan yang tertera dikertas tersebut.
"Seperti yang ku duga, aku seorang lelaki yang menjaga benar pada saat berhubungan dengan seorang wanita. Saat dengan istriku waktu itu yang tak menggunakan penghalang kehamilan."
Besit Murad dalam hati dengan menatap lembar kertas yang dipegangnya.
Murad berjalan dan menuju keruang makan dimana Gul tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Langkah kakinya seolah ringan dan hatinya menuntun Murad untuk menceritakan pada istrinya.
Lelaki itu merasakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan semua yang telah terjadi.
"Sayang...Ini aku telah menyiapkan sarapan untuk mu, mari duduk dulu."
Ucap Gul dengan senyum mengembang diujung bibirnya.
Walau Gul merasakan perubahan yang terjadi pada diri suaminya, namun wanita itu mampu mengendalikan emosi dan perasaannya.
Murad refleks langsung memeluk tubuh istrinya yang saat ini lebih berisi. Sudah hampir 6 bulan dirinya kurang memperhatikan istrinya.
Terlebih dengan bentuk tubuh yabg terlihat lebih berisi dan terlihat lebih semok. Gul sedikit terkejut saat suaminya dengan tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
"Hei... Ada apa ini? Seakan ada sesuatu yang terjadi pada dirimu sayang?"
Ungkap Gul dengan refleks membalikan tubuhnya dan memberikan balasan atas pelukan suaminya.
Murad meletakkan kepalanya tepat dibahu bagian kanan istrinya seraya mencium beberapa kali bagian jenjang leher Gul
__ADS_1
"Ceritakan pada ku? Apa yang sedang terjadi pada dirimu?"
Sekali lagi Gul bertanya dengan suara lembut dan mengusap pelan puncak kepala suaminya. Murad menengadah menatap lama wajah istrinya.
"Sayang maafkan aku... Untuk beberapa bulan ini aku tidak memperhatikan dirimu. Bahkan seakan menjauh dari mu dan putri kita. Maafkan aku. "
Ungkapnya dengan menitikkan bulir bening yang terasa dipundak Gul yang saat ini mengenakan baju tanpa lengan.
Mendengar perkataan suaminya ada rasa bingung sekaligus penasaran. Memang dirinyapun merasakan apa yang dikatakan oleh suaminya, tapi Gul tak menyangka bahwa laki-laki yang tengah memeluk erat tubuhnya dapat menyadari perubahan atas sikap yang terjadi pada dirinya.
"Baiklah... Aku mencintai mu sayang... Aku memaafkan mu. Namun apa yang sedang terjadi pada mu sayang?
Untuk yang kesekian kali Gul masih dengan pertanyaan yang sama karena sedari tadi Murad tidak memberikan penjelasan atas pertanyaan tersebut.
"Ini... Silahkan kau baca sayang."
Ucap Murad seraya mengeluarkan selembar kertas yang terselip disaku jasnya. Memberikan pada istrinya dengan isyarat dari matanya untuk membuka dan membaca selembar kertas yang terlipat.
Gul membuka dengan hati bergemuruh, dirinya berusaha untuk dapat mengedalikan emosinya. Sesaat matanya terpaku dan bergerak mengikuti tulisan dari kertas yang telah dibukanya, terlihat sebuah raut wajah bingung sekaligus tak mengerti maksud dari tulisan tersebut.
"Siapa anak lelaki ini dan apa hubungan dengan diri mu sayang? "
Gul mundur selangkah dan melepaskan tangan suaminya yang melingkar dipinggulnya. Terlihat Murad begitu terkejut dengan reaksi yang diberikan istrinya tersebut.
Ungkap Murad yang saat ini telah diposisi bertekuk lutut dihadapan istrinya. Dengan kepala tertunduk dan air mata telah jatuh membasahi wajah tampannya.
Gul balik terkejut dengan respon suaminya yang terlihat terpukul dan kini begitu merasa bersalah. Gul maju tepat dihadapan suaminya seraya meraih pundaknya dengan kedua tangan.
Tubuh Murad seakan mengikuti saja pergerakan tangan istrinya yang mengajak dirinya berdiri lalu duduk disebuah sofa.
Kepala Murad direbahkannya tepat didada Gul dengan penuh kasih sayang membelai lembut wajah suaminya dan menyeka air mata dengan Ibu jari Gul.
"Sayang ceritakanlah dengan runtun, apa yang sedang terjadi. Aku siap mendengarkannya, walau dengan hal yang terburuk sekalipun. "
Ungkap Gul berusaha menenangkan suaminya walau dirinyapun merasakan gejolak dihatinya.
Murad menceritakan apa yang telah terjadi dengan runtun, mulai dari awal sampai dirinya mendapatkan surat keterangan hasil tes DNA.
Dengan suara terbata-bata dan sesekali menatap wajah istrinya serta menggengam erat tangan Gul.
"Baiklah... Terima kasih telah menceritakan pada ku tentang semua ini. Aku yakin kau tak ingin hal seperti ini terjadi. Aku Ada sebuah kabar untuk mu, telah lama ingin ku katakan pada mu sayang....Namun aku melihat engkau terlalu sibuk akhir-akhir ini dan sering pulang larut malam membuat diriku tak jua memberitahukan mu. "
__ADS_1
Dengan mata berbinar Gul menatap manik hitam milik suaminya yang sedari tadi mengeluarkan bulir bening diujung matanya.
"Sayang... Apa yang ingin kau beritahukan pada ku?"
Ungkap Murad dengan menyentuh lembut punggung tangan istrinya dengan mesrah. Lelaki itu masih tak mengubah posisinya yang berada dalam dekapan Gul.
"Sebentar lagi anggota keluarga kita akan bertambah. Putri kita akan ada temannya dirumah ini."
Ungkap Gul dengan wajah berseri menceritakan pada suaminya. Spontan Murad keluar dari dekapan istrinya lalu menatap dengan raut wajah bingung sekaligus tak mengerti dengan apa yang baru saja didengar oleh dirinya.
"Apaa! Apa maksud mu sayang? Aku tak mengerti dengan apa yang yang katakan itu!"
Ucap Murad dengan dahi sedikit berkerut menatap dalam kemanik coklat milik istrinya.
"Ya... Sayang, Kita akan memiliki bayi kembali."
Ungkap Gul dengan menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan lalu menatap dengan mata yang berbinar.
"Ya... Tuhan, apa aku tak salah mendengar? Aku akan memiliki bayi kembali? "
Spontan berdiri dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya menatap wajah Gul. Masih dalam kondisi setengah tak percaya Murad mematung seakan berita baik yang sedang didengarnya membuat jatungnya berhenti sejenak.
"Benar Than Murad Sharken... Kau akan memiliki buah cinta kita yang kedua sayang."
Ungkap Gul seraya berdiri dan meraih tangan suaminya serta meletakannya tepat diatas perutnya yang telah terlihat lebih besar.
"Maafkan aku sayang... Tak melihat perubahan tubuh mu. Aku Hanya mengira Kau memang terlihat lebih berisi dan terlihat lebih montok. Tak tahunya ada buah cinta kita berdua yang ada dirahim mu."
Ungkap Murad dengan mengelus lembut perut Gul. Lelaki itu begitu bahagia dengan berita kehamilan istrinya.
Keberadaan anak lelaki yang beberapa bulan menghantuinya membuat dirinya Telah melewati masa-masa indah bersama keluarga kecilnya.
Tak pernah dibayangkannya bahwa secepat itu Tuhan memberikan dirinya keturunan kembali setelah peristiwa pengetesan DNA yang diduga adalah putranya.
"Sayang... Maafkan aku. "
Ucap Murad seraya mengecup dahi istrinya lalu beralih kebibir merah Gul dengan begitu lembut dan mesrahnya.
"Jika anak lelaki itu bukan putra ku, siapa yang dengan sengaja membuat diri ku panik dan meneror ku selama ini?"
Besit dihati Murad disaat pikiran itu terlintas kembali. Raut wajahnya seketika berubah dan diketahui oleh Gul.
__ADS_1
"Sayang... Ada Apa? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Ucap Gul dengan menatap wajah suaminya dengan penasaran atas apa yang sedang dipikiran suaminya.