
Hei...Hei... Hei... 👋👋👋
Adakah yang merindukan Author 😁😁
Selalu beri dukungan dan semangatnya ya..🙏😚
Jom lanjuuut 😍
Happy Reading
💙💙💙
Pendingin udara yang ada diruang kamar tak mampu mendinginkan hatinya yang terbakar akan rasa dendam.
Wanita paruh baya itu seakan tak menyadari gengaman tangannya memperlihatkan urat dikulitnya yang tak kencang lagi.
Sorot matanya yang tajam seakan hendak keluar dari tempatnya. Memandang sebuah photo lama yang terlihat telah kusam.
"Mengapa kau selalu mengambil semua yang ku miliki dari tangan ku. Bahkan laki-Laki yang menjadi cinta pertama ku, Elif."
Suara itu terdengar berat dan bergetar terpancar gemuruh yang ada dihatinya saat ini.
"Kita berasal dari tempat yang sama, namun mengapa? Tak bisakah kau tak mengambil satu-satunya yang menjadi milik ku. "
Sebuah photo lawas, terlihat dua anak yang berdampingan dengan mengenakan pakaian dari sebuah panti asuhan.
Duduk disebuah taman dan telihat jelas nama sebuah panti dibelakang dua anak perempuan yang duduk berdampingan tersebut.
Elif dan Esma kecil pernah hidup dalam satu atap yang sama. Mereka sama-sama terlahir dari sepasang suami istri yang tak menginginkan kehadiran mereka.
Ibu Esma dengan sengaja mengantarkan bayi merah yang belum terlepas tali pusat tersebut tepat didepan pintu masuk panti tanpa belas kasihan.
Sehingga Esma tak memiliki identitas apapun saat ditemukan didepan pintu panti tersebut. Sedangkan nasib Elif tak berbeda jauh dengan Esma.
Elif harus merasakan hidup dipanti asuhan setelah ibunya dengan sendirinya datang dan menyerahkan putri kecilnya pada pihak panti.
__ADS_1
Mereka berdua tumbuh menjadi dua anak perempuan yang sangat berbeda karakter. Esma yang tak mengetahui identitas keluarganya sangat terobsesi untuk bisa keluar dari panti.
Setiap keluarga yang berkeinginan mengadopsi
salah satu anak perempuan dari panti tersebut maka Esma termasuk yang paling antusias.
Berbeda dengan Elif yang tertanam dihatinya bahwa dirinya menyadari akan keadaan ibu kandungnya tak mampu membesarkan dirinya.
"Kau tahu Elif... Aku merasa puas setelah salah satu keluarga kaya mengadopsi ku, setelah memilih diantara kita berdua. Aku tahu bahwa saat itu pemilik panti lebih menyarankan kau yang bisa diadopsi."
Gumam Nyonya Esma dengan sudut bibir terangkat salah satunya seraya masih menatap tajam photo berwarna hitam putih dengan pinggir photo bergerigi.
Entah apa yang menjadi pertimbangan keluarga kaya yang tak memiliki keturunan itu memilih Esma, namun hari-hari yang dijalani Esma sebagai seorang anak dari keluarga kaya tak seperti yang dibayangkannya.
Hidupnya tercukupi secara materi, namun tak mendapatkan kasih sayang layaknya orangtua yang diharapkan Esma.
Ayah dan Ibu yang menjadikan dirinya anak yang berkecukupan itu hanya sebatas klim untuk mendapatkan harta warisan keluarga besar mereka.
Esma tumbuh menjadi remaja yang tak merasakan kasih sayang dari sebuah keluarga. Dirinya semakin haus akan cinta dan rasa kasih sayang serta perhatian sebagai seorang anak yang sangat dicintai oleh kedua orangtua.
Mereka tumbuh dan besar dalam sebuah pendidikan yang sama. Secara diam-diam Esma selalu memperhatikan gerak-gerik pemuda yang membuatnya jatuh cinta.
Lelaki itu terlihat sendiri dan tak memiliki siapapun disekitarnya. Lelaki itu adalah ayahnya Ergin yang membuat penyemangat Esma saat itu.
Secara tidak langsung Esma mencari identitas dan keluarga laki-laki tersebut. Ayah Ergin terlahir dari keluarga kaya namun kedua orangtuanya sibuk dengan bisnis yang dikelola keluarga besar mereka.
Informasi yang didapat membuat Esma sangat senang, menemukan lelaki yang memiliki kesamaan dalam arti kurang kasih sayang dari orang-orang terdekat.
Waktu terus bergulir Esma tumbuh dengan rasa cinta yang semakin berkembang dihatinya untuk ayah Ergin, walau tak berani diungkapkan secara langsung pada lelaki yang menjadi pujaan hatinya selama ini.
Sampai disuatu ketika dirinya dihadapkan dengan sebuah perjodohan yang harus dipenuhinya. Keluarga yang mengadopsi Esma harus menginkat sebuah janji pernikahan yang tak mampu dielak Esma.
Hatinya hancur akan perjodohan yang tanpa meminta persetujuannya. Perjodohan yang bertujuan agar ayah dan ibunya tak Jatuh miskin.
Mereka adalah sepasang suami istri yang tak dapat hidup susah. Mereka berdua rela melakukan segala cara agar tetap dalam status sosialita mereka.
__ADS_1
Esma hanya mampu menangis berhari-hari sampai suatu ketika dia dipertemukan dengan lelaki yang menjadi jodoh dirinya lewat sebuah photo.
Betapa terkejutnya Esma saat itu, lelaki yang menjadi calon suaminya adalah lelaki yang selama ini menjadi pujaan hatinya.
Dirinya merasa bodoh telah menagis berhari-hari dan tak dapat berpikir disaat dihadapkan dengan perjodohan tersebut.
Padahal sebelumnya ayah dan ibu angkatnya pernah mengatakan nama keluarga besar lelaki tersebut yang sebelumnya Esma telah ketahui dari rasa penasaran dirinya akan pemuda yang menjadi dambaan dirinya.
Semenjak mengetahui siapa yang menjadi calon suaminya, Esma tentu saja tak menolak dan bahkan bersemangat akan perjodohan yang dilakukan keluarganya.
Meminta untuk segera dipercepat hari resepsi pernikahan mereka berdua. Esma merasa mimpi yang selama ini ia rasakan akan segera terwujud.
Menikah dengan lelaki yang menjadi pujaaan hatinya. Lelaki yang dalam diam telah dicintainya selama ini. Lelaki yang Esma yakini juga merasakan juga menginginkan kehadiran dirinya.
Esma terlalu percaya diri, bahwa mereka akan saling melengkapi satu sama lain karena melihat dari kurangnya kasih sayang yang didapatkan mereka berdua.
"Elif Kau merusak mimpi yang ku bangun selama ini!! Kau mengambil lelaki yang selama ini menjadi pelita dihati ku!
Umpat Esma dengan meremas photo yang sedari tadi dipandang dirinya. Wanita paruh baya tersebut begitu kesal dan Terlihat amarah disorot matanya yang tajam.
"Tak ku biarkan anak mu mendapatkan cinta sejatinya!! Aku akan menghancurkannya dengan segala cara yang ku punya."
Terdengar suara yang berat dan terasa sangat menakutkan melihat milik wajah dari wanita paruh baya tersebut.
Disalah satu sisi Ergin membuat janji bersama Nadine akan bertemu disebuah taman tak jauh dari kantor.
Lelaki itu begitu gusar dan tak dapat mengontrol rasa cemas dan gelisahnya. Didalam hati dan pikiran Ergin adalah sosok istrinya.
Ergin tak dapat membayangkan jika Nadine tak dapat mengerti dengan apa yang akan disampaikan olehnya. Aiyla tentu akan meninggalkan dirinya dan ikut membawa buah cinta mereka berdua.
Keadaan seperti itu yang tak mampu Ergin untuk menghadapainya. Tak akan sanggup dirinya untuk menghadapi kenyataan berpisah dengan wanita yang telah membuat dirinya jatuh cinta.
Dicoba untuk memantapkan kaki melangkah menuju sebuah kursi yang sengaja didesain agar bisa bersantai ditaman tersebut.
Telah terlihat dari kejauhan wanita yang diajak Ergin untuk bertemu Kali ini. Wanita yang dulunya pernah mengisi ruang dihatinya.
__ADS_1