
Menurut Reader akankah cinta Ergin diterima oleh Aiyla?๐๐
Tulis dikolom komentar yaaa...๐๐
Plus Like, Vote, Love and Rate star 5...๐
Author menunggu jejak mu... Guy's ๐๐
Jom Lanjut Ngebaca ๐
๐ฎHappy Reading๐ฎ
๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Dekapan dari tubuh lelaki itu mengalir sebuah rasa hangat diseluruh pembulu nadi Aiyla. Terasa nyaman dan terasa begitu penuh cinta.
"Mengapa kau berdiri disini ? Ucap Ergin masih dengan memeluk tubuhnya.
Rasa hangat dan hembusan nafas dari lelaki itu terasa ditelingannya. Aiyla hanyut dalam sentuhan dan dekapan lelaki bermata biru.
"Terima kasih telah membawa kami berdua kemari," balas Aiyla seraya membalikkan tubuhnya.
Kini tubuh mereka saling berhadapan tak tersisa jarak diantara mereka berdua. Aiyla menatap dalam wajah lelaki bermata biru itu.
"Tuan... Mengapa kau begitu menyayangi putra ku?" tanya Aiyla dengan sorot mata yang tajam dan penuh keseriusan.
Dengan perlahan Ergin melepaskan pelukan dari tubuh Aiyla. Berdiri disamping wanita itu dengan pandangan mata jauh menghadap kedepan.
"Aiyla... Aku tahu bagaimana rasanya menginginkan sosok seorang ayah didalam kehidupan ini. Azzam menginginkan figure seorang ayah, bukan berarti aku ingin mengantikan tempat Ali. Aku ingin memberikan yang bisa aku berikan pada putra mu, karena sewaktu aku berumur sama dengan Azzam menginginkan hal yang sangat sederhana namun tak pernah ku dapatkan, yaitu kehangatan sebuah keluarga. Azzam masih beruntung dari pada diriku sendiri, memiliki seorang ibu seperti dirimu," ungkap Ergin dengan mata berkaca-kaca.
Begitu terenyuh hati Aiyla mendengar perkataan dari sosok lelaki bernama Ergin Ozturk yang ia tak tahu bahwa kehidupan laki-laki ini sangatlah miris.
__ADS_1
Didalam kehidupan mewah dengan status sosial yang tinggi serta segala yang ia punya namun jauh dari rasa kasih sayang, rasa cinta dan rasa kehangatan dalam suatu hubungan keluarga.
"Begitu menderitanya dirimu Tuan, kehidupan sesunguhnya yang kau jalani selama ini, " besit Aiyla seraya menahan bulir bening yang ingin jatuh diujung matanya.
Mendengar perkataan lelaki yang berdiri disampingnya itu membuat Aiyla tersadar. Karakter Ergin yang dingin, tanpa ekspresi dengan wajah datar serta selalu mengharapkan kesempurnaan terlahir karena kehidupan lelaki itu yang menciptakan dan membentuk pribadinya.
"Tuan... Aku tahu kau melakukan ini karena kehidupan dimasa lalu dan saat ini ingin kau berikan mimpi mu yang tak terwujud melalui putra ku," ungkap Aiyla yang masih menahan bulir bening yang ingin keluar diujung matanya.
Ergin membalikkan tubuhnya dan menghadap Aiyla seraya meraih tangan wanita itu. Dicium mesrah punggung tangan Aiyla.
"Aiyla... Ijinkan aku untuk menjadi bagian didalam hidupmu.. Kita lewati rasa sakit ini bersama-sama," ucap Ergin dengan mata berkaca-kaca.
Masuk kedalam mata lelaki yang ada dihadapannya, melepaskan gengaman dari tangan Ergin. Aiyla membalikkan tubuhnya menatap jauh kearah depan.
"Tuan... Didalam kehidupan ini hanya ada warna hitam dan putih. Aku terlahir dengan warna hitam dikehidupan ini. Malam pertama disaat aku ditinggalkan oleh kedua orangtua ku, dilanjutkan dengan malam aku kehilangan Ali. dan warna hitam dikehidupan tak berhenti disitu saja. Aku menjalani warna hitam berikutnya dimalam saat Azzam membutuhkan kesembuhan. Disaat yang bersamaan harga diriku ikut lenyap bersama pekat malam itu," ungkap Aiyla yang telah menangis tersedu.
Seketika Ergin memeluk tubuh wanita disampingnya itu dengan sangat erat. Rasa sedih dan sakit yang dirasakan Aiyla juga menembus jantungnya.
"Tuan... Bagaimana aku yakin bisa memberi mu rasa bahagia, sedangkan diriku sendiri tak begitu yakin bisa menghilangkan warna hitam didalam kehidupan ku ini," ungkap Aiyla kembali dengan suara berat dan terbata-bata.
Dihapusnya air mata yang membasahi wajah wanita itu dan berusaha berbicara dengan suara berat. Baru kali ini dirinya merasakan rasa yang begitu menyesakkan hatinya.
Lelaki bermata biru itu baru tersadar wanita dihadapannya ingin mencoba memberi tahu apa yang dirasakan dihatinya selama ini.
"Aiyla...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti gelapnya malam yang merindukan terbitnya Sang Fajar."
Mendengar kata yang terucap dari bibir lelaki yang ada dihadapannya membuat Aiyla kembali meraih tangan lelaki itu.
Mata mereka saling bertemu dengan tatapan mata yang sangat mendalam menembus relung hati mereka yang terluka.
"Ya....Kita bersama sampai terbitnya Sang Fajar " ucap Aiyla dengan mencium punggung tangan Ergin.
__ADS_1
Sebuah pelukan erat kembali dirasakan Aiyla, Ergin tersenyum dengan air mata bahagia. Mencium dahi Aiyla dan sekarang menyentuh lembut bibir wanita itu.
Aiyla berusaha belajar membuka hatinya kembali, hati yang dingin dan terluka. Begitu juga Ergin hati yang tak percaya akan cinta dari seorang wanita manapun kini berusaha untuk meyakinkan bahwa ada cinta yang harus diperjuangkan dirinya.
"Tuan... Nyonya...Permisi... " Terdengar suara dari luar kamar mereka dengan mengetuk pintu kamar.
Mencoba menghapus air mata yang membasahi wajah mereka berdua dan tersenyum satu sama lain. Ergin masih merangkul mesrah tubuh Aiyla seraya berjalan menuju pintu.
"Tuan... Makan malam telah siap," ucap istri penjaga peternakan.
Mereka berdua berjalan dan diikuti istri penjaga peternakan itu dibelakang mereka berdua. Masih tetap tak lepas memelukan tubuh Aiyla. Wanita itupun tersenyum karena ia dan suaminya tak pernah melihat majikannya membawa seorang wanitapun kepeternakan ini.
Aiyla adalah wanita pertama yang dibawa Ergin dipeternakan ini. Biasanya Ergin hanya akan datang sendiri ataupun bersama sahabatnya yaitu Murad.
"Tuan biar saya bangunkan putra anda, Tuan silahkan keruang makan," ucap wanita itu.
Ergin menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan dari istri penjaga lalu melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang Aiyla.
"Tak perlu. Sayang...Silahkan pergi keruang makan aku akan menyusul bersama putra kita," ucap Ergin dengan tersenyum seraya mencium pipi Aiyla dengan mesra.
Mendengar perkataan majikannya wanita itu berjalan bersama Aiyla menuju ruang makan. Didalam hati wanita paruh baya itu, merasakan kasih sayang yang penuh dari Ergin untuk anak lelaki itu.
"Tuan Ergin begitu menyayangi putranya..." ucap istri penjaga seraya tersenyum menatap Aiyla.
Aiyla membalas senyuman wanita yang ada dihadapannya. Wanita itu bercerita bahwa Ergin tak pernah membawa wanita satu orangpun kemari tapi sekarang membawa keluarganya kepeternakan ini. Terlihat rona bahagia diwajah Aiyla dan begitu juga wajah wanita paruh baya itu.
"Saya dengan Tuan Ergin bukan suami istri tapi... " ucap Aiyla dengan jujur namun tak dapat melanjutkan bicaranya.
Terjadi perubahan diwajah wanita paruh baya tersebut, rasa bahagia itu sedikit memudar diwajahnya yang tak muda lagi.
"Kami akan segera menjadi sebuah keluarga," ucap Ergin menyambut perkataan Aiyla yang terhenti dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Mendengar perkataan majikannya kembali wanita paruh baya tersebut tersenyum bahagia. Wanita itu yakin mereka bertiga sangat pas menjadi sebuah keluarga yang bahagia.