
Akankah Murad dan Ergin bersaing untuk mendapatkan Aiyla? π
Tulis dikolom Komentar ya..π
Plus like, vote, love and rate bintang 5 yaaaπ
Semuanya freee....π
Hargai tulisan Author dengan jejak kalian guys..π
πΏπΏπΏ
Aiyla meminta ijin pada sekretaris Ergin yang berada diluar ruang kerja lelaki tersebut.
"Masuk." terdengar suara dari dalam ruangan.
Aiyla meraih handle pintu dan membuka ruang kerja yang tertutup itu. Terlihat bahwa Ergin sedang menunggu kedatangan Aiyla.
"Ada apa Tuan," tanya Aiyla tanpa melihat kearah lelaki yang memiliki mata berwarna biru.
"Mengapa wajahmu seperti itu ?" balas Ergin tanpa menjawab pertanyaan Aiyla.
Aiyla merasa bahwa Ergin sengaja mempermainkan dirinya, dengan tidak menjawab maksud dan tujuan untuk memanggil dirinya.
"Apa dipikirnya aku memiliki kerjaan sedikit, sehingga membuang masa ku saja," umpat Aiyla dalam hati.
Ergin melihat wajah Aiyla membuat dirinya bertambah tertarik, entah dari ekspresi yang ditunjukkan padanya, membuatnya tertawa kecil.
Tapi ketika wanita ini mengacuhkan dirinya maka akan terasa tersiksa kembali jiwa dan raganya.
"Ini kunci mobil mu, sekarang ada diparkiran atau kau ingin aku mengantaaa.... , " ucap Ergin dengan santai
Belum selesai dirinya untuk berbicara, Aiyla telah memotong bicanya dengan sikap langsung mengambil kunci mobil yang ada diatas meja. Tak ingin diantar jemput oleh lelaki itu.
Aiyla langsung mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi. Dua kali Aiyla telah salah paham terhadap laki-laki ini.
Ergin hanya tersenyum getir, terlihat bahwa wanita itu bersikap seakan dirinya hendak berniat buruk padanya.
"Aakkhh...Aiyla akupun tersiksa dengan semua yang telah terjadi, akan ku akhiri ini semua" ucap lirih Ergin dengan wajah sendu.
__ADS_1
Sepulang dari kantor Aiyla masih harus bertemu dengan klien diluar, kali ini dirinya tak ingin berprasangka buruk pada Ergin.
Diliriknya arlogi yang ada ditangan kanannya, tertera jam 16.00. sore. Bergegas pulang dan bersiap untuk bertemu lagi dengan lelaki itu pada saat jam makan malam.
Ergin sengaja tak memberikan alamat pertemuan dengan klien malam ini, namun akan menjemput Aiyla diapartementnya.
"Aku harus bersikap positif, dan ini adalah pekerjaan yang harus dijalani bukan makan malam berdua saja dengan Ergin," besit Aiyla dalam hati.
Sebuah longdress berwarna kream membalut tubuh Aiyla dengan cantiknya. Rambutnya sengaja dibiarkannya terurai dengan gelombang diujung rambutnya secara alami.
Memoles wajahnya dengan warna nute terkesan natural dan sedikit terang dibagian bibirnya dengan warna merah merona.
Terdengar bell yang ditekan seseorang, Fusun membukakan pintu. Dirinya tahu bahwa Aiyla akan makan malam bersama para klien dari perusahaan yang bekerja sama dengan tempat Aiyla bekerja.
"Selamat malam Tuan Ergin, silahkan masuk dan silahkan duduk, Aiyla masih bersiap," ucap Fusun dengan ramah dan sopan.
Ergin membalas dengan tersenyum atas keramahan wanita yang menjadi pengasuh Azzam.
"Bibi Fusun...Azzam ingin tidur dan dibacakan cerita ini," ucap manja Azzam yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
Ergin menikmati sikap manja Azzam pada pengasuhnya, terlihat sekali wajah anak lelaki itu duplikat dari wajah yang ada diphoto yang terpajang didinding.
"Hai...Azzam, masih ingat saya," tegur Ergin seraya berdiri mendekati anak lelaki yang sedang bergelayut manja pada Fusun.
Fusun kembali memberikan isyarat pada Azzam untuk membalas perkataan darinya. Anak lelaki itu masih tak ingin mengeluarkan suaranya, hanya menganggukan kepalanya saja.
Ada rasa sedih dihati Ergin karena dirinya tak pandai membuat anak lelaki itu dekat dengannya. Berbeda pada saat Murad berbicara dengan Azzam sewaktu dibioskop.
Terasa bahwa Azzam merasa nyaman dan tak merasa canggung, padahal mereka berdua sama-sama baru bertemu.
"Tuan Ergin," sapa Aiyla dari belakang.
Setelah Azzam masuk kekamarnya, Ergin kembali terteguh melihat kebahagian yang tergambar dari wajah mereka bertiga didalam photo tersebut tanpa menyadari Aiyla telah lama berdiri dibelakangnya
Ada rasa sedih dan perih terasa kembali direlung hatinya yang terdalam, akankah dirinya mampu memberikan kebahagian seperti lelaki yang ada didalam photo tersebut.
"Apakah ini Ayahnya Azzam," tanya Ergin pada Aiyla yang telah berdiri disampingnya.
"Benar," balas Aiyla singkat.
__ADS_1
Deru mobil Ergin telah melintas dijalan raya yang masih ramai, sopir Ergin mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Setelah sampai disebuah restoran yang mewah dan hanya dari kalangan orang tertentu yang dapat masuk dan menikmati makanan dan minuman yang ada direstoran itu.
Aiyla berjalan disampingnya, Ergin terlihat sangat tampan malam ini. Lelaki itu memang membuat para wanita terpesona akan parasnya yang tampan.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa para pelayang yang ada didepan pintu masuk.
Mereka berdua naik dilantai dua yang ada direstoran tersebut. Terdengar suara alunan musik yang indah dan merdu mengiringi Aiyla dan Ergin menaiki tangga.
Aiyla belum merasakan bahwa ini adalah rencana Ergin yang sengaja membuat suasana malam ini menjadi romantis.
Memasuki ruang dan didepan pintu telah menunggu pelayan dengan menyapa mereka berdua sangat ramah.
"Silahkan Tuan...Nyonya," ucap pelayang tersebut dengan membukakan pintu.
Baru lah Aiyla tersadar bahwa Ergin sengaja membawa dia kesini seorang diri karena tak terlihat siapapun didalam ruang makan nan besar malam ini.
Beberapa pemain musik masih memainkan alat musik yang berbeda ditangan mereka masing-masing. Aiyla menghentikan langkahnya untuk memasuki ruang makan tersebut.
Ergin tahu dengan perubahan wajah wanita disampingnya yang terkejut, refleks tangannya menahan pergelangan tangan Aiyla yang hendak berbalik arah.
Aiyla mulai menunjukkan sikap dingin dan tak senang telah dibohongi olehnya ditambah dengan lirikan matanya kearah tangan Ergin yang memegang pergelangan tangan wanita itu.
"Maaf...Ku mohon jangan pergi, kalau aku mengatakannya dengan terus terang pasti kau tak akan mau untuk pergi," ucap Ergin dengan tatapan mata memohon.
Ergin melepaskan tangannya secara perlahan dari pergelangan tangan Aiyla. Kemudian wanita itu menerima permintaan Ergin untuk tidak pergi saat ini juga.
Berjalan kedepan beriringan dan menuju sebuah meja dengan lilin yang telah menyala ditengah-tengah meja. Suara alunan musik masih terdengar merdu dan indah sedikit membuat Aiyla dapat mengendalikan amarahnya.
"Silahkan." ucap Ergin yang menarik kursi untuk Aiyla duduk.
Aiyla memperhatikan semua ruangan tersebut, ternyata ruang itu telah disulap sedemikian rupa terkesan sangat romantis.
Aiyla tak menyangka lelaki ini mempersiapkan untuk dirinya. Ternyata dibalik sikap dingin lelaki yang ada dihadapannya kini, memiliki sisi romantis juga.
"Aiyla maafkan aku.... Aku menyadari bahwa selama ini aku telah terbakar atas permainan ku sendiri. Pada saat itu, aku dengan prasangka buruk menguji diri mu, namun sekarang aku lah yang tersiksa dan tersakiti. Sungguh sulit, untuk ku percaya pada seseorang apalagi itu wanita," dengan mata berkaca-kaca dan wajah menatap dalam kearah Aiyla.
Terlihat sekali penyesalan didalam mata lelaki bermata biru itu. Namun Aiyla masih terdiam dan hanya menatap wajah Ergin tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1