
Menurut Reader, Aiyla terkesan egois ga tuh jika tak mengganti sapaannya pada Ergin?π¦π¦π¦
Tulis dikolom komentar ya Guy's π
Like, vote, love, and rate star 5πππ
Plizzz i'm waiting for you reader..π₯π₯
π’Happy Readerπ’
"Sayang.....Bangun, Bagunlah... Mengapa kau tertidur disini? "
Dengan mencium puncak kepala Aiyla lalu mengangkat tubuhnya kedalam kamar. Tatapan mata itu sangat dirindukan oleh Aiyla. Senyum mesrahnya dan aroma tubuhnya yang amat dirindukannya.
"Ali.... Ali...Aliiii..."
Teriakan Aiyla menyadarkan dirinya sendiri terjaga dalam tidur. Mimpi yang barusan terjadi serasa begitu nyata. Sentuhan suaminya dan aroma tubuh Ali yang biasa Aiyla rasakan masuk kehidungnya begitu nyata.
Aiyla bangkit dari posisi tidur lalu duduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Mengusap-usap berulang kali dengan menggunakan telapak tangannya.
"Ini hanya mimpi yang indah." ucap lirih Aiyla dengan tersenyum getir diujung bibirnya.
Terdengar suara bel dipintu, Aiylapun terkejut secara tiba-tiba bel itu ditekan dari luar. Azzam telah tertidur dan begitu juga Fusun.
Diliriknya jam yang tertempel disalah satu dinding ruang tamu, menunjukkan diangka 22.00.
"Siapa yang semalam ini bertamu," ucap Aiyla masih terlihat wajahnya dari bangun tidur.
Berjalan kearah pintu dan membukakan pintu tersebut. Matanya membulat penuh dan dahinya berkerut menatap seseorang yang telah berada didepan pintu rumahnya itu.
"Tuaaan... Ergin !!! ucap Aiyla dengan suara sedikit keras masih menatap tak percaya.
Dua kali dalam sehari, lelaki ini membuat Aiyla spot jantung atas tindakan yang selalu tiba-tiba hadir dihadapannya.
Rasa bersalah yang dirinya rasakan tadi sore membuat Aiyla refleks langsung memeluk tubuh lelaki bermata biru itu. Pelukan itu disambut hangat oleh Ergin.
"Oh... Sayang ku....Aku merindukan mu, kau membuatku tersiksa akan rasa rindu ini," ucap mesrah Ergin dengan membisikan ditelinganya.
Akhirnya mereka berpelukan cukup lama dan ketika duduk disofapun tangan Ergin masih melingkar ditubuh Aiyla.
"Mengapa datang semalam ini ? " Ungkap Aiyla dengan membelai lembut lengan Ergin.
Wajah lelaki yang sekarang memeluknya dari belakang dengan posisi duduk berbeda sewaktu meninggalkan kantor Aiyla.
__ADS_1
Kini begitu lembut menatap dirinya dan sentuhan-sentuhan yang begitu mesrah dirasakan tubuhnya melalui jari jemari Ergin.
"Mengapa kau tak memanggilku dengan nama saja," ucap Ergin dengan mencium bagian jenjang belakang lehernya.
Tanpa sadar Aiyla menelan air liurnya atas sentuhan yang dirasakan tepat pada daerah sensitif wanita yang diberikan lelaki tersebut.
Tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan padanya tapi malah beralih dengan kata sapaan yang menjadi pembicaraan.
"Gul benar, lelaki ini sedang cemburu pada Harun," besit Aiyla dalam hati dengan membuat lengkung diujung bibirnya.
Ergin lagi-lagi menyentuh daerah sensitifnya dan Aiyla menikmati sentuhan tersebut. Dirinya seperti balik pada mimpi yang baru saja terjadi sebelum kedatangan lelaki itu.
"Aiyla... Mengapa tak menjawab ku, " ucap Ergin dengan wajah terlihat sendu.
Dengan mengubah posisi duduknya, kini Aiyla tepat dihadapan lelaki itu dengan tubuh saling berhadapan. Hanya tersisa satu jengkal saja antara dada bidang Ergin dengan tubuh Aiyla.
"Apakah itu sangat berarti bagi Tuan ? " Tanya Aiyla dengan kedua tangan telah berada dipundak lelaki itu.
Dengan isyarat mata Ergin memberitahu Aiyla. Isyarat lelaki bermata biru itu dapat dimengerti oleh dirinya. Dengan memberikan senyuman sehingga terlihat lesung pipi dikedua pipinya.
Senyuman yang begitu menarik Ergin untuk menyentuh bibir wanita sang pemilik senyum. Aiyla memberikan respon atas sentuhan yang diberikan padanya.
Kini sentuhan dikedua bibir mereka berdua begitu panas dan membuat Aiyla terasa sesak. Tak dapat bernafas dengan lega, merasakan itu Ergin menghentikan gerakan lidah dan mulutnya.
Hanya dengan menyentuh lembut dahi lelaki bermata biru dengan bibir namun tak mengeluarkan kata-katanya. Tindakan wanita yang sekarang masih duduk dipangkuannya itu sangat dirasakan Ergin begitu hangat.
"Baiklah...Dimana putra ku aku ingin melihat dirinya," ungkap Ergin seraya melirik kesalah satu kamar.
Aiyla beranjak dari posisi duduk dan meraih tangan lelaki itu untuk mengikuti dirinya masuk kedalam salah satu kamar yang ada dirumah tersebut.
Terlihat wajah tenang dan damai disaat anak lelaki itu tengah tertidur pulas. Ergin duduk disalah satu sisi tempat tidur Azzam, lalu meraih tangan kecil putranya.
Mencium berulang-ulang kali punggung tangan Azzam. Mata lelaki itu berbinar terlihat kebahagian dan rasa rindu terpancar dikedua bola mata berwarna biru itu.
Aiyla yang berdiri tepat disampingnya hanya memperhatikan setiap sentuhan yang diberikan Ergin terhadap putranya.
"Azzam merasakan rindu yang sama...Anak lelaki ini selalu menghitung hari kepulangan Tuan," ungkap Aiyla dengan suara pelan.
Mendengar perkataan Aiyla atas tindakan yang dilakukan Azzam terhadapnya membuat lelaki itu refleks mencium dahi anak lelaki yang tertidur pulas.
Setelah puas dan melepas rindu dengan putranya, kini Ergin masih tetap dikamar Azzam. Sedangkan Aiyla membersihkan diri dan mengganti bajunya dikamar mandi.
Dengan mengenakan baju tidur yang tak begitu terbuka dibagian depan, namun bahan dari baju tidur tersebut begitu tipis karena terbuat dari kain satin yang lembut.
__ADS_1
Longdress berwarna kream tanpa lengan hanya dengan dua tali yang membuat longdress tersebut tetap melekat ditubuh indah Aiyla.
Melihat Aiyla yang keluar dari kamar mandi membuat nafsu Ergin naik terlebih dengan baju tidur yang dikenakan Aiyla. Kamar Aiyla menyatu dengan kamar Azzam hanya dibatasi dengan pintu diantara dua kamar tersebut.
Jadi ketika pintu tengah itu terbuka maka Ergin dapat melihat Aiyla dengan leluasa berada disebelah kamar Azzam. Lelaki itu berjalan dan kini telah memeluk tubuh Aiyla yang sedang berdiri menyisir rambutnya.
Ergin menyentuh dan memainkan rambut Aiyla dengan hembusan nafasnya terasa dibagian belakang leher Aiyla.
"Apakah aku boleh tidur disana??? Karena aku terlalu penat untuk pulang, " ucap Ergin dengan lembut.
Membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah lelaki tersebut. Ergin tahu arti dari tatapan mata wanita yang kini tak ada jarak antara tubuhnya dengan tubuh Aiyla.
"Hanya memeluk mu dan tidur," ungkap Ergin penuh dengan penekanan.
Aiyla tersenyum setelah mendengar perkataan dari mulut lelaki yang kini telah berpindah diatas tempat tidurnya.
Dengan memandang tubuh Aiyla yang masih berdiri merapikan rambut coklat gelombang disetiap ujungnya.
Pandangan Ergin tak beralih dari Aiyla yang kini sedang mengoleskan kream malam diwajah dan body lotion dilengan dan bagian kakinya.
Tubuhnya tak diberikan body lotion tersebut karena lelaki itu tak henti memandangnya, Aiyla tak ingin memancing libido yang ada pada lelaki bermata biru itu.
Barulah Aiyla ikut berbaring diatas tempat tidurnya. Posisinya kini berbaring diatas salah satu lengan Ergin yang meminta dirinya untuk berada dalam dekapan tubuh lelaki itu.
Terasa aroma tubuh Ergin dihidungnya, Ergin yang hanya mengenakan kaos dalam Tipis disaat tidur.
"Maaf aku hanya ingin membawa Azzam dan kau kembali kepeternakan itu, sehingga meminta cuti pada atasan mu," ucap Ergin dengan membelai lembut lengan Aiyla.
Aiyla sedikit mengangkat kepalanya dari lengan Ergin agar dapat menatap wajah lelaki itu. Tak pernah dibayangkan bahwa lelaki itu begitu memikirkan putranya.
Walau alasan itu membahagiakan Aiyla tapi keputusan Ergin sepihak itu tak sesuai dengan karakter Aiyla.
Wanita ini tak ingin hidupnya terlalu diatur selagi dia tidak melewati batasan. Ergin terkesan ingin mengatur pekerjaan Aiyla dan itu yang tak disukainya.
"Baiklah jika kau tak ingin mengambil cuti dan pergi kepeternakan itu," ucap Ergin dengan lirih.
Aiyla masih menatap dalam kearah mata lelaki itu, sebuah sentuhan dirasakan dipipi Ergin. Tak menyangka Aiyla memberikan respon seperti itu.
"Baik.. Kita akan pergi kepeternakan tapi tidak sekarang, tunggu Azzam libur sekolah baru aku mengambil cuti dari kantor ku," ucap Aiyla dengan tersenyum.
Ergin membalas sentuhan itu tepat dibibirnya dengan lembut dan terasa hangat dihati. Kemudian lelaki itu telah tertidur dengan nafas yang teratur.
Terlihat raut muka lelah karena dirinya baru saja melakukan penerbangan yang cukup lama dan langsung menemui Aiyla tanpa istirahat.
__ADS_1
Rangkulan dari tangan Ergin tak lepas di pinggangnya. Lelaki itu tertidur pulas sedangkan dirinya masih belum terbiasa tidur dengan lelaki setelah kepergian Ali.