Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 40


__ADS_3

Akankah berjalan mulus pertemuan Azzam dengan kakek dari ayahnya... 😱


Tulis dikolom Komentar yaaaaa


Like, vote and comment yaaa 😊


Author menanti yaaa agar tambah semangat...😍


Jom Lanjut....😘


🍓🍓🍓


Sepanjang perjalanan Ergin masih terpikir akan buket bunga yang dibeli oleh Aiyla. Pada saat ditoko bunga Ergin bergegas untuk secepatnya mengejar Aiyla yang lebih dulu keluar dari sana namun secepat kilat wanita itu telah menghilang dari pandangannya.


"Siapa yang ingin kau temui dengan bunga itu, adakah lelaki lain yang telah membuka hati mu," ucap lirih Ergin.


Deru mobil melesat pergi meninggalkan toko bunga dan telah sampai diparkiran apartemantnya. Sopirnya memberitahu bahwa telah sampai dikediamannya.


Ergin tersadar setelah sapaan dari sopirnya yang memanggil namanya berulang kali.


"Tuan Ergin, kau membawa bunga," ucap asisten rumah tangganya dengan terkejut setelah melihat Ergin didepan pintu dengan seikat bunga ditangannya.


Asisten rumah tangga Ergin bukan orang baru melainkan orang yang telah bekerja belasan tahun lamanya. Jadi terasa berbeda karena baru kali ini melihat Ergin membawa bunga pulang kerumah.


Namun ada riak tak bahagia terlihat diwajah lelaki yang tak muda lagi itu. Wajah tampanya terlihat mendung, walau ditangannya memegang seikat bunga tulip berwarna putih.


"Aiyla..." ucap lirih Ergin


Dengan menatap bunga yang ada digengamannya, Ergin menjatuhkan tubuhnya disofa. Memejamkan matanya lalu pikirannya menerawang tak tentu arah.


"Tuan.. Apakah bunga ini akan diberikan pada seseorang yang spesial dihati mu Tuan?" Ucap Yaren dengan penasaran menatap wajah Ergin.


Yaren adalah orang terdekat setelah Murad, bahkan asisten rumah tangganya ini lebih mengenal Ergin dari pada nyonya Esma, ibu kandung Ergin.


"Mengapa anda belum bersiap Tuan," tanya Yaren dengan wajah bingung.

__ADS_1


Melihat Ergin masih duduk disofa seraya melamun, Yaren tahu bahwa tuannya itu kehilangan semangat dan sedang memikirkan sesuatu.


"Tuan, sebaiknya anda menemuinya dan menemukan jawaban dari yang anda pikirkan itu," ucap Yaren dengan kesungguhan.


Asisten rumah tangganya itu seperti tahu apa yang dipikirkan Ergin, setelah dapat membaca pikiran Ergin, Yaren memberikan secakir kopi pada majikannya itu.


"Baiklah Yaren, aku akan segera bersiap. Aku akan mencari jawaban yang ada dipikiran ku ini," ucap Ergin dengan semangatnya kembali.


Yaren tersenyum setelah mendengar perkataan dari majikannya itu, menyeruput habis kopi buatannya bergegas untuk pergi menemui Aiyla.


Perubahan sikap Ergin telah diketahui oleh Yaren dalam beberapa bulan terakhir. Dirinya tahu bahwa ada seseorang yang telah membuat perubahan besar dari majikannya ini.


Seorang wanita yang mampu mencairkan kebekuan hati Ergin selama ini dan menguncang hidupnya sehingga membuat muram wajah lelaki bermata biru itu.


Tak menunggu waktu yang lama Ergin telah mengenakan pakai santainya. Dengan penampilan casual, Ergin mengenakan kaos polos berkerah dengan lengan pendek berwarna biru muda dipadukan dengan celana jeans berwana biru tua.


Yaren tersenyum seraya memberikan doanya agar majikanya itu mendapatkan kebahagiannya malam ini.


Terdengar suara bel ditekan oleh seseorang, segera Fusun beranjak dari duduk santai sambil menonton sebuah drama di tv.


Wanita ini tak menyangka bahwa atasan Aiyla ini selisih jalan hanya berbeda sekitar 5 menit saja dengan Aiyla yang baru saja keluar dari apartemantnya.


Dengan jantung yang bergemuruh, Ergin berusaha tenang didepan pengasuh Azzam. Dengan tersenyum berusaha menghilangkan ketegangan yang ada didirinya.


"Waduh...Tuan terlambat sedikit saja, Aiyla baru saja pergi," ungkap Fusun dengan raut wajah ikut sedih.


Ergin yang mendengar perkataan Fusun, langsung terjadi perubahan diwajahnya. Terlihat jelas dimata Fusun walau lelaki itu berusaha menyembunyikan kekecewaan terhadap kepergian Aiyla.


"Masuk Tuan, saya buatkan kopi," ucap Fusun seraya tersenyum.


Ergin tak ingin berlama-lama disana, apalagi Aiyla pergi bersama Azzam dengan bunga yang disiapkannya sepulang kerja tadi.


Hati Ergin hancur, apa yang telah dipikirkannya terjadi. Bahwa Aiyla memiliki laki-laki lain yang membuat Ergin hanya mematung didepan pintu dan tak mendengar perkataan Fusun.


"Tuan... Aiyla pergi kerumah sakit menjenguk kakeknya Azzam," ucap Fusun kembali setelah melihat lelaki dihadapannya tak mendengar perkataan yang barusan disampaikannya.

__ADS_1


"Masuklah dulu Tuan... Saya yakin tak akan lama disana," ucap Fusun kembali.


Mendengar penjelasan dari Fusun yang kedua, barulah rona bahagia terlihat jelas diwajah lelaki bermata biru itu. Perasaan kecewa sirna begitu saja setelah dirinya tahu Aiyla pergi bukan untuk bertemu dengan laki-laki lain yang ada dalam pikirannya.


"Duduk lah dulu Tuan, saya akan menyiapkan secangkir kopi untuk anda," ucap Fusun kembali dengan tersenyum setelah melihat rona bahagia tuan Ergin.


Tengah fokus melihat photo-photo yang tergantung disalah satu dinding yang ada diruang tamu. Sewaktu dirinya kemari hanya melihat sekilas dan Aiyla telah ada dibelakangnya waktu itu.


"Itu ayahnya Azzam Tuan," ucap Fusun dengan membawa secangkir kopi diatas baki.


Ergin menganggukkan kepala, pertanda mengerti dengan yang dikatakan oleh Fusun. Inilah saatnya Ergin mencari tahu lebih dalam kehidupan wanita yang membuatnya tergila-gila itu.


Dari pengasuh Azzam ini Ergin mengetahui bahwa Aiyla telah banyak melalui masa-masa sulit didalam kehidupannya. Terlintas dikepalanya bagaimana dirinya begitu tak berperasaan menguji wanita itu dan sekarang rasa bersalah dan rasa sakit masih melekat sempurna dihatinya.


"Tuan Mustafa adalah mertua Aiyla yang kini sedang terbaring sakit, istrinya yang menginginkan Aiyla membawa putranya itu. Selama ini keluarga dari suaminya tak pernah menganggap kehadiran Aiyla dan putranya," ungkap Fusun dengan bulir diujung matanya.


Demikian juga dengan Ergin hatinya terenyuh mendengar cerita Fusun. Wanita ini sangat tegar dan pemberani dalam melanjutkan hidupnya yang tak luput dari ujian yang berat silih berganti.


"Jadi mertua Aiyla sekarang sudah bisa menerima kehadiran Aiyla dan putranya?" Tanya Ergin dengan rasa penasaran.


Pengasuh Azzam tak dapat memberikan jawaban, harapan dihati Fusun adalah Aiyla dapat diterima dikeluarga besar suaminya.


"Tuan Mustafa...Sepertinya aku mengenal lelaki bernama Mustafa itu, yang kau maksud sebagai ayah mertua Aiyla itu," ungkap Ergin.


Kalau benar lelaki itu ada Mustafa yang merupakan seorang pengusaha, maka keluarga besar dari suami Aiyla adalah orang hebat dan kaya.


Tentu saja Ergin kenal dengan lelaki yang bernama Mustafa itu. Perusahaan Ergin telah beberapa kali menjalin kerja sama dengan perusahaan mertua Aiyla. Perusahaan Tuan Mustafa bergerak dibidang konstruksi. Perusahaan itu terbilang besar dan berkembang dikota ini.


"Tuan...Apakah bunga tulip itu untuk Aiyla?" tanya Fusun seraya melirik bunga yang ada diatas meja.


Sangking asiknya bercerita Ergin lupa dengan bunga yang dibawanya. Dirinya terobsesi untuk mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang diri Aiyla.


"Akan ku masukan dalam vas bunga agar tidak layu," ungkap Fusun dengan wajah tersenyum setelah menerima seikat bunga tulip ditangannya.


Ergin membalas senyum wanita itu seraya menyeruput kopi yang telah dibiarkanya begitu lama karena mendengar cerita dari wanita yang tak terpaut jauh usianya dari Aiyla.

__ADS_1


__ADS_2