Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 61


__ADS_3

Duuh Babang ganteng udah main bobok bareng aja ya sama Sineng...Ayo siapa yang suka moment itu...???


Tulis dikolom komentar dibawah Guy's..😊😊


Terima kasih buat reader yang telah memberikan dukungannya pada Author πŸ™ bagi yang belum buruan Guy's....Free no bayar


Cukup klikπŸ‘‡


1.Tanda jempolπŸ‘ untuk like


2.Tanda hati πŸ’™ untuk bacaan favorite


3. Kata vote untuk dukungan


4.Tanda bintang 5 untuk rating tulisan


Plissss Author menantikan jejak mu...😘😘


Lanjuuuuut...😍😎


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Murad duduk disebuah kursi menghadap sebuah bar dengan raut wajah tak bersemangat. Lelaki itu telah mengetahui bahwa hubungan Ergin dan Aiyla semakin dekat.


"Aiyla adalah wanita yang berbeda...Bagaimana cara aku bisa memiliki?? Aku tak bisa menghilangkan ketertarikan ku pada wanita satu ini. Jika sempat kau sia-siakannya, maka bersiaplah aku akan mengambil dari tangannmu itu Ergin !!! " Tukas Murad dengan sorot mata tajam.


Ini sudah ketiga kalinya gelas ditangan Murad kosong. Murad banyak minum malam ini untuk menghilangkan rasa kesal bercampur amarah dihatinya.


Tidak seperti malam sebelum-sebelumnya, dua lelaki dewasa itu sering berbincang berdua di diskotik yang terkenal untuk kalangan atas itu.


Tapi tidak malam ini, Murad merasakan kesendirian dihatinya walaupun suara musik menggema dilantai disko.


"Aiyla....Mengapa kau lebih tertarik pada Ergin dari pada diriku," teriak Murad seraya menggenggam erat gelas yang ada ditangannya.


Tanpa sadar gelas yang ada ditangannya retak akibat begitu kuat lelaki itu menekan dengan amarah dihatinya.


"Tuan... Tuan.. Tangan mu berdarah," teriak bartender yang ada dihadapannya dengan wajah cemas.


Murad hanya tersenyum masam menatap lelaki yang ada dihadapannya tanpa menghiraukan luka akibat pecahan kaca ditangannya.


Berjalan sempoyongan menuju pintu keluar diskotik tersebut. Pada saat dipintu keluar Murad bertemu dengan seorang wanita yang merupakan klien diperusahaannya.

__ADS_1


Wanita ini mengenal baik lelaki yang berjalan setengah sadar tersebut. Sudah lama wanita ini mencari perhatian Murad dan tak pernah diberikan kesempatan.


"Ini kesempatan ku untuk mendekati lelaki ini," besitnya dalam hati dengan lirik mata penuh tanda tanya.


Dengan memapah tubuh Murad yang tak dapat berdiri dengan tegap lagi. Dengan senyum penuh maksud tertentu wanita itu membawa Murad kedalam mobilnya.


Deru mobil meninggalkan diskotik terkenal dikalangan atas tersebut, menembus gelapnya malam kota itu.


Akhirnya mobil itu memasuki sebuah halaman rumah yang mewah. Ternyata wanita ini tidak wanita sembarangan, sepertinya terlahir dari kalangan atas dilihat dari rumah dan furniture yang ada didalam rumah tersebut.


"Eh!!! Kenapa kau bawa aku kemari," ucap Murad setengah sadar melihat disekelilingnya.


Wanita itu hanya tersenyum dan terus membawa Murad menaiki tangga menuju kamarnya.


Tak ada penolakan dari lelaki itu karena Murad setengah tak sadar, mengikuti saja kemana tubuhnya dibawa.


Didorong tubuh Murad yang tak berdiri tegap itu dan terjatuh diatas sebuah tempat tidur. Wanita membuka sepatu yang dikenakan Murad.


Lalu dengan gerakan-gerakan dan sentuhan- sentuhan yang sengaja memacu libido lelaki yang setengah sadar tersebut.


Murad terpancing ditambah dengan menatap wajah wanita itu seperti wajah Aiyla. Tak menunggu waktu lama pakaian yang mereka berdua kenakan telah terlepas dari tubuh mereka masing-masing.


Berserakan diatas lantai dan terdengar desahan-desahan diantara mereka berdua. Dipuncak kenikmatan yang mereka rasakan bersama dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh mereka berdua.


"Kau sungguh diluar dugaan ku, sudah lama aku menginginkan tubuh mu Murad," ucap wanita seraya tersenyum puas.


Murad telah berhasil melepaskan hasratnya lalu tertidur dengan tubuh tanpa sehelai kainpun, dan tak berbeda dengan wanita itu.


Dengan senyum kemenangan dibibirnya berhasil melewati malam dengan Murad Sarken. Lelaki yang menjadi incaran semua wanita.


Dengan kepala berat Murad terbangun dari tidurnya. Dicobanya bangun dari tidurnya dan menekan kepala dengan tangannya yang terasa sakit.


Dirinya lupa bahwa tangan kanannya robek dibagian telapaknya akibat pecahan gelas kaca.


"Aku dimana ini ??" Ucap Murad dengan penasaran.


Memperhatikan ruang kamar yang berserakan pakaiannya dan pakaian wanita. Mencoba mengambil pakaian dalamnya yang ada diatas lantai tak jauh dari tempat tidur.


Dengan membalut tubuh bagian bawahnya dengan selimut. Tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dan muncul wanita masih dengan menggunakan bathrobe.


Wanita itu membawa sarapan diatas nampan yang berupa segelas orange jus dan beberapa sandwich.

__ADS_1


"Kau sudah bangun??? Aku bawakan makanan kemari." ucap wanita itu dengan tersenyum dan santai.


Murad mengenakan pakaiannya lalu mendekati wanita itu dengan wajah datar. Dirinya tak begitu tertarik untuk sarapan dengan wanita tersebut.


"Aku pergi dulu," ucap Murad tanpa ekspresi.


Tanpa menyetuh sedikitpun makanan yang masih dipegang oleh wanita itu. Melihat lelaki yang baru saja keluar dari kamarnya seolah tak terjadi apapun pada mereka berdua semalam.


Dengan penuh amarah wanita itu melempar nampan yang ada ditangannya dengan kuat. Murad mendengar suara lemparan benda kelantai namun tak menghentikan langkahnya untuk keluar dari rumah tersebut.


"Awas kau Murad... Aku pasti akan mendapatkan dirimu," ungkap wanita itu dengan bibir gemetar dan sorot mata yang tajam.


Murad telah berganti pakaian dan kini telah sampai dikantor. Bertemu dengan Ergin pada saat masuk kedalam lift.


"Semalam aku mencari mu, kau pergi kemana??," tanya Ergi dengan wajah datar.


Ergin menunggu balasan dari pertanyaannya karena lelaki yang diajaknya bicara tak kunjung bersuara. Sampai mengulang ketiga kali baru dijawab oleh Murad


"Maaf akhir-akhir ini aku sering tidak fokus," ungkap Murad dengan wajah kesal.


Ergin jadi terdiam sejenak setelah mendapatkan jawabannya. Muradpun jug tidak mengeluarkan kata-kata sampai bunyi lift terbuka.


"Keruangan ku sekarang! Ada yang perlu ku bahas pada mu!! " ucap Ergin dengan wajah serius.


Kedua lelaki itu berjalan menuju satu ruangan yang sama tanpa sepatah kata lagi yang keluar dari mulut mereka.


"Selamat pagi nyonya," menyapa sekretaris dengan wajah tersenyum.


Memang semenjak bertemu kembali dengan Aiyla terlihat sekali rona bahagia diparas tampan bermata biru. Hari-hari hatinya diisi dengan cinta dan kasih sayang, Ergin sungguh menikmatinya.


"Murad sepertinya kau harus kekota Y untuk menangani projek kita yang sedikit tersendat disana," ucap Ergi seraya menatap kedalam wajah lelaki dihadapannya.


Murad masih belum bisa fokus dengan yang dikatakan Ergin. Dirinya masih penasaran dengan kejadian malam tadi sehingga wanita itu berhasil mengambil kesempatan padanya.


Walaupun Murad sering bermain dengan wanita, namun dirinya tak pernah melakukan seperti semalam.


Mereka melakukan atas dasar suka sama suka dan tidak dalam kondisi setengah sadar seperti yang terjadi pada malam tadi.


"Hei..Gimana menurut mu, apakah kau bisa pergi kesana untuk mengeceknya? " ucap Ergin kembali seraya menepuk pundaknya.


Kini Murad tersadar dari pergulatan yang ada dihati dan pikirannya. Kemudian meminta Ergin mengulang sekali lagi perkataanya.

__ADS_1


Akhirnya Murad bersedia untuk pergi bersama Gul mengecek projek yang tersendat dikota Y, mencari penyebab keterlambatan proses kerja tersebut yang telah ditargetkan oleh perusahaan Ergin dan Murad.


__ADS_2