Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 12


__ADS_3

Gimana? Apakah reader bisa larut dalam cerita ini...😊😊


Yes or No👍👎


Kalau Yeees lanjut ngebaca...👌


Setelah ngebaca beri tanda like, vote dan coment nya dong... 💙💙💙


Tunjukan keberadaan anda dalam tulisan Author yaaa☝☝


🌴🌴🌴


Pada saat keluar dari ruang inap, Aiyla terkejut melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk dikursi tunggu.


Wanita dengan wajah yang tak asing baginya, Aiyla mencoba mengingat kembali memori ingatannya tentang wanita paruh baya tersebut.


Dia merasa pernah bertemu dengan wanita itu, cukup lama Aiyla flashback ingatannya seraya berdiri terpaku sejenak.


"Oh...Yaaa, Aku bertemu dengan wanita itu pada saat seminggu setelah kami menikah," Besit Aiyla dalam Hati.


Pikiran Aiyla teringat kembali pada masa lalu sekitar 7 tahun silam, dalam ingatan dirinya dan suami pernah pergi kesebuah rumah yang sangat mewah dikota ini.


"Siapa yang sakit?" Besit Aiyla dalam hati.


Aiyla sengaja menghidar agar tak bertemu dengan wanita itu, peristiwa masa lalu yang menyedihkan terlintas kembali dipikirannya.


"Ada apa Aiyla? " tanya Fusun setelah melihat sikap Aiyla terhadap wanita paruh baya yang sedang duduk tak jauh dari hadapan mereka berdua.


Masih diam tanpa memberikan respon pada Fusun, Aiyla hanya segera mempercepat langkah kakinya dan diikuti oleh Fusun dari belakang.


"Apakah kakak telah membawa semua barang?" tanya Aiyla setelah mereka berdua melewati wanita tersebut dan kini telah masuk kedalam mobil taxi.


Dengan menganggukkan kepala pertanda Fusun mengikuti perkataan Aiyla. Malam ini Aiyla akan membawa Fusun untuk tinggal sementara diapartemant sahabatnya itu.


Inilah waktu yang dirasa tepat guna mengutarakan niatnya untuk pindah dari sana ketempat apartemant yang telah disewa.

__ADS_1


Gul terkejut ketika pintu dibuka terlihat Aiyla dengan wanita yang belum pernah dilihat sebelumnya. Untuk menghilangkan rasa penasaran akan sosok wanita yang dibawa Aiyla, Gul memberikan isyarat dengan mata.


"Kenalkan ini kak Fusun, wanita yang pernah ku ceritakan padamu, Dialah orangnya. Melalui wanita ini akan memberikan kesembuhan pada Azzam dengan mengikhlaskan satu ginjalnya, " ungkap Aiyla dengan wajah penuh kesungguhan.


Mendengar perkataan Aiyla ditelinganya membuat Gul langsung mengulurkan tangan dan memeluk dengan erat.


Raut wajah bahagia terlihat dimata Aiyla, sahabatnya itu memang turut prihatin dan simpati atas apa yang sedang dihadapinya.


Aiyla menceritakan bahwa wanita yang sekarang diantara mereka berdua itu juga tidak memiliki saudara ataupun keluarga lagi didunia ini.


"Mulai sekarang Kak Fusun merupakan bagian dari keluarga, dan akan tinggal dengan ku selamanya. Untuk itu mohon maaf sebelumya, aku akan pindah dari apartemant mu ini Gul," ungkapnya dengan suara pelan dan sendu.


Gul terkejut atas keputusan sahabatnya untuk pindah dari apartemant yang dia punya. Namun penjelasan Aiyla, bisa diterima juga oleh Gul.


Apartemantnya hanya memiliki dua kamar, jika Fusun tinggal disini maka tak ada tempat untuk wanita tersebut, Gul terpikir bahwa itulah alasan yang dimaksud dengan sahabatnya itu.


Akhirnya Gul menerima keputusan sahabatnya dengan lapang dada dengan sebuah senyuman membingkai diwajah Gul.


"Baiklah... Aku paham. Tapi ku mohon pada mu, perlu kau ingat bahwa kau tidak sendirian Aiyla karena ada aku dikota ini," ucap Gul seraya memeluk sahabatnya itu meyakinkan padanya bahwa dirinya bisa diandalkan.


Dengan mata berkaca-kaca Aiyla menatap dalam pada kedua wanita yang ada dihadapannya


"Sungguh beruntung...Dirinya masih dikelilingi orang-orang yang sebaik dan setulus mereka berdua. Memberikan kehangatan dijiwanya yang beku, " batin Aiyla.


Namun satu permasalahan yang utama belum juga memiliki jalan keluar. Jumlah nominal yang besar dan harus segera disiapkan untuk proses transplantasi.


Walaupun Fusun menawarkan bantuan, tapi Aiyla merasa tak sampai hati. Fusun telah memberikan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya bagi putranya, tak harus pula membantu dalam hal keuangan.


Malam ini mata Aiyla tak dapat dipejam, walaupun jam telah menunjukkan keangka tiga malam. Dicobanya untuk tidur namun masih juga tak mau bersahabat matanya ini.


Mencari posisi yang nyaman diatas kasur, masih enggan dirinya tertidur. Pikirannya masih berkutat mengenai uang yang harus segera disiapkannya.


Rasa pedih dan pilu menusuk kedalam jantungnya, tak kala bayangan wajah permata hatinya terlintas kembali didalam pikirannya.


"Bersabarlah sayang... Ibu akan mencari jalan keluar agar kau segera sembuh," batin Aiyla dengan bulir bening telah keluar dari ujung matanya.

__ADS_1


Akhirnya Aiyla bangkat dari posisi tidurnya dan berjalan menuju sebuah sofa yang ada didalam kamar tersebut.


Duduk disana dengan pikiran dan perasaan yang tak tentu tujuan, pikirannya buntu belum terbesit satupun didalam otaknya jalan keluar yang harus diambil.


Setelah 15 menit duduk disofa, tiba-tiba terlintas dikepalanya tentang pinjaman uang ditempat dirinya bekerja. Dia akan membayar dengan cara dipotongan separuh dari gaji setiap bulan yang diterimanya dari perusahan tersebut.


Jika itu tak cukup dan memakan waktu lama uang itu dapat dilunasi, maka Aiyla bersedia untuk kerja lembur setiap hari diperusahan tersebut.


"Baiklah... Aku akan menemui bagian keuangan besok pagi. Aku akan merahasiakan niat untuk meminjam uang diperusahaan pada sahabatnya itu," besit Aiyla dengan penuh harap.


Akan tetapi terlintas pula dalam pikirannya, jika perusahaan itu tidak memberikan pinjaman pada dirinya, maka apa langkah kedua untuknya mendapatkan uang tersebut.


"Aku akan mencoba mengajukan pinjaman pada bank nantinya," batin Aiyla dalam hati akan solusi kedua dari masalah ini.


Tanpa disadari ternyata Fusun telah memperhatikan dirinya cukup lama duduk disofa. Fusun dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Aiyla.


Dirinya bangkit dari posisi tidur dan berjalan mendekati wanita yang usianya hanya terpaut 2 tahun dibawahnya.


Sangking seriusnya, Aiyla tak sadar kalau Fusun berjalan kearah dirinya duduk itu. Tersadar ketika Fusun telah berada disamping dirinya.


"Ada apa Aiyla? Mengapa sudah selarut ini kau belum juga tidur dan duduk disini? " Ungkap Fusun dengan menyentuh pundaknya dengan lembut.


"Aku tak dapat tidur kak," balas singkat Aiyla dengan tatapan mata kosong.


"Kau pasti sedang memukirkan soal uang itu kan?" ungkap Fusun langsung to the poin terhadap Aiyla.


Setelah melihat anggukan dari kepala wanita yang kini telah dianggap sebagai saudari perempuannya itu, menunjukan bahwa terkaan dirinya benar adanya.


"Aku akan memberikan uang yang ada ditangan ku untuk kesembuhan anak lelaki yang telah ku anggap putra ku sendiri Aiyla, walaupun tak banyak tapi bisa mengurangi jumlah nominal yang besar itu dari pembayaran tersebut ," ungkap Fusun dengan keseriusan dan ketulusan.


Aiyla kembali memeluk tubuh bagian samping wanita yang berdiri disebelah kanan sofa yang sedang didudukinya


" Kak... Terima kasih atas bantuan mu itu. Aku akan mencoba usaha ku sendiri dulu untuk melakukan pinjaman dikantor." Balas Aiyla dengan mata meyakinkan Fusun


"Baiklah...Kalau itu solusi mu. Tapi sekarang, ayoolah tidur, kau harus juga menjaga kondisi kesehatan. Bagaimana mengurus Azzam kalau kau sendiri sakit, " ucap Fusun dengan menarik tangan Aiyla menuju tempat tidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2