Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 142


__ADS_3

Hai... Hai... Hai...😘


Hadir kembali yaaa😍


Salam Hangat untuk Reader setia😘


Dont forget to like sehabis baca👍, Gift untuk penyemangat Author dan Vote sebagai suplement Author serta favorite untuk tanda cinta Author pada Reader. Plus rate star 5 please....


Jom lanjuuut ngebaca👍


💞Happy Reading💞


💘💘💘


Semakin hari kesehatan Aiyla semakin membaik, Hanya saja dengan perut yang semakin membesar menyebabkan dirinya merasa kesulitan untuk beralih posisi dari tidur ke duduk dan begitu juga sebaliknya.


Berjalan dengan membawa perut yang besar membuat Aiyla cepat merasa sesak nafas karena beban yang dibawa dengan tubuh yang semakin membesar juga.


Dikediamannya, Ergin sangking over protective terhadap istrinya sampai-sampai memperkerjakan seorang petugas kesehatan untuk selalu stand bye menjaga dan memantau perkembangan kesehatan Aiyla dan begitu juga dengan janinnya.


Azzampun demikian tak luput dari perhatikan Ergin. Keselamatan Azzam sangat diperhitungkannya, seorang pengawal pribadi juga stand bye menjaga dan mengantar jemput anak laki-laki itu sampai kembali kerumah.


Ergin tak ingin mengulang kembali tragedi penculikan dan kecelakaan yang membuat dirinya hampir kehilangan keduanya.Bahkan janin yang ada dirahim istrinya itu.


Ergin baru saja melewati masa-masa ketidakberdayaan dirinya melihat dua orang yang sangat berharga didalam kehidupanya hampir meregang nyawa.


Tak ingin merasakan kembali detik-detik yang menegangkan yang berhubungan dengan istri dan putranya.


Atas kejadian tersebut pihak dari orangtua Akhsal terutama Tuan Mustafa menjadi sangat terpukul atas tindakan dari putranya.


Dihati laki-laki paruh baya tersebut terselip luka yang membakar dirinya secara hidup-hidup. Terungkapnya kematian dari Ali dan terakhir penculikan cucunya yang dilakukan oleh putranya sendiri.


Kini keluarga besar Mustafa Othman sangat terpuruk, tragedi penculikan, kematian Akhsal serta terkuaknya pembunuhan Ali yang dilakukan oleh putranya sendiri menyebabkan laki-laki itu mengalami serangan jantung.


Beruntung masih bisa tertolong, namun kini lelaki paruh baya tersebut hanya bisa terbaring dengan beberapa alat yang menempel ditubuh.


Bisnis besar mereka yang dikendalikan oleh Tuan Mustafa tak dapat lagi dikendalikan.


Lelaki itu merasa semakin terpuruk, hatinya semakin terasa perih dan sakit disaat mengenang penerus akan bisnis yang dirintis keluarga terdahulunya.


Dengan susah payah keluarga terdahulu membangun bisnis, kini harus mengalami kekosongan pemimpin tertinggi diperusahaan Othman.

__ADS_1


Tak ada penerus dikeluarga mereka saat ini yang mampu menghandle perusahaan besar tersebut. Satu-satunya harapan mereka adalah Azzam. Generasi penerus dikeluarga besar Othman. Sedangkan anak dari Akhsal adalah dua orang perempuan dan itupun belum dewasa.


"Sayang.... Bisakah tolong pijatkan betis ku?"


Terdengar suara pelan Aiyla ditelinganya, lamunan Ergin buyar seketika. Lelaki yang sedari tadi berdiri seraya memandang keluar dari kaca tebal yang transfaran dikamar pribadi mereka berdua.


Pikirannya melayang tak tentu arah dengan melihat kerlip bintang yang bertaburan dilangit malam ini. Ditambah dengan pantulan cahaya lampu dari taman belakang rumahnya.


Ergin bergerak menuju tempat tidur lalu duduk disamping Aiyla. Memberikan minyak terapi lalu mengusap lembut betis istrinya yang telah dipangkuannya.


"Apakah ini sudah terasa enak? Beritahu aku jika sekiranya terlalu kuat pijatan ini. "


Ucap Ergin seraya tersenyum menatap wajah istrinya. Membalasnya dengan senyuman tanpa kata-kata, dan terlihat telah terukir dua lesung pipi diwajah Aiyla.


"Sayang... Aku ingin pergi melihat Tuan Mustafa. Sudah lama semenjak kejadian itu, Aku bertemu terakhir saat beliau menjenguk ku sewaktu dirumah sakit. Setelah itu aku belum pernah bertemu dengannya kembali."


Ada raut wajah sendu dimata Aiyla, walau bagaimanapun yang terjadi bukan kesalahan mereka berdua. Tuan Mustafa dan Nyonya Mustafa telah puas menasehati Akhsal.


Namun hanya dianggap angin lalu, dengan kecemburuan Akhsal, rasa iri serta dengki yang dimiliki dihatinya membakar dirinya sendiri.


"Baiklah... Aku akan mengatarkan mu."


Sebuah sentuhan mesra kepunggung tanganya setelah mendengar jawaban dari suaminya itu. Ergin masih tetap memijat lembut betis Aiyla dan sekali-kali mengelus perut buncit istrinya.


Bulir bening kini telah keluar dari ujung mata Aiyla. Ergin hanya bisa menantap wajah istrinya yang larut dalam luka lama.


Wajar saja Aiyla shock sehingga sampai tak sadarkan diri karena merasakan ketidakpercayaan atas kematian suaminya akibat dari rasa cinta yang tidak diketahuinya sama sekali.


Akhsal Othman adalah lelaki yang mencintai Aiyla secara diam-diam dan tentunya cinta yang dimilikinya begitu mendalam sampai begitu tega melakukan pembunuhan pada saudaranya sendiri.


Ini yang dikatakan cinta buta, tak memperdulikan apapun sebagai pembalasan rasa sakit akibat cinta yang tak terbalas.


Rasa cinta tak bisa dipaksakan baik dalam bentuk apapun. Cinta itu akan terpaut kehati manapun yang mampu menjaganya dirinya.


Azizah sebenarnya sudah mengetahui bahwa suaminya mencintai wanita lain. Dalam beberapa bulan pernikahan mereka berdua, Azizah telah mengetahuinya.


Wajar saja pada saat Aiyla pertama kali memasuki rumah besar tersebut Azizah adalah orang yang pertama kali tak mengharapkan kehadiran Aiyla.


Sebagai seorang istri yang mengetahui bahwa suaminya mencintai wanita lain, dan saat ini tepat berada dihadapannya. Tentu merasa cemas dan panik apalagi dengan status Aiyla pada saat itu adalah single parent.


"Sayang... Hei.. mengapa melamun?"

__ADS_1


Terdengar suara Ergin seraya membelai mesra lengannya. Kini posisi laki-laki itu disamping Aiyla.


Tanpa membalas pertanyaan dari suaminya, Aiyla malah menjatuhkan sebagian tubuhnya pada pelukan suaminya, hidungnya mencium wangi khas dari tubuh Ergin tepatnya didada bidang yang dimiliki laki-laki itu.


Membelai lembut dada bidang suaminya dengan tangan kanan, perasaannya terbawa akan masa lalu. Ergin hanya merasakan saja sentuhan lembut dari tangan istrinya itu.


Bagaimana Aiyla melalui kepergian Ali dalam hidup ini. Dunianya menjadi gelap dan penyangga hidupnya hancur secara tiba-tiba.


Namun saat ini tak pernah dibayangkan Aiyla tengah berada didalam pelukan seorang laki-laki yang sangat mencintainya.


"Kau menjadikan malam gelap nan pekat itu menjadi lebih indah dengan kemerlip bintang yang menyinari malam-malam gelap yang pernah ku lalui sayang. "


Terdengar sendu dan pilu serta menyentuh hati Ergin atas ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Aiyla begitu larut akan masa lalunya, sehingga membuat dirinya tak kuasa meneteskan bulir bening diwajahnya.


"Sayang... Hei...Jangan bersedih...Bukan hanya aku sayang...Namun dirimu juga mengubah kehidupan ku bahkan karakter yang ku miliki. Aku bersyukur ditakdirkan bertemu dengan dirimu."


Ungkap Ergin seraya menangkup wajah Aiyla dengan kedua tangannya. Menyeka bulir bening dengan kedua ibu jarinya. Memberikan sentuhan tepat didahi dengan senyumnya yang menghangatkan hati Aiyla.


Menyatukan kedua dahi mereka sehingga hidung mancung keduanya saling bertemu. Terasa sekali ikatan cinta diantara mereka berdua begitu kuat.


Aiyla kembali menitikkan bulir bening, namun kali ini bukan sebuah kesedihan melainkan rasa bahagia menyeruak dihatinya.


"Ergin.... Aku sangat mencintai dirimu."


Untuk yang pertama kali Aiyla menyatakan perasaannya secara langsung terhadap lelaki yang ada dihadapannya. Tentu perkataan Aiyla yang didengarkan oleh Ergin begitu mendalam masuk kerelung hatinya.


Perasaan yang begitu bahagia tak dapat diungkapkan oleh kata-kata, hanya mampu diungkapkan dengan raut wajah yang begitu bahagia terukir diujung bibirnya dengan senyum yang mengembang.


Binar manik biru Ergin menatap manik coklat istrinya, mereka berdua menikmati sekali ikatan cinta yang sangat kuat diantara mereka berdua walaupun hanya sekedar gestur tubuh dan tatapan mata keduanya.


"Ayah...Ibu... "


Terdengar suara dari putra mereka yang telah berdiri didepan pintu. Sontak Ergin dan Aiyla mengalihkan pandanganya mengikuti suara yang memanggil mereka berdua.


"Bolehkah, malam ini tidur disini? "


Rengekan Azzam dengan wajahnya yang manja. Anak lelaki itu tersenyum setelah melihat anggukan kedua orangtuanya.


Memberikan space diantara mereka berdua agar posisi Azzam tepat ditengah-tengah. Memeluk tubuh putranya seraya membelai lembut puncak kepala Azzam.


Tak berselang waktu lama Azzam telah larut dalam alam bawah sadarnya begitu juga Aiyla yang tengah tertidur dengan tangan memeluk putranya.

__ADS_1


"Terima kasih Tuhan... Memberikan mereka berdua didalam kehidupan ku."


Menyentuh pelan tepat didahi agar tak membangunkan keduanya, kemudian barulah Ergin membenarkan posisi tidurnya seraya memeluk Aiyla dan Azzam dan ikut larut dalam alam bawah sadarnya.


__ADS_2