Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 110


__ADS_3

Hai... Hai... Hai... ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ


Terbakar yaaa SiNyonya Esma...๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Siapa yang ikut senang acung jempol dikolom komentar yaaa...๐ŸŒ ๐ŸŒ ๐ŸŒ 


Please support Author... ๐Ÿ’ฏPersen ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jom lanjuuut ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


๐ŸŒฟHappy Reading๐ŸŒฟ


๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฅ


Nyonya Yasmin mengingatkan kembali sebuah perjanjian yang mereka buat berdua. Sebuah perjanjian dimana Nyonya Esma akan bersedia memberikan 10% dari saham yang dimilikinya, jika perusahaan yang dibawah pimpinan Nyonya Yasmin membantu untuk memberikan pinjaman keuangan untuk biaya operasional.


Pihak Nyonya Yasmin telah memberikan saham kepada perusahaan Ozturk, agar penurunan pendapatan diperusahan itu terhenti, namun sebaliknya tak dapat berkembang dan mengalami kemunduran berbeda pada saat dipimpin oleh Ergin.


Tubuh Nyonya Esma menjadi lemas seketika, sekujur tubuhnya bergetar mengingat perjanjian dirinya yang terlalu ceroboh dalam hal ini.


"Baiklah telah diputuskan berdasarkan keputusan bersama dan tak ada satu hal apapun terkecuali sesuatu hal yang emergency sehingga akan ada pengulangan pemilihan calon direktur utama. Namun sekarang pemimpin yang menjadi pemilik kedudukan tertinggi adalah Nyonya Aiyla Ozturk."


Semua orang sengaja memecahkan ketegangan yang ada diruangan dengan cara memberikan tepuk tangan dan berdiri dari posisi duduknya setelah Murad sang pemimpin rapat mengutarakan keputusan final.


Nyonya Esma, Nyonya Syukran, dan Murad mereka harus bisa menerima keputusannya bahwa hanya 45% yang mendukung Murad dan sisanya 55% mendukung Aiyla berbeda hanya 5%.


Satu rencana telah berhasil dilaksanakan oleh kedua orang wanita tersebut. Ada senyum kemenangan terlihat jelas diwajah mereka berdua.


Nyonya Syukran juga tak bisa menerima ini, namun semua terpilih sesuai dengan keinginan para dewan direksi yang hadir. Ibu Murad juga bisa melihat kinerja putranya tak sebaik Ergin dalam memimpin rapat.


Mau tak mau dua orang wanita pendiri perusahaan itu menerima keputusan tersebut. Setelah rapat dewan direksi ini akan diadakan jumpa pers untuk mengumumkan pemimpin direktur tertinggi yang akan membawa perusahaan Ozturk kedalam kemajuan.


Semua sudah keluar satu persatu setelah memberikan ucapan selamat pada Aiyla. Diruang rapat tertinggal hanya Nyonya Syukran, Nyonya Esma, Nyonya Yasmin, dan Murad.


"Selamat Aiyla, semoga dibawah kepemimpinan mu membawa perusahaan ini lebih maju dan bisa mengangkat secepatnya kemunduran kita dalam setahun ini."

__ADS_1


Ungkap Nyonya Syukran dengan mengulurkan tangannya lalu memeluk tubuh Aiyla dan memberikan sentuhan ringan dikedua pipinya.


Disambut dengan Murad dengan melakukan hal yang sama pada Aiyla dengan berbisik ditelinganya : " Apa tujuan mu sesungguhnya Aiyla ? "


Aiyla hanya menatap datar setelah mendengar perkataan dari lelaki tersebut. Dia akan berusaha untuk mengendalikan emosinya dan akan bersikap layaknya pemimpin direktur utama diperusahaan ini.


Tanpa terpancing dengan ucapan lelaki itu, Aiyla berkata : "Aku tak mengajukan untuk menjadi pimpinan direktur diperusahaan besar ini tapi semua orang percaya aku bisa membalikkan keadaan Tuan Murad. "


Merasa tersindir dengan ucapan yang keluar dari mulut wanita yang masih memiliki pesona dan daya tarik padanya. Murad berusaha untuk tak terbakar emosi, dengan sindiran tersebut secara halus Aiyla mengkritik kinerjanya selama ini.


Sedangkan wanita paruh baya yang satunya lagi hanya meninggikan sudut bibirnya dengan tatapan mata sinis menatap Aiyla.


Nyonya Yasmin melihat itu dan sengaja berusaha mengangkat dan meninggikan kepribadian Aiyla, wanita ini sengaja membuat Nyonya Esma semakin terlihat penuh rasa marah dan kesal diparas wajahnya.


"Baiklah Nyonya Aiyla...Selamat terpilihnya anda diperusahaan ini. Saya tahu anda memang orang yang berkompoten dan tepat menduduki jabatan tertinggi diperusahaan ini."


Ucap Nyonya Yasmin seraya melakukan hal yang sama dengan Nyonya Syukran. Sebuah senyuman membingkai diwajah cantik Aiyla.


"Tak ku sangka kalian begitu akrab Nyonya Yasmin, hati-hati dengan wanita ini. Dia akan melilit mu dikemudian harinya. "


"Aiyla biarkan saja mereka sekarang tersiksa dan terbakar, kita akan membuat hari-hari wanita itu lebih terbakar sampai tak dapat merasakan rasa sakit yang teramat nyata didalam hidupnya."


Dengan tatapan mata penuh amarah dikedua mata mereka berdua. Melihat Nyonya Esma berlalu meninggalkan mereka berdua dengan kesal dan penuh kebencian ada rasa kemenangan diujung bibirnya mereka berdua.


Kini Aiyla diantar oleh Gul sahabatnya itu untuk memasuki ruang kerja tertinggi diperusahaan itu. Ruang kerja disaat Ergin menjabat sebagai pemimpin direktur utama diperusahaan Ozturk.


Bayangan masa lalu terlintas disaat Aiyla memasuki ruangan ini, bayangan disaat Ergin melenyapkan harga dirinya dimalam yang pekat itu.


Tanpa disadari sadari bulir bening jatuh diujung matanya. Aiyla merasakan kebahagiaan sekaligus rasa sakit bercampur amarah.


Sebenarnya ia tak ingin kembali keperusahaan dimana harga dirinya telah direnggut oleh keputusan dirinya sendiri saat itu.


"Bibi... Aku telah mengalihkan keadaan, memberikan keadilan yang tak kau dapatkan selama hidup mu. Aku akan pastikan hari-hari gelap mu akan terjadi pada wanita yang tak memiliki hati tersebut."


Ungkap Aiyla memperkuat tekadnya dihati dengan tatapan mata penuh amarah terpancar diwajahnya. Sahabatnya itu melihat wajah Aiyla yang sangat berbeda dengan yang biasanya.

__ADS_1


Terlihat sebuah ambisi dan dendam dimata sahabatnya itu terpancar jelas diparasnya yang cantik dan kini terlihat menakutkan.


"Aiyla... Aiyla.. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Sehingga aku sedikit tak bisa mengenal mu seperti dulu."


Ucap Gul dengan wajah penuh rasa penasaran dengan perubahan sikap yang diberikan Aiyla pada dirinya.


"Aku sekarang bukan wanita dari desa lagi... Tapi seorang istri dari keluarga Ozturk." Ucap Aiyla dengan menggenggam erat kedua tangannya.


Terlihat memerah dikulit putih bersih Aiyla, karena terlalu kuatnya ia mengepal kedua tangannya.


"Baiklah...Sahabat ku jika kau tak ingin berbagi dengan ku, " ucap lirih Gul setelah Aiyla tak memberikan jawaban dari pertanyaannya.


Gul terlihat begitu kecewa dengan perubahan sikap pada sahabatnya itu. Aiyla hanya ingin terlihat tegas dan tak ingin berbagi cerita apalagi memberitahukan rencana mereka berdua.


Gul meminta Aiyla memberitahukan jika ada yang perlu diganti atau ada yang perlu dibutuhkan dirinya diruang kerjanya yang baru. Sahabatnya memilih untuk meninggalkan dirinya diruang kerja itu.


"Apa yang menyebabkan diri mu berubah sahabat ku ? Aku seperti tak mengenal mu lagi!! "


Ucap Gul dengan nada sendu seraya berjalan keluar menuju keruang kerjanya.


Aiyla merasakan perubahan sikapnya telah menyakiti hati sahabatnya. Tapi ini ia lakukan semata-mata untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat olehnya dan Nyonya Yasmin.


Gul telah diangkat Aiyla sebagai asisten pribadinya, dan disambut hangat oleh sahabatnya itu. Ia ingin sahabatnya dapat membantu usahanya memajukan perusahaan ini dan membuktikan bahwa ia mampu menjadi pimpinan tertinggi.


Jumpa pers telah disiapkan. Para media masa memang telah mendengar rumor akan ada pergantian pemimpin diperusahaan Ozturk.


Sekitar 10 menit Aiyla akan berada didepan public guna mengumumkan bahwa ia sebagai pimpinan direktur tertinggi diperusahaan Ozturk.


Dengan dibantu oleh Gul yang kini diangkat Aiyla sebagai asisten pribadinya menemani dirinya untuk jumpa pers kali ini.


"Baiklah...Perkenalkan saya Aiyla Ozturk pimpinan tertinggi diperusahaan ini, saya diberikan kepercayaan untuk membawa perubahan besar dan kemajuan bagi perusahaan Ozturk baik didalam negeri ataupun diluar negeri."


Ungkap tegas Aiyla penuh kesungguhan dan terlihat sangat tegas dan berkarisma. Lampu dari kamera photo media masa berkilauan tak henti menyilaukan mata Aiyla.


Sebuah rencana telah berjalan dengan lancar sesuai keinginan dirinya, kini saatnya ia akan mengatakan pada lelaki yang sangat mencintainya itu mengenai suatu hal yang sangat penting yaitu identitas ibu kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2