
Don't forget to like, vote and comment plzzz🙏
i'm waiting for you support....😍
So...😉
Happy reading...😍😘
💞💞💞
Dinginnya malam mampu menembus kulit Aiyla yang telah berbalut jaket tebal, udara yang keluar dari mulutnya terlihat jelas pada saat ia berjalan pulang meninggalkan kantor.
Suara derap langkah terdengar dari belakang, namun tak dihiraukannya. Langkah kaki tersebut kian terdengar dan semakin mendekati dirinya.
Sebuah tarikan keras dilengan membuat tubuhnya berbalik arah, dan begitu terkejutnya ketika melihat wajah lelaki dihadapannya.
"Maafkan aku... Mengapa kau tak memberi tahu ku sebelumnya tentang semua itu, kau lakukan malam itu untuk kesembuhan putra mu," ucap Ergin dengan wajah bersalah dan menyesal.
Aiyla hanya terdiam dan memandang wajah lelaki dihadapannya, wajah yang sangat berbeda dari biasanya. Sosok yang berbeda dari yang ia kenal sebelumnya.
Aiyla mengalihkan pandanganya turun kearah lengan yang masih digenggam erat oleh Ergin. Dengan tatapan mata Aiyla yang menunjukkan ketidaknyaman membuat Ergin melepaskan tanganya dari lengan Aiyla
Hati yang dingin, tatapan mata datar tanpa ekspresi dan sifat yang selalu menuntut kesempurnaan dari setiap pegawainya, seakan menghilang dari sosok Ergin Oztruk.
"Tuan tak bertanya alasan saya sebelumnya, yang hanya saya dengar bahwa Tuan menyatakan keberanian saya meminjam uang sebesar itu, dimana baru bekerja beberapa bulan diperusahaan ini," balas sindiran Aiyla terhadap pertanyaan Ergin.
Perkataan yang barusan didengar dari mulut wanita itu menoreh luka yang dalam dan terasa perih tepat dihatinya. Disaat itu tanpa berpikir dulu Ergin berbicara, yang lebih tak masuk diakal tentang sebuah penawaran dari pada mencari alasan dibalik pinjaman tersebut.
Terpaku dan mematung dan tak dapat berkata-kata, Ergin hanya menatap punggung wanita itu yang berlalu begitu saja dari pandangan matanya.
Ditengah lamunan, suara dering dari ponselnya menyadarkanya Ergin. Terdengar suara Murad dari panggilan masuk yang diterimanya.
"Aku menunggu mu...Ditempat biasa, datanglah," ucap Murad terdengar ditelinganya setelah itu memutuskan panggilan.
Tempat biasa yang dimaksud oleh Murad adalah sebuah klub malam yang terbaik dikota, Pengunjungnya pun tidak sembarangan orang untuk dapat masuk kedalam klub.
Dihidupkannya mobil dimana sebelumnya meminta sopir yang biasa mengatar dan menjemputnya untuk pulang lebih awal tanpa mengikuti dirinya malam ini.
Kemudian dengan kecepatan penuh, Ergin telah sampai didalam klub tersebut. Dilihatnya sahabat sekaligus rekan kerjanya itu telah duduk disebuah kursi menghadap bartender.
Dengan kedatangan Ergin, bartender yang telah mengenal dirinya langsung memberi secangkir minuman yang biasa dipesan.
__ADS_1
"Pada saat kau menginterviu Aiyla, Apakah kau tak melihat identitas diri wanita itu," ucap Ergin seraya meneguk minuman tersebut masuk kedalam kerongkongannya yang tengah kering.
Murad menatap wajah Ergin, lalu tertawa sinis dengan ujung bibir lebih tinggi dari sisi yang lainnya.
"Manalah ku tahu dengan status lajang yang ditulis diidentitasnya itu, lajang dalam artian masih gadis atau lajang dalam artian janda," balas Murad yang lebih kecewa karena tak berhasil mengenal wanita yang membuatnya tertarik itu.
Akhirnya mereka berdua terdiam sejenak, dengan pergulatan pikiran yang ada didalam kepala mereka berdua.
"Kalau dirinya seorang ibu, kenapa hanya dia yang bertanggung penuh atas kesembuhan putranya. Kemana suaminya?" ungkap Murad memecah keheningan mereka berdua.
Apa yang diungkapkan oleh Murad membuat Ergin semakin penasaran tentang kehidupan Aiyla yang sebenarnya.
"Kalau dirinya memiliki suami tidak mungkin ditulisnya lajang didalam identitasnya," ucap Ergin dengan rasa penasaran
Muradpun membenarkan apa yang barusan didengarnya. Faktanya didalam identitas Aiyla statusnya tertulis lajang tidak tertulis menikah.
"Bisa saja wanita itu single parent dan lelaki yang harusnya bertanggung jawab telah pergi meninggalkan Aiyla begitu saja dengan putranya," balas Murad yang juga penasaran.
Cukup lama dua lelaki itu berusaha memecahkan kehidupan pribadi pegawainya itu, dengan berbagai macam dugaan.
Murad memutuskan mencari informasi tentang Aiyla dari teman seruangan dengan wanita itu yaitu Gul.
"Ergin, jika ada wanita yang datang padamu lalu meminta bantuan padamu untuk kesembuhan putranya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Murad yang membuat Ergin terkejut dengan pertanyaan itu.
Diliriknya arlogi ditangan kiri, terlihat angka 02.00 dini hari, mereka memutuskan untuk pulang karena esok pagi harus kembali kekantor.
Setibanya dirumah, Ergin tak dapat memejamkan mata, bayangan Aiyla selalu melintas dipikarannya dan kesalahan fatal yang telah diperbuatnya.
"Seumur hidup ku akan selalu dibayangkan dengan malam itu," batinnya dihati dengan suara sendu.
Pikirannya kembali pada saat diawal mereka bertemu direstoran. Wanita itu mengenakan shortdress hitam dengan syal hitam menutupi bagian atas tubuhnya.
"Mengapa aku tak memiliki firasat malam itu, wanita itu terpaksa melakukannya, dan betapa piciknya aku meminta untuk kembali tidur bersama karena keegoisanku yang telah berhasil tidur dengannya," umpat Ergin dengan berubah posisi dari tidur kembali duduk ditepi tempat tidur.
Diusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, sebuah prasangka buruk yang berujung penyesalan dihati Ergin.
🍒🍒🍒
Hari terlewatkan beberapa hari dari terbongkarnya identitas Aiyla sebenarnya. Selama beberapa hari itu Ergin tak dapat menghilangkan wajah Aiyla didalam pikirannya.
Wajah Aiyla seakan memenuhi ruang didalam pikirannya, ditambah lagi dari cerita Murad yang didapat dari Gul tentang wanita itu.
__ADS_1
"Hei... Ergin, apa yang kau pikirkan," ucap Murad membuyarkan lamunannya.
Berusaha untuk tak terlihat berbeda, namun Murad merasakan perbedaan yang terjadi pada sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
"Ada apa? Apakah kau masih mengingatkan kejadian beberapa hari yang lalu," ungkap Murad dengan memasang wajah penasaran.
Tebakan Murad sesungguhnya benar, sejak kejadian itu hidupnya tak tenang dan perasaan bersalah menghantui.
"Apa yang telah kita lakukan selama ini pada Aiyla, disaat dirinya harus bekerja dan berjuang demi kesembuhan putranya, terkadang kita menuntut yang berlebihan padahal wanita itu. Padahal masalah yang terjadi padanya sangatlah berat," ungkap Murad dengan wajah penuh kecewa pada dirinya sendiri.
Suara pintu terdengar diketuk dari luar dan masuklah Aiyla kedalam ruangan tersebut. Kedua lelaki yang sedang membicarakan wanita yang ada dihadapan mereka menjadi terkejut.
Murad langsung melarikan diri dengan cara keluar dari ruangan karena suatu alasan pekerjaan yang belum diselesaikannya.
Tertinggal Aiyla dan Ergin didalam ruangan ini, Aiyla berjalan menuju ke meja kerja Ergin dengan menyerahkan file yang sedari tadi dipegangnya.
Wajah Aiyla seperti tidak terjadi sesuatu, dirinya bersikap sewajarnya saja setelah identitasnya terbongkar didepan atasannya. Aiyla berpikir tidak mau terlalu perduli dengan tanggapan atasannya. Hanya ada dipikirannya bagaimana mengendalikan dirinya dan dapat bekerja dengan baik diperusahan ini.
"Tuan ini ada beberapa file yang harus anda periksa dan jika ada yang masih kurang tepat biar saya perbaiki segera," Ucap Aiyla dengan ekspresi biasa saja.
Ergin hanya menerima file yang diberikan lalu membiarkan Aiyla duduk dihadapannya untuk menunggu pemeriksaan file olehnya.
"Siapa nama putra mu?" tanya Ergin seraya membaca file yang ada ditangannya.
"Azzam." Jawab singkat Aiyla.
Kemudian hening kembali, diliriknya Arlogi telah menunjukkan jam 18.30 tanpa mereka sadari.
"Silahkan pulang saja, tentu putra mu telah lama menunggu," ucapnya pada Aiyla seraya masih fokus membaca file.
"Ada yang menemaninya dirumah," balas Aiyla seraya menulis kekurangan yang telah diberikan Ergin pada file yang dibawanya tadi.
"Apakah pengasuh itu baik terhadapnya? " tanya Ergin kembali.
Aiyla menjelaskan bahwa putranya bersama orang yang tepat dan dapat dipercaya. Ergin menatap wajah wanita itu, lalu menghentikan pekerjaannya dan meminta untuk dilanjutkan esok pagi.
Mendengar atasannya untuk menghentikan perkerjaannya, Aiyla mengikuti saja dan bersegera pulang kerumah. Langkahnya terhenti ketika suara lelaki itu memangilnya.
"Dimana ayahnya Azzam?" tanya Ergin seraya menatap dalam kearah mata wanita tersebut.
" Telah meninggal dunia." Jawabnya seraya permisi dan berlalu pergi.
__ADS_1
Kini tinggal Ergin yang mematung seorang diri menatap kepergian Aiyla. Rasa perih kembali menyeruak didalam relung hati setelah mengetahui jawaban dari pertanyaannya.