Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 73


__ADS_3

Akankan restu Nyonya Esma mempengaruhi hubungan mereka berdua? πŸ˜‰


Tulis dikolom komentar πŸ‘‡


Plzzz tinggalkan jejaknya dengan like, love, vote, and rate star 5...πŸ’žπŸ’ž


Author menantikan jejak mu... πŸ‘Œ


Jom lanjuuutπŸ’•


πŸ’ŸHappy ReadingπŸ’Ÿ


πŸƒπŸƒπŸƒ


Angin senja ditepi laut membelai lembut rambut coklat Aiyla yang sedang duduk disebuah bangku menghadap laut lepas.


Seseorang mengajak dirinya bertemu disana.


Melalui pesan singkat yang diberikan wanita itu itu padanya.


Suara burung laut berbulu tebal berwarna putih riuh terdengar ditelinga Aiyla. Mereka berterbang kesana kemari bersama kelompoknya mengitari diatas laut tersebut.


Sungguh terdengar merdu paduan irama alami yang tercipta dipinggir pantai itu. Senyum tipis terlihat diujung bibir Aiyla.


Kedamaian terasa disenja itu, walaupun Aiyla akan menghadapi seseorang yang memiliki pengaruh dikota ini.


Nyonya Esma membuat janji padanya, entah apa yang akan dibicarakan dengan wanita itu. Jika tentang hubungan Aiyla dengan Ergin, maka Aiyla akan menjelaskan sebaik-baiknya dengan wanita yang pernah bekerja sama dalam suatu yayasan yang diketuai oleh Nyonya Esma dan ibu Tuan Murad.


"Nyonya Aiyla... Selamat sore," sapa seorang wanita dengan suara datar.


Kedatangan ibu Ergin tidak disadari oleh Aiyla karena tengah asik menikmati merdunya irama alam yang terdengar ditelinganya.


"Oh....Nyonya, Silahkan duduk, " balas Aiyla dengan wajah tersenyum.


Kini mereka berdua duduk seraya menghadap kelaut lepas senja ini. Ada beberapa menit mereka berdua terdiam sejenak.

__ADS_1


Nyonya Esma baik dirinya berusaha berpikir merangkai kata mengawali pertemuan mereka berdua senja ini.


Setelah menunggu cukup lama Aiyla memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan mereka berdua.


"Nyonya, ada hal apa yang akan anda bicarakan dengan saya? " Tanya Aiyla seraya menatap serius kewajah wanita paruh baya tersebut.


Wanita yang menggunkan jaket berbulu dibagian leher berwarna coklat tua dengan rambut yang selalu ditata rapi kebelakang memandang lepas kearah laut.


"Nyonya Aiyla...Sebelumnya kita telah bertemu beberapa kali dalam acara penggalangan dana yang diadakan oleh yayasan. Saya menyukai seorang ibu yang tegar dan mandiri seperti anda. Berani melakukan apapun buat permata hatinya," ungkap wanita itu mengawali bicaranya dengan suara teratur dan pelan.


Sebagai pembuka yang bagus terdengar ditelinga Aiyla, tapi belum menggambarkan tujuan wanita ini untuk bertemu dengannya.


"Ergin adalah putra semata wayang didalam keluarga Ozturk , dia pewaris dari keluarga ini. Harapan ku Ergin menemukan seorang wanita yang sepadan dengan status sosial dirinya. Nyonya adalah wanita yang baik dan saya yakin mengerti dengan apa yang saya bicarakan ini," ungkap wanita itu dengan suara datar.


Terasa tertusuk dihati Aiyla yang telah terluka, ia terlintas kembali pada penolakan yang pernah terjadi, namun ini secara lebih halus yang dilakukan dari keluarga Ali sebelumnya.


Bulir bening berusaha ditahannya agar tak keluar dari sudut matanya. Berusaha mengendalikan emosi dan perasaannya dihadapan wanita ini.


"Nyonya anda benar, apa yang telah anda sampaikan mengenai status sosial. Namun didalam kehidupan ini status sosial tidak menjamin sepenuhnya kebahagiaan itu sendiri," balas Aiyla dengan suara tegas.


Terlihat didalam sorot matanya tidak menyukai apa yang terdengar ditelinga wanita itu. Aiyla masih dengan ekspresi biasa tanpa terpancing dengan tatapan matanya.


"Demi status sosial itu seseorang terkadang bisa menjadi pribadi yang murahan, kau harus tahu itu nyonya!!!" ucap Nyonya Esma sedikit mengeraskan suaranya.


Sesuatu yang tertusuk dihati yang telah terluka kini terasa menancap lebih dalam menembus hatinya. Terasa begitu perih dihati dan terasa terhina secara tak langsung atas perkataan wanita dihadapannya.


Aiyla diingatkan kembali akan harga dirinya yang ikut lenyap dipekat nya malam bersama putra dari wanita dihadapannya ini. Bulir bening yang ada diujung matanya kini jatuh secara perlahan membasahi wajahnya.


"Saya telah mengenal banyak wanita yang seperti itu nyonya, mampu melakukan apapun demi status sosial tersebut!! Saya harap nyonya Aiyla mendekati putra ku tidak dengan cara yang murahan, karena saya tak ingin mengulang kisah dimasa silam. " Ungkap wanita itu dengan keseriusan disorot matanya.


Dengan wajah tertunduk Aiyla tak mampu mengangkat kepalanya. Lidahnya kelu dan hatinya tertusuk begitu dalam. Menyadari atas perbuatan yang pernah dilakukannya diluar dugaan dirinya sendiri.


Tak peduli dengan yang dimaksud dengan kisah masa silam yang disebut wanita itu. Saat ini Aiyla seperti tertampar begitu keras tepat diwajahnya atas perkataan wanita paruh baya itu disaat harga dirinya yang telah ikut lenyap.


"Baiklah Nyonya Aiyla... Saya berharap anda mengerti dengan apa yang kita berdua bicarakan ini," ucap wanita itu seraya berdiri dari kursinya.

__ADS_1


Wanita itu pergi setelah mengeluarkan kata terakhirnya. Meninggalkan Aiyla yang kini menangis tersedu seorang diri. Irama alam disenja itu tak terdengar merdu lagi ditelinganya.


Dilangkahkan kakinya menyusuri sepanjang tepi pantai tersebut. Raga dan jiwanya tak selaras. Hanya mengikuti irama kaki, Aiyla terus berjalan dengan bulir bening yang terus keluar dari kedua ujung matanya.


"Aku yang sebegitu yakin dan percaya diri akan memperbaiki hubungan Ergin dengan ibunya, tapi kini aku tersadarkan kembali bahwa aku tak lebih dari wanita murahan yang dimaksud oleh Nyonya Esma," umpat Aiyla didalam hatinya.


Aiyla tak bisa menampik setelah kejadian dimalam yang pekat itu, putra Nyonya Esma tak bisa berpaling dari dirinya. Jika tidak pernah terjadi, maka tentu sebaliknya Ergin tak akan mengarahkan pandangannya pada Aiyla.


"Aku wanita yang buruk, yang telah mengkhiati kemurnian cinta suami. Kini begitu percaya dirinya akan cinta Ergin," batin Aiyla kembali.


Dret...Dret... Dret...


Terasa getaran disaku jaketnya, menghentikan langkah kaki Aiyla. Dirogohnya ponsel tersebut dan terlihat dipanggilan masuk dilayar ponsel tertulis nama Ergin.


Aiyla menerima panggilan itu dengan kembali duduk disalah satu kursi yang ada ditepi pantai.


"Sayang... Kau dimana? Aku telah ada dirumah mu!!" Terdengar suara dari seberang dengan antusias.


Senja kini telah berganti dengan malam, udara dingin lebih terasa diwajah Aiyla. Berteman dengan sinar dari lampu disepanjang jalan tanpa ada orang disekitar sana.


Terdengar kekhawatiran dari suara diseberang sana. Aiyla menyebut tempat dimana kini dirinya duduk seorang diri.


"Sayang...Kau jangan kemana-mana. Tunggu aku disana!!! " ucap Ergin dengan suara tegas.


Panggilan itupun terputus begitu saja, tanpa Aiyla matikan. Tak berselang lama sebuah mobil berwarna hitam mengkilat menepi dipinggir jalan tak jauh dari tempat dimana Aiyla duduk.


Terlihat wajah Ergin yang begitu cemas dan khawatir, lelaki itu turun dan terus berlari mendekati Aiyla.


Seketika dipeluknya tubuh Aiyla yang mematung sedang menatap kearah laut. Terasa dingin dikulit wajah Aiyla saat Ergin meyentuhnya.


"Sayang...Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ergin dengan tatapan mata sedih bercampur penasaran.


Ditangkupnya wajah Aiyla dengan kedua tanganya. Ibu jarinya menghapus lembut bulir bening yang membasahi wajah aiyla.


Dahi Ergin dan dahi Aiyla bertemu, terasa hembusan nafas keduanya. Ergin begitu khwatir dan begitu cemas melihat keadaan wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Hanya memeluk erat dan terus mencium berulang kali puncak kepala Aiyla. Mereka berdua terdiam cukup lama dengan pikiran yang berkecamuk dihati mereka masing-masing.


__ADS_2