Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 158


__ADS_3

Akhirnya Gul dan Murad bertemu... Ayo siapa yang pada senang nih... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Tulis dikolom komentar yaaa ๐Ÿ‘‡


Dont forget to like, love, vote, gift, anda rate star 5 Guy's๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


I'm waithing for your support๐Ÿ‘Œ


Jom lanjuuut ngebaca ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


๐Ÿ’™Happy Reading๐Ÿ’™


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Gul... Gul... Gul... "


Teriak Murad tak membuat Gul tersadar, tubuhnya lemas dan tak bertenaga seakan kekuatannya menghilang dari tubuh Gul.


Wanita itu terkulai dan seketika tubuh Gul disambut Murad yang tepat berada disampingnya. Lelaki itu panik melihat Gul tak sadarkan diri.


Digendongnya tubuh Gul ala bridal style menuju kamar yang tadinya ia sempat keluar mencari putri kecilnya. Aiyla yang melihat respon sahabatnya tersebut segera menelpon Ergin untuk segera membawa putri Gul dan meminta untuk membawa seorang dokter sekaligus.


Bulut yang melihat perubahan dari wajah Ergin, timbul rasa penasaran dihatinya.


"Ada apa Tuan? Apa yang sedang terjadi? "


Tanya Bulut seraya masih menggedong Dilec, dengan wajah cemas dan bercampur bingung.


"Segera cari dokter dan bawa kemari, Gul tak sadarkan diri. Biar Dilec bersama ku sekarang."


Balas Ergin dengan wajah serius menatap Bulut yang lebih bertambah cemas setelah mendapatkan penjelasan dari lelaki dihadapannya.


Bulut memberikan Dilec dalam gendongan Ergin dan segera melangkahkan kakinya menuju lobi sampai pada parkiran. Dihidupkannya kendaraan roda dua tersebut dan melesat dengan cepat.


"Apa yang telah kau lakukan Murad sehingga membuat wanita itu tertekan lalu jatuh pingsan!!!"


Umpat Ergin seraya berlalu dan meninggalkan taman yang ada diresort terserbut. Sedari tadi Dilec dan Melec bermain ditaman yang sengaja khusus didesain resort untuk ramah anak sehingga pengunjung tak merasa kebingungan jika membawa anak-anak ketempat tersebut.


Mengendong keduanya dan menuju kamar dimana mereka menginap. Ergin langsung menyerahkan Dilec pada Murad.

__ADS_1


Tentu saja laki-laki itu terkejut serta bercampur bahagia melihat anak perempuan yang memiliki mata duplikat dirinya.


"Ergin... Apakah ini... Putriiii... Ku? "


Ungkap Murad seraya memeluk tubuh kecil anak perempuan yang ada didalam gendongannya, lalu mencium kedua pipinya.


Murad tak percaya bahwa dirinya telah memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik. Usianya yang tak terpaut jauh dengan putri Ergin.


"Ya... Tuhan wajah mu mirip sekali dengan ibu mu... Kau sangat cantik sayang... "


Ungkap Murad yang henti-hentinya memeluk dan mencium Dilec. Begitu histeris dan begitu terlihat rasa bahagia Murad dapat bertemu Gul dan tak menyangka bahwa dirinya telah memiliki seorang putri kecil yang cantik.


"Permisi, dimana wanita yang tak sadarkan diri? "


Tanya dokter dengan membawa peralatan medis ditangannya. Bulut yang melihat laki-laki yang diceritakan Ergin dihadapannya membuat dirinya merasa cemburu.


"Disini dokter. "


Balas Aiyla yang berdiri disamping tempat tidur.


Dengan tatapan yang tak bersahabat Bulut mendekati Gul. Murad menyadari bahwa lelaki yang datang bersamaan dengan dokter itu merasa tak menyukainya.


Dilec yang berada digendongan Murad menggapai tangannya kearah Bulut. Anak perempuan itu tersenyum dan ingin bersama dengan Bulut.


"Sayang... Sebentar ya...Paman melihat ibu mu dulu."


Ucap Bulut dengan penuh kasih sayang terhadap Dilec yang sedang digendong Murad. Namun pandangan matanya sinis kearah Murad.


Dokter langsung melakukan tugasnya, mengecek Gul yang masih tak sadarkan diri. Setelah beberapa menit kemudian dokter berkata seraya tersenyum.


"Tidak perlu ada yang dikhawatirkan, nyonya ini hanya shock dan kelelahan saja. Sebentar lagi juga akan membaik. Saya akan berikan suplement agar bisa lebih baik. Oya usahan untuk tidur yang cukup. "


Ucap dokter pada Bulut seraya memberikan resep yang ditulisnya pada Bulut. Semua yang ada diruang tersebut memperhatikan sikap Bulut yang sangat memperdulikan Gul.


Wajar saja karena selama ini Bulutlah yang hadir dan menemani Gul bersama putri kecilnya.


"Baiklah dokter... Saya akan menebus resep ini sekaligus akan mengatar anda. "


Balas Bulut seraya berjalan melewati Murad dan berlalu dari hadapan mereka bertiga.

__ADS_1


Tak berapa lama Bulut pergi, Gul mulai kembali pads kesadarannya. Matanya secara perlahan terbuka dan langsung terlihat Murad yang sedang menggendong putri kecilnya.


Sebuah senyum terukir diraut wajah Gul yang pucat. Memang wanita itu kurang istirahat dan nafsu makan yang kurang sehingga wajar saja dirinya pingsan.


"Murad...Apa yang terjadi."


Ucap Gul seraya meraih putrinya yang masih didalam dekapan Murad. Didekatkanya Dilec disamping tubuh Gul.


Dilec lalu ikut berbaring bersama ibunya dan memeluk tubuh Gul. Murad melihat hal tersebut turut duduk disalah satu sisi ditempat tidur tersebut seraya mengusap lembut puncak kepala Gul.


Ergin dan Aiyla memutuskan untuk pergi dari mereka bertiga dan memberikan luang waktu agar mereka bisa saling melepaskan rindu.


Murad yang tadinya duduk sekarang merebahkan tubuhnya lalu salah satu lengannya digunakan untuk Gul sebagai bantal. Mereka tak bersuara hanya sentuhan-sentuhan kasih sayang yang diberikan oleh ketiganya.


Putri kecilnyapun tertidur dalam dekapan tubuh ibunya dan Murad masih membelai lembut puncak kepala Gul.


"Sayang... Aku akan letakkan Gul ditempat yang lebih luas agar tak tergangu tidurnya." Ungkap Gul seraya membelai lembut dada bidang Murad.


Murad bangkit dari tidurnya lalu dirinya yang mengangkat putri kecilnya secara perlahan dari pelukan Gul dan merebahkan pada salah satu sisi ditempat tidur.



Gul bangkit dan berdiri lalu mendekati Murad. Lelaki itu tersenyum melihat putrinya yang tertidur pulas seraya merangkul tubuh Gul.


Tak berbeda jauh dengan Gul, wanita itupun begitu bahagia terlihat dari senyum yang menghiasi wajahnya. Gul mengelayutkan kedua tangan dileher Murad dengan manja.


Memberikan sentuhan tepar dikedua pipi laki-laki itu. Rasa cintanya selama ini terbayar sudah disaat ini.


"Sayang... Aku akan segera melamar mu dan mengajak mu menemui kedua orang tua mu. "


Ungkap Murad seraya menempel dahinya kedahi Gul. Hembusan nafas keduanya terasa diwajah mereka berdua.


Keduanya merasakan rindu yang selama ini terpendam telah terbayar sudah. Kesabaran Gul membawa lelaki yang sangat dicintainya mengerti akan ketulusan cinta tanpa melihat status dan kekayaan yang dimiliki Murad.


"Berjanjilah pada ku... Agar tak pernah membuat ku tersiksa dengan kepergian dari mu."


Ungkap Murad kembali seraya menyentuh lembut tepat dibibirnya. Gul memberikan isyarat melalui matanya yang tak berkedip menantap wajah Murad.


Sebuah isyarat yang memberikan arti bahwa dirinyapun tak mengingikan perpisahan terjadi lagi diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Aku sungguh bahagia, ternyata aku telah memiliki seorang putri yang cantik. Tak akan ku biarkan seseorang lebih mengenalnya dari pada aku sebagai ayah kandungnya."


Ungkap Murad pelan dengan sendu karena terpikir bahwa selama ini dirinya telah membuang waktu yang sangat berharga. Waktu kebersamaan dengan putri kecilnya dan tak akan ia sia-siakan lagi.


__ADS_2