
Yes...Sibabang Ergin bartemu Sineng Aiyla π
Siapa yang telah lama menunggu ini terjadi ??
Tulis dikolom komentar ya Guy's...π
Pliz bantu Author selalu dengan like, love, vote and rate bintang 5 ππ
Kebahagian Author disaat tulisan ini bisa dinikmati semua Reader π dan mendapatkan jejak dari Reader setia...π Not pasif Readerπ
Jom lanjut ngebaca...π¨π¨π¨
π₯Happy Readingπ₯
π«π«π«
Amarah diwajah Murad terlihat disorot matanya yang tajam. Gengaman tangannya yang mengepal kuat dilapiaskan dengan sebuah tembok yang ada didekatnya.
Kini punggung tangannya lebam, terlihat berubah warna menjadi merah kebiru-biruan. Rasa sakit yang dirasakan dihatinya tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan ditangan kanannya setelah menghantam keras tembok tersebut.
"Siapa yang beri tahu mu Ergin!!! " ucap ketus Murad bercampur kesal.
Rasa terbakar oleh api cemburu yang memuncak, Aiyla tak pernah merespon dirinya sedikitpun, pandangan matanya dingin walaupun dirinya selalu menujukkan perhatian terhadap putranya dan wanita itu.
"Aku yakin telah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua," besit hatinya yang semakin kesal.
Sebelum api amarah bercampur cemburu lebih membakar diri dan bertindak diluar batas kesadarannya, berjalan secepat kilat dan menghilang dari tempat berdirinya Aiyla dan Ergin.
Tak ingin mereka berdua melepaskan pelukan yang hangat dengan begitu cepat. Dan masih tak menyadari bahwa ada seseorang telah terbakar api cemburu atas pelukan itu.
"Sayang... Ku harap kau tak akan pernah meninggalkan ku lagi. Kau tahu bagaimana ku jalani malam-malam itu dengan rasa terbakar akan rasa sakit dan bersalah ku. Biarkanlah aku menebus malam yang pekat itu, " ucap Ergin dengan bulir bening telah jatuh diujung matanya.
Penuh kesungguhan dan tak terlihat kepura-puraan dimata lelaki itu. Hanya ada ketulusan dan pengharapan akan kesempatan untuk dirinya diterima oleh Aiyla.
Hanya memberikan isyarat mata, Ergin tahu bahwa dirinya kembali mendapatkan kesempatan itu. Senyum menghiasi diparas tampan lelaki bermata biru.
__ADS_1
Seketika sebuah sentuhan hangat jatuh diatas bibir Aiyla begitu lembut dan tanpa penolakan dari Aiyla bahkan mendapatkan reaksi balik dari dirinya.
Saat ini rasa sakit dan perih yang dirasakan dihati mereka berdua mengalahkan rasa rindu yang menyeruak didalam hati dan perasaan mereka berdua.
Sentuhan dibibir itu lumayan lama, mereka berdua begitu menikmatinya dengan saling merasakan degup jantung yang bergemuruh.
"Sayang... Aku sangat merindukan mu," ucap Ergin yang tak henti-hentinya melepaskan sentuhan dibibir Aiyla berulang-ulang.
Azaam yang telah lama menunggu ibu dan lelaki yang juga dirindukannya akhirnya telah berada disampingnya kembali.
Dengan senyum yang menghiasi wajah anak lelaki itu membuat Aiyla merasa bahagia. Dipeluk erat tubuh Azzam seraya mencium kedua pipinya.
"Sayang ku... Permata hati ku... Maafkan ibu," ucap Aiyla dengan penuh mesrah.
Ergin tak mau melepaskan moment bahagia itu, dirinya pun merangkul keduanya dalam dekapan dada bidangnya.
Fusun tersenyum melihat kebahagiaan yang ada didepan matanya. Dengan wajah berseri ia pun keluar meninggalkan mereka bertiga untuk lebih leluasa didalam ruangan tersebut.
"Sayang...Katakan pada ku, apa yang terjadi sehingga jagoan ku ini harus kembali terbaring disini? " ucap Ergin dengan membelai lembut rambut kepala Azzam.
Kini posisi Ergin telah naik diatas tempat tidur dan berbaring dengan kepala Azzam diletakkan disebelah lengannya. Putra Aiyla itu berbaring menyamping dalam dekapan Ergin.
"Ceritakan pada ku.. Aku siap mendengarkanya?" ungkap Ergin dengan kata meyakinkan.
"Tuan... Saat aku telah selesai berolahraga bersama teman-teman ku, aku duduk sebuah bangku yang tak jauh dari lapangan sekolah. Disaat itu datang teman sekelas ku bertanya tentang ayahku." ungkap Azzam dengan menghentikan bicaranya seraya menatap ibunya.
"Lanjutkanlah nak... Ibu mendengarkan mu, " ucap Aiyla dengan menahan air mata yang berusaha untuk keluar dari ujung matanya lagi.
Baru kali ini Azzam mau bercerita tentang apa yang terjadi padanya dengan orang lain, bahkan Aiyla sendiri belum mendengar hal ini.
Setelah mendengar perkataan dari ibunya, Azzam kembali melanjutkan cerita. Azzam mengatakan bahwa teman sekelasnya menanyakan padanya tentang hari libur sekolah.
"Apakah ayah ku menghabiskan waktu bersama, bermain dan melakukan segala aktivitas bersama dengan ku," ucap Azzam dengan wajahnya yang sangat sedih.
Selanjutnya terlihat Ailya begitu terpukul setelah mendengar Azzam menjawab pertanyaan teman sekelasnya dengan "Aku tak mengenal ayah ku"
__ADS_1
Air mata yang semula berhasil ditahannya kini meluncur deras dikedua ujung matanya. Ditambah lagi teman sekelas Azzam yang menanggapi bahwa Azzam tak memiliki seorang ayah.
Perkataan dari temannya itulah yang membuat Azzam bersedih sehingga dirinya tak dapat mengendalikan emosinya saat itu juga. Azzam ingin mengatakan lebih lanjut pada temannya tetapi telah berlalu dari hadapannya.
Perasaan yang bercampur menjadi satu di saat dirinya ingin menjelaskan namun tak tersampaikan, membuat rada kesal bercampur sedih dihati putranya.
Mengapa Azzam mengatakan hal demikian bahwa ia tak mengenal ayahnya bukan berati ayahnya tak sayang padanya, karena ibunya selalu mengatakan bahwa Azzam adalah sesuatu yang berharga bagi ayah dan ibunya didalam hidup ini.
Memiliki Ayah namun telah pergi sewaktu dirinya masih kecil, wajar anak tersebut mengatakan tak mengenal secara langsung sosok ayahnya.
Hanya tahu melalui cerita yang disampaikan dari ibunya dan gambar yang selalu dilihatnya setiap rindu akan kehadiran ayahnya.
"Tuan... Mau kah anda menjadi ayah ku?" ucap polos Ergin dengan mata bulatnya memandang lelaki yang kian erat memeluk tubuhnya.
Mereka berdua terkejut dan saling melepaskan pandangan mata kearah Azzam. Tak percaya dengan apa yang diucapkan dari mulut anak lelaki yang terbaring didalam pelukkannya.
Tak berbeda jauh dengan Aiyla yang terperanjat dengan ungkapan perasaan yang dipendam putranya selama ini. Aiyla baru sadar bahwa putranya benar-benar mencari jati diri dari sosok seorang lelaki yang menjadi panutan baginya.
"Tentu saja kau bisa panggil aku Ayah..." Ungkap Ergin seraya tersenyum.
Mengangkat tubuh kecil itu dari posisi semula kini telah ada dipangkuan memghadap dirinya. Lalu menatap dalam wajah anak lelaki itu dengan sangat dalam menembus kekalbu putra Aiyla.
"Putra ku..." Ucap Ergin dengan lembut dan terdengar penuh kasih.
Rasa bahagia dan senang kembali diperlihatkan oleh Azzam diparasnya yang terbilang tampan, hanya disaat terbaring disini terlihat wajah pucat dan tak bergairah.
Ditariknya tangan Aiyla dan digenggaman erat seraya mengisyaratkan untuk jangan pergi dari mereka berdua.
"Tetaplah disini ? " ungkap Ergin dengan menarik tubuh Aiyla lebih dekat dengannya.
"Kita akan habiskan waktu lama dipeternakan itu," ucap Ergin lebih lanjut dengan wajah tersenyum menatap Aiyla.
Mendengar perkataan Ergin, wajah Azzam berseri dan senyum yang menampakkan lesung pipi yang begitu sempurna.
"Benarkah ayah? " Balas Azzam dengan antusias.
__ADS_1
Ergin terharu dan tak dapat berkata setelah mendengar Azzam kini memanggilnya dengan sapaan Ayah. Dengan menganggukan kepalanya pertanda setuju seraya mencium dahi Azzam yang sekarang menjadi putranya.
Aiyla tak dapat menolak kali ini, hanya dengan tersenyum menatap lelaki bermata biru dengan segala rasa dihatinya.