Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 52


__ADS_3

Hai Reader....Terima kasih buat yang telah meninggalkan jejaknyaπŸ™πŸ™πŸ™


Bagi yang belum Plizzz ...😭😭 Author butuh kalian Guy's πŸ™πŸ™ Butuuuuuh Banget πŸ˜€πŸ˜€


"Ibarat malam tanpa bintang"


🌟🌟🌟🌟🌟


"Ibarat Author tanpa jejak Reader"


Disaat Reader menikmati tulisan ini, disaat itu juga Author menikmati rasa senang dan haru dari jejak yang Reader tinggalkan 😒😒 Ditambah dengan komentar yang membangun membuat Author menjadi bersemangat πŸ’ͺπŸ’ͺ


Alhamdulillah jumlah views naik setiap hari telah mencapai 5500,,,,Thanks Reader😍😍 Moga makin bertambah setiap harinya...😊😊


Bantu Author dengan like, love, vote and rate bintang 5 nya...😍😍


Dengan cara itu bisa sampai pada penikmat lain dan jadi baper berjama'ah 😊😊


OK... Happy Reading😘😘


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Tiga Hari Kemudian


Hanya kaca pembatas itu yang menjadi pemisah antara Azzam dan Aiyla. Ruang ini terasa lebih dingin dan terasa sunyi.


Dengan tubuh yang terbaring disana dan beberapa alat menempel ditubuh putranya itu. Aiyla semakin terpuruk kakinya tak mampu berdiri didepan kaca pembatas itu lebih lama.


"Aiyla... Istirahatlah. Jangan sampai kau tak sadarkan diri lagi, kumpulkan tenanga mu. Duduk lah disini bersama ku, " ucap Fusun dengan wajah yang terlihat lelah.


Aiyla mengikuti saja gerakan tangan wanita itu meraih tubuhnya yang sudah sempoyongan dan berjalan menuju kursi yang berjajar dihadapan mereka berdua.


"Kak... Sudah tiga hari putra ku disana? Aku rindu senyum manisnya, kini senyuman itu tak dapat kulihat hanya wajah pucat yang terbaring disana," ucap Aiyla dengan suara pelan dan raut wajah sedih.


Tidak hanya Azzam, dua wanita itu menampilkan wajah lelah bercampur kesedihan dan Aiylapun terlihat tidak begitu sehat. Wajahnya yang pucat masih terlihat jelas.

__ADS_1


Sudah tiga hari mereka dirumah sakit dan selama itu mereka tidak begitu memperhatikan kondisi tubuh mereka sendiri.


Tidak ada rasa kantuk dan tidak ada rasa lapar yang ada hanya rasa sedih dan rasa cemas yang selalu menggelayut dipikiran dan hati mereka berdua.


Dret... Dret... Dret...


Bunyi getar dari ponselnya yang sengaja disenyapkan oleh Aiyla. Terlihat sebuah panggilan dari atasanya yaitu Harun.


"La... Kau dimana? aku sudah ada dirumah sakit, " ujar Harun seraya melihat kesegala penjuru.


Setelah memberikan nama ruang dimana putranya terbaring dengan wajah pucat lalu panggilan itu terputus begitu saja.


Harun memang sudah diberikan kabar tentang putra temannya, karena secara tiba-tiba Aiyla tak masuk kantor. Jadi date line pekerjaan yang harus dikerjakan Aiyla terpaksa Harun menghandle projek itu terlebih dulu.


Makanya lelaki itu baru bisa hadir setelah tiga hari putra temannya itu terbaring dirumah sakit ini.


Masih beruntung Aiyla memiliki Harun sebagai atasannya, setelah diberi tahu malam pertama Azzam dirumah sakit ini, Harun langsung memberikan izin tanpa batas waktu untuk mengurus putranya.


Pada saat kejadian memang Harun kehilangan Aiyla setelah pagi itu pergi ke rumah Tuan Mustafa namun sampai sore dirinya tak kembali kekantor tanpa kabar apapun.


Pada saat malam hari baru Harun mendapatkan kabar, itupun dari Fusun yang menjawab panggilan dari nya tentang keadaan putra Aiyla.


Kini lelaki itu tengah berada dirumah sakit dan segera menuju ketempat putra Aiyla berada. Dengan langkah cepat dan wajah penuh cemas berjalan menuju ruangan isolasi bagi pasien-pasien yang darurat tersebut.


Setelah melihat sosok yang dikenalnya tengah duduk berdua dari jauh, segera langkah kakinya dipercepat dari sebelumnya.


"Aiyla... Maaf aku baru bisa kemari dan tak bisa langsung membatu mu disaat seperti ini," ucap Harun dengan wajah sedih dan tertunduk.


Tak ada respon apapun dari Aiyla, dirinya melamun tak mendengar bahkan menyadari kehadiran Harun telah berada disampingnya.


"Aiyla... Tuan Harun telah ada disini," ucap Fusun seraya mengoyangkan bahunya dengan pelan.


Dialihkan pandangan kosongnya kearah Harun dengan wajah datar, Aiyla tak mengeluarkan suaranya hanya memandang lama wajah lelaki itu.


"Ini ku bawakan makanan, aku yakin kalian berdua belum makan malam, " ungkap Harun dengan menunjukkan sebuah bungkusan ditangan kanannya.

__ADS_1


"Terima kasih." balas Aiyla singkat.


Melihat wanita dihadapanya itu hanya mengeluarkan sepatah kata tanpa menerima bungkusan yang dibawanya terlihat jelas bahwa raganya saja yang ada disini namun pikiran Aiyla terbang tak menentu.


Fusun langsung merespon dengan mengambil bungkusan dari tangan atasan Aiyla. Dan dibiarkan saja wanita yang bersama Aiyla itu yang menerima apa yang telah Harun bawa.


"Dia masih kecil, aku dan Ali sangat bahagia saat itu dengan kehadirannya ditengah-tengah keluarga kecil kami, belahan jiwa dan permata hati kami. Azzam belum bisa mengenal sosok ayahnya saat itu dan belum mengetahui betapa besar cinta ayahnya pada dirinya, namun harus terpisah karena takdir yang tak dapat ditolak. Betapa hancur hati ku saat itu, kekuatan ku, kekasih ku dan penghibur ku pergi meninggalkan kami berdua. Aku tak sanggup kehilanganya Harun... Sudah cukup suami ku, aku tak sanggup jika putra ku juga pergi dari kehidupan ku..." Ungkap Aiyla dengan suara lirih dan bulir bening jatuh dari ujung matanya.


Mendengar wanita yang ada disampingnya itu membuat Harun refleks memeluk tubuh Aiyla. Pelukan itu begitu erat dan Aiyla membiarkan saja tubuhnya dipeluk Harun.


Saat ini jiwa dan raganya rapuh dan terpuruk sangat dalam. Tak ada yang membuat dirinya bahagia selain putranya yang terbaring diruang sana segera sadar dari tidur panjangnya.


Pada saat Harun memeluk tubuh Aiyla, saat itu juga Murad melihat adegan tersebut pas tepat didepan matanya.


Lelaki yang telah berturut- turut datang kerumah sakit selama tiga hari ini. Melihat Aiyla dipeluk oleh lelaki lain dan tak ditolak oleh Aiyla membuat hati Murad panas dan terbakar cemburu.


"Siapa laki-laki itu... Sebegitu dekatkah hubungan mereka berdua sehingga Aiyla tak menolak pelukan dari lelaki itu," besit Murad dengan wajah tak senang.


Murad sengaja datang bersama Gul, mereka berdua telah berjanji bahwa sepulang dari kantor akan pergi kerumah sakit.


Gul dijemput oleh Murad diapartementnya, lalu mereka sekarang telah sampai diruang isolasi tempat Azzam dirawat secara intensif disana.


Tak menyangka bahwa Murad akan melihat adegan seperti itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Siapa laki-laki itu? Apakah kau mengenalnya? " tanya Murad dengan nada penasaran dan wajah tak senang.


Dengan mengerakkan kedua bahu dan tangannya keatas secara bersamaan Gul memberikan jawaban bahwa dirinya juga tak mengenal laki-laki yang sedang memeluk sahabatnya itu.


Hati Murad bertambah panas setelah mengetahui bahwa Gul juga tak mengenal lelaki itu.


"Aiyla tak punya saudara laki-laki dan tak punya keluarga lain selain keluarga Gul. Trus apa hubungan lelaki itu dengan Aiyla?" batin Murad dihatinya.


Dari pelukan mereka berdua yang dilihat dari kejauhan memang seperti pelukan sepasang kekasih. Wajar saja Murad dan Gul memiliki pikiran yang sama bahwa lelaki itu memiliki hubungan khusus dengan Aiyla.


Api cemburu merasuki dada dan pikiran Murad dan terlihat jelas diwajah lelaki itu. Gul merasakan kesedihan menyelinap direlung hatinya karena melihat perubahan wajah lelaki disampingnya yang sedang berjalan bersama merasakan kecemburuan besar pada Aiyla.

__ADS_1


__ADS_2