Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 164


__ADS_3

Author butuh suplement nih πŸ’ͺπŸ’ͺbiar tambah semangat πŸ‘ŒπŸ‘Œdengan cara klikπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author πŸ™πŸ™ Semoga masih tetap setia πŸ’™ dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam 😍😘


Jom lanjuuut ngebaca πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’₯Happy ReadingπŸ’₯


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Semua panik setelah melihat ibu Gul yang seketika tak sadarkan diri setelah mendengar perkataan Murad yang belum selesai.


Sangat tak mengira akan terjadi diluar pemikiran Gul. Ayahnya yang baru saja tiba mendengar kepanikan yang tengah terjadi diruang tamu, lelaki itu segera mempercepat langkah kakinya memasuki kedalam rumah.


"Ada apa ini? "


Ucap Ayahnya yang histeris dengan nada tinggi atas apa yang sedang dilihatnya. Terlebih lagi setelah melihat putrinya yang telah lama tak bertemu kini telah kembali pulang kerumah.


"Gulver... Apa yang terjadi pada ibu mu? "


Tanya laki-kaki itu penasaran dan bertanya kembali seraya mengambil sebuah botol yang berisi minyak yang berbau kuat sekali pada istrinya.


Lelaki itu cepat mengetahui bahwa istrinya sedang tidak sadarkan diri. Perlahan ayahnya mendekatkan dengan kapas yang telah dibasahi minyak tersebut kehidung ibunya lalu memberikan sebagian minyak yang berbau menyengat tersebut diperut dan dahi serta ujung kaki ibunya.


Perlahan-lahan wanita itu mulai kembali sadar dari alam bawah sadarnya setelah menghirup bau yang menyengat dihidungnya. Bau itu terasa hangat dan segar tercium dihidung wanita tersebut.


"Ayah... Kau sudah pulang? Putri kita Yah..."


Ucap ibu Gul seketika itu juga setelah sadar seraya melirik kearah Gul yang masih terlihat cemas dan panik menatap wajah ibunya.

__ADS_1


"Ijinkan aku untuk menjelaskannya dan ku mohon kalian berdua untuk tidak panik sebelumnya, ku mohon maafkan aku karena semua adalah salah ku!! dan jangan salahkan Gul. "


Ucap Murad dengan suara pelan dan penuh penyesalan serta rasa bersalah dimata lelaki itu pada saat menceritakan menceritakan semuanya.


Dimulai dengan hubungan mereka berdua yang terjalin karena settingan sampai pertemuan Murad dengan Gul dikota kecil tersebut.


Ayah dan ibu Gul baru sedikit lega namun masih terselubung rasa sedih dan kecewa karena putrinya tak mau berterus terang pada mereka berdua dengan segala derita yang ditanggung seorang diri disebuah kota yang asing.


Selama ini Gul berbohong dan selalu mencari alasan ketika diminta untuk segera pulang apalagi diminta untuk menikah.


Selama 3 tahun lebih kurang Gul berbicara dengan keluarga hanya menggunakan sambungan jarak jauh. Selebihnya dirinya memang jarang menghubungi keluarganya.


Wanita itu khawatir karena kedua orangtuanya tak akanmengerti bahkan pastinya menolak dengan apa yang telah dilakukannya.


"Putri ku... Maafkan kami yang tak begitu peka pada mu. Kami selama ini terlalu menekan mu dan terlalu egois atas permintaan yang kami rasa adalah hal yang sederhana namun diouar bayangan ini menjadi rumit."


Ungkap ibunya yang telah mendengar dan menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Murad dan Aiyla.


Kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka telah terurai dengan baik. Sehingga memudahkan Nyonya Syukran untuk melanjutkan maksud dirinya datang kekampung ini guna menyampaikan niat putranya bahwa akan menikahi Gul.


Tentunya ada senyum yang mengembang draut wajah kedua orangtua Gul setelah mendengar perkataan dari Nyonya Syukran.


Ucap ayah Gul yang begitu bahagia, laki-laki yang ada dihadapan putrinya tak membeci disaat Gul membutuhkan dukungan keluarga.


"Kita akan laksanakan 3 minggu dari sekarang."


ucap Murad yang begitu antusias menginginkan segera menjadikan hubungan mereka secepatnya dengan sebuah status sepasang suami istri.


Ibu melihat Murad akan mengatur sebuah pesta yang akan diadakan dikota besar dimana dulunya Gul bekerja. Lelaki itu bersemangat walau yang hadir hanya beberapa orang terdekat.


"Aku terserah kau, pelaksanaan resepsi pernikahan dipercepat maka itu lebih baik untuk ku dan putri ku. "


Ungkap Aiyla seraya menggendong putrinya yang masih asik bermain. Gul merasa pesta yang akan diadakannya nanti dalam bentuk sederhana saja, dirinya tak ingin sebuah pesta yang megah.


Wanita itu hanya ingin melegalkan hubungannya dengan Murad. Aiyla pastikan akan senang setelah mendapatkan kabar dari sahabatnya itu.


Murad diberikan sebuah cincin dari ibunya untuk dikenakan jari manis milik Gul. Meraih tanganya lalu dihadapan kedua orangtuanya mereka meminta restu.


Akhirnya suasana yang kaku dan tegang beralih pulih menjadi hangat karena sekarang membentuk dua keluarga menjadi satu ditambah dengan putri kecil mereka berdua yang membuat suasana bertambah ramai.

__ADS_1


"Ayah akan selalu mendoakan kalian berdua agar dapat mengarungi bahtera rumah tangga sampai ujung usia."


Ungkap ayahnya yang telah memberikan doa pada mereka berdua, sedang ibu hanya mengaminin dengan mata berkaca-kaca.


Dua hari mereka tinggal ditempat kelahiran Gul, setelah memutuskan bahwa pernikahan mereka tidak menunggu waktu yang lama.


Setelah itu mereka memutuskan untuk segera kembali kekota guna mempersiapkan reswpsi yang akan dilakukan untuk orang terdekat saja.


Sebuah resepsi pernikahan yang sederhana yang diinginkan oleh Gul. Sepulang dari kampung Gul dan Murad memilih tempat untuk acara mereka berdua.


Jatuhlah sebuah tempat resepsi dengan nuansa outdoor. Mereka menginginkan suasana pernikahan tersebut seperti acara keluarga, toh tamu yang diundangpun tidak banyak.


Hanya colega, teman, dan para kerabat terdekat. Bukan untuk menutupi hari bahagia mereka berdua dengan tidak mengundang semua yang mereka kenal, namun hanya untuk lebih ke suasana kekeluarga yang diinginkan.



Tempat resepsi telah mereka booking, begitu juga catring yang akan disajikan pada acara tersebut.


Tibalah hari yang ditunggu-tunggu mereka berdua termasuk kedua orangtua nya Gul dan Nyonya Syukran.



Gul tampil dengan sangat sederhana mengenakan make-up yang natural dengan longdress tanpa lengan berwana putih.


Semua yang hadir memberikan ucapan selamat dan mendoa mereka berdua. Rasa bahagia terpancar diwajah keduanya terutama diwajah kedua orangtua Gul.


Mereka merasa bahwa tangung jawab sebagai orangtua telah berakhir karena mulai saat ini Gul berada dibawah tangung jawab suaminya.


Feride ikut hadir diacara pernikahan Gul, namum tidak untuk Bulut. Hati laki-laki itu masih belum bisa berlapang dada atas pernikahan Gul.


Sudah puas Feride memberikan nasehat agar membuang jauh perasaannya terhadap Gul, karena itu makin membuat hati terasa sakit.


Pernikahan itupun dihadiri oleh Nyonya Yasmin, Aiyla telah lama tak bersua dengan wanita paruh baya tersebut.


Sangking kesibukan satu sama lain membuat mereka jarang berkomunikasi. Moment pernikahan Gul adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan keponakan dari sahabatnya itu.


"Nyonya Yasmin, jika anda tak keberatan dan tak begitu sibuk tinggallah satu hari lagi dikota ini. Aku akan senang jika anda bersedia menginap malam ini dirumah kami. "


Ungkap Aiyla seraya merangkul pinggang suaminya dan mendapatkan respon dari suaminya dengan menyentuh lembut tepat dipipi kiri Gul.

__ADS_1


__ADS_2