Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 124


__ADS_3

Lanjut Ngebaca...😘😘


Jangan lupa Like n Komentar yaaa 😊😊


Plis Hadiah juga boleh beserta Vote nya...πŸ™


Salam hangat dan manis buat Reader setia 😍😍


🌸Happy Reading🌸


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Malam ini begitu mendebarkan bagi Gul, wajar saja ayah dan ibunya menagih janji Gul untuk memperkenalkan seorang laki-laki pada mereka berdua.


Beruntung Murad telah menyetujui dan atasannya itu tidak sedang sibuk sehingga rasa tak enak pada dirinya sedikit berkurang.


Malam ini Gul telah mempersiapkan segalanya, mengenakan longdress berwarna merah. Terkesan penampilannya sederhana tapi dapat mempesona mata laki-laki.


Terlebih Murad yang biasa menemui wanita dengan dandanan yang terlalu over membuat dirinya terbiasa dengan tampilan wanita seperti itu.


Melihat Gul dengan tampilan sederhana tentu membuat dirinya merasakan sesuatu yang berbeda dari wanita yang biasa ditemuinya.



Rambutnya telah digulung kebelakang menambah kesan wajah yang natural dengan make-up tipis yang tak glamour.


Aiyla tampil sangat berbeda dari biasanya, mata Murad tak lepas menatap kearah wanita disampingnya itu.


"Kau sungguh berbeda malam ini? "


Sontak hati Gul terasa bergemuruh mendapatkan pujian malam ini. Pujian yang datang dari pujaan hatinya.


Rona merah terlihat diwajah Gul, berusaha untuk menyembunyikan namun laki-laki itu meraih dengan lembut dagunya dan melihat Gul tersipu malu.


Matanya tak berani menatap laki-laki yang ada dihadapannya, kelopak matanya ia turunkan kebawah.


"Mengapa kau tertunduk... Tunjukkan wajah mu!"


Terdengar seperti berbisik tepat ditelinganya. Hembusan nafas Murad membuat sekujur tubuhnya menjadi panas.


Masih dengan tersipu malu, Gul mengangkat kelopak matanya. Manik coklat bertemu dengan manik hitam Murad.



Murad menatap dengan tersenyum membuat Gul semakin bergemuruh didadanya. Lelaki itu membuatnya semakin salah tingkah.

__ADS_1


Sekitar satu jam setengah mereka sampai dirumah orangtua Gul. Mereka berdua telah disambut dengan hangat oleh orangtua Gul yang sebelumnya telah diberitahu kedatangan mereka berdua.


Murad pandai memainkan perannya, kedua orangtua Gul begitu senang bisa berkenalan dengan laki-laki yang datang bersama putrinya.


"Berapa lama kalian saling mengenal, kenapa Gul baru mempekenalkan Murad pada kami berdua? "


Terdengar suara berat dari ayah Gul dengan rasa penasaran dan ingin tahu alasan mereka berdua baru menunjukkan hubungannya.


Gul menjadi gugup atas pertanyaan dari ayahnya, ia jadi salah tingkah didepan mereka berdua. Ia menjadi tersedak saat kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya.


Murad meraih tangan Gul, seperti berusaha menenangkan wanita itu. Dengan tegas dan santainya laki-laki menjelaskan alasan mereka baru saat ini bisa menemui mereka berdua.


Dengan alasan pekerjaan Murad menjelaskan pada kedua orangtua Gul. Hati Gul menjadi lebih tenang dengan tangan laki-laki itu masih menggenggam erat tangannya.


"Semoga hubungan kalian berdua sampai pada tahap pernikahan," balas ibu Gul dengan wajah begitu bahagia.


Akhirnya malam perkenalanpun berakhir dengan sesuai rencana. Kedua orangtua Gul percaya bahwa Murad dan Gul adalah sepasang kekasih dimata mereka berdua.


Deru mobil membawa Gul kembali keapartementnya, Murad mengantar wanita itu sampai kedepan pintu.


Hati Gul merasakan percikan kebahagiaan menyeruak dihatinya. Murad pandai bermain peranya. Terlihat natural dan dapat meyakinkan, bisa dikatakan ia adalah seorang aktor yang handal.


Ditengah percikan kebahagiaan itu terselip rasa sedih dihatinya. Kebahagian ini seperti percikan kembang api setelah habis waktunya maka akan hilang begitu saja.


"Terima kasih Tuan, atas bantuannya."



Gul melihat punggung Murad sampai menghilang dari matanya. Walaupun tidak membalas ucapannya, namun dari perlakuannya pada Gul membuat wanita itu mengerti.


πŸ’›πŸ’›πŸ’›


Disatu sisi Ergin telah tiba dikediaman Nyonya Syukran. Sudah lama sekali Ergin tak berkunjung kerumah wanita itu.


Dengan sabar ia menunggu ibu Murad yang sedang dipanggil oleh asisten rumah tangganya. Hati Ergin sedikit bergemuruh, semoga wanita itu dapat menceritakan semua yang ia ketahui tentang masa lalunya.


"Hai...Ergin, sudah lama tak kemar? Aku merindukan diri mu. "


Terdengar suara dari jauh melihat wanita paruh baya yang telah tersenyum seraya melebarkan kedua tanganya melihat Ergin.


Pelukan kehangatan yang tulus ia rasakan setiap memeluk tubuh wanita ini. Wanita yang tahu disaat ia bersedih layaknya seorang ibu baginya.


Berbeda jauh dengan Nyonya Esma yang sekarang adalah ibu tirinya. Wanita itu sangat jarang memeluknya, adapun hanya sekedar saja.


"Bibi, mengenal wanita ini."

__ADS_1


Dengan menyodorkan sebuah photo dihadapan wanita itu. Seketika langsung terjadi perubahan, diraut wajah wanita paruh baya itu.



Wajahnya begitu terkejut dan penuh keheranan dengan penuh tanda tanya mengapa photo itu ada ditangan Ergin.


Photo ayah dan ibunya yang ia dapatkan dari Nyonya Yasmin, sahabat dekat ibu kandungnya itu.


Dengan berat dan suara bergetar wanita itu berusaha mengendalikan emosi dan perasaannya.


"Apa yang ingin kau ketahui? "


Ungkap wanita itu dengan suara pelan seraya menahan bulir bening yang hendak jatuh diujung matanya.


"Ceritakan semua yang bibi ketahui. " Balas singkat Ergin dengan wajah memohon.


Elif Sadoglu wanita yang dicintai oleh ayah Ergin. Sesuai dengan yang diceritakan oleh Nyonya Yasmin. Melalui mulut Nyonya Syukran cerita yang sama seperti yang keluar dari mulut Nyonya Yasmin.


Disini tidak Esma yang menjadi korban tetapi Elif. Nyonya Syukran mengetahui dengan detail bagaimana Nyonya Esma memisahkan secara paksa Elif dan putranya serta meminta untuk menjauhi ayah Ergin.


Dengan ancaman putranya akan diambil, ibu kandung Ergin bersedia untuk menjauhi lelaki yang sangat dicintainya dan tak mengharapkan apapun.


Dia dengan rela menyerahkan laki-laki yang dicintai pada wanita itu setelah ia ketahuan menemui ayah Ergin dikantornya.


Pada saat perpisahan terakhir mereka berdua, Elif mumutuskan untuk bertemu dan mengucapkan salam perpisahan dengan cara meninggalkan begitu saja ayah Ergin tanpa alasan yang kuat dan meminta agar tidak mencarinya kembali.


Pada saat itu Elif telah melahirkan seorang putra tanpa diketahui oleh ayah Ergin. Namun kemudian dengan sikap liciknya wanita itu tak henti sampai disitu secara diam-diam menculik putranya.


Nyonya Esma khawatir suaminya akan meninggalkan dirinya jika mengetahui Elif telah melahirkan seorang putra, buah cinta dengan suaminya.


Hebatnya Nyonya Esma dengan santai dan dengan rencana yang matangnya memberitahukan bahwa Ergin kecil sengaja diberikan olehnya karena Elif menyerahkan anak itu dengan ikhlas karena tak mampu membesarkan dengan dalih telah memiliki kehidupan baru dengan laki-laki lain.


Tentu membuat ayah Ergin shock dengan perkataan wanita tersebut. Wanita yang dicintainya lebih memilih laki-laki lain untuk hidup bersama.


Untuk meyakinkan ayah Ergin wanita itu membayar seorang pria yang mencoba mendekati Elif untuk sekedar mendapatkan photo mereka berdua yang seolah-olah seperti sepasang kekasih.


Melihat bukti yang diberikan dari istrinya membuat ayah Ergin menjadi terpuruk dan sering menghabiskan waktu diluar rumah.


Dengan cara bekerja dan jarang kembali kerumah karena akan selalu terbayang Elif pada saat melihat putranya itu.


Walaupun demikian ayah Ergin sangat menyayangi putranya, ia merasakan kehilangan belahan jiwanya atas pengkhianatan yang tak pernah dilakukan oleh Elif.


Suatu hari tanpa sengaja ayah Ergin mendengar perkataan dari istrinya bahwa wanita itu telah meninggal.


Mendengar perkataan seseorang dari istrinya yang menceritakan keadaan Elif membuat ia tak dapat menahan rasa penasaran dan amarahnya karena sekilas semua yang dikatakan istrinya adalah kebohongan belaka.

__ADS_1


Dengan kata lain ia telah tertipu mentah-mentah dengan wanita kejam yang tak memiliki hati dan perasaan itu.


__ADS_2