Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 104


__ADS_3

Hai...Hai...Hai...πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Salam manis dan hangat buat reader setia...πŸ’‹πŸ˜


Maaf ya kalau gambar visualnya ada yang tak sehati dengan πŸ™Reader karena itu murni dari rasa cinta Author pada para aktris dan aktor turki πŸ˜‚πŸ˜‚


Jom Lanjut Ngebaca...πŸ˜‰


But don't forget to like, love, vote, gift, and rate star 5 please...πŸ‘


I'm waithing for you support Guy's ....πŸ‘Œ


πŸ’ŸHappy ReadingπŸ’Ÿ


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Dengan mulut bergetar Nyonya Yasmin melanjutkan ceritanya. Derai air mata tak hentinya keluar dari ujung kedua matanya.


Kini mata wanita itu memerah karena tangis dan mulai menunjukkan matanya yang sembab.


"Sahabatku itu menjalin cinta dengan salah satu putra orang terkaya dan berpengaruh dikota X. Cinta mereka berdua membuahkan hasil dari benih yang dikandung oleh sahabat ku, namun tak mendapatkan restu dari kedua orangtua lelaki itu. Dengan terpaksa lelaki itu menikahi wanita dengan pilihan dari keluarganya karena Elif meninggalkan begitu saja lelaki itu karena alasan tak ingin memiliki hubungan yang tak direstui."


Ungkap Nyonya Yasmin dengan tatapan mata seakan kembali kemasa silam. Wanita itu melanjutkan ceritanya kembali.


Ada segurat senyum tipis diparas wanita yang tak muda itu mengenang sosok sahabatnya Elif Sadoglu.


"Dia sungguh wanita yang tegar, berusaha bangkit dari rasa patah hati dan kekecewaan terhadap keluarga laki-laki yang menjadi ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Elif tak ingin merusak hubungan rumah tangga dari lelaki yang dicintainya. Ia lebih memilih untuk menghilang dari kehidupan laki-laki tersebut."


Dengan senyum tipis masih diparas wajahnya Nyonya Yasmin bercerita pada Aiyla. Wanita itu mengatakan bagaimana ia dan sahabatnya itu bersama-sama melewati masa kehamilan Elif sampai melahirkan seorang putra.


"Anak lelaki itu sungguh tampan mirip sekali dengan ayahnya. Namun sayang lelaki itu tak mengetahui bahwa Elif melahirkan buah cinta mereka berdua. "


Aiyla terkejut setelah mendengar perkataan dari Nyonya Yasmin. Jadi bibinya itu tak memberi tahukan bahwa ia sedang mengandung benih dari laki-laki itu.


"Apa alasannya sehingga bibiku tak memberi tahu laki-laki itu Nyonya?"

__ADS_1


Dengan wajah penasaran Aiyla menatap dalam wajah wanita dihadapannya itu. Dengan senyum getir wanita itu menatap kearah Aiyla.


"Alasan yang tak masuk diakal, sahabatku hanya menjawab karena cinta."


Semakin dibuat bingung atas jawaban yang diberikan Nyonya Yasmin padanya.


Elif tak ingin lelaki yang sangat dicintainya itu meninggalkan keluarganya demi dia dan anak yang sedang dikandungnya. Bibinya juga tak ingin lelaki itu dikeluarkan dari keluarga besarnya itu karena keluarganya sangat menentang hubungannya dengan Elif.


Elif tahu bahwa ayah dari anaknya itu mau berbuat apapun untuk membuktikan cintanya pada Elif. Bahkan harus meninggalkan status sosial dan kemewahan yang dimilikinya.


"Cinta bibi Elif seperti kisah ku dengan Ali, yang berbeda adalah aku tak mengetahui bahwa Ali terlahir dari keluarga kaya. Namun yang menjadi kesamaan dari cinta kami berdua adalah terlahir dari hubungan yang tidak direstui." Batin Aiyla dalam hati.


Bulir bening mengalir dengan deras diujung kedua matanya. Bagaimana tidak hubungan yang tak direstui itu jika dipaksakan maka juga tak berakhir bahagia seperti hubungan Aiyla dengan Ali yang terpisah oleh maut.


Nyonya Yasmin menghentikan ceritanya setelah melihat Aiyla begitu terhanyut akan kisah sedih dari saudara tiri ibunya itu. Wanita itu memeluk tubuh Aiyla seakan mendapatkan kehangatan seorang ibu disekujur tubuhnya.


"Aiyla aku tahu apa yang terjadi padamu, pernikahan mu tak jadi dilaksanakan karena ada seorang wanita yang mengakui memiliki hubungan dengan Ergin Ozturk."


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Nyonya Yasmin membuat Aiyla melepaskan pelukannya.


Pertanyaan yang membuat Aiyla tersentak terasa sakit didadanya jika mengingat Nyonya Esma ibu tiri Ergin. Aiyla hanya bisa menatap dalam kembali pada wanita paruh baya itu.


Tanpa mendengar jawaban dari Aiyla, wanita itu telah mengetahui jawabannya dari sorot mata Aiyla yang kini menatapnya.


Akhirnya mereka berdua berpelukkan kembali dan mencoba untuk saling menguatkan satu sama lain. Setelah mereka mulai mengendalikan emosi dan perasaannya Aiyla meminta Nyonya Yasmin untuk menceritakan lebih lanjut.


Wanita paruh baya itu melanjutkan ceritanya, disaat kebahagian mereka berdua dengan hadirnya putra Elif. Hari-hari Elif dan Yasmin diisi dengan anak laki-laki yang tampan dan tumbuh dengan sehat serta kehadirannya sangat membuat mereka berdua terhibur.



"Elif dan aku memberikan nama anak lelaki itu dengan nama Ergenc."


Ucap wanita itu dengan senyum getir kembali terlihat diwajahnya. Nama yang diberikan bibi Aiyla dan Yasmin untuk anak laki-laki itu sekilas hampir sama dengan nama Ergin.


"Apakah ini hanya kebetulan saja, tapi sekilas terdengar hampir sama," besit Aiyla dalam hatinya.

__ADS_1


Ditengah kebahagian kami dan rasa patah hati Elif yang telah terobati dengan hadirnya putranya itu. Namun itu hanya berlangsung satu tahun dari kelahiran putranya.


Suatu hari putranya mengilang dari gengaman, Elif menjadi panik dan tak dapat mengendalikan rasa kehilangan putra penyemangat hidupnya itu.


Hari berlalu namun Elif masih dalam keadaan tak dapat menerima kehilangan putranya. Sedangkan Nyonya Yasmin tak mengetahui bagaimana putra sahabatnya itu menghilang.


Jika Elif ditanya bagaimana bisa dia kehilangan putranya maka hanya tangis yang keluar dari wanita tersebut. Akhirnya Elif dilarikan kerumah sakit dengan bantuan khusus agar mendapatkan bantuan untuk jiwa dan mentalnya.


"Nyonya Aiyla...Sahabat ku itu meninggalkan uang yang cukup besar dan telah kusimpan selama ini. Dari surat yang kudapat uang ini diserahkan pada keluarganya terutama untuk mu nyonya Aiyla."


Tangis Aiyla terhenti mendengar perkataan dari Nyonya Yasmin tentang uang dalam jumlah yang besar ditinggalkan bibinya untuk Aiyla.


"Memang tak tertulis nama Nyonya Aiyla disana hanya tertulis untuk keponakan ku yang bernama Melec."


Kembali Aiyla terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Nyonya Yasmin, sebutan Melec hanya bibinya yang menyapa demikian.


Kedua orangtua Aiyla sempat bertanya mengapa Elif tak ingin memanggil nama Aiyla tetapi dengan sapaan Melec.


Dengan santainya bibinya berkata bahwa : "Melec artinya malaikat atau bidadari."


Elif begitu senang dengan arti dari nama tersebut, setelah kedua orangtua Aiyla bertanya padanya. Betapa terteguhnya Nyonya Yasmin mendengar perkataan dari Aiyla bahwa benar Melec adalah nama panggilan untuknya dari bibinya.


Ponakan yang dimaksud oleh sahabatnya itu adalah Aiyla, pas dengan tebakan Yasmin tak meleset bahwa uang itu untuk ponakannya yaitu Aiyla.


"Ya Tuhan... Akhirnya wasiat ini dapat ku serahkan pada orang yang tepat menjadi amanah dalam surat ku itu."


Ucap wanita itu dengan senyum mengembang seakan beban berat yang selama ini disimpan sedikit terasa ringan dihati dan pikirannya.


"Aku bersyukur bahwa doa ku selama ini dikabulkan oleh-Nya, aku tak ingin wasiat ini ku bawa seumur hidup ku." Ucap lirih dan sendu Nyonya Yasmin seraya menatap photo dari sahabatnya itu.


Aiyla penasaran dengan surat yang ada didalam gengamannya ini, karena pasti berisi wasiat yang sama yang diberikan untuk ibunya.


Keputusan membuka surat itu adalah hal yang tepat walaupun dihadapan Nyonya Yasmin karena Aiyla merasa wanita ini dapat dipercaya.


Secara perlahan Aiyla membuka surat tersebut dan membaca kata-kata yang tertulis didalam surat. Awalnya sebuah senyum terukir diwajah Aiyla saat membaca surat tersebut namun dengan tiba-tiba wajahnya berubah dengan mata membulat, mulut terbuka dan tangan bergetar.

__ADS_1


Ia terduduk seketika karena kakinya tak dapat menopang tubuhnya. Terasa lemas dan tak sanggup untuk menahan beban dari tubuhnya.


__ADS_2