Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 94


__ADS_3

Hai...Hai...HaiπŸ‘‹πŸ‘‹


Author menyapa reader semua..πŸ’“πŸ’“


Salam hangat dan manis untuk Reader semua..πŸ™πŸ™


Semoga selalu diberikan kesehatan dan kemurahan rejeki, Jangan lupa do'ain Author sehat dan semangat mengupload setiap babnya perhari.πŸ’žβ™ˆ


Like, Vote, Love, Gift and rate star 5...πŸ’‹πŸ’‹


πŸ’œHappy ReadingπŸ’œ


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Deru mobil membawa Aiyla pada rumah besar nan megah. Kediaman Mustafa Othman, pengusaha dan salah satu orang ternama serta terkaya dikota ini.


Mobil taxi memasuki halaman luas dari rumah orangtua Ali yang bergaya klasik bertingkat dua. Setiap melangkahkan kaki, Aiyla selalu teringat akan suaminya yang pertama kali membawa ia memasuki rumah besar nan megah.


Sekarang dia sendiri tapi ada rasa bahagia direlung hatinya bahwa kini dirinya dan putranya sudah dapat diterima dirumah besar nan megah ini.


"Selamat datang Aiyla," ucap Akhsal yang ada dihadapannya.


Ternyata yang membuka pintu adalah Akhsal, membuat dada Aiyla bergemuruh, setiap kerumah ini hal yang ingin dihindari olehnya adalah bertemu dengan lelaki yang sekarang berada dihadapannya.


"Selamat sore Tuan," balas Aiyla dengan wajah datar.


Dengan tatapan mata yang mengisyarat sesuatu yang tak sepatutnya seorang saudara laki-laki dari suaminya menatap demikian.


"Mengapa telalu kaku dan formal, aku adalah kakak ipar mu, mengapa tak kau panggil nama ku saja, " ungkap lelaki itu masih dengan tatapan mata yang sama.


Maksud dari laki-laki dihadapannya mengandung makna yang dalam, lelaki itu sengaja menggoda Aiyla. Akhsal semakin dibuat penasaran dengan istri dari adiknya itu, ketertarikan yang dulu sampai saat ini.

__ADS_1


Disudut ruang terlihat wanita yang merupakan istri Akhsal, menatap dan memperhatikan gerak geriknya sedari yadi. Ada sorot mata yang tak menyenangkan dari wajah wanita itu.


Lelaki itu tak menyadari bahwa istrinya telah berdiri lama dan mendengar percakapan antara suaminya dan Aiyla. Akhsal tak perduli kalau sekarang ia sedang berada dirumah bukan seperti dicafe dengan seorang wanita saat itu.


"Apakah benar, kau akan menikah dengan keluarga Ozturk itu ? " Tanya Akhsal dengan mimik wajah yang telah berubah menjadi kesal dan tersirat amarah.


Dengan melempar sebuah senyuman yang menghiasi wajah Aiyla. Dan diberikan pada lelaki itu sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.


"Jadi benar itu? " Ucap Akhsal penuh dengan penekanan.


Senyum kembali terlukis disudut bibirnya lalu meninggalkan lelaki itu begitu saja, namun langkahnya terhenti setelah sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dan memegang dengan erat.


"Jawab pertanyaan ku!!! " Ucap kesal Akhsal dengan sorot matanya yang tajam


Dengan kuat Aiyla menarik pergelangan tanggannya yang dipegang Akhsal sehingga terlepas. Akhsal tak menyangka wanita itu berani melakukan itu terhadapnya.


"Lepaskan aku... Kau benar aku adalah wanitanya Ergin, kami akan segera menikah, " balas spontan Aiyla dengan kesal dan penuh amarah.


Berjalan dengan cepat meninggalkan ruang tamu. Disatu sisi ia terlepas dari suaminya dan kini disisi lain harus berhadapan dengan istri dari laki-laki yang tak berguna itu.


Gemuruh didada semakin bergelora mendengar fitnahan dari seorang wanita yang berdiri dengan santai seperti merasa tak bersalah setelah menghina Aiyla.


"Jaga suami mu agar tak lepas dari pandangan mu," gertak Aiyla dengan pelan namun terkesan tegas.


Berjalan meninggalkan sepasang suami istri yang tak jelas. Pergi menuju kamar putranya karena dirinya yakin Azzam ada disana.


Benar saja anak lelaki itu tengah asik bermain dengan kakeknya. Semenjak Azzam diakui dikeluarga ini, seluruh perhatian sepasang suami istri tercurah pada cucu laki-laki satu-satunya dikeluarga Othman.


"Haii.... " Sapa Aiyla seraya tersenyum mengembang diwajahnya.


Suara Aiyla menghentikan mereka bertiga yang tengah asik bermain bersama. Tuan Mustafa dan istrinya itu membalas senyuman diwajah mereka berdua.

__ADS_1


"Putra ibu tengah asik bermain, apa tak ingin pulang? " Tanya Aiyla seraya mencubit hidup anak lelaki itu.


Azzam hanya tersenyum merasakan hidungnya yang kini memerah akibat tarikan lembut dari ibunya itu.


"Sebenarnya Azzam masih ingin disini, tapiiii kasihan ibu tak ada temannya dirumah," ucap Azzam membuat semua orang yang ada disana tersenyum kembali.


Terdengar suara didepan pintu ternyata suara saudara sepupu perempuan Azzam. Mereka tahu bahwa Azzam akan dijemput Aiyla.


"Ayoo bersama kami, sebelum pulang kita makan es krim. Ibu ku membelikan es krim untuk kita bertiga," ucap salah satu sepupu Azzam seraya menarik tanggannya.


Tertinggal Aiyla dan sepasang suami istri dikamar pribadi putranya. Terlihat dari isi kamar ini semua lengkap. Azzam mendapatkan lebih dirumah ini.


"Tuan... Nyonya...Saya berharap kalian jangan terlalu memanjakan Azzam, aku tak ingin ia tumbuh menjadi sosok lelaki yang manja dan mendapatkan segala sesuatu dengan mudah tanpa usaha ataupun bekerja. Aku ingin ia tumbuh menjadi sosok mandiri, pekerja keras dan bertanggung jawab atas segala sesuatu," ungkap Aiyla dengan suara pelan namun terdengar tegas.


Terlihat diwajah sepasang suami istri itu menunjukkan kebanggaan atas apa yang telah terdengar ditelinga mereka berdua.


"Kau memang ibu yang hebat Aiyla, wajar Azzam memiliki karakter yang baik karena kau mengajarkannya. Perkataan mu benar, kami terlena akan kehadiran cucu laki-laki satu-satunya dikeluarga ini." Ungkap Nyonya Mustafa dengan menundukkan wajahnya.


Melihat mereka berdua merasa telah melakukan sesuatu kesalahan dengan mendengar apa yang baru saja keluar dari mulutnya membuat Aiyla menjadi tak nyaman.


"Nyonya... Maafkan aku jika membuat mu bersedih atas ucapan ku barusan ini, " ungkap Aiyla dengan meraih tangan wanita paruh baya tersebut.


Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca setelah mengangkat wajah yang tadinya tertunduk lalu tersenyum walau bulir bening telah merembes dikedua ujung matanya.


"Mengapa kami baru menyadari bahwa kau adalah wanita yang baik dan tepat untuk Ali, andai saja waktu bisa diulang kembali maka kami akan merestui hubungan kalian berdua. Tentu saja tidak terjadi seperti saat ini, Ali bisa bersama kita." Ungkap wanita paruh baya itu dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.


Melihat istrinya menangis lelaki yang berada disamping itu memeluk dan menghapus bulir bening yang membasahi wajah istrinya. Terlihat rasa cinta dan kasih sayang tergambar jelas dari gerak-gerik sepasang suami istri itu.


"Sudahlah...Tak perlu begitu. Semua salah ku yang terlalu keras kepala dan egois membuat putra kita menjauh." Balas Tuan Mustafa dengan mata memerah menahan tangis.


Melihat dua orang paruh baya yang merasa menyesal dan terlihat sekali kehilangan putra yang sangat mereka sayangi. Terlintas kembali dihati dan pikiran Aiyla tentang status suaminya didalam keluarga besar ini. Ali mendapatkan kasih sayang lebih namun dia bukanlah putra mereka melainkan putra dari orang yang mereka sayangi.

__ADS_1


"Tuan... Sebenarnya siapa Ali didalam keluarga ini? " Tanya Aiyla dengan suara pelan.


Mereka berdua secara bersamaan menatap kearah Aiyla. Sebuah tatapan yang diluar perkiraan mereka berdua.


__ADS_2