Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 41


__ADS_3

Terima kasih pada Reader yang telah memberikan jempol manisnya πŸ‘, tanda hatiπŸ’™ serta vote dan bintang 5 pada tulisan Author πŸ™


Dengan adanya dukungan membuat Author semakin rajin untuk up setiap bab dalam setiap harinya.


Tapi bagi yang belum dan menikmati tulisan Author, mohon untuk lebih menghargai kerja keras Author yang telah memberikan warna pada kehidupan khayal kalian melalui tulisan yang Author suguhkan dengan freee...


Sekali lagi like, vote, love and rate bintang 5 yaa


Lanjut ngebaca bagi yang telah meninggalkan jejaknya...


🎢🎢🎢


Nyonya Mustafa merasa gelisah disaat menunggu kehadiran Aiyla diruang inap suaminya. Dilirik arloji yang ada disalah satu dinding yang terdapat diruangan itu. Menunjukkan angka 19.30 malam.


Begitu gelisahnya sehingga sudah beberapa kali wanita itu keluar masuk ruangan tempat Tuan Mustafa terbaring, namun seseorang yang dinanti tak kunjung tiba.


Dengan shortdress berwarna sofh dan rambut sengaja dibiarkannya terurai bergelombag disetiap ujung-ujung rambutnya.


Sedangkan Azzam menggunakan kemeja bermotif kotak-kotak berlengan panjang dengan celana jeans yang berwarna gelap


Aiyla tak ingin pertemuan pertama pada Tuan Mustafa memberikan kesan tak menyenangkan dari segi penampilan mereka.


Dengan buket bunga Anyelir yang berwarna merah muda digengaman putranya, Aiyla melangkah memasuki ruang rawat inap yang telah diberitahu sebelumnya oleh nyonya Mustafa.


"Permisi," ucap Aiyla seraya mengetuk pintu ruang rawat inap tersebut.


Dengan cepat pintu itu terbuka dan terlihat nenek Azzam berdiri seakan telah lama menanti kedatangan dengan mata berbinar menatap mereka berdua.


"Azzam... Aiyla..." ucap wanita paruh baya itu dengan tersenyum menatap wajah mereka berdua.


Aiyla dan Azzam melangkahkan kaki dengan bersamaan, terlihat sosok lelaki yang sedang terbaring menatap mereka yang sedang berjalan mendekati tempat tidurnya.


Ada rasa gemuruh didada Aiyla, akankah mereka berdua mendapatkan penolakan kembali dari lelaki dihadapannya.

__ADS_1


"Selamat malam Tuan Mustafa," sapa Aiyla dengan berusaha tersenyum.


Diluar dugaan Aiyla, lelaki itu membalas senyuman darinya dan mengangkat tangannya seakan meminta untuk lebih mendekat.


Kemudian lelaki itu berusaha memberikan isyarat dengan tangannya, Aiyla mengetahui isyarat dari lelaki yang tak dapat mengeluarkan kata, meminta Aiyla untuk meraih tangannya seakan meminta maaf.


Tuan Mustafa terkena struk yang menyerang bagian wajah sehingga tak memungkinkan dirinya dapat berbicara seperti normal biasanya.


Disambutnya tangan lelaki itu dengan tangan Aiyla, lalu mencium punggung tangan dari lelaki tersebut. Azzampun melakukan hal yang sama pada ibunya.


"Kakek... Azzam bawakan bunga biar kakek cepat sehat. Azzam juga pernah lama tinggal dirumah sakit ini, kalau kakek pintar maka dokter akan segera mengijinkan kakek pulang kerumah," ungkap polos putra Aiyla yang didengar oleh semua yang ada disana.


Bulir bening menetes diujung mata lelaki yang terbaring tak berdaya itu, seakan sebuah isyarat bahwa dirinya merasa menyesal atas apa yang telah terjadi.


Rasa haru dan rasa bersalah menyatu menjadi satu dihati Tuan Mustafa. Dengan melihat putra Ali yang mirip sekali wajahnya dengan Ali seakan dirinya melihat Ali dimasa kanak-kanak.


"Suami ku...Bersegeralah untuk sembuh, kau ingin bermain dengan cucu laki-laki mu ini kan ?" uangkap nyonya Mustafa seraya membelai lembut punggung tangan suaminya.


Aiyla dan Azzam menatap dengan penuh kasih sayang, Aiyla merasakan rasa luka yang ada dihatinya menghilang seketika setelah melihat lelaki yang kini terbaring tak berdaya itu.


Azzampun juga merasakan sebuah ikatan kuat pada keluarga suaminya. Ini dibuktikan dengan keakraban yang terjadi antara Azzam dengan nenek dan kakeknya.


Azzam tak hentinya bermanja ditubuh lelaki yang terbaring diatas kasur, walau hanya dengan membelai tangan dan kaki Tuan Mustafa.


"Kakek...Azzam ingin bermain dengan kakek, jadi cepat sembuh ya," ucap Azzam dengan tersenyum menampilkan lesung pipi yang ada dikedua pipinya.


Tuan Mustafa seakan mendapatkan semangat dan kekuatan untuk sembuh setelah melihat cucu laki-lakinya itu.


Sebuah isyarat mata yang diberikan lelaki itu pada Aiyla yang dapat dimengerti olehnya begitu juga putranya.


Sebuah pelukan hangat mengakhiri pertemuan dengan keluarga dari suaminya, Aiyla tak pernah menyangka kehadiran dirinya dan putranya disambut hangat oleh kedua orangtua suaminya.


"Nyonya kami pamit, karena Azzam akan pergi kesekolah esok paginya," ungkap Aiyla dengan wajah gembira dan hati yang terasa bahagia.

__ADS_1


Nyonya Mustafa sangat senang akan pertemuan ini, apalagi setelah melihat reaksi suaminya yang juga terlihat bahagia.


Sebuah keputusan yang tepat telah diambil oleh nyonya Mustafa dengan mempertemukan Aiyla dan Azzam dengan suaminya itu. Dengan harapan kesembuhan suaminya setelah melihat putra Ali.


Deru mobil melintasi jalanan yang masih ramai karena masih di jam 20.30 malam. Aiyla mengemudi mobil dengan kecepatan sedang menuju apartemantnya.


"Sayang....Bangun kita telah sampai," ucap Aiyla dengan membelai lembut wajah putranya.


Panggulan lembut Aiyla tak membangunkan putranya. Akhirnya dengan menggendong Azzam untuk sampai ditempatnya. Aiyla mengetuk pintu dengan sebelah tangan. Tubuh putranya terasa berat semenjak kesehatan Azzam yang semakin membaik.


"Eh...Azzam tak bisa bangun ya," ucap Fusun yang mengambil alih putra Aiyla yang tertidur.


Meletakkan tubuh anak lelaki yang tertidur pulas itu diatas tempat tidurnya, kemudian menyelimuti tubuh kecil itu dengan selimut tebal.


"Terima kasih kak," balas Aiyla


Aiyla merasakan sakit dibagian pundaknya, karena lumayan jauh dia harus menggedong tubuh putranya itu.


Menjatuhkan tubuhnya begitu saja disofa yang ada diruang tamu. Matanya langsung tertuju pada bunga segar yang berada diatas lemari tak jauh dari sofa.


Bunga tulip berwarna putih, pada saat dirinya pergi belum ada bunga itu disana. Kemudian Aiyla teringat pada atasannya yang bertemu ditoko bunga.


"Apakah lelaki itu yang membawanya, tapi itu tidak mungkin dalam rangka apa dia memberikan bunga pada ku," batin Aiyla dengan rasa penasaran.


Jauh termenung sembari menatap bunga yang tak jauh dari nya itu. Bunga tulip putih yang melambangkan permintaan maaf dari seseorang.


"Ooo...Kamu sudah melihatnya, baru saja ingin ku beritahu siapa yang mengirim bunga ini, " ungkap Fusun seraya menyentuh bunga yang ada diatas meja itu.


Dengan reaksi ingin cepat tahu Aiyla langsung berdiri disamping Fusun dan ikut menyentuh lembut bunga itu.


" Tuan Ergin," Jawab Fusun dengan tersenyum seraya menggoda Aiyla.


Dengan tatapan dari Fusun serta kini telah tahu siapa yang memberikan bunga itu, wajah Aiyla berubah menjadi tak senang bercampur sedih.

__ADS_1


"Looh... Kok kamu malah terlihat tidak suka, cukup lama beliau itu disini untuk menuggu. Namun Ailya tak kunjung tiba, lelaki itu segera pamit dengan memberikan serangkai bunga tulip," ungkap Fusun dengan wajah penuh kegembiraan.


Suara yang terdengar oleh Aiyla seakan menggema dikendang telinganya. Aiyla tak mengharapkan ini semua terjadi, akan tetapi lelaki itu seperti ingin membuktikan bahwa benar-benar dirinya telah jatuh hati dengan Aiyla seperti yang pernah dikatakannya.


__ADS_2