Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 71


__ADS_3

Hai Reader....Terima kasih buat yang telah meninggalkan jejaknyaπŸ™πŸ™πŸ™


Bagi yang belum Plizzz ...😭😭 Author butuh kalian Guy's πŸ™πŸ™ Butuuuuuh Banget πŸ˜€πŸ˜€


"Ibarat malam tanpa bintang"


🌟🌟🌟🌟🌟


"Ibarat Author tanpa jejak Reader"


Disaat Reader menikmati tulisan ini, disaat itu juga Author menikmati rasa senang dan haru dari jejak yang Reader tinggalkan 😒😒 Ditambah dengan komentar yang membangun membuat Author menjadi bersemangat πŸ’ͺπŸ’ͺ


Bantu Author dengan like, love, vote and rate bintang 5 nya...😍😍


Dengan cara itu bisa sampai pada penikmat lain dan jadi baper berjama'ah 😊😊


OK... Happy Reading😘😘


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Sentuhan lembut dirasakan Aiyla tepat dibibirnya, membuka matanya dan terlihat mata biru milik lelaki yang tak asing baginya.


"Selamat pagi sayang..." ucap Ergin dengan senyuman mesrah diparasnya yang tampan.


Kembali mencium bibir Aiyla, dan merapatkan perlukannya. Tak pernah merasakan kebahagian yang begitu besar seperti pagi ini.


"Sayang...Ayo bangun sebelum putraku menagih janjinya pada ku." ucap Ergin dengan mengoyang-goyangkan tubuh Aiyla.


Aiyla tersenyum dengan sikap manja Ergin, dirinya masih tak percaya pagi ini ia berada dipelukan Ergin Ozturk.


"Baiklah...Azzam pasti akan mencari kita berdua kalau anak itu telah bangun, ayooo lepaskan tangan mu," ucap Aiyla dengan menepuk lembut tangan yang melingkar erat ditubuhnya.


Gerakan manja Ergin kembali diperlihatkan dengan memeluk erat Aiyla yang berjalan kearah kamar mandi.


"Aku ingin mandi bersama, " ucapnya dengan meletakan dagunya dibahu Aiyla.


Mengubah posisinya dan sekarang berbalik menghadap tubuh lelaki yang hanya mengenakan handuk dibagian bawah tubuhnya.


Aiyla yang berdiri dengan menutup tubuhnya dengan selimut itu tersenyum. Lalu mencubit pinggang lelaki itu. Terdengar terikan Ergin yang sengaja dibuatnya dramatis, padahal cubitan Aiyla tak begitu kuat.

__ADS_1


"Ergin... Aku baru tahu kalau kau lebih manja daripada Azzam," ucap Aiyla dengan wajah menyindirnya.


Mendengar perkataan dari wanita dihadapannya membuat Ergin tertawa lepas serasa menarik selimut yang dipegang Aiyla.


Gerakan tiba-tiba Ergin hampir memperlihatkan tubuh polos Aiyla, dengan rona memerah Aiyla meninggalkan Ergin memasuki kamar mandi.


Tawa lepas Ergin kembali terdengar ditelinganya, menambah rona merah diwajahnya.


"Mengapa lelaki itu seperti bukan lelaki yang ku ketahui sebelumnya," ucap Aiyla masih dengan tersipu malu.


Setelah beberapa menit didalam kamar mandi, dilihatnya lelaki itu tertidur kembali dengan handuk masih melilit ditubuh bagian bawahnya.


"Hmmm....Sudah membangunkan ku, kini malah enakkan tidur kembali," ucap kesal Aiyla.


Wajar saja Ergin tertidur lagi sebenarnya Aiyla juga merasakan kantuk, karena semalam mereka melakukannya tidak hanya satu kali.


"Ergin... Ergin.... Sayang..." Ucap Aiyla lembut ditelinga lelaki tersebut.


Ketika wajah Aiyla begitu dekat dengan Ergin, tiba-tiba saja tanganya diraih dan tubuhnya kini tepat berada dibawah tubuh lelaki itu. Ternyata Ergin sengaja tak mendengar panggilannya.


"Coba ulangi lagi..." ucap Ergin dengan mata genitnya.


Aiyla mengunci mulutnya ada rasa malu bercampur senang lelaki itu begitu berbeda dari yang ia ketahui sebelumnya.


"Kalau tak kau ulangi, maka aku akan.... " Ucap lelaki itu dengan sorot matanya serius.


Ergin mulai meraih simpul handuk yang berada tepat didadanya, memandangnya dengan mata genit dan senyum kemenangan.


"Sayang... Lepas aku, kau tak ingat putra mu apa ? " Ucap Aiyla dengan tersenyum.


Ergin tak kuasa menyentuh bibir wanita yang ada dihadapannya itu. Sentuhan lembut itu telah mendarat dengan sempurna dibibir Aiyla.


Memainkan dengan lembut lidah dan bibirnya, Aiylapun ikut menikmati dan memberikan reaksi balik.


Posisi tubuh Ergin yang berada tepat diatas membuat dirinya lebih leluasa melancarkan aksinya kembali. Beralih pada jenjang leher Aiyla dan beralih pada simpul handuk didada Aiyla.


Saliva Ergin mulai naik turun melihat pandangan indah didepan matanya dan tampa ragu dibenamkan wajahnya pada pandangan indah matanya itu yang telah terlepas simpul handuk tersebut.


Aiyla merasa sesuatu yang mengeras diatas tubuhnya, pertanda libido Ergin mulai naik kembali. Lelaki ini begitu gencar melakukan sentuhan-sentuhan yang lembut diarea sensitifnya tepatnya dibagian dada yang membuat Aiyla pasrah dan menikmati sentuhan itu.

__ADS_1


Sampai akhirnya terhenti ketika teriakan Azzam dari luar kamar mereka. Sontak Aiyla dan Ergin terkejut lalu tersenyum geli atas aksi mereka yang tiba-tiba terhentikan.


"Ya... Sayang tunggu sebentar, " teriak Ergin masih menatap Aiyla.


Mengubah posisinya namun masih sempat untuk menyambar bibir Aiyla dengan lembut. Aiyla hanya tersenyum geli dengan melihat tindakan yang dilakukan oleh lelaki dihadapannya itu.


Setelah membuka pintu kamar secara langsung anak lelaki itu masuk dan berlari memeluk Ergin. Sedangkan Aiyla duduk disalah satu sisi ditepi tempat tidur.


"Ibu...Ayah... Ayo kita sarapan...Lalu pergi kekandang kuda, " ucap Azzam dengan manja.


Dengan menggendong tubuh putranya lalu mecium kedua belah pipi anak lelaki itu. Azzam membalas dengan mencium balik kedua pipi Ergin.


Pandangan itulah yang selalu membut Aiyla bahagia. Senyum keceriaan dan kebahagiaan putranya yang membuat dirinya menerima Ergin.


"Lihat ibu mu itu, baru saja selesai mandi, tunggu kita berdua diruang makan ya nak," ucap Ergin seraya tersenyum.


Anak lelaki itu tersenyum dengan menganggukkan kepala seraya setuju dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


Kembali keluar kamar lalu berjalan menuju ruang makan. Sedangkan Aiyla telah memakai baju dengan celana jeans berwarna navy dan kaos berlengan panjang dengan menutupi leher jenjangnya.


"Baiklah sayang... Yang tadi kita akan ulang kembali malam nanti ya," ucap Ergin dengan mengedipkan sebelah matanya.


Seraya berlalu dan meninggalkan Aiyla yang masih tak percaya dengan perkataan yang barusan saja didengarnya.


Setelah sarapan sesuai permintaan Azzam hari ini semua yang diinginkan anak lelaki ini dituruti semua oleh Ergin. Aiyla tak mau ikut campur, dibiarkannya saja putranya dimanja oleh Ergin


"Putra ku...Mau diberi nama apa pada anak kuda ini? " Tanya Ergin dengan wajah serius.


Putranya memberikan nama pada kuda yang baru lahir itu dengan nama telah lama disiapkan olehnya. Kuda itu telah tumbuh besar tidak pada saat pertama kali Azzam melihatnya.


"Aku akan beri nama Cleo," ucap Azzam dengan menyentuh lembut kepada kuda tersebut.


Mata Azzam berbinar melihat anak kuda yang telah tumbuh menjadi besar dan gagah serta tegap.


"Ayah mau kah kau membawa ku berkeliling peternakan ini dengan kuda mu itu," ucap Azzam seraya menunjuk seekor kuda.


Kuda hitam yang berbulu mengkilap dan sangat tangguh. Kuda jantan dengan tubuh yang tegap dan gagah.


"Baiklah... Ikut dengan ku, " ucap Ergin dengan meraih tangan putranya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berjalan mengelilingi peternakan itu. Ergin menunggang kuda berwarna hitam bersama Azzam yang sedang dipekuk oleh Ergin. Sedangkan Aiyla mengiringi dari samping dengan menunggang kuda betina yang berwarna putih.


Terlihat kebahagian dimata sepasang suami istri itu melihat mereka bertiga. Senyum kembali terukir dikedua wajah mereka dengan harapan kebahagiaan.


__ADS_2