Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 176


__ADS_3

Menurut Reader apa niat dari Nyonya Esma?


Tulis dikolom komentar ya... ๐Ÿ‘Œ


Jom lanjuuut ngebaca๐Ÿ˜‰


๐Ÿ’ŸHappy Reading๐Ÿ’Ÿ


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Nyonya Esma adalah sosok yang menjadi pengganti ibu bagi Nadine sewaktu dulu. Disaat dirinya tak mengenal ibu kandungnya.


Kehadiran Nyonya Esma membawa kebahagian tersendiri bagi Nadine dimasa lalu. Adanya wanita paruh baya itu mengobati luka yang ditoreh oleh ibu kandungnya.


"Nadine, apakah kau memang tak mencintai putra ku?"


Cerca Nyonya Esma kembali setelah pertanyaan sebelumnya belum mendapatkan jawaban dari wanita dihadapannya


Nadine tak mungkin lagi menghindar dari pertanyaan tersebut disaat dirinya sudah tak mampu mengendalikan emosi dirinya sendiri dihadapan Nyonya Esma.


Dengan suara bergetar dan terdengar sangat berat Nadine menumpahkan rasa didalam dadanya melalui rangkaian kata yang keluar dari mulutnya.


"Aku memang bodoh menggadai cinta hanya untuk harta semata dan sekarang baru ku sadari harta tak membuat hidupku bahagia. "


Ungkap Nadine dengan kepala tertunduk tanpa mampu menatap wajah wanita paruh baya dihadapannya.


Nadine merasakan penyesalan yang teramat dalam terlihat dari isak tangis yang terdengar pilu ditelinga Nyonya Esma.


Itu menandakan bahwa wanita dihadapannya begitu terpuruk atas keputusan dimasa lalunya. Sebuah senyum penuh makna terukir diujung bibir wanita paruh baya tersebut.


Nyonya Esma seperti memiliki maksud terselebung yang dengan sengaja mencari informasi apakah wanita dihadapannya masih memiliki rasa cinta dihatinya untuk Ergin.


Dengan sikap Nadine seperti itu membuat Nyonya Esma senang karena rencana yang disusunnya akan dapat berjalan melalui wanita dihadapannya itu.


"Baiklah...Aku bersedia membantu mendapatkan lelaki yang masih kau cintai itu."


Ungkap Nyonya Esma dengan suara pelan namun tegas membuat Nadine yang sedari tadi tertunduk seketika terkejut lalu mengangkat kepalanya.


"Apa!! Nyonya... "

__ADS_1


Balas spontan Nadine setelah mendengar perkataan dari wanita paruh baya tersebut.


Nadine menjadi tak habis pikir, mengapa Nyonya Esma mau membantu menghancurkan hubungan rumah tangga putra satu-satunya.


Sampai detik ini Nadine Belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang terlintas dikepalanya secara spontan.


"Apakah wanita ini tidak menyukai menantunya sehingga tega memisahkan mereka berdua. "


Besit Nadine penuh tanda tanya didalam hati seraya menatap Nyonya Esma penuh keseriusan. Wanita paruh baya tersebut seakan memberikan tanda bahwa apa yang dikatakannya memang penuh keyakinan.


"Benar...Dengan apa yang aku katakan, hanya saja kau harus mengikuti setiap rencana yang aku buat. Bagaimana... Apakah kau bersedia?"


Nyonya Esma malah balik bertanya untuk meyakinkan Nadine untuk mau mengikuti setiap rencana yang dibuat oleh wanita paruh baya dihadapannya itu.


"Tapi... Mengapa kau mau merusak hubungan putra mu sendiri? Aku telah melihat betapa besarnya cinta putra anda pada istrinya. "


Ungkap Nadine pada Nyonya Esma yang terlihat terkejut setelah mendapatkan balasan bukan dari pertanyaan yang dilontarkannya melainkan sebuah perkataan yang menyatakan kekuatan akan cinta yang dimiliki Ergin terhadap Aiyla.


Nyonya Esma merasa wanita dihadapannya itu tidak mudah untuk dimanfaatkan olehnya guna membalas rasa sakit hatinya.


Dengan teliti Nadine ingin mengetahui alasan Nyonya Esma sesungguhnya atas rencana untuk memisahkan hubungan Ergin dan Aiyla.


Ungkap Nyonya Esma yang pandai meyakinkan Nadine untuk bekerja sama menghancurkan pernikahan Ergin dan Aiyla.


Alasan yang diberikan Nyonya Esma masuk dilogika Nadine. Secara tidak langsung Nadine juga mencari informasi tentang Aiyla.


Nadine tak habis pikir mengapa seorang single parent mampu memikat hati Ergin ditambah dengan membawa seorang anak hasil perkawinan pertamanya.


Dengan kedudukan Ergin saat ini, lelaki itu dengan mudah mampu mendapatkan wanita berkelas dan keturunan bangsawan.


"Apa mungkin karena cinta satu malam itu yang menjebak Ergin untuk selama-lamanya pada wanita tersebut. "


Gumamnya secara refleks disaat pikirannya berputar tak tentu arah. Dari gumam tersebut tanpa sadar terdengar oleh Nyonya Esma.


Spontan Nyonya Esma memancing lebih dalam maksud dari gumaman Nadine yang tak sengaja didengar telingannya.


"Jadi... Kau mengetahui penyebab putra ku menjadi terikat oleh Aiyla? "


Ungkap Nyonya Esma spontan menanyakan Nadine yang ikut terkejut disaat dirinya terlepas untuk tidak mengontrol mulutnya.

__ADS_1


Terlihat oleh Nyonya Esma gelagat serba salah yang ditunjukan dari gestur tubuhnya. Nadine tak ingin apa yang menjadi rahasia Ergin diketahui oleh Nyonya Esma.


Rasa bersalah sudah tentu akan dibawanya seumur hidup jika rahasia itu menyebar luas. Ditambah lagi dengan kata-kata Ergin yang masih terngiang jelas ditelinganya.


"Jika kau masih memiliki hati nurani dan mengingat hubungan kita dimasa lalu, maka kau tak akan bertindak lebih jauh."


Cukup lama Nadine terdiam tak membalas pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Esma padanya.


Dihati Nadine, tak ingin Ergin membenci dirinya jika ia menunjukkan bukti yang didapat pada Nyonya Esma.


"Mereka berdua saling mencintai Nyonya, mereka terikat satu sama lain. Sulit untuk memisahkan mereka berdua. Putra anda terang-terangan mengakui tidak mencintai aku seperti dulu, tidak ada lagi harapan untuk ku Nyonya."


Ungkap Nadine memperjelas hubungan Ergin dan Aiyla. Dengan demikian dapat menyamarkan rasa penasaran Nyonya Esma atas perkataannya yang sempat terdengar oleh wanita itu.


"Apa salahnya kita mencoba, saya yakin Ergin akan mengingat kisah cinta kalian berdua. "


Ucap Nyonya Esma kembali untuk membangkitkan harapan Nadine yang tak percaya diri.


"Aku telah menawarkan diriku sebagai istri yang kedua, namun Ergin menolak mentah-mentah. "


Ucap lirih Nadine yang kini terlihat sekali pupus harapannya untuk mendapatkan cinta lelaki tersebut.


Nyonya Esma tak berputus asa mendorong dan berusaha membangkitkan kembali rasa percaya diri serta rasa cinta yang masih bersemayam dihati wanita tersebut.


Akhirnya dengan perasaan kecewa Nyonya Esma melangkahkan kaki keluar dari kediaman Nadine.


Terlihat jelas api dendam dimata wanita paruh baya tersebut. Dengan tanpa bantuan yang diharapkannya bisa bekerja sama, Nyonya Esma akan berusaha untuk mencari celah agar agar rasa sakit selama mendekam dipenjara dapat terobati.


Entah apa yang membuat ibu asuh Ergin tersebut tak menyesal ataupun jera atas tindakan yang akhirnya menjerumuskan dirinya kedalam jeruji besi.


Baru saja beberapa bulan dirinya keluar dari masa mendekam, tak mengurungkan niatnya membalas dendam.


Dinginnya dinding penjara tak mampu mendinginkan rasa panas dan terbakar hatinya. Rasa dendam menguasai hati nurani Nyonya Esma.


Kini wanita paruh baya tersebut tinggal disebuah apartemant yang menjadi tempat satu-satunya untuk berlindung dan harta satu-satunya yang menjadi hak atas dirinya.


Sedangkan fasilitas mewah yang dulu dimilikinya dengan berat hati jatuh ketangan Ergin yang merupakan pewaris tunggal.


Apartemant dengan tabungan hari tua adalah bentuk rasa kasih sayang yang diberikan Ergin pada Nyonya Esma.

__ADS_1


Mengingat bahwa bagaimanapun wanita itu sempat menjadi ibu tiri Ergin walau tak sepenuhnya ikhlas membesarkan dan memberikan kasih sayang dimasa kecil Ergin.


__ADS_2