
Maaf Reader baru bisa update... π
Tetap setia dilapak Author yaaa...π
Plus like, love, gift, vote and rate stars 5 yaaaππ
Jom lanjuuut ngebaca π
πHappy Readingπ
πππ
1 Minggu kemudian
Hanya 2 hari Azzam berada dirumah sakit setelah itu dapat keluar dengan kondisi yang sudah mulai pulih kembali namun rasa trauma masih ada terlihat dari sikap anak lelaki itu yang tak ingin jauh dari orang-orang terdekatnya.
Azzam hanya akan mau bersama Fusun atau Yaren. Dua wanita itu yang selalu menemaninya dirumah selain ayah dan ibunya.
Saat ini anak lelaki itu dengan manja duduk disamping ibunya yang tengah diperiksa oleh dokter pagi ini.
"Ibu... Apa ini masih terasa sakit? "
Terdengar suara Azzam seraya menunjukkan bagian lutut Aiyla yang masih diperban. Sedangkan luka dibagian lengan dan dahi serta kakinya telah mulai mengering.
"Baiklah Tuan... Nyonya dapat pulang hari ini karena kondisinya telah semakin membaik. Luka jahitan dibagian lutut ini akan saya berikan obat pengganti dari biasanya sehingga cepat mengering.
Ungkap dokter seraya mengecek luka yang ada dibeberapa bagian tubuh Aiyla dengan teliti.
"Luka didaerah lutut memang sedikit lama untuk sembuh karena bagian itu sering terjadi pergerakan."
Ucap dokternya kembali seraya tersenyum menatap Azzam yang sedari tadi memandang luka yang ada dibagian lutut ibunya.
Kemudian pandangannya beralih pada perut buncit ibunya. Dengan memberikan ciuman tepat diperut Aiyla seraya berkata : "Dokter... Apakah dedek bayi dalam perut ibu tidak luka? "
Perkataan polos Azzam membuat Aiyla dan Ergin tersenyum haru menatap putra mereka. Anak lelaki itu sangat mengharapkan kehadiran dari bayi yang ada dikandungan Aiyla.
Dokter itu mengubah posisinya menjadi jongkok menyetarakan tubuhnya dengan putra Aiyla seraya memegang kedua bahu Azzam.
"Azzam adalah seorang kakak yang kuat, tentu juga memiliki adik yang kuat. Adik mu didalam perut ibu mu dalam kondisi sangat baik. Janji yaaa akan menjaga ibu lebih baik lagi."
Ungkap dokter dengan perawakan botak dengan postur tubuh yang tinggi. Lelaki itu melayani setiap pertanyaan polos yang keluar dari mulut Azzam.
__ADS_1
Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dan syarat akan nasihat yang tertanam dibenak Azzam. Dokter itu merupakan dokter senior sehingga tentu saja pandai memberikan jawaban sesuai dengan usia anak lelaki itu.
Azzam sangat senang karena setiap pertanyaan yang dilontarkan pada dokter olehnya dijawab dan dapat diterima akalnya.
"Ayah...Ayo kita pulang."
Terdengar suara Azzam seraya menarik tangannya. Sikap lucu dan menggemaskan dari putranya yang telah membuat semua yang melihatnya menjadi tertarik.
Sebelum dokter meraih handle pintu terdengar suara pintu diketuk dari luar. Dokter memberikan jalan dan memberikan peluang pada Nyonya Yasmin untuk dapat masuk kedalam ruang inap Aiyla.
Nyonya Yasmin terlihat telah berada dihadapan pintu dengan sebuket bunga ditangannya, sebuah harapan darinya untuk Aiyla agar secepatnya sembuh.
Hampir setiap hari Nyonya Yasmin datang menjenguk dengan waktu yang tak menentu. Wanita paruh baya itu merasakan bahwa Aiyla
adalah seorang anak baginya.
Aiyla adalah seorang yang dermawan dan penuh rasa tanggung jawab, pekerja keras, mandiri. Sudah tentu dirinya sekarang tak merasa nyaman berbaring saja diatas kasur.
Nyonya Yasmin tersenyum melihat kondisi Aiyla yang semakin hari menunjukkan kesehatan yang membaik. Terlebih janin yang sedang dikandungnya dalam keadaan sehat.
"Baiklah... Azzam kita akan berkemas dan pulang kerumah. "
Terdengar suara lembut ditelinga Ergin yang terbiasa dengan ucapan seseorang tersebut. Aiyla meminta putranya untuk bangkit dari duduknya dan membatu dirinya untuk duduk seraya dibantu oleh Ergin .
Ucap Azzam setelah melihat ibunya berubah posisi tubuhnya dengan senyum diwajahnya yang cerah.
"Ambilkan ibu air Nak..."
Terdengar suara lembut Aiyla kembali dengan wajah tersenyum menatap putranya. Azzam langsung memberikan reaksi dengan berjalan mendekati sebuah nakas yang terletak diatasnya sebuah gelas berisikan air.
"Anak ibu sudah pandai menjaga ibu? "
Ungkap Aiyla dengan membelai wajah Azzam yang tersipu malu. Gurat bahagia terukir jelas diwajah Azzam, terlebih ayahnya yang memberikan isyarat dua jempol atas perbuatannya itu.
Menjelang siang mereka telah berada dikediaman yang sangat dirindukan Aiyla. Terlebih lagi Azzam yang begitu antusias untuk ibunya pulang kerumah.
"Sayang mengapa harus menggendong ku. Aku masih bisa jalan."
Terdengar sebuah bisikan mesrah ditelinga Aiyla setelah dirinya berkata demikian pada suaminya.
"Aku tak ingin lutut mu lama sembuhnya, biarlah aku menggedong mu. Tapi sayang kau sungguh berbeda dari sebelumnya, terasa lebih berat."
__ADS_1
Ledek Ergin karena memang tubuh Aiyla sudah terlihat lebih berisi karena selama dirumah sakit benar-benar beristirahat dengan tidur yang cukup dan asupan gizi yang diperhitungkan dari ahli gizi yang ada dirumah sakit.
Merebahkan secara perlahan tubuh Aiyla diatas tempat tidur, Aiyla memasang wajah sedikit cemberut karena ucapan Ergin.
"Apa kau masih menyukai ku jika berat badanku semakin bertambah?"
Ungkap Aiyla masih dengan mengerucutkan mulutnya memasang wajah sedih bercampur cemberut.
Dengan gemas Ergin langsung menyambar mulut yang mengerucut itu, Aiyla terkejut kaeena tindakan suaminya yang secara tiba-tiba.
Sentuhan lembut diantara bibir mereka bermain beberapa menit setelah berakhir karena terasa sesak dikeduanya.
"Kau malah terlihat lebih sexy sayang dengan perut mu yang buncit. "
Terdengar suara genit Ergin seraya memainkan sebelah matanya menatap Aiyla yang tersipu malu.
Posisi Ergin yang duduk dengan tubuh condong berada tepat diatas dengan kedua tangan menghadang tubuh Aiyla. Refleks tangan Aiyla meraih pinggang Ergin lalu memberikan cubitan dibagian pinggang tersebut.
Awwwuuu....
Teriakan keras terdengar dan dengan sigap tangan Aiyla menutup mulut Ergin dengan mata membulat menatap manik coklat milik Aiyla.
"Sayang... saa... kiiit... "
Terdengar suara terputus dan tak begitu jelas keluar dari mulut Ergin karena telapak tangan Aiyla yang masih menutup dimulut Ergin.
"Rasakan, mengapa meledek ku!!!"
Umpat Aiyla dengan tawa terkekeh keluar dari mulutnya.
Akhirnya mereka berdua berpelukkan dalam posisi berbaring. Terasa diperut Ergin pergerakan yang terjadi pada perut Aiyla.
"Sayang sebentar. ...Coba rasakan sentuhan dari bayi kita diperut ku. Apakah kau juga ikut merasakannya?
Ungkap Aiyla dengan mata berbinar dan Erginpun sama menatap Aiyla. Menyetujui perkataan istrinya bahwa dirinyapun merasakan hal yang sama.
"Sayang....Aku bersyukur bahwa kalian berdua selamat atas tragedi tersebut. Tak dapat ku bayangkan akan kehilangan salah satu diantara kalian. berdua. "
Ungkap Ergin tanpa disadari oleh dirinya bulir bening menetes diujung kedua matanya. Berusaha menyeka dengan tangannya agar tak terlihat bahwa Ergin sempat merasa dititik terendah dalam hidupnya.
Masa-masa menegangkan itu kini telah berlalu berganti dengan senyum kegembiraan diparas tampan Ergin.
__ADS_1
Bagaimana dengan Nyonya Mustafa dan Tuan Mustafa ? Tentu merasa terbakar di hati mereka berdua kehilangan sosok putra walaupun Akhsal sering membuat mereka kecewa bahkan mencoreng nama baik keluarga .