
Hai... Hai.. Hai...πππ
Bagaimana menurut Reader akankah ilusi atau kenyataan yang terjadi? π
Tulis dikolom komentar yaaa π
Don't forget to like, love, gift, vote, and rate stars 5 Guy's..πππ
I'm waithing for your support ππ
Jom lanjuuut ngebaca π¨π¨
βHappy Readingβ
πΏπΏπΏ
Sentuhan lembut melingkar dipinggangnya yang kosong, aroma tubuh yang familiar masuk terhembus oleh angin masuk kehidungnya.
Gul tak dibiarkan membalikkan tubuh melihat sosok tangan yang tegap memeluk erat tubuh rampingnya dari belakang.
Mengesap lembut aroma rambut dan jenjang dari leher Gul lalu turun kebahunya yang terbuka. Lelaki itu begitu menikmati sentuhan yang dilancarkannya.
"Kau sungguh kejam pada ku, menyiksa ku, membuat ku terbakar, bahkan kau sengaja membunuh ku hidup-hidup secara perlahan."
Terdengar suara yang sama pada saat memanggil namanya dalam beberapa menit yang lalu.
"Apakah yang memeluk ku saat ini benar-benar laki-laki yang ada dalam pikiran ku ? Oh...Tuhan, Aku sungguh bisa dibuat gila dengan ilusi ini. Namun sentuhan ini terasa begitu nyata, aroma tubuh yang tercium sangat khas dihidung dan ku rasakan sungguh nyata. "
Lamunan Gul akan sosok yang sedang memeluk erat tubuhnya lalu mencium kepala, leher dan bahunya. Dicobanya untuk menyentuh tangan yang melingkar dipinggang dan mencoba memastikan siapa sebenarnya lelaki yang sedang memeluk erat tubuhnya.
Dengan membalikkan tubuhnya dan kali ini dibiarkan saja tubuhnya mengubah posisi sehingga bertemulah dua manik yang saling merindu.
Angin yang menyentuh kulit mereka berdua seakan membuat hati dan jiwa mereka menyatu karena rasa rindu yang terbayar sudah.
Terlihat sangat berbeda pada penampilan lelaki yang kini menggenggam erat kedua tangannya. Tidak terawat dan tidak terurus, rambut yang panjang dengan lingkar hitam dimata menandakan bahwa Murad tidak cukup istirahat.
__ADS_1
"Apakah aku sedang bermimpi? Apakah ini nyata atau hanya ilusi ku semata? "
Ungkap Gul dengan wajah penasaran dan masih tak menyadari kehadiran Murad. Sebuah sentuhan tepat didahinya seperti dalam mimpinya semalam, begitu lembut dan hangat terasa.
"Kita telah memiliki seorang putri, apakah kau akan pergi meninggalkan kami berdua seperti mimpi ku? "
Ungkap Gul kembali dengan mata berkaca-kaca menatap Murad yang tersenyum dengan sorot matanya yang begitu merasa bersalah.
Sungguh sangat berbeda pandangan mata laki-laki itu, Murad tidak terkejut dengan perkataan Gul, melainkan sebuah sorot mata rindu dan sorot mata sebuah kebahagian sangat lekat dimatanya.
"Sayang... Ini aku Murad. Aku nyata, kau tidak sedang bermimpi. Lelaki yang begitu bodoh dan baru menyadari bahwa kau sungguh berharga dalam hidup ku setelah kehilangan mu itu. "
Seraya mengeluarkan air mata Murad mencium dahi Gul kembali dan mencium berulang-ulang kali punggung tangan Gul. Lelaki itu sengaja memberikan sentuhan agar Gul dapat segera sadar bahwa ini bukan sebuah mimpi.
Berusaha Murad memastikan bahwa itu nyata dengan mencubit pipi Gul untuk memastikan bahwa benar adanya, dirinya tidak sedang bermimpi. Terasa sakit dibagian tubuhnya namun dirinya merasa sangat bahagia setelah menyadari bahwa ini adalah nyata.
Gul langsung memeluk refleks lelaki dihadapannya lalu memberikan sentuhan dipunggung tangan lelaki dihadapannya.
"Kau nyata, kau kemari ingin bertemu putri kecil kita? "
Ungkap Gul seraya mengeluarkan bulir bening yang telah keluar dari ujung kedua matanya. Gul tak dapat membayangkan betapa bahagia yang dirinya rasakan setelah Murad menganggukkan kepala pertanda bahwa memang benar adanya dengan apa yang dikatakan Gul.
Ungkap Murad kembali dengan memeluk tubuh Gul sampai tubuhnya terangkat dari tempat dirinya berpijak.
Kebahagian menyeruak diantara mereka berdua, rasa cinta yang ada dihati Murad diperlihatkan lelaki itu saat ini.
Sedangkan Gul terlihat rasa rindu yang sangat mendalam menyelimuti hatinya pada sosok yang tengah memeluk tubuhnya dengan erat tersebut.
Murad meraih tangan Gul dan mengajak untuk duduk dan memintanya untuk bercerita sampai dirinya berada dikota kecil ini.
"Aku mengetahui kau disini bersama putri kecil ku dari Ergin dan Aiyla. Aku sungguh berterima kasih pada mereka berdua telah menjaga mu disaat aku tak ada disisih mu. Kau tahu sayang... Setelah kepergian mu dari ku, aku ada dan aku merasa bahwa kau selalu memikirkan ku disetiap malam karena wajah mu tak pernah hilang dalam pikiran ku. "
Ungkap Murad dengan wajah tertunduk dan terlihat kesedihan yang teramat dalan terlihat dimanik hitam milik lelaki itu disaat menatap Gul.
"Aku selalu dimimpikan dengan seorang anak perempuan disetiap malam ku. Itu membuat ku semakin terbakar, karena anak perempuan itu terus menatap ku dengan raut wajah sedih."
Ungkap Murad kembali dan kini menatap dalam kemanik coklat Gul. Begitu tulus dan terlihat pilu saat menceritakan semua yang dirasakannya selama kepergian Gul.
__ADS_1
"Mana putri kecil ku itu sayang... "
Ucap Murad dengan wajah penasaran ingin segera menemui darah dagingnya. Gul berdiri dari posisi semula lalu meraih tangan Murad untuk mengikutinya.
Murad mengikuti saja langkah kaki wanita yang begitu dicintainya itu dan sekarang akan menunjukkan buah cintanya yang selama ini hadir disetiap malam didalam mimpinya.
"Aku sungguh senang kau menerima putri kecil kita, tidak seperti dalam mimpi ku. "
Balas Gul seraya tetap berjalan menuju kamar yang ada di resort tersebut. Dilec sudah sedari tadi teridur pulas, karena puas bermain.
Begitu pintu dikamar yang ada di resort terbuka, Gul langsung tertuju pada tempat tidur yang ada didalam kamar tersebut.
Betapa terkejutnya Gul setelah menyadari bahwa putri kecilnya menghilang. Tak berada ditempat dimana anak perempuannya tertidur sebelumnya.
Gul panik dengan wajahnya yang berubah menjadi pucat, Gul menatap Murad dengan sorot mata yang berubah menjadi khawatir dan cemas.
"Dimana putri ku... Dimana putri ku!!! Apa yang kau lakukan padanya!!! "
Teriak Gul seraya melepas tangan lelaki itu dipinggangnya. Gul tak dapat berpikir jernih dan tak dapat mengedalikan keterkejutanya.
Kehilangan putrinya secara tiba-tiba membuat wanuta itu tak dapat lagi mengontrol emosinya. Gul terus berteriak seraya memukul tepat didada bidang Murad.
Lelaki itu membiarkan saja wanita yang sangat dicintainya itu memukul dengan keras tepat ditubuhnya. Gul berpikir bahwa Murad sengaja menyingkirkan putrinya.
Pikiran buruk Gul terhadap Murad, dirinya menyangka bahwa Murad yang sengaja meminsahkan dirinya dengan Dilec.
Aiyla yang datang menghampiri mereka berdua terkejut melihat sahabatnya itu. Menangis dan menjerit serta teriakannya menjadi perhatian beberapa pengunjung resort tersebut.
"Gul... Gul...Sadarlah. Dilec ada bersama Bulut dan Ergin. Tenanglah... Tenang sabahat ku. "
Ucap Aiyla seraya memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Terlihat sekali bahwa Dilec adalah satu-satunya penyebab yang membuat Gul seperti orang gila setelah mengetahui putri kecilnya menghilang begitu saja.
"Aiylaaaa.... Aku bisa gila jika kehilangan putri kecil ku itu."
Terdengar tangis dan suara yang berat serta terbata-bata yang keluar dari mulut wanita itu.
Murad mendekati mereka berdua, dengan refleks membuat Aiyla berusaha melepas pelukan secara perlahan terhadap sahabatnya itu dan membiarkan Murad kembali memberikan pelukan pada tubuh Gul.
__ADS_1
"Sayaaaang.... Hei...Tenanglah. Putri kita sedang bersama Ergin. "
Ungkap Murad seraya menangkup wajah Gul dengan kedua telapak tangannya dan menatap kematanya seakan memberikan sebuah isyarat agar Gul jangan khawatir dan cemas.