Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 72


__ADS_3

Hai Guy's..😎


Sebelum lanjut ngebaca yup dukung Author..πŸ˜€


Cukup klikπŸ‘‡


1.Tanda jempolπŸ‘ untuk like


2.Tanda hati πŸ’™ untuk bacaan favorite


3. Kata vote untuk dukungan


4.Tanda bintang 5 untuk rating tulisan


Plissss Author menantikan jejak mu...Diakhir setiap bab 😘😘


Lanjuuuuut...😍😎


πŸ’Happy ReadingπŸ’


πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯


Setelah satu minggu dipeternakan membuat hubungan Aiyla, Azzam dan Ergin semakin erat.


Mereka seperti sebuah keluarga yang sempurna dengan dipenuhi kebahagiaan.


"Sayang ku...Ayah telah lama ingin memberikan ini pada mu. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk meminta mu menjaga dan menyimpannya untuk Ayah," ucap Ergin tersenyum dengan menatap penuh kesungguhan.


Melihat sebuah mainan yang terbuat dari kayu berbentuk seekor kuda berwarna hitam. Ukuran mainan itu dapat digenggam oleh telapak tangan orang dewasa.


Rasa bahagia putranya menerima mainan yang diberikan Ergin terlihat jelas diraut wajahnya yang tampan.


Aiyla merasakan bahwa lelaki itu telah berhasil merebut hati putranya. Melihat Azzam memeluk dan mencium erat Ergin setelah menerima pemberian sesuatu yang berharga dari ayahnya.


"Ayah....Aku janji akan menjaga dan menyimpannya dengan baik," balas Azzam dengan senyum menawannya.


Sepasang suami istri penjaga peternakan merasakan kehilangan mereka bertiga. Setelah selama satu minggu menghabiskan waktu ditempat itu bersama-sama.


Ada rasa sedih menggelayut diwajah wanita paruh baya tersebut, disaat mereka berdua melepas kepergian Aiyla, Ergin, dan Azzam.

__ADS_1


Mentari pagi mengiringi perjalanan mereka bertiga kembali kekota X. Senyum kebahagian terpancar jelas diwajah mereka masing-masing.


Ergin mengatar Aiyla kembali kerumah Fusun yang terletak dipinggir kota X. Putranya masih tertidur disaat Ergin mengangkat tubuh kecil itu memasuki kamarnya.


Ternyata Fusun belum pulang dari kampung, terlihat dari suasana dan tanda-tanda rumah yang tak berpenghuni. Aiyla menyiapkan secangkir kopi hangat untuk Ergin.


Malam ini Ergin pasti akan menginap disini, karena rasa kelelahan terlihat diparas tampannya. Saat ini dirinya telah merebahkan tubuhnya diatas sofa yang ada diruang tamu.


"Sayang...Aku akan membersihkan tubuh ku dulu," ucap Aiyla seraya berlalu dari hadapan Ergin.


Tubuh Aiyla terasa penat dan lengket, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu agar lebih fresh. Sedangkan lelaki itu sedang menikmati secangkir kopi buatan Aiyla seraya tiduran diatas sofa.


Sekitar 20 menit Aiyla ada didalam kamar mandi, lalu tubuhnya hanya berbalut handuk berjalan keluar menuju ruang tamu.


Dilihatnya Ergin telah tertidur disofa tersebut. Aiyla kembali kekamar pribadinya lalu mengenakan pakaian tidurnya yang berbahan satin tipis dan lembut.


Mengenakan krem malam dan body lotion disekujur tubuhnya. Sekarang baru terasa tubuhnya sedikit rileks dari rasa penat yang mendera.


"Sayang... Bagun," ucap lembut Aiyla seraya membelai lembut wajah lelaki yang tengah tertidur.


Ergin seperti tak mendengar panggilan Aiyla, setelah beberapa kali dibangunkan. Dibiarkannya saja lelaki itu tertidur disofa dengan sebuah selimut tebal yang dibawanya untuk menutupi sebagian tubuh lelaki itu.


"Selamat tudur sayang... Semoga mimpi indah," bisik ditelinga Ergin.


Gerakan tubuh Ergin membuat Aiyla terkejut, khawatir lelaki itu sadar dan mengetahui ia telah mencium dalam tidurnya.


Disaat tubuhnya berdiri sebuah tangan menyambar cepat lengan tangan kiri Aiyla. Ternyata Ergin terbagun akibat sentuhan yang diberikan oleh Aiyla.


"Ups... Kau mengagetkan ku," ucap Aiyla dengan wajah merona.


Sebuah senyuman dan kedipan mata genit yang diterima Aiyla. Sontak wanita itu mencubit dibagian pinggangnya.


"Rasakan!!!" Ucap singkat Aiyla memasang wajah cemberut.


Wajah wanita yang ada dihadapannya dalam posisi cemberut membuat Ergin menarik tubuh Aiyla dan kini tengah duduk dipangkuan lelaki itu.


"Aroma tubuh dan rambutmu ini sebagai obat tidur ku," ucap Ergin dengan membelai lembut rambut coklat bergelombag milik Aiyla.


Sentuhan Ergin terhenti setelah terdengar suara dari ponselnya. Aiyla berniat untuk beralih posisi duduknya diatas sofa, agar Ergin mudah menerima panggilan masuk tersebut.

__ADS_1


Namun laki-laki itu tak membiarkannya, Aiyla masih tetap diposisi semula. Satu tangan melingkar dipinggang Aiyla dan satu tangan lagi menerima panggilan tersebut.


"Tuan... Kapan anda pulang? Beberapa kali Nyonya Esma datang kemari, menanyakan keberadaan anda," ucap Yaren Asisten rumah tangganya dengan suara serius.


Mendengar Nyonya Esma alias ibu dari lelaki bermata biru yang menjadi topik pembicaraan dalam panggilan antara Yaren dan Ergin membuat gemuruh didalam dada Aiyla.


"Akankah wanita itu akan merestui hubungan ku dengan putranya? " Batin Aiyla didalam hati.


Melihat Aiyla hanya diam dan termenung dipangkuannya membuat Ergin mengoyangkan tubuhnya dengan meletakkan kepalanya dibahu Aiyla.


"Sayang...Apa yang kau pikirkan? Apa soal ibu ku? " tanya Ergin dengan berbisik.


Tak ada reaksi balasan dari pertanyaan yang dilontarkan Ergin. Aiyla seakan menguci mulutnya dengan rapat.


"Aku dan ibu ku tak terlalu dekat sedari masih aku kecil, jadi terlepas ia mau menerima mu ataupun tidak menjadi masalah buat ku. Aku hanya akan memberitahukan tentang hubungan kita pada semua orang tidak terkecuali dirinya," ungkap Ergin dengan kesungguhan.


Setelah mendengar perkataan dari Ergin, wanita itu menjadi sedikit lega. Namun sifat Aiyla yang tak ingin merusak hubungan antara anak dengan orang tua maka tentu ia akan berusaha meminta restu dari wanita paruh baya yang sosialita itu.


"Aku ingin kau memiliki hubungan yang erat dengan ibu, " ucap Aiyla dengan sorot mata penuh keseriusan.


Kini Aiyla telah bepindah dari posisi dipangkuan dengan duduk disamping Ergin. Diraihnya tangan lelaki itu kemudian mencium kedua punggung tangannya.


"Berusaha untuk lebih dekat dengan Nyonya Esma demi aku, " ucap Aiyla dengan tersenyum.


Selama ini Ergin telah berusaha membuat wanita itu lebih dekat dengannya. Baik dengan cara menjaga nama baik keluarga serta memberikan prestasi yang membanggakan disaat sekolah bahkan sampai pada saat diperguruan tinggi.


Perusahaan milik ayahnya yang sekarang dipimpinpun kini maju dan berkembang. Siapa yang tak mengenal sosok Ergin Ozturk didalam dunia bisnis.


Kiprahnya menjadi pengusaha yang sukses tak diragukan lagi dengan banyak relasi baik diluar ataupun dalam negeri.


Namum tak pernah sekalipun ibunya merasakan kebanggaan yang telah dimiliki oleh dirinya. Segala sesuatu yang didapatkan oleh Ergin tak berkesan apapun dimata Nyonya Esma.


Bulir bening mengalir diujung mata lelaki bermata biru. Mengenang akan sikap ibunya terhadap dirinya.


"Sayang... Percaya padaku, bahwa aku akan membuat hubungan mu dengan Nyonya Esma menjadi lebih baik," ungkap Aiyla dengan optimis meyakinkan Ergin.


Kini kepala Ergin telah direbahkannya ke bahu Aiyla. Kedua tangan Ergin melingkar dipinggangnya dengan mesrah. Aiyla merasakan kesepian menyelinap diruang hati Ergin akan sosok seorang ibu dan ayah.


Memang miris hidup lelaki yang ada dipelukannya, disaat harta melimpah dan apapun yang dimiliki. Namun tidak dengan kehangatan sebuah keluarga serta cinta kasih yang terdapat didalamnya.

__ADS_1


"Sayang...Aku ingin kau dan Azzam tak pernah meninggalkan ku. Saat ini kalian berdua adalah dunia ku yang sangat berharga bagi ku," ungkap Ergin dengan sorot mata penuh cinta dan harapan.


Aiyla menganggukan kepalanya seraya menyatukan dahi Ergin dengan dirinya. Sentuhan lembut mendarat dibibir Ergin dan mendapatkan balasan dari lelaki bermata biru.


__ADS_2