Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 106


__ADS_3

Jom lanjut ngebaca 😊


But don't forget to like, love, vote, gift, and rate star 5 ya guy's..πŸ˜‰


Salam manis dan hangat teruntuk Reader setia... 😍


πŸ’šHappy ReadingπŸ’š


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Mobil pribadi milik Nyonya Yasmin melesat meniggalkan kantor dari wanita paruh baya itu. Dengan kecepatan sedang mobil itu menuju kesebuah pemakaman umum, sopir pribadinya tak perlu banyak bertanya karena telah paham kemana mereka akan tuju.


Tak bergitu lama mobil berhenti pada sebuah gerbang besar berwarna putih yang merupakan gerbang masuk dari pemakaman umum yang ada dikota ini


Dua orang wanita tersebut langsung menuju kemakam Elif Sadoglu. Dengan bulir bening telah membasahi wajah keduanya berjalan mengitari makam yang ada disana.


Akhirnya sampai pada sebuah pusara yang diatas kepala makam itu tertulis tanggal lahir dan tanggal meninggal serta nama dari pemilik pusara tersebut.


Tertulis dengan jelas Elif Sadoglu dibatu nisan tersebut.


"Elif...Sahabatku, akhirnya aku datang kemari tidak sendiri. Wasiat yang kau berikan pada ku, hari ini dapat ku tunaikan. Ini Melec ponakan mu yang kau anggap sebagai bidadari atau malaikat mu, ia akan memberikan kebahagiaan yang tidak kau dapatkan dimasa hidup mu."


Terdengar berat dan parau perkataan dari Nyonya Yasmin seraya meletakan seikat bunga lili diatas pusara sahabatnya itu.


Air mata wanita paruh baya tersebut seakan tak mau terhenti, mengalir deras tak dapat ditahannya. Aiyla yang menggenggam bunga yang sama ditanganya maju mendekati tepatnya dikepala dari pusara bibinya itu.


"Bibi... Aku akan berusaha memperbaiki keadaan. Aku akan pastikan bahwa kau mendapatkan hak mu, yaitu cinta putra mu yang direnggut paksa oleh seseorang yang tak memiliki hati. Ibu sudah tak ada sama seperti mu telah meninggalkan ku sendiri disini. "


Ungkap Aiyla seraya berkata penuh semangat dan amarah yang terlihat diwajahnya. Dihatinya kini terasa sakit dan perih, saudara ibunya yang telah lama menghilang kini hanya nisan yang dapat ditemui Aiyla.


Dihatinya kini telah tertanam tekad yang kuat akan berusaha menjalankan peran dan akan melakukan sesuai rencana meminta keadilan untuk bibinya dengan sebaik-baiknya.


Cukup lama dua orang wanita itu larut dalam kesedihan seraya memandang pusara yang telah lama menanti keluarganya untuk datang memanjatkan do'a seperti hari ini.


"Nyonya Aiyla kau harus siap-siap, target ku dalam 3 bulan ini aku akan berhasil menjadi pemegang saham ketiga diperusahan Ozturk, pastikan kau akan menikah sebelum itu."


Suara Nyonya Yasmin terdengar penuh kesungguhan, ada api yang menyala disorot mata paruh baya tersebut.


Aiyla menatap dalam kearah wanita itu dengan sebuah isyarat yang dapat dimengerti oleh Nyonya Yasmin, bahwa Aiyla telah membulatkan tekad dengan rencana mereka berdua.

__ADS_1


Tatapan mata Aiyla hampir sama dengan Nyonya Yasmin, penuh amarah dan inilah waktunya yang tepat untuk Aiyla mewujudkan keadilan bagi bibinya itu.


Terdengar lagi dering telpon dari laki-laki yang ada dilayar ponselnya. Saat ini telah menunjukkan angka 05.30 sore dan Aiyla masih berada dipemakaman umum.


"Sayang...Aku telah sampai hotel. Dimana kau sekarang ? Apakah aku harus menjemput mu ?" Tanya Ergin dengan suara sedikit khawatir.


Mendengar pertanyaan dari laki-laki diseberang sana membuat Aiyla secepatnya menolak karena ia tak ingin ketahuan dengan Ergin.


"Tak perlu, sebentar lagi aku akan sampai." Balas Aiyla langsung mematikan panggilan masuk tersebut.


Ada rasa penasaran dibenak Ergin dengan sikap wanita yang baru saja memutuskan dengan cepat panggilannya.


"Apa yang sedang dia kerjakan ? Seperti ada sesuatu yang ditutupi oleh Aiyla. " Batin Ergin didalam hatinya dengan ekor mata yang menyipit.


Sekarang Ergin berusaha mencoba memikirkan tentang apa yang sedang dilakukan oleh Aiyla sehingga sampai mendekati senja juga belum sampai kehotel tempat mereka berdua menginap.


Deru mobil Nyonya Yasmin terdengar kencang. Sopir pribadinya mempercepat laju kendaraan karena perintah dari majikannya. Nyonya Yasmin tak ingin nanti Aiyla dihujani berbagi banyak pertanyaan dari lelaki tersebut.


"Kita berpisah disini, kita akan saling menghubungi satu sama lain, anda mengerti Nyonya Aiyla!! "


Ucap wanita itu dengan tatapan mata serius, wanita itu telah melihat rencana kegiatan selanjutnya. Mulai saat ini ia akan menempatkan balas dendam sahabatnya itu.


Aiyla berjalan memasuki hotel dengan langkah dipercepat lalu menaiki lift ke lantai kamar hotel tempat mereka berdua menginap.



Sebuah sentuhan mesrah telah mendarat dikedua pipinya. Ergin terlihat khawatir padahal Aiyla pergi hanya beberapa jam.


"Kau tahu sayang... Aku tak sanggup berpisah lama dengan mu. "


Ungkap Ergin masih memeluk tubuh Aiyla seraya membisikkan kata-kata mesrah itu.


Hanya sebuah senyuman yang diberikan wanita yang telah dipeluknya itu dengan membalas perkataan dari Ergin.



Sesuai dengan janji Aiyla bahwa malam ini mereka berdua akan pergi untuk makan malam disebuah restoran yang ada dikota ini.


Mereka berdua telah bersiap untuk makan malam itu, Aiyla tak menyangka lelaki itu telah menyiapkan sebuah meja khusus untuk mereka berdua tempati.

__ADS_1


Ergin berdiri tepat dihadapanya dengan seikat bunga ditangannya. Entah sejak kapan laki-laki itu menyiapkan semua ini.



Aiyla menerima buket bunga mawar putih itu dari laki-laki dengan senyum mengembang diujung bibirnya. Perasaan lelaki itu tak berbeda jauh dengan Aiyla. Hatinya kini sedang berbunga-bunga karena cintanya terbalas oleh wanita yang sangat sulit diraihnya.


"Apakah kau masih memberikan lamaran mu pada? "


Ucap Aiyla dengan menatap dalam kewajah lelaki yang ada dihadapannya. Tentu hati Ergin bergetar mendengarkan sambutan sikapnya dengan perkataan yang keluar dari mulut wanita itu.


Dengan menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aiyla. Ergin meraih tangan Aiyla lalu mencium punggung tangannya dengan lembut.


Kemudian menatap dalam wajah Aiyla dengan kedua tanganya dipundak Aiyla lalu sentuhan hangat kembali terasa didahi Aiyla.



Malam ini begitu sempurna kebahagian yang mereka rasakan berdua. Setelah makan malam yang romantis mereka berdua kembali kehotel bintang 5 yang mereka tempati untuk beberapa hari kedepan.


Ergin dan Aiyla akan menikmati suasana daerah ini untuk sejenak. Setelah semua yang telah terjadi pada mereka berdua.


Seharian penuh sebelum pulang kekota x mereka akan pergi berjalan menyusuri kota ini. Menikmati masa berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


Tapi untuk malam ini mereka harus mengistirahatkan tubuh letih mereka setelah seharian dengan urusan mereka masing-masing.


Pikiran Aiyla kembali terlintas pada pertemuan dirinya dengan Nyonya Yasmin. Pemakaman bibinya yang telah lama menghilang dan rencana mereka berdua untuk sebuah keadilan yang tak didapatkan oleh bibinya.



Aiyla telah mengenakan baju tidur berbahan sutra tanpa lengan berwarna merah bermotif bunga. Sedangkan Ergin dengan kaos tidurnya.


sedang merangkul erat tubuh Aiyla.


Namun didalam pelukan itu, mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Ergin terpikir pada saat pertemuannya dengan seseorang yang dianggap tahu tentang ibu kandungnya.


Sayang orang yang ditemuinya hari ini hanya mengetahui sedikit saja tentang ibu kandungnya. Wanita itu pernah bekerja dengan ibunya disebuah perusahaan.


Tapi tak begitu mengenal sosok ibunya secara detail, wanita itu malah mengatakan bahwa ibunya memiliki seorang sahabat yang sangat dekat.


Satu titik harapan yang Ergin dapat adalah, ia mendapatkan photo dari ibu kandungnya itu melalui teman rekan kerja yang pernah bekerja diperusahaan yang sama dengan tempat ibunya bekerja.

__ADS_1



Melalui photo ini Ergin akan mencari tahu lebih dalam identitas dari ibu kandungnya.


__ADS_2