Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 151


__ADS_3

Apa Gul akan memberikan kesempatan untuk Murad?


Tulis dikolom komentar ya πŸ‘‡


Jangan lupa selalu beri dukungan untuk Author ya... πŸ˜‰πŸ˜‰


Dengan meninggalkan jejaknya berupa jempol manis πŸ‘komentar yang mendukung πŸ˜‰ sekuntum mawar 🌹 atau lebih dari itu juga boleh 😁 plus votenya πŸ’― setiap hari senin dan rate bintang 5 ⭐ biar bisa dibaca banyak orang 😍😘


Terima kasih πŸ™πŸ™ buat Reader setia 😚 dan yang telah memberikan suplemen buat Author 😘


Semoga sehat selalu dan ditambah rejekinya 😊 plus diberi kemudahan pada jari jemarinya 😁 agar selalu tetap dukung dan setia dilapak Author πŸ˜‰


πŸ’ŸJom lanjuuut bacaπŸ’Ÿ


πŸ’žHappy ReadingπŸ’ž


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Deru mobil melesat memasuki sebuah tanda telah berada diwilayah x dengan suasana yang sangat asri.


Masih banyak ditumbuhi pepohonan pinus dengan bukit, kemudian mereka memasuki sebuah daerah yang sepanjang sisi jalan bertemu dengan pinggir laut lepas.


Aiyla tersenyum karena sebentar lagi mereka akan sampai pada tujuan. Ponselnya berdering kali ini tidak seperti biasa sebuah nama sahabatnya telah tersimpan dikontak ponsel Aiyla.


Ergin tersenyum saat Aiyla menerima panggilan masuk dari sahabatnya itu. Wanita itu begitu terlihat bahagia saat berbicara dengan Gul.


Memberitahukan bahwa mereka sebentar lagi akan sampai. Ergin melirik ke istrinya seraya mengemudikan mobil.


"Sayang sampai disimpang depan maka belok kanan, tidak lama lagi kita akan sampai."


Ucap Aiyla seraya meraih tangan Ergin yang terletak dipahanya. Sedangkan putra dan putrinya masih tertidur pulas sepanjang perjalanan itu.


Setelah 10 menit perjalanan dari simpang yang diberitahukan Aiyla, mobil mereka memasuki sebuah desa dengan bentuk rumah didaerah itu hampir sama.


Terbuat dari bahan kayu namun terlihat sangat uniq dari desain eksterior rumah yang ada didaerah tersebut.


Mereka berhenti pada sebuah cafe satu-satunya didaerah itu yang terletak dipinggir laut.


Cafe itu terlihat ramai pengunjung disiang hari, Bulut yang menyadari sebuah mobil parkir dengan plat nomor yang berbeda segera berjalan keluar cafe.


"Ibu... Gul...Sepertinya mereka telah tiba."


Teriak Bulut memberitahukan kedua wanita yang tengah asik melayani tamu siang ini. Mendengar teriakan dari Bulut sontak kedua wanita tersebut ikut berjalan menuju pintu keluar cafe.

__ADS_1


Aiyla dan Ergin turun dari mobil disambut hangat oleh mereka bertiga. Bulut langsung memeluk Aiyla seperti seorang saudara yang memang telah lama tak berjumpa.


Begitu juga Gul dan Feride mereka bertiga begitu berbahagia, rasa rindu yang selama ini terpendam menjadi tumpah ruah saat itu juga.


Ergin yang berdiri terpaku seraya menatap kebahagian didepan matanya, juga ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Senyum terukir diparasnya yang tampan.


"Maaf Tuan Ergin kami melupakan mu... Selamat datang. "


Ucap Gul seraya mengulurkan tangan dan begitu juga Bulut dan Feride. Ergin menyambut hangat uluran tangan dari ketiganya.


"Hai... Jagoan... Ayo bangun... Ayo siapa yang mau es krim... "


Ucap Gul seraya mengusap wajah Azzam agar terbangun dari tidurnya. Anak lelaki itu histeris setelah membuka matanya karena telah lama tak bertemu dengan wanita yang ada dihadapannya.


"Aunti Gul... Azzam rindu... "


Teriak putra Aiyla seraya melepaskan sabuk pengaman yang mengikat ditubuhnya. Anak lelaki itu memeluk erat Gul. Sepertinya Azzam juga merindukan sahabat Aiyla tersebut.


Ergin mengendong putrinya lalu Azzam berjalan disamping Gul yang juga merindukan jagoannya itu.


Sedangkan Bulut membantu membawa koper yang diturunkan Ergin masuk kedalam cafe. Aiyla tak hentinya bergandengan tangan dengan Feride, wanita yang menemaninya hari-hari pada masa itu.


"Silahkan Masuk Tuan... Kebetulan ini adalah jam makan siang, jadi cafe ramai pengunjung. Saya akan menyiapkan makan siang untuk kalian semua. "


Cafe itu sekaligus rumah wanita paruh baya itu, dibagian belakang terdapat beberapa ruangan. dua kamar tidur dan ruang makan serta ruang keluarga.


Ergin memangku putri kecilnya dan Azzam telah memakan es krim yang dijanjikan Gul padanya. Sedangkan Aiyla duduk disamping Ergin dan menikmati secangkir lemon tea hangat.


"Minumlah kopi mu sayang, biar Melec bersama ku."


Ucap Aiyla seraya mengambil putri kecilnya dari pangkuan Ergin.


Ergin mencium aroma yang berbeda dari kopi yang ada didalam cangkir yang sedang dipegangnya lalu menyeruput air kopi buatan Feride tersebut.


"Mmm... Rasa kopinya berbeda dari biasanya sayang. "


Ungkap Ergin seraya menikmati secangkir kopi ditangannya. Kopi itu terasa berbeda dari biasanya yang ia minum bahkan dikedai kopi yang biasa Ergin kunjungi.


"Kau baru tahu ya... Tangan Feride memiliki keajaiban. Sesuatu yang sederhana terasa nikmat sayang... "


Balas Aiyla seraya tersenyum lalu menikmati minumannya kembali.


"Benar Tuan... Ibu Feride memang memiliki keajaiban ditangannya. Sesuatu yang dibuatnya terasa berbeda dan nikmat dilidah. Aku pertama kali datang kemari langsung jatuh cinta dengan masakannya."

__ADS_1


Celetuk Gul dengan menggedong seorang bayi perempuan yang cantik. Anak perempuan itu lebih muda dari Melec hanya beberapa bulan saja.


"Cantiknya putri mu...Siapa namanya? "


Ungkap Aiyla seraya mendekati Gul dengan menggedong putri kecilnya.


"Dilec artinya penuh harapan. " Balas Gul seraya mencium pipi putri kecilnya.


Ergin melihat putri kecil yang digendong Gul membuat dirinya tersentuh hingga matanya berkaca-kaca.


"Andai sahabat ku tahu bahwa dirinya juga memiliki seorang putri kecil yang cantik dengan bola mata duplikat dirinya."


Besit Ergin dalam hati seraya berdiri dan mengambil putri kecil Gul. Sebuah sentuhan lembut dikedua pipi Dilec.


Ergin tak kuasa meneteskan air matanya saat memeluk anak perempuan yang hampir sebaya dengan putrinya.


Dalam hati Ergin bertekad untuk mempertemukan Murad dengan putri kecilnya itu. Lelaki itu akan mengambil kesempatan disaat ini untuk membujuk Gul agar mengijinkannya Ergin untuk memberitahukan pada sahabatnya itu.


Pada saat Dilec dalam gendongan Ergin, putri kecil tersebut mengulurkan tanganya pada saat melihat Bulut berada diantara mereka.


"Ooo Sayang... Kau ingin digendong paman yaaa? "


Ungkap Bulut seraya mengambil Dilec dari tangan Ergin. Ada rasa sedikit kecewa dihati Ergin karena putri Murad menganggap Bulut adalah ayahnya.


Terlihat kedekatan yang nyata diantara keduanya dimata Ergin. Bulut seperti menggantikan peran seorang ayah.


"Sudah siap...Mari keruang makan. "


kedatangan Feride mencairkan suasana yang terlihat kaku pada saat Ergin terdiam melihat Bulut mengambil Dilec dari tangannya.


Aiyla dan Gul merasakan hal yang sama bahwa Ergin merasa sedih saat Dilec lebih memilih Bulut. Kedua wanita itu saling menatap satu sama lain, walaupun Bulut tidak menyadari tindakannya telah membuat Ergin bersedih.


"Tuan Ergin... Mari silahkan makan masakan dari daerah sini. Semoga cocok dengan lidah anda."


Ucap Feride dengan menyodorkan ikan bakar dengan saus kecap diatasnya.


"Emmm Enak sekali ikan ini...Kau memang benar Gul."


Ucap Ergin dengan mengeluarkan keringat didahinya karena saus kecap yang dicampur cabai.


"Terima kasih Tuan... Ikannya baru datang pagi ini. Disini semua hasil tangkapan nelayan daerah sinu dan ikannya masih sangat segar, itu hanya mengunakan bumbu yang sederhana saja Tuan."


Balas Feride merendahkan dirinya. Padahal memang masakan dari tangan wanita ini begitu nikmat, diakui oleh para pelancong atau turis yang datang kedaerah ini begitu juga warga disekitar sini.

__ADS_1


__ADS_2