Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 59


__ADS_3

Alhamdulillah banyak yang lihat tapi tak sebanding dengan yang meninggalkan jejaknya 😭😭


Plzzz tinggalkan jejak kalian Reader agar Author tahu bagaimana respon Reader terhadap tulisan Author...😒😒


Itu sangat dibutuhkan sekali agar tetap update perbab dan semangat memberikan rangkaian kata untuk Reader nikmati.πŸ˜‰πŸ˜‰


Like, Vote, Love and Rate bintang 5 Guy's 😎


Jom lanjut ngebaca 😘😍


πŸ’ŒHappy ReadingπŸ’Œ


πŸƒπŸƒπŸƒ


Membalikkan tubuh lalu mencari suara yang tak asing ditelinganya. Begitu terkejutnya, Aiyla rasa tak percaya melihat lelaki tersebut telah berdiri dihadapannya tak jauh dari pintu ruang kerja yang terbuka.


"Kenapa wajah mu seperti itu sayang ? " Ucap Ergin dengan senyum yang terlukis diparas wajahnya yang tampan.


Mata Aiyla membulat dan masih heran kenapa laki-laki itu bisa ada didalam ruang kerjanya, bahkan tahu dimana kantor tempat Aiyla bekerja saat ini.


Tak ada pernah sedikitpun bercerita dan bahkan lelaki itupun tak pernah bertanya dimana sekarang Aiyla bekerja.


"Aiyla... Sudah cukup lama Tuan Ergin menunggu mu ," ucap Harun dengan wajah serius.


Semakin dibuat bingung Aiyla dengan perkataan atasannya yang terlihat serius seperti telah berbincang lama dengan Ergin.


"Mmm...Siapa juga yang tak megenal Ergin Ozturk. Pasti Harun sudah mengenal karena wajahnya sering muncul disurat kabar ataupun televisi, " gumam Aiyla dalam hatinya.


Disaat tubuhnya masih mematung dan bergelut dengan pikiran yang ada diotak, Ergin tersenyum menatap wajahnya dan berjalan mendekati kearah Aiyla.


"Kenapa ??? Aku sengaja langsung kemari dan meminta atasan mu untuk mengambil cuti kembali, " ucap Ergin dengan santai.

__ADS_1


Aiyla memandang wajah Harun lalu lelaki itu menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh Ergin.


"Tidak bisa !!! Tuan tidak bisa memutuskan dan mengatur kerja saya seperti itu, hari ini adalah hari pertama saya masuk kerja dan harus mengambil cuti lagi!!! Lagian untuk apa saya cuti ? " Ungkap Aiyla dengan nada tinggi dan raut wajah serius memandang kedua lelaki dihadapannya.


Melihat reaksi wanita dihadapannya itu membuat Ergin masih tersenyum, namun Harun terkejut setelah mendengar perkataan dari Aiyla.


"Wanita ini sungguh luar biasa... Seorang Ergin Ozturk mampu kemari dari penerbangan dan meminta izin padaku untuknya... Begini reaksi Aiyla !!!! " Batin Harun dalam hati masih dengan wajah tak percaya dengan mata membulat penuh.


Aiyla membereskan semua filenya lalu memasukkan semuanya kedalam tas kerja. Dengan santai dirinya lalu pergi meninggalkan begitu saja kedua lelaki dihadapannya itu.


"Ergin Ozturk dibuat seperti ini oleh Aiyla !!! " Batin Harun dihati dengan mata masih membulat penuh dengan wajah masih terlihat tak percaya.


Melihat Aiyla pergi meninggalkan dirinya, Ergin hanya tersenyum lagi lalu berjalan mengejar wanita itu. Lelaki itu tidak marah sama sekali bahkan dia merasa Aiyla sangat unik dan berbeda itu yang membuat dirinya semakin terpikat.


"Aiyla tunggu dulu..." Teriak Ergin dengan menarik tangan kanannya.


Aiyla menatap tajam kearah lelaki tersebut dengan mata tak berkedip. Terlihat jelas bahwa dirinya tak ingin berdebat.


Mendengar perkataan dari Aiyla terjadi perubahan diwajah laki-laki itu. Senyum yang sebelumnya mengembang kini terlihat rasa cemburu dan sedih.


Ergin tak dapat terima dari kata-kata Aiyla yang barus saja didengar dan masuk ketelinganya. Begitu membuat hatinya yang telah terluka semakin dalam.


"Sedekat apa kau dengan atasan mu, sehingga kau menyapanya dengan panggilan nama," ungkap Ergin dengan kecewa bercampur penasaran.


Aiyla tertegun mendengar balasan dari perkataan yang baru saja keluar dari mulut Ergin. Wajah yang semula emosi kini berubah menjadi bingung.


"Mengapa Ergin lebih fokus pada sapaan ku pada Harun ? Dari pada kemarahan ku atas keputusan sepihak yang dibuatnya itu," batin Aiyla dengan wajah tak mengerti.


Ergin melakukan hal yang sama dengan Aiyla lakukan diruang kerjanya tadi. Berjalan dan pergi meninggalkan Aiyla begitu saja tanpa melihat kebelakang.


Melihat sikap Ergin seperti itu membuat Aiyla bingung dan sekaligus tak mengerti dengan apa yang dimaksud lelaki itu. Dipandangnya saja punggung laki-laki itu sampai menghilang dari matanya.

__ADS_1


Setibanya dirumah Aiyla masih tak menemukan alasan atas sikap Ergin. Ada rasa tak dapat diungkapkan dihati atas perubahan sikap lelaki bermata biru itu secara tiba-tiba.


"Harusnya aku yang kesal dan marah pada nya !! Tapi... Kata-kata HARUN, apa yang salah dengan sapaan itu? " Gumam Aiyla seraya memainkan pulpennya yang ada ditangannya.


Dret... Dret... Dret...


Terasa getaran ponsel dari dalam saku bajunya. Sebuah panggilan masuk yang terlihat dilayar ponselnya.


" Hai...Aiyla, apa Tuan Ergin menjemput mu hari ini ? " Ucap suara sahabatnya dengan antusias.


Sahabatnya satu ini memang sangat tahu dan perduli padanya. Bisa saja dia yang disana langsung tahu bahwa Ergin menemuinya hari ini.


"Kau tahu, Tuan Ergin mengancam ku kalau tak memberikan alamat tempat mu bekerja, terus dia mempercepat urusannya disana hanya untuk bertemu dengan mu La," ucap Gul dengan berbicara tanpa jeda.


Aiyla terkejut dengan ucapan sahabatnya itu seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Bisa-bisanya langsung pergi ketempat Aiyla setelah melakukan penerbangan yang cukup lama hanya untuk menemuinya.


"La... Kenapa Tuan Ergin marah pada saat aku menyebut nama Harun dihadapannya," tanya Aiyla polos pada sahabatnya itu.


Gul meminta untuk menceritakan secara detail maksud dari perkataan sahabatnya, karena dirinya tak mengerti akan maksud dari pertanyaan Aiyla.


Setelah mendapatkan cerita yang runtun dari Aiyla barulah Gul mengerti apa yang menyebabkan atasannya itu terpukul hatinya. Timbul tawa dari suara sahabatnya itu terdengar jelas dipanggilan itu.


"Aiyla...Aiyla... Wajar Tuan Ergin seperti itu. Dia cemburu pada Harun," Ungkap Gul masih dengan tawanya yang keras.


Wajah Aiyla berubah menjadi cemberut karena sahabatnya itu tertawa lepas tanpa memikirkan dirinya yang masih belum mengerti.


"Ergin... Bukan Tuan Ergin!!! Walaupun kau sudah mulai dekat dengannya namun sapaan kau pada lelaki itu masih menimbulkan jarak antara kalian berdua," ungkap Gul dengan sedikit meredakan tawanya.


Seperti ada sebuah ketukan dihatinya yang menyadarkan dirinya, sebelumnya mengapa tak terpikir olehnya. Aiyla merasa bersalah saat ini karena tak begitu mengertinya tentang lelaki yang telah dianggap Azzam sebagai ayahnya.


Semakin dalam Aiyla berpikir dan semakin merasa bahwa dirinya terlalu egois pada laki-laki itu. Namun dirinya masih sungkan untuk menjelaskan pada lelaki bermata biru bahwa Harun dengannya tidak memiliki hubungan spesial selain sebagain teman lama.

__ADS_1


Tanpa mengganti baju kerjanya Aiyla merebahkan tubuh yang terasa penat dengan pikirannya yang tak menentu diatas sofa yang ada diruang tamu.


__ADS_2