
Duuuh masa lalu Sibabang tampan semakin miris yaaa π
Tulis dikolom komentar kita kasih pelajaran apa sama Simak lampir Esma... π
Jangan lupa like diakhir bab dan berikan dukungannya melalui hadiah dan. vote ya Reader tersayang...
Salam hangat dan manis dari Lemb@yungππ
Jom lanjuuut π
πHappy Birthday Readingπ
πππ
Setelah ketahuan akan tindakannya yang telah dilakukan pada wanita yang sangat dicintai suaminya, dengan tanpa bersalah Nyonya Esma menceritakan semua.
Istrinya berani mencerita semua lantaran Elif Sadoglu telah meregang nyawa akibat rasa sedih yang mendalam.
Nyonya Esma merasakan tak ada penghalang baginya lagi. Walau Elif tak bersama suaminya namun laki-laki itu tak henti selalu mengenang cinta bersama Elif
Ayah Ergin serasa tak percaya dengan Esma karena ia tahu bagaimana karakter Elif yang setia. Tapi untuk menemukan wanita itu sangat sulit bagi ayah Ergin.
Setelah mendengar kata meninggal dalam keadaan defresi yang amat parah sehingga merenggut nyawa wanita yang sangat dicintainya itu, Membuat laki-laki itu merasakan sakit yang amat hebat didadanya.
Dengan menekan dada dengan tangannya, laki-laki itu menahan rasa sakit yang teramat hebat. Dengan terus mendengarkan semua yang disampaikan wanita yang seperti iblis dihadapannya itu tanpa sedikitpun memiliki hati nurani.
Rasa sakit yang menyerang dibagian dadanya, membuat ayah Ergin mengalami serangan jantung yang secara tiba-tiba.
Sepanjang Nyonya Syukran menceritakan hal tersebut membuat mata Ergin memerah menahan tangis dan gejolak amarah yang terbakar dihatinya.
"Aku telah menyimpan rahasia ini puluhan tahun, terasa sesak didada ini. Saatnya telah tiba, maafkan aku Ergin karena tak memberitahukan mu lebih awal. Hubungan ku dengan Esma kau tahu itu, aku telah diingatkan untuk tidak memberitahukan seumur hidupku."
Terdengar lirih Nyonya Syukran mengeluarkan kata-katanya dengan bulir bening telah membasahi wajahnya.
"Walau bagaimanapun, kau adalah wanita juga. Betapa teganya kau membiarkan begitu saja membuat ibu ku seperti itu. Apakah kau tak merasakan kepedihan dan rasa sakit yang sama jika itu terjadi pada mu! "
Terdengar suara tegas dan amarah yang keluar dari mulut Ergin, terasa hawa dingin menusuk hati Nyonya Syukran.
__ADS_1
Kisah pilu untuk kedua orangtuanya, wajar Aiyla ingin meminta keadilan pada wanita itu. Erginpun tak akan tinggal diam, ia akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
Ditambah dengan isi surat yang dengan jelas tertulis bahwa ibu kandungnya meminta untuk mengambil putranya dan meminta keadilan baginya melalui Aiyla.
"Kau maha adil Tuhan... Mempertemukan aku dengan Aiyla sehingga tabir gelap yang tertutup dengan rapi kini telah tersingkap. Tabir gelap masa lalu kedua orangtua ku dan kekejaman wanita berhati iblis. "
Batin Ergin dengan bulir bening telah jatuh menetes dipipinya. Buraq yang melihat atasannya seperti patung tanpa menyadari ia telah memasuki ruang kerja Ergin.
Lelaki itu tak mendengar padahal asistennya telah mengetuk pintu dan permisi sebelum memasuki ruangan itu.
Tergambar jelas dimata Ergin dengan tatapan mata yang kosong setelah kepulangannya dari kediaman Nyonya Syukran.
"Tuan...Anda memanggil saya? Tuan Ergin! "
Terdengar suara Buraq yang memanggil namanya, barulah Ergin kembali dari lamunannya.
"Apakah kau mendapatkan info lebih lanjut tentang lelaki yang melakukan penculikan istriku serta wanita yang mencemarkan nama baik ku itu?"
Tanya atasannya dengan wajah serius, membuat Buraq menjadi takut karena terlihat juga amarah dimata atasannya.
Mendengar info terbaru dari asiaten pribadinya mengukir senyum sinis dengan ujung bibir naik lebih tinggi dari sisi satunya.
"Bagus kerja mu Buraq sekarang kau cari informasi tentang wanita ini, temukan siapa saja yang berteman dan memiliki hubungan dengan wanita ini."
Sebuah photo ibu kandungnya ia serahkan pada Buraq dengan tugas baru ini Buraq yakin atasan mempunyai rencana besar.
Dengan sikap yang optimis akan melakukan semua dengan baik, Buraq berlalu dari hadapannya.
Ergin mulai mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya untuk membuat perhitungan pada ibu tirinya itu.
Disaat Ergin memutar otaknya untuk rencana berikutnya, wanita yang menjadi sahabat sewaktu kecil datang kembali kekantornya.
Dishya dengan senyum tipis telah berdiri dihadapan Ergin. Wanita itu terlihat memandang dengan sorot matanya yang penuh arti.
__ADS_1
"Dishya....Ada apa ?"
Dengan wajah tersenyum memberikan pelukan dan sentuhan dikedua pipi wanita itu.
Dishya bercerita bahwa kesehatan Nyonya Esma menurun, kemungkinan karena setiap malam ibu tiri Ergin tak dapat tertidur dengan nyenyak.
"Wajar saja tak bisa tidur, wanita itu dihantui atas semua yang telah dilakukannya."
Umpat Ergin dalam hatinya dengan senyum sinis mendengar perkataan sahabatnya itu. Wanita itu seperti ingin memperbaiki keadaan antara Ergin dengan ibu tirinya dengan cara menceritakan keadaan kesehatan yang sedang terjadi pada wanita itu.
Sedikitpun Ergin tak merasa simpati tapi tak diperlihatkan pada wanita itu. Ergin ingin rasanya mencekik wanita itu dengan tangannya sendiri.
Mengingat apa yang telah diperbuat oleh wanita iblis itu. Kepalan tangan Ergin begitu kuat sehingga terlihat urat pada tangan lelaki itu.
"Apa kau tak ingin melihat ibu mu Ergin? Dia merindukan mu."
Ucap Dishya kembali dengan raut wajah sedih seraya menyentuh pundak lelaki itu dengan mesrah.
Terbesit dihati Ergin untuk sebuah rencana melalui perantara wanita disampingnya ini. Ergin tahu bahwa Nyonya Esma dekat dengan Dishya.
"Akan ku coba mencari waktu untuk menemuinya, kau tahu pekerjaan ku setiap hari begitu banyak sehingga sangat sulit untuk meluangkan waktu kesana. "
Ungkap Ergin dingin seraya menatap kearah berlawanan dengan wanita disampingnya.
Dishya menghampiri Ergin dengan meraih dasinya Ergin seraya membetulkan posisi dasi yang miring.
Hembusan nafas Ergin terasa diwajahnya, seraya tersenyum menatap lekat wajah laki-laki itu. Entah keberanian apa yang membuat wanita itu lebih agresif.
"Apa yang terjadi pada Dishya, terlihat berbeda dari sebelumnya."
Besit Ergin dengan tatapan mata heran dan bingung, melihat tindakan wanita dihadapannya itu lebih berani dari biasanya.
"Ergin... Aku tahu kau tak akan menolak ku kan, untuk menemani ku makan siang kali ini? "
Terkesan suara dari Dishya begitu manja seraya tangannya mengusah lembut dada bidang Ergin.
Ada rasa terkejut dengan sahabat masa kecilnya ini. Dishya sengaja menggoda dan memancing birahi Ergin dengan gerakan dari tangannya.
__ADS_1
Ergin menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan Dishya. Laki-laki itu tak menolak tawaran makan siang dari wanita yang telah dengan sengaja menggoda dirinya.
Spontan wanita itu menyentuh kedua belah pipi Ergin dengan mesrah karena merasa permintaan dituruti oleh laki-laki yang menjadi cinta pertama baginya.