Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 51


__ADS_3

Salam hangat buat Reader setia...😍😘


Sebuah pencapaian yang sangat berarti tulisan Author bisa mencapai 5000 views hari ini dan bisa naik setiap harinyaπŸ™


Namun banyak yang melihat tapi masih sedikit yang meninggalkan jejaknya...😭😭


Jejak kalian sangat berarti wahai Reader...


Sebagai penyemangat agar Author bisa up setiap hari disela-sela kerja didunia nyata..😎


Jiwa halu Author meronta-meronta kalau tidak disalurkan melalui tulisanπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€


Semoga Reader menikmati dan menyukainya..


Jom lanjut ngebaca...πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


But don't forget to like, vote, love and bintang 5 senantiasa Author menantikannya... πŸ‘Œ


Happy Reading 😍😍


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Dokter Ahmed meminta Aiyla untuk masuk kedalam ruang kerjanya, dengan tubuh lemah dan wajah masih terlihat pucat Aiyla duduk dikursi menghadap dokter Ahmed.


Sungguh sangat menyedihkan melihat kondisi Aiyla saat ini. Wajah cantiknya tak terlihat karena tak ada sedikitpun senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Nyonya... Anda tahu bahwa ini adalah salah satunya resiko setelah transplantasi ginjal. Saya pernah mengatakan sebelumnya, anda harus lebih ekstra memperhatikan putra anda setelah dilakukan transplantasi itu. Pasien dengan mengandalkan satu ginjal sangatlah rentan ditambah dengan obat yang harus diminum setiap hari sepanjang hidupnya. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari efek obat yang dikonsumsi putra anda itu wajib anda ketahui sejak dini untuk mencegah penyakit lain yang datang," ungkap dokter Ahmed dengan suara pelan.


Azzam memasuki periode kedua setelah pasca transplantasi ginjal. Dokter Ahmed menyarankan agar Aiyla lebih peka dari sebelumnya. Baik dari segi kesehatan psikis putranya. Kesehatan psikis juga memberikan pengaruh besar bagi putranya.


Seseorang seperti Azzam tak bisa terlalu berlebihan dalam segala hal baik emosi atau mentalnya, itu akan mempengaruhi kesehatan. Rasa gembira ataupun rasa sedih yang berlebihan.


"Azzam apa yang menyebabkan mu seperti itu nak? " ucap Aiyla dengan wajah sendu.


Mendengar perkataan Aiyla, barulah dokter mengatakan faktor-faktor pemicu terjadinya hal seperti yang telah terjadi sampai Azzam tak sadarkan diri.


"Nyonya apakah ada permintaan putramu yang belum dapat kau penuhi?" tanya dokter Ahmed.

__ADS_1


Aiyla tak tahu pasti apa penyebabnya, yang jelas Azzam selalu merindukan pergi kesebuah peternakan dan ingin melihat kuda. Hampir tiap malam putranya selalu menanyakan hal yang sama.


"Dokter apa yang harus aku lakukan untuk putraku?" tanya Aiyla dengan rasa putus asa.


Mendengar keputusasaan wanita yang ada dihadapannya membuat dokter Ahmed terenyuh hatinya.


"Nyonya berusahalah untuk membuat putra anda tidak bersedih semampu yang kau bisa," balas dokter Ahmed.


Setelah begitu lama konsultasi dengan dokter Ahmed, langkah kaki Aiyla semakin berat dan kepalanya terasa pusing. Pandangan matanya pun semakin buram.


Masih dipaksakannya untuk berjalan walau tubuhnya sempoyongan keluar dari ruang kerja dokter tersebut.


Tak jauh dari ruang kerja dokter Ahmed, kini Aiyla merasa kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya seketika pandangan matanya menjadi gelap dan disaat itu dirinya tak merasakan lagi tubuhnya telah terjatuh diatas lantai.


"Aiyla... " Teriak Gul dengan keras.


Melihat tubuh sahabatnya itu terkulai dan tergeletak dilantai dengan berlari wanita itu datang mengangkat kepala Aiyla dipangkuannya.


Beruntung Murad masih bersama dirinya, dengan sigap lelaki itu mengangkat tubuh Aiyla dan membawa kesebuah ruangan.


Wajah Gul pucat disaat dirinya dihadapi situasi yang komplit seperti ini. Sekarang sedang menunggu petugas jaga memeriksa kondisi Aiyla.


Melihat wanita itu berjalan seperti sebuah setrikaan ditempat yang sama tanpa sadar. Gul memang tak dapat mengendalikan emosinya saat ini. Setelah Azzam kini sahabatnya pula yang terbaring didalam ruang tertutup itu.


Sungguh malam ini adalah malam terberat bagi Gul. Dirinya merasakan kesedihan yang teramat dalam bercampur menjadi satu dengan kekhawatiran dan kecemasan.


"Gul...Duduk dulu, " ucap Murad dengan wajah masih terlihat cemas.


Mendekati dan meraih tangannya lalu berjalan menuju kursi tunggu yang ada didepan ruang itu. Gul hanya mengikuti saja tindakan yang dilakukan oleh atasannya.


Dengan menggenggam tangan wanita itu, Murad berusaha memberikan kekuatan bahwa Gul tidak sendiri disaat ini.


Merasakan sebuah kekuatan mengalir melalui tangan lelaki disampingnya itu. Wajah Gul menatap dalam kearah mata Murad yang memiliki makna yang tersyirat didalamnya.


Pintu ruang itu tiba-tiba terbuka disaat mereka berdua saling menatap satu sama lain. Dengan serentak mereka bangkit dari tempat duduknya lalu menuju kedepan pintu ruangan tersebut.


"Bagimana dokter, apakah sahabatku baik-baik saja? " tanya Gul dengan antusias.dengan raut wajah cemas dan khawatir.

__ADS_1


Rupanya tak ada yang harus dikhawatirkan tentang sahabatnya itu. Rasa shock yang terjadi pada Aiyla sehingga dirinya hilang kesadarannya. Itulah yang dijelaskan oleh dokter Ahmed.


Ada sekitar 15 menit Aiyla baru sadar dan segera ingin bangkit dari tempat tidurnya. Namun karena lelah atas semua yang telah terjadi membuat mata Aiyla terasa semakin berat.


Rasa kantuk menyelinap didirinya dan matanya tak dapat dikompromikan lagi dan akhirnya Aiylapun tertidur.


"Biarkanlah dia tidur, kau juga harus istirahat," ucap Murad dengan wajah serius menatap Gul.


Gul sedikit tak terbiasa atas tindakan Tuan Murad padanya malam ini. Begitu perhatian dan begitu baik.


"Biarlah saya yang menjaga Aiyla malam ini, Tuan juga perlu istirahat, pulanglah kerumah, " ucap Gul dengan sebuah senyuman terukir diwajahnya.


Murad tak merespon perkataan wanita dihadapanya. Dirinya malah menuntun Gul untuk berbaring disebuah sofa panjang yang ada diruang rawat inap tersebut. Sedangkan dirinya duduk persis disebelahnya.


Sangking letihnya Gulpun tertidur dan begitu juga Murad. Dua orang itupun tertidur sampai pagi, Aiyla yang terbangun lebih dulu melihat sahabatnya dan Murad berada diruangan yang sama dengannya.


Mereka berdua tak meninggalkan Aiyla seorang diri diruangan ini. Ada gurat senyum tipis diujung bibirnya melihat sahabatnya itu bersama atasannya.


"Apa Gul sudah memiliki hubungan dengan Murad? Sehingga mereka terlihat lebih dekat," ungkap Aiyla.


Berusaha turun dari tempat tidurnya, namun mengeluarkan suara berdecit yang berasal dari tempat tidur ketika Aiyla mencoba turun.


Membangunkan Murad yang terlelap disofa, sehingga lelaki itu bergegas setelah melihat Aiyla yang hendak turun dari tempat tidurnya.


"Aiyla kau hendak kemana? " tanya Murad seraya tersenyum.


Aiyla malu mengatakannya bahwa dirinya hendak kekamar kecil karena terasa ingin membuang air kecil.


"Tuan bisa tolong bangunkan Gul? " ucap Aiyla dengan wajah tersipu malu.


Murad langsung membangunkan wanita yang masih tertidur itu dengan suara pelan seraya menepuk bahunya juga dengan pelan.


"Tuan... Ada apa? " ucap Gul dengan mengusap kedua mata dengan kedua punggung tangannya.


Murad menjelaskan bahwa Aiyla meminta bantuan dirinya untuk membangunkan Gul. Pandangan mata Gul kearah sahabatnya itu yang sedang berdiri disudut tempat tidurnya.


Berjalan seraya mengumpulkan tenaganya menuju kearah Aiyla berdiri.

__ADS_1


"Ada Apa Aiyla?" tanya Gul dengan wajah cemas yang masih belum hilang diwajahnya.


Dengan cara membisikan ketelinganya Aiyla menyampaikan maksud hatinya. Sedikit senyum dibibirnya Gul, lalu mengantar Aiyla kekamar mandi.


__ADS_2