Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 6


__ADS_3

Yes...Kita lanjut lagi reader...


like, vote and comment plzzz 🙏🙏


Author tunggu yaaa...😉😉


🍒🍒🍒


5 Bulan Kemudian


Angin malam membelai lembut rambut Aiyla yang terurai, berdiri ditaman rumah sakit seorang diri dengan udara dingin yang menembus kulit.


Jaket tebal yang digunakan malam ini tak mampu memberikan kehangatan ditubuh, bahkan bagi hatinya yang kian hari makin membeku


" 250Juta...Nominal yang sangat besar baginya.Tak sanggup mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu singkat. Butuh waktu lama untuk aku mendapatkan nominal sebesar itu". Ucap lirih Aiyla setelah nominal itu terngiang kembali ditelinganya.


Ya... Dokter Ahmed menjelaskan biaya yang harus dipersiapkan oleh Aiyla jika sudah ada pendonor yang cocok untuk putranya


Walaupun saat ini belum ada pendonor yang bersedia dan cocok untuk melakukan trasplantasi ginjal, namun dana tersebut harus siap ditangan Aiyla jika suatu saat dibutuhkan


Jika melihat kondisi putranya yang semakin melemah, maka Aiyla sangat berharap akan ada pendonor yang cocok untuk putranya


Walau saat ini pikirannya buntu, belum ada jalan untuk mendapatkan uang sebesar itu.


Gaji yang diterima dan uang tabungan yang telah banyak terpakai selama ini tak mencukupi jumlah nominal yang disampaikan oleh dokter Ahmed.


Aiyla sudah sehemat mungkin untuk pengeluaran kebutuhan pribadinya, uang yang didapat dari setiap bulan, sebisanya harus terkumpul dan disisihkan untuk pengobatan putranya


Namun itu semua belumlah tentu cukup untuk nominal sebesar 250juta, walaupun dirinya tak memakai sepeserpun dari gaji itu.


Pikiran Aiyla semakin kusut serta bingung pada siapa dirinya harus menceritakan kesulitan yang sedang dihadapi


Sepintas pikiran Aiyla tertuju pada Gul, sahabatnya itu. Namun ditepisnya kembali pikiran tersebut dari dalam kepalanya.


Sudahlah selama ini Aiyla menumpang dengan sahabatnya, tanpa sepeserpun Gul meminta uang selama tinggal diapartementnya. Makan dan Minum Aiyla, sepertinya sahabatnya itu mengerti benar tentang keuangan Aiyla.

__ADS_1


Jadi tak pernah sekalipun menyinggung dirinya yang tinggal selama ini. Oleh sebab itu tak mungkin Aiyla menambah beban pada sahabatnya, untuk meminjamkan uang dalam jumlah besar .


"Tuhaaaan....Siapalah aku yang menolak takdir yang kau tentukan pada ku... Namun beban ini semakin berat ku pikul seorang diri," ucap lirih Aiyla dengan bulir bening telah membasahi kedua pipinya.


Tangisan pilu kembali terdengar untuk kesekian kalinya, Aiyla tak dapat kendalikan emosi dan perasaanya saat ini.


"Aku hanya minta kesembuhan putraku Tuhaaaan," ucapnya kembali dengan meremas rambutnya yang telah berantakan tanpa ia sadari.


"Kemana kucari uang sebesar itu," ucap Aiyla dengan terbata-bata dan tangis yang belum reda.


Kini suaranya terdengar parau dan serak dengan kedua mata sembab. Tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti irama hatinya yang tak menentu.


Raga dan jiwanya kini tak selaras, Aiyla telah berjalan jauh tanpa tujuan, dan pada saat melihat cahaya yang semakin menyilaukan matanya dan semakin mendekat serta terdengar suara klatson yang panjang.


Barulah Aiyla terkejut, bahwa kini dirinya telah berada ditengah jalan dengan posisi mobil yang tak jauh darinya


Sebuah gerakan cepat menyambar tubuhnya yang masih terpaku menatap cahaya mobil yang semakin mendekat dan segera menabrak tubuhnya.


Tubuh Ayla terlempar kesisi jalan dengan rasa sakit yang hebat pada kedua lutut dan tangan bagian sikunya


Kejadian ini seperti mimpi bagi Aiyla, tubuhnya masih tak bergerak dan tak memberikan respon apapun pada lelaki yang berteriak memanggil dirinya.


Semua orang telah ramai berkumpul melihat kejadian tragis yang barusan terjadi dan hampir menghilangkan nyawa.


"Nyonya... Nyonya... Tolong jawab..Apa kau tak apa-apa?" teriak lelaki itu lebih keras dari sebelumnya.


Suara keras lelaki itu barulah menyadarkan dirinya, menatap kewajah lelaki yang sedang berbicara dihadapannya


"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Aiyla dengan tatapan mata yang kosong


Kesadaran Aiyla masih belum kembali sepenuhnya, atas apa yang barusan dialaminya. Terdengar bisikan dari orang yang berkerumun menggelilinginya


"Apa nyonya itu mau mencoba bunuh diri dengan menabrakkan tubuhnya pada sebuah mobil, " Ungkap seorang pria dengan seorang wanita yang berada tepat disampingnya


Dilihat dari kejadian tersebut memang terlihat Aiyla seolah ingin mengakhiri hidupnya dengan berdiam diri dan tak bergeming ditengah jalan dengan kondisi mobil yang melaju kencang dihadapanya.

__ADS_1


"Nyonya...Kita harus kerumah sakit atau keklinik terdekat untuk memeriksa keadaanmu, sepertinya kaki dan tangan anda megeluarkan darah, " Ungkap lelaki yang telah menyelamatkan Aiyla.


Aiyla hanya mengikuti saja perkataan lelaki tersebut karena sepenuhnya ia masih shock. Beruntung lelaki yang menolongnya dan pemilik mobil yang hampir menabrak dirinya mengantarkan keklinik terdekat


Petugas klinik itu cekatan setelah melihat wanita yang memasuki klinik tersebut dengan luka pada lutut dan tangan yang mengalirkan darah segar


"Bagaimana dia dok? " Tanya pemilik mobil tersebut.


Petugas tersebut menjelaskan bahwa Aiyla masih shock dan beruntung bahwa lutut dan tangan bagian sikunya hanya tergores dan tak harus dijahit


Kedua lelaki yang mengantarkan Aiyla ikut senang setelah mendengar petugas klinik itu bicara, dan salah satu dari mereka meminta untuk pergi setelah memastikan kondisi Aiyla telah membaik.


Tinggallah seorang lelaki yang memiliki mobil tersebut, menanyakan kepada Aiyla alamat tinggalnya agar segera diantarkan pulang kerumah


Selama perjalanan pulang Aiyla tak mengeluarkan sepatah katapun, demikian juga lelaki yang fokus menyetir disampingnya.


Tak berapa lama sampailah pada alamat yang diberikan Aiyla, dengan cepat lelaki itu membukakan pintu mobil agar memudahkan Aiyla turun.


"Terima kasih... Maaf telah merepotkan Tuan atas kelalaian saya," Ucap Aiyla dengan mengulurkan tangan seraya tersenyum


Lelaki itu terteguh sejenak ketika Aiyla berbicara padanya, dimana sedari tadi wanita dihadapannya tak begitu banyak bicara


Lelaki itu menerima uluran tangan Aila seraya membalas senyuman dan memita untuk segera pergi dari hadapan Aiyla


"Cantik sekali paras wanita itu, lesung pipinya terlihat jelas ketika tersenyum. Apa yang terjadi padanya, sehingga tak melihat mobil ku hampir menabrak tubuhnya," besit lelaki itu seraya berjalan menuju mobil yang terpakir dipinggir jalan.


Aiyla berjalan pelan, merasakan lutut dan sikunya perih. Setelah membuka pintu, dirinya sengaja berjalan pelan memasuki kamar agar tak membangunkan sahabatnya itu.


Ternyata Gul telah menuggunya diruang tamu dengan wajah cemas dan khawatir. Melihat perban yang membalut lutut dan siku Aiyla, menambah kecemasan Gul.


"Apa yang terjadi? Dah puluhan kali aku menelpon mu La..Ini kenapa sampai ada perban dilutut dan siku mu? " Ucap Gul dengan mata berkaca-kaca dan suara yang sendu.


Gul langsung memapah sahabatnya itu mendekati sofa dan meminta Aiyla untuk duduk dengan posisi kaki diluruskan.


Dengan segelas air putih ditangannya, Gul meminta sahabatnya itu minum agar lebih relaks dan dapat bercerita tentang apa yang telah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2