Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 78


__ADS_3

Waduh....Keadaan semakin memburuk... Kasihan Sibabang Ergin ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Tulis dikolom komentar ya... Pendapat Reader ๐Ÿ˜


Jom lanjut baca, tapi jangan lupa like, vote dan berikan tanda cinta kalian lewat sekuntum mawar atau yang lainnya...๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธHappy Reading๐ŸŒธ


Salam hangat Author untuk Reader setia...๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Dengan berlalu dari kediaman Ergin, air mata Aiyla mengalir dengan deras. Wanita itu tak penyangka lelaki itu bisa berpikir sepicik itu.


"Dia pikir aku tergila-gila dengan hartanya, cukup sudah hubungan ini...Memang tak seharusnya terjadi," umpat Aiyla dengan wajah kesal.


Sebuah taxi melintas dihadapannya dengan melambaikan tangan sopir taxi memberhentikan laju kendaraannya.


"Kemana tujuan ada nyonya ? Ujar lelaki yang menatap penuh keheranan.


Wajar saja sopir itu menatap penuh heran karena Aiyla lupa bahwa dirinya keluar dengan memakai pakain tidur pria yang kebesaran dan terlihat mata yang sembab dan memerah.


Sopir itu berpikiran bahwa Aiyla sedang bertengkar dengan pasangannya. Tanpa banyak bicara lagi dan telah mendapatkan alamat tujuannya, sang sopir menekan pedal gasnya.


Deru mobil meninggalkan kediaman Ergin dengan segala rasa yang kini dirasakan oleh wanita itu. Aiyla tak ingin lagi mendapatkan tuduhan dari prasangka buruk terhadap dirinya.


"Dia sama dengan ibunya!!! Memiliki banyak prasangka buruk pada orang lain. Aku telah kehilangan harga diri ku, namun tak seharusnya ia menghina ku seperti wanita yang haus akan kekayaan," umpat kesal Aiyla serasa terbakar oleh amarahnya.


Akhirnya Aiyla sampai dirumah, tanpa banyak bicara langsung menuju kamar dan bersiap untuk masuk kerja hari ini.


Stelan celana casual berwarna abu-abu muda yang menjadi pilihannya hari ini. Berusaha mengendali amarahnya dengan cara menyibukkan pekerjaan yang ada dikantor.


Hari ni kebetulan kantor Harun banyak didatangi relasi untuk bekerja sama. Dengan hadirnya Aiyla diperusahaan baru yang dirintis Harun kini menunjukkan eksistensinya didunia desain interior dan eksterior dikota ini.

__ADS_1


"Nyonya Aiyla... Keruang ku sekarang !" Ucap lelaki yang menjadi atasannya dengan wajah serius.


Langsung berdiri dari duduknya dan berjalan dengan langkah mengikuti irama kaki atasannya memasuki ruang kerja Harun.


"Kita kedapatan projek diluar daerah ini dan mereka menginginkan mu untuk pergi kedaerah tersebut. Sebuah hotel untuk kelas menengah keatas. Mereka ingin tampil dengan desain yang berbeda karena tempat yang mereka pilih telah ada beberapa hotel yang berdiri disana," ujar Harun dengan wajah serius menatap Aiyla.


Aiyla melihat beberapa file yang merupakan keinginan dari klien mereka dan akan segera dipelajarinya.


"Baiklah, beri waktu aku malam ini untuk memperdalam file ini, sebelum aku pergi kedaerah tersebut," balas Aiyla dengan optimis dan penuh semangat.


Harun melihat wanita ini memang luar biasa untuk masalah pekerjaan. Aiyla memang cerdas dan kreatif, hal yang dianggap sebagian orang sulit namun bagi Aiyla akan terlihat biasa saja.


Wanita itu akan dengan cepat dan mudahnya mendapatkan ide-ide cemerlang dan solusi yang tepat untuk sebuah permasalahan.


"Namun Aiyla... Kau akan menghabiskan waktu yang lama disana. Bagaimana dengan putramu ? Apakah akan baik-baik saja selama kau berada jauh dari Azzam ? Ungkap Harun dengan sorot mata lebih serius menatap Aiyla.


Sejenak Aiyla terdiam, mendengar apa yang telah disampaikan oleh atasannya itu. Tentunya dengan kepergian yang lama akan menimbulkan masalah bagi putranya.


Timbul senyuman diwajah atasan sekaligus teman dari suaminya. Lelaki itu yakin dengan apa yang dikatakan wanita dihadapannya.


"Besok pagi aku akan segera berdiskusi pada mu, sebelum aku memaparkan ide-ide pada klien kita," ujar Aiyla dengan wajah tenang dan meyakinkan.


Berjalan keluar meninggalkan ruang kerja atasannya. Aiyla kembali pada kesibukan mempelajari file yang telah ada diatas meja kerjanya.


Projek yang akan ditangani Aiyla merupakan titik keberhasilan bagi perusahan Harun. Jika projek ini menunjukkan hasil yang bagus dan tanggapan yang positif dari pihak lain maka akan berimbas pada kepercayaan dari perusahaan lain yang akan menjalin kerja sama dengan perusahan mereka.


"Nyonya... Anda belum ingin pulang? Ini sudah lewat dari jam pulang," ucap rekan kerja Aiyla.


Jarum jam yang melingkar ditangan kanan wanita itu terlihat lewat 30 menit dari jam pulang kantor. Tanpa melihat rekan kerjanya dan masih menatap layar laptopnya Aiyla memberikan isyarat dengan tangannya.


"Baiklah kalau begitu, Nyonya. Saya pulang dulu," balas rekan kerjanya.


Ruang kerja itu terasa sunyi, biasanya rekan kerjanya itu akan menghidupkan musik penyemangat kerja. Aiyla bekerja dengan lelaki muda dengan jiwa muda, sehingga telinganya sudah terbiasa dengan musik anak muda seusia rekan kerjanya itu.

__ADS_1


Matanya terasa lelah dengan pundak telah terasa berat. Akhirnya diputuskan untuk menghentikan kerjanya sejenak. Pandanganya tertuju pada angka dijam yang tergantung disalah satu dinding diruang kerjanya itu.


"Ehm... Wajar saja...Baiklah akan ku lanjut dirumah," ucap Aiyla seraya merenggangkan pundaknya.


Berjalan keluar menuju pintu utama dikantor itu. Pikiran kembali terlintas pertengkaran yang terjadi pagi tadi.


"Ukhhh...Kenapa aku kembali terpikir pada lelaki itu," besit Aiyla dalam hatinya.


Masih ada rasa kesal bercampur amarah, akibatnya terasa sesak dan terasa perih dihatinya. Berusaha untuk membuang jauh Ergin dalam hati dan pikirannya.


"Nyonya sudah sampai," Ucap sopir taxi yang telah menghentikan mobil tepat didepan rumah.Fusun.


Membayar ongkos taxi lalu melangkah memasuki halaman rumah. Aiyla melihat tak ada tanda-tanda keberadaan Azzam dan Fusun setelah masuk kedalam rumah.


"Kemana mereka? Mengapa tak memberitahu ku ?" Besit Aiyla dengan rasa penasaran.


Diambilnya ponsel yang ada disakunya, ada beberapa pangggilan tak terjawab dari Nyonya Mustafa dan Fusun. Segera Aiyla menekan kontak ponsel yang telah tersimpan. Terdengar suara Fusun menerima panggilan tersebut.


"Aiyla... Apakah kau sudah pulang? Sepertinya Azzam enggan untuk pulang dan ingin tidur disini, maaf aku pergi bersama Azzam tanpa izin dari mu." Ucap Fusun dengan suara pelan.


Putra Aiyla tengah menikmati kamar baru yang didesain untuknya, ternyata kakek dan nenek Azzam datang menjemput putranya. Sepasang suami istri itu datang tanpa memberitahu Aiyla dan telah membawa putranya.


Ada rasa tak senang dihati Aiyla, pada sikap mereka yang tak meminta izin terlebih dahulu padanya.


"Putri ku...Maafkan kami membawa Azzam tanpa memberi kabar pada mu terlebih dahulu, kami berniat menunggu mu sampai pulang kerja. Namun telah lewat dari waktu pulang kantor, kau belum juga datang lalu kami mencoba menghubungi mu berulang kali namun tak ada jawaban sedangkan Azzam tak sabar untuk pergi," ungkap wanita paruh baya dengan suara pelan dan terdengar merasa bersalah.


Panggilan masuk itu ternyata diserahkan pada Fusun karena Nyonya Mustafa ingin menjelaskan sikap mereka berdua telah membawa Azzam tanpa izin darinya.


"Baiklah Nyonya...Azzam juga boleh tidur disana, Namun sampai saya memberikan izin barulah anda membawanya, cukup ini menjadi yang terakhir, " balas Aiyla seraya mengakhiri panggilan masuk tersebut.


Ternyata Aiyla telah berprasangka buruk pada orangtua suaminya itu, Aiyla teringat memang ada panggilan yang tak terjawab dari Nyonya Mustafa diponselnya.


Walaupun demikian tak seharusnya mereka membawa Azzam tanpa izin darinya sehingga tak menimbulkan kecemasan pada diri Aiyla.

__ADS_1


__ADS_2