
So sweet yaaa..π
Dari laki-laki dingin berubah menjadi sosok yang romantis...π
Membuat Sieneng klepek-klepekππ
Jom lanjuuut π¨π¨
But don't forget to like, love, vote, gift, and rate star Guy's π
β₯Happy Readingβ₯
πππ
Menghidupkan televisi lalu menunggu berita yang telah disampaikan oleh Ergin. Sekitar 15 menit Aiyla menunggu dengan betis yang diurut oleh Ergin.
Laki-laki itu begitu so sweet mendengar Aiyla mengeluh betisnya nyeri langsung menaruh kaki Aiyla dipangkuannya dan memijat dengan lembut.
"Baik pemirsa.. Berita mengejutkan datang dari kalangan keluarga ternama dikota ini. Seorang pengusaha ternama yang tak asing lagi bagi kita semua yaitu Ergin Ozturk telah memperkarakan ibu kandungnya Nyonya Esma sebagai tersangka berbagai tindakan yang menghilangkan nyawa seseorang."
Terdengar suara pewarta dari stasiun ternama dikota tersebut. Baru pagi ini ia mengajukan perkara tersebut tapi para pemburu berita telah mengeluarkan berita bahkan yang belum masuk ruang persidangan, apalagi pada saat persidangan akan lebih ramai lagi tentu akan menjadi *Headn*ews.
Mendengar berita dari Pewarta ditelevisi tersebut membuat Aiyla berdiri lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ergin langsung memeluk tubuh istrinya yang tegang dan kaku.
"Sayang...Hei... Tenangkan diri mu. Ingat ada sesuatu didalam sini yang membuat mu tidak boleh stres. Aku dan Buraq akan mengurus semuanya, jangan khawatir."
Bisik ditelinganya dengan mesra agar dapat menenangkan Aiyla. Ergin masih memeluk erat tubuh wanita itu.
Sikap Aiyla seperti yang telah dipikirkan Ergin, bahwa wanita ini akan shock mendengar berita yang kini telah berakhir telah berganti dengan iklan.
"Sayang... Bawa aku kekamar, aku lelah dan ingin merebahkan tubuh ku. "
Suara pelan Aiyla terdengar pilu ditelinga Ergin, ia tahu bahwa istrinya merasakan kesedihan saat harus mengingat kembali kisah tragis saudara tiri ibunya itu.
__ADS_1
Dengan gaya bridal style Ergin membawa istrinya kekamar pribadi mereka. Aiyla hanya merasakan saja tubuhnya diangkat dan direbahkan secara perlahan diatas tempat tidur.
"Sayang... Temani aku tidur.. Kau harus tetap disini. "
Bisik Aiyla saat Ergin menurunkan tubuhnya secara perlahan. Ergin mencium pipi Aiyla dekat dengan telinganya.
Hembusan nafas itu memberikan reaksi memanas ditubuhnya. Ergin memberikan sentuhannya kembali, kini tepat didahinya.
Aiyla bangkit tak melepaskan tangan suaminya sehingga tak membuat Ergin beranjak dari tempat tidur.
Sungguh penuh cinta dan kasih sayang yang terlihat disetiap gestur tubuh mereka berdua. Ergin ikut memejamkan matanya lalu mereka berduapun hanyut dalam alam bawah sadar mereka masing-masing.
πππ
Esok harinya kediaman Ergin yang jauh dari keramaian kota karena termasuk rumah mewah yang berada diperbukitan kini telah didatangi oleh beberapa pencari berita digerbang utama rumah besar tersebut.
Sosok pengusaha sukses dan terkenal tentu akan menjadi incaran pencari berita untuk konsumsi public disetiap kehidupan bisnis, rumah tangga maupun keluarga besarnya.
"Tuan anda harus mengadakan jumpa pers namun yang menjawab pengacara anda Tuan, biar kita tidak terjebak dengan para pencari berita yang pandai mengolah kata-kata mengiringi kita kearah apa yang mereka inginkan. "
Ditengah perbincangan antara Buraq dan Ergin, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dibuka tanpa ada pemberitahuan.
Murad dengan sengaja datang tergesa-gesa dengan wajah penuh tanda tanya dan terlihat bola api amarah dari dalam dirinya.
"Ergin.... Tolong jelaskan pada ku!!! Apa yang sedang terjadi sehingga kau membuat laporan yang merusak citra keluarga Ozturk."
"Aku tahu kalau kau sekarang tidak akur dengan Nyonya Esma yaitu ibu kandung mu sendiri , tapi apa dengan cara begini menunjukkan protes mu pada wanita itu."
Terdengar suara dari Murad yang menggebu menyampaikan apa yang ada didalam isi hatinya. Matanya yang memerah dan meletup-letup emosi yang ia rasakan saat ini.
"Bagaimana kalau kau jadi aku, jika wanita yang kau sapa ibu selama ini bukanlah ibu kandung mu sendiri."
Terdengar perih menusuk hati Ergin saat berkata, Murad yang berkoar-koar tiba-tiba saja langsung terdiam. Mulut laki-laki itu terkunci, matanya menatap lekat kemanik biru Ergin yang sangat dalam.
__ADS_1
"Apa!!"
Suara Murad mengecil, dan tak terdengar gemuruh api yang tadinya berkobar-kobar. Seketika amarah itu padam, dengan wajah tak percaya.
Ergin dengan suara bergetar dan jari tangan yang mengepal keduanya. Menahan segala rasa saat didalam dirinya menceritakan apa yang telah terjadi.
"Aku harap kau mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku, bagaimana kalau itu diposisi mu? Apa tindakan yang kau lakukan Murad? "
Pertanyaan balik yang tak dapat dijawab oleh Murad. Tubuhnya terdiam, mematung tak bergerak ataupun memberikan respon apapun.
"Maaf aku...Tak ada disaat kau membutuhkan sahabat mu ini."
Barulah terdengar setelah beberapa menit kemudian. Suara Murad yang ikut larut dalam kesedihan sahabatnya itu. Ergin tertegun dengan perkataan dari sahabatnya itu.
Hubungan mereka berdua memang sudah bisa dikatangan lost contact. Sehingga tak saling membicarakan masalah yang sedang dihadapi masing-masing.
"Ergin, aku akan mendukung mu. Aku yakin ibu ku juga tahu masalah ini. Dan ku pastikan juga ia akan menjadi saksi dipersidangan nanti untuk membantu mu."
Rasa tak percaya mendengarkan perkataan Murad yang akan membuat ibu kandungnya yang merupakan sahabat dekat Nyonya Esma mau menjadi saksi atas tindakan yang telah dilakukan wanita paruh baya itu.
"Terima kasih, kau benar Nyonya Syukran telah bercerita apa yang diketahuinya pada ku waktu itu. Itu ide bagus jika ia mau bercerita dipersidangan nantinya."
Dua orang laki-laki yang merupakan sahabat sewaktu kecil itu kini saling berpelukan. Sebuah moment yang telah lama tak terjadi pada mereka berdua.
"Selain sahabatku, kau sudah ku anggap saudara ku Ergin. Kita telah menjauh beberapa tahun ini membuat kita menjadi seperti orang asing satu sama lain."
Ungkap Murad dengan mengeratkan pelukan seraya menepuk pundak sahabatnya itu. Seperti saat ini Murad sudah bisa menerima keputusan Aiyla bersama sahabatnya.
Murad telah banyak menghabiskan waktunya dengan Gul, wanita yang menjadi sahabat Aiyla. Secara perlahan telah memikat hatinya, ditambah lagi dengan hubungan pasangan settingan yang mereka jalani.
Sebenarnya pasangan settingan hanya bentuknya saja namun Murad melakukannya dengan hati. Walaupun demikian, belum ada ungkapan yang keluar dari mulut laki-laki itu tapi tindakan dan gestur tubuhnya menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang yang telah tumbuh dihatinya.
"So....Hubungan mu dengan Gul sudah sampai tahap mana? "
Tanya Ergin secara tiba-tiba membuat wajah laki-laki itu terkejut berubah menjadi tersipu malu. Ergin mengetahui kedekatan Murad dan sahabat istrinya itu dari Aiyla.
__ADS_1
"Kau harus berani mengatakan perasaan mu, wanita sangat menginginkan sebuah kepastian dalam hubungan. Lakukan secepatnya jangan sampai wanita itu menyerah dan berpaling ke yang lain."
Sebuah saran yang keluar dari mulut Ergin dan disambut dengan sebuah senyumsn tipis diujung bibir Murad.