Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 32


__ADS_3

Doa'in Author agar konsisten untuk up tiap hariπŸ™πŸ™


Agar bersemangat....Author membutuhkan dukungan Reader semua menjadikan bacaan ini lebih banyak dibaca para Reader..πŸ‘Œ


Caranya adalah... πŸ‘‡


1.Tekan tanda jempolπŸ‘ untuk like


2.Tekan tanda hati πŸ’™ untuk bacaan favorite


3. Tekan kata vote untuk dukungan


4. Tekan tanda bintang 5 untuk rating tulisan


Freee ga bayar yaa.. Jadi jangan khawatir 😍


Happy Reading...😘😘


🌡🌡🌡


Ergin tengah menatap photo yang terpajang diatas dinding, photo seorang lelaki yang sangat mirip dengan Azzam.


Hati Ergin kembali terenyuh atas apa yang telah diperbuat pada Aiyla. Azzam adalah anak yatim yang ditinggal oleh ayahnnya.


Ditatap dalam kearah anak lelaki yang tengah bermain dengan sebuah mainan yang berbentuk seekor kuda. Mainan itu bisa bergoyang jika disentuh, bergerak kedepan dan kebelakang seperti kursi goyang.


"Tuan apakah anda ingin ikut sarapan bersama kami," ucap Fusun dengan sopan dan ramah.


Ergin tak menolak ajakkan dari pengasuh Azzam, dengan wajah tersenyum Ergin menggangguk kepala setelah berkata: "Jika tak merepotkan anda. "


Mendengar perkataan dari atasan Aiyla, Fusun dengan sigap menyiapkan sarapan untuk Tuan Ergin. Sambutan hangat pengasuh Azzam memberikan peluang pada Ergin untuk bisa lebih dekat dengan Aiyla dan putranya itu.


"Zam..Apakah kau menyukai kuda? " tanya Ergin seraya tersenyum.


Azzam masih seperti diawal Ergin bertemu tak bersuara ketika ditanya olehnya. Setelah dibertahu oleh Fusun barulah anak lelaki itu menganggukan kepalanya lagi, seperti didepan pintu pada saat Ergin datang.


"Mari Tuan sarapannya sudah ada, Ayooo Zam kemari, ajak Tuan Ergin," ucap Fusun seraya tersenyum memandang putra Aiyla setelah menatap Ergin.


Azzam berdiri dan menarik tangan Ergin untuk berjalan mengikuti dirinya. Sikap yang dilakukan Azzam sangat menyentuh hati Ergin.


Aiyla keluar dari kamarnya, baru saja sebentar ditinggalkan olehnya. Lelaki itu telah duduk dimeja makan bersama Azzam dan Fusun.

__ADS_1


Dalam hal ini tak mungkin dirinya mengusir lelaki itu dihadapan Fusun dan Azzam. Dengan wajah bertekuk, Aiyla terpaksa duduk dan menghabiskan sarapannya tanpa suara.


"Habiskan sarapan mu sayang," ucap Aiyla setelah melihat putranya hanya membolak balik makanannya.


Fusun yang terdekat dengan Azzam lalu menyuapkan makan tersebut ke mulut Azzam. sungguh pagi ini Ergin merasa bahagia melihat kasih sayang dan rasa cinta didalam hati mereka bertiga.


Ergin duduk berdekatan tepatnya disamping Aiyla, melirik kearah wanita disampingnya yang terlihat berbeda pada saat berbicara dan menatap putranya, begitu juga dengan Fusun.


Berbeda jauh pada saat Aiyla berbicara dan menatap Ergin, terlihat dingin dan sejuta misteri yang tersirat dibola mata wanita tersebut.


Deru mobil melaju membawa Azzam dan Aiyla didalam mobilnya. Azzam duduk dibelakang dan Aiyla disamping dirinya. Ergin merasa dirinya seperti didalam sebuah keluarga.


Senyum tipis menghias disudut bibir lelaki yang sedang menyetir dan terlihat dimata Aiyla.


Mobil Ergin berhenti tepat disekolah Azzam, Ergin pun turut turun dan membukakan pintu untuk Azzam dan Aiyla.


"Sampai jumpa lagi," ucap Ergin sedikit berteriak dengan melambaikan tangan kearah Azzam.


Anak lelaki itu membalas dengan lambaian tangan tetapi masih diam tak mengeluarkan suaranya.


"Tuan turunkan saja saya disini, saya tak ingin menjadi bahan pembicaraan semua orang," ucap Aiyla.


Secepat kilat Aiyla turun dan tak ingin Ergin membukakan pintu mobilnya untuknya lagi. Kemudian Aiyla berlalu secepatnya meninggalnya lelaki itu.


Sebuah senyuman kembali terukir disudut bibirnya, tak dapat diungkir bahwa hatinya sedikit terobati.


Berjalan dengan langkah sangat cepat, Aiyla tak ingin terlihat kedatangan secara bersamaan,namun Murad melihat mereka berdua turun dalam satu mobil.


Ada gurat kecewa dan cemburu melihat Ergin juga mendekati wanita yang membuatnya tertarik itu. Murad merasakan bahwa Ergin juga menyukai wanita yang sama dengan dirinya.


Terlihat dengan jelas pada saat Ergin menatap Aiyla yang berjalan cepat meninggalkan sahabatnya itu. Murad tahu benar bahwa Ergin tak pernah sebelumnya dengan wanita manapun selain satu wanita yang penah dikenalnya pada masa silam.


"Ergin," teriak Murad ketika melihat Ergin berjalan berlalu dihadapannya.


Erginpun terkejut, tak menyangka bahwa dirinya bertemu dengan Murad disaat Aiyla baru saja pergi dari hadapannya.


"Apakah Murad melihat kami berdua," batin Ergin dengan rasa khawatir.


Kedua lelaki itu kini berjalan bersama dan semua pegawai yang bertemu sepanjang perjalanan ke lantai 3, mereka semua memberikan salam hormat pada atasannya.


"Setelah usai pesta kau dimana?" tanya Murad.

__ADS_1


Dengan terkejut Ergin berusaha agar tak terlihat keterkejutan dirinya atas pertanyaan Murad.


Ergin langsung saja menjawab: "Aku pulang lebih dulu."


Murad mengetahui, bahawa sahabatnya itu berbohong padanya. Tak mungkin Ergin pergi darinya lebih dulu karena terakhir Murad melihat Ergin masih diaula sebelum pergi mengantarkan Gul.


Mendengar sahabatnya berbohong, membuat Murad jadi sakit hati. Kenapa harus dengan berbohong Ergin menutupi rasa sukanya pada Aiyla.


β˜€β˜€β˜€


Baru saja Aiyla masuk kedalam ruang kerjanya terdengar teriakkan dari sahabatnya itu


"Aiyla.... Dari tadi aku menunggu mu untuk cerita," ucap Gul dengan antusias.


Sangking tak sabarnya Gul menarik tangan Aiyla untuk duduk disofa yang ada diruang kerja mereka.


"Kau tahu siapa yang semalaman menemani aku tidur," tanya Gul dengan wajah berseri.


Berbeda dengan Aiyla, dirinya merasa cemas dan khawatir, semalam Aiyla meminta Murad untuk mengatarkan sahabatnya pulang ke apartemantnya.


"Terus... Siapa Gul yang menemani dirimu tidur, aku tahu kamu mabuk berat dan Tuan Murad mengatarkan mu," balas Aiyla


"Atau...Tuan Murad berada disana semalaman diapartemant dirimu," ungkap Aiyla lebih terkejut dari sebelumnya.


Gul hanya tersipu malu dengan wajah kemerahan dipipinya seraya menganggukkan kepalanya.


"Tapi... Jangan khawatir kami tak tidur bersama. Tapi eehh diataas kasur yang sama... Emmm... Maksudnya Tuan Murad juga ada ditempat tidur tapi kami tak melakukan apapun, hanya tidur," ucap Gul yang masih belum mengingat apa yang terjadi semalam.


Aiyla tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu dan melihat wajah dari sahabatnya yang sekarang berubah menjadi cemberut.


"Tapi kau yakin kan, kalau tidak terjadi apa-apa," ucap Aiyla dengan wajah serius.


Dengan mengangkat kedua jari membentuk huruf v dikedua jari kanannya. Gul mememang mabuk berat malam itu, untung Murad tak melakukan hal diluar batasannya.


Tut... Tut... Tut....


Terdengar suara telpon dari ruang kerja mereka berdua yang menghentikan cerita mereka dan kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.


"Aiyla...Naik keatas," terdengar suara Ergin dari panggilan tersebut lalu memutuskan begitu saja panggilannya


Baru saja bertemu, kini lelaki itu juga ingin bertemu dengan Aiyla lagi. Ditambah lagi tak membiarkan Aiyla bertanya lebih lanjut, namun telpon itu langsung diputuskanya.

__ADS_1


__ADS_2