
Bagaimana dengan Ergin? Terselamatkan atau tidak? 😱😱
Tulis dikolom komentar yaaa👌
Don't forget to like, love, vote, gift and rate star 5 😉😉
Salam hangat untuk Reader setia... 😍🙏
💞Happy Reading 💞
🍁🍁🍁
Jatung Aiyla berdegub kencang dan air matanya telah membasahi wajahnya. Ergin sedang berjuang didalam ruangan yang tertutup itu.
Luka tembak tepat didada, lelaki itu langsung lunglai dan tak bergerak tergeletak ditanah.
Tangan dan bibir Aiyla bergetar rasa cemas dan rasa paniknya memuncak disaat Ergin berada didalam ruang tersebut.
Duduk disudut ruang itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Airmatanya mengalir disela-sela jari yang menutupi wajah. Ada rasa ketakutan kehilangan menyelinap direlung hati Aiyla.
Kehilangan akan lelaki bermata biru tersebut, ini seperti saat ia menghadapi kematian suaminya. Rasa sakit dan sesak yang bersamaan Aiyla rasakan.
Lelaki itu tak memperdulikan nyawanya sendiri disaat menyelamatkan dirinya. Tepat dihadapan Aiyla lelaki itu membiarkan tubuhnya menembus peluru panas itu.
"Ergin... Detik ini aku baru sadar bahwa aku merasa takut tuk kehilangan dirimu sayangku," batin Aiyla membekap dalam keresahan dan kegelisahan yang tak berujung.
Hampir 3 jam dokter dan Ergin berada didalam sana, Aiyla telah berulang kali melirik pintu ruangan itu namun masih tak kujung terbuka.
"Aiyla... " Teriak Gul dengan wajah cemas.
Sahabatnya itu datang bersamaan dengan Murad. Terlihat kegelisahan dan kekhawatiran tergambar diparas wajah keduanya.
Mereka berdua tak berkata apapun hanya Gul yang langsung memeluk dirinya dengan erat.
"Ergin.. Didalam. Sebuah peluru menembus dadanya. Aku harap dokter segera menyelamatkannya, kalau tidak... " Ucap Aiyla terputus karena tak tahan akan tangis yang mendera.
Digenggam tangan sahabatnya itu disaat Aiyla merebahkan kepalanya dipundak Gul. Ada rasa yang berbeda pada sikap Aiyla. Ternyata sahabatnya itu juga mengetahui bahwa Aiyla dekat dengan Ergin lantaran kedekatan putranya dengan lelaki itu.
Tapi saat ini kesimpulannya berubah, Aiyla tanpa disadarinya telah jatuh cinta dengan lelaki yang sedang berjuang disana.
__ADS_1
"Aiyla... bersabarlah. Tenangkan diri mu...Ergin akan Baik-baik saja. Lelaki itu tak akan meninggalkan dirimu, aku yakin itu," ungkap Gul dengan suara pelan dan penuh keyakinan.
Murad yang berdiri sedari tadi hanya bisa melihat adegan dari dua wanita yang ada dihadapannya.
Lelaki itu merasakan kebanggaan pada pegawainya itu, wanita yang tahu benar perasaan sahabatnya itu.
Dengan sabar membujuk dan menenangkan Aiyla yang panik, cemas dan khawatir melihat Ergin yang berjuang didalam sana.
Kedekatan Murad dan Gul semakin rapat. Walaupun diantara mereka berdua belum ada kesepakatan atas hubungan yang mereka jalani saat ini.
"Aiyla....Apa yang terjadi pada putra ku!! " Terdengar suara wanita yang mengagetkan mereka bertiga.
Nyonya Esma dengan ibu Murad telah hadir diantara mereka. Wajah kedua wanita paruh baya itu terlihat sama dengan yang dirasakan semua orang yang ada disini.
Aiyla berdiri setelah namanya disapa oleh ibu tiri Ergin. Wanita itu menunjukkan sedih bercampur tak senang.
Plaak....
Tamparan keras mendarat tepat wajah sebelah kanannya. Tindakan Nyonya Esma membuat terkejut semua orang yang ada disana.
"Apa yang kau lakukan," ucap ibu Murad dengan menarik tangan Esma.
Semenjak pertengkaran ia dengan Ergin, wanita itu merasakan kebencian dan amarah yang amat mendalam pada Aiyla. Rasa panas terasa diwajah Aiyla, membuat dirinya yang terdiam itu menatap tajam kearah Nyonya Esma.
"Nyonya beginikah sikap seorang wanita yang terhormat....Apa salah ku sehingga kau bertindak seperti tadi ?!! Wajar putra yang kau besarkan itu pergi meniggalkan dirimu karena kau tak pandai menjaga sikap mu!!!! " Ungkap tegas Aiyla dengan sorot mata menantang.
Melihat wanita dihadapannya itu, membuat ia mundur beberapa langkah kaki kebelakang. Nyonya Esma tak menyangka bahwa Aiyla berani terhadapnya.
"Esma mari duduk disini... Kau juga Aiyla .Tak seharusnya terjadi pertengkaran disaat Ergin membutuhkan doa kita yang hadir disini, " ungkap Nyonya Syukran.
"Dasar wanita murahan," umpat kesal wanita ini pada Aiyla.
Kata-kata itu begitu menusuk hati Aiyla dan berdiri menghampiri wanita yang baru saja mengumpat dirinya itu.
"Apa yang nyonya katakan? Apakah anda sudah merasa begitu bermartabat sehingga mengumpat saya sebagai wanita murahan," ucap Aiyla dengan nada tinggi.
Wanita itu menjadi pucat dan terdiam, dua kali wanita ini menyindir kepribadiannya didepan orang lain. Nyonya Esma tak percaya bahwa Aiyla pandai memutar setiap ucapannya dengan kata-kata yang mematikan.
Kini telah hampir 5 jam Aiyla menuggu Ergin. Sebelumnya pintu itu terbuka maka selama itu Aiyla tak tenang. Semua orang yang ada disana terkejut disaat pintu yang sedari tadi tertutup kini terbuka.
__ADS_1
"Tuan Ergin selamat... Peluru yang bersarang ditubuhnya berhasil kami keluarkan, untuk sekarang beliau belum sadar nyonya," ucap dokter yang keluar dari ruang operasi tersebut.
Aiyla merasakan gemuruh didada perlahan mereda dan kecemasanpun sedikit berkurang. Ergin telah selamat dari pertarungannya dimeja operasi.
"Apakah anda Aiyla? "Tanya dokter tersebut dengan penasaran.
Aiyla menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.
"Selama Tuan Ergin dibawah alam sadar selalu memanggil nama Nyonya, tentu anda adalah orang yang sangat penting baginya. Apakah anda istri Tuan Ergin? " Tanya dokter tersebut dengan tatapan mata bahagia seraya tersenyum.
Aiyla dan semua orang yang ada terkejut mendengar perkataan dokter yang ada dihadapan mereka semua. Nyonya Esma hendak mengeluarkan katanya namun lebih dahulu Aiyla.
"Saya calon istrinya," ucap Aiyla dengan suara tegas seraya menatap Nyonya Esma dengan tajam.
Kini semua yang ada terperangah dengan ucapan yang keluar dari mulut Aiyla. Nyonya Esma yang ingin mengatakan bahwa Aiyla bukanlah siapa-siapa bagi putranya terdiam dengan mata membulat dan mulut sedikit terbuka.
Gul dan Nyonya Syukran tersenyum mendengar perkataan Aiyla, namun bagi Murad hatinya terasa tertusuk lebih dalam. Harapan untuk bersama wanita itu telah kandas sudah.
Aiyla didepan umum terang-terang mendeklarasikan sebagai calon istri sahabatnya itu. Tak menyangka bahwa Ergin berhasil membuat wanita ini jatuh cinta.
"Aku tak menyangka...Rupanya kau wanita berani menantang ku secara terang-terang, baiklah kalau begitu!!!" Besit Esma dalam hati dengan wajah tak senang.
Dokter yang mendengarpun tersenyum dan berlalu dengan sebuah pesan Aiyla adalah orang pertama yang akan menemui lelaki itu setelah sadar.
Nyonya Syukran yang berdiri disamping ibu tiri Ergin mendekati Aiyla dengan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Selamat Nyonya Aiyla... Saya senang anda bisa menjadi bagian dari kami nantinya. Ergin beruntung mendapatkan wanita seperti anda," ungkap Nyonya Syukran dengan wajah tak lepas dari senyuman.
Gulpun tak kalah bahagia berita yang sangat mengembirakan baginya dan menitikkan bulir bening diwajah sahabatnya itu.
"Selamat Aiyla... Kau berhak untuk bahagia sahabatku." Tedengar ucapan dari Gul seraya mencium kedua pipinya.
Sedangkan Murad dan Nyonya Esma masih terdiam dan mematung. Berdiri tak bergerak sedikitpun dari posisi semula.
Kaki mereka berdua terasa berat dan begitu juga mulut mereka untuk berkata. Sedangkan hati mereka berdua dengan lantang mengatakan tidak setuju dengan apa yang telah mereka dengar.
Sedangkan Aiyla tak tahu dengan perkataan yang keluar dari mulutnya. Ia berusaha tenang dan menunjukkan kesungguhan dari perkataan yang barusan dilontarkan pada semua orang yang ada disana.
"Aduuuh...Aku terbawa emosi dan perasaan ku. Ergin tak pernah melamar ku, aku begitu percaya diri dengan berkata demikian untuk wanita yang menampar ku itu, " batin Aiyla dengan hati yang bergejolak.
__ADS_1
Tak berapa lama Nyonya Esma berjalan meninggalkan mereka yang ada disana tanpa berkata sedikitpun sedangkan Murad masih tetap berada disana namun tak memberikan respon atas perkataan Aiyla.