Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 49


__ADS_3

Kemaren hampir menuju 5000 views tapi sedikit yang meninggalkan jejaknya 😭😭😭


Berarti banyak yang menjadi reader pasif dari pada aktif 😭😭


Plzzz tinggalkan jejaknya guy's 🙏🙏


Lanjut ngebaca...😘


But don't forget to like, vote, love and bintang 5 senantiasa Author menantikannya... 👌


Happy Reading 😍😍


💟💟💟


Aiyla menghentikan laju mobil taxi dan meminta berhenti pada sebuah toko bunga yang berada disalah satu sisi jalan.


Berjalan menyeberangi jalan raya yang masih ramai. Lalu berjalan diarea pejalan kaki disaat lampu merah menyala.


Udara kali ini sungguh dingin dari biasanya ditambah dengan tiupan angin, Aiyla berniat setelah membeli bunga akan mampir disebuah cafe yang tak jauh dari toko bunga.


"Aku akan membeli beberapa tangkai bunga mawar merah kali ini, " batin Aiyla dihati dengan senyum tipis diujung bibirnya.


Ketika melangkah masuk kedalam toko bunga, ia telah disambut oleh penjaga toko. Dengan ramah dan senyum yang tak lepas dari wajah gadis muda penjaga toko tersebut.


"Nyonya mau bunga apa? Kami baru mendapat bunga ini masih sangat segar dan harum, baru datang pagi ini, " ucap gadis muda tersebut.


Seraya menunjukkan bunga mawar merah yang ingin dibeli oleh Aiyla. Dengan senyum mengembang Aiyla meminta beberapa tangkai dari bunga itu dan memintanya untuk dirangkai seindah mungkin.


Dengan terlatih gadis muda itu mengambil 7 bunga mawar lalu memadukan dengan dedauanan dan bunga kecil lainnya dan menjadi rangkaian buket bunga yang indah.


"Wow harum... Dan sungguh indah," ucap Aiyla dengan senyum manis diparasnya yang cantik.


Gadis muda penjaga toko tersebut sangat senang sekali karena hasil dari rangkaian bunganya dipuji oleh pembeli.


"Seperti nyonya yang memesan bunga ini juga sangat cantik," balas penjaga toko dengan senyuman yang mengembang.


Aiyla keluar dari toko bunga dengan perasaan yang bahagia sepertinya semenjak pulang dari rumah besar nan mewah itu, perasaan dan hatinya sedang lebih baik dari biasanya.


Rasa bahagia bisa menjalin hubungan yang selama ini terputus dan sungguh sangat berbeda disaat dua kali dirinya mendatangi rumah tersebut.

__ADS_1


Berjalan menyusuri sebuah cafe yang berjarak tak jauh dari toko bunga yang didatangi Aiyla. Dengan buket bunga ditanggannya dan senyum mengembang diujung bibirnya, seperti sedang jatuh cinta ketika orang yang berpapasan melihat raut wajah Aiyla.


Kling... Kling... Kling...


Bunyi suara yang keluar dari gantungan yang sengaja diletakkan didekat pintu, jika pintu itu terbuka maka terdengar suara itu.


Sang pemilik cafe sengaja meletakkan disana agar ketika ada yang masuk akan membuat pemilik cafe tahu kedatangan dari pembeli dicafe tersebut.


Aiyla berdiri dan matanya tertuju pada sebuah pojok diruang cafe itu dengan dua kursi yang saling berhadapan. Dirinya akan memilih tempat itu untuk sejenak sambil menikmati secangkir coffee latte.


Tak begitu lama Aiyla duduk dikursi itu, pelayan cafe datang dengan membawa daftar menu ditangannya.


"Tak perlu, saya hanya ingin secangkir coffee latte dengan kream yang banyak," ucap Aiyla dengan tersenyum.


Meletakkan bunganya diatas meja seraya menatap rangkai bunga mawar itu. Pikirannya terlintas pada saat Aiyla menerima bunga tulip berwana putih.


Lambang permintaan maaf dari lelaki bermata biru yang sampai saat detik ini bahkan seumur hidupnya tak akan bisa Aiyla lupakan.


"Apakah lelaki itu masih mengingat ku?" Besit dihati Aiyla.


Kini wajah yang semula berseri berubah mendung, awan kesedihan kembali merundung dihatinya. Bulir bening telah keluar dari ujung matanya.


"Ali... Maafkan aku yang tak mampu membalas kemurnian cintamu, aku merasa telah mengkhianati cinta suci mu," batin Aiyla dengan rasa perih dan rasa sakit yang menyeruak kembali didalam dadanya.


Apalagi tatapan mata birunya yang begitu tulus memohon pada Aiyla untuk menghentikan rasa tersiksa dan rasa tersakiti oleh rasa bersalah yang teramat dalam.


Pelayang cafe telah berada disampingnya meletakkan secangkir coffe latte yang dipesan. Aiyla berusaha menghapus air matanya lalu berusaha tersenyum pada pelayan cafe.


"Terima kasih Nona, " ucap Aiyla


Pelayan itu membalas senyuman Aiyla lalu berlalu dari hadapannya. Aiyla memainkan gagang pada cangkir yang ada diatas meja dengan hati dan pikiran yang tak menentu.


Terdengar nada dari ponselnya yaitu sebuah pesan singkat terkirim padanya. Beberapa panggilan tak terjawab dari nomor baru yang tak tersimpan diponsel serta panggilan tak terjawab dari Fusun.


Aiyla segera membaca pesan singkat dari nomor baru yang melakukan panggilan beberapa kali keponselnya, yang tak terangkat olehnya.


Wajahnya seketika berubah, kegelisahan dan kekhawatiran tergambar jelas diwajah wanita itu. Tanpa meminum coffe latte yang telah dipesannya, berdiri dan melangkahkan kaki dengan cepat.


Aiyla langsung menuju kasir dan membayar pesanannya lalu berlari menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Nyonya... Nyonya bunga anda tertinggal," teriak pelayan cafe yang tak didengar oleh Aiyla.


Menyetop sebuah taxi yang belum berhenti, langsung berdiri ditengah jalan. Hampir saja Aiyla tertabrak jika sopir tak cepat menginjak pedal rem mobil yang dikendarainya.


"Nyonya apa yang kau lakukan," teriak sopir taxi.


Aiyla tak perduli dengan teriakan sopir tersebut, dirinya langsung berlari lalu membuka pintu mobil taxi dan mengatakan tempat tujuannya.


Sopir itu melihat reaksi wanita yang kalut dan tak merespon teriakannya tadi secepat kilat langsung menekan pedal gasnya melaju ketempat yang dikatakan Aiyla.


Lelaki itu tahu bahwa sedang terjadi sesuatu yang darurat pada wanita yang menaiki mobilnya. Tubuh Aiyla bergetar dengan wajah pucat terlihat jelas kekhawatiran yang mendalam diwajahnya.


"Nyonya tenanglah...Aku akan secepatnya mengantar anda," ucap sopir taxi yang melihat Aiyla dari kaca spion yang ada ditengah.


Dengan kecepatan tinggi dan kelihaiannya dijalan raya, hanya sekitar 10 menit Aiyla telah sampai pada tempat yang dikatakan pada sopir taxi. Dengan tangan bergetar Aiyla membuka tasnya yang terasa sulit untuk dibuka, berusaha mengambil dompet untuk membayar uang taxi.


"Turunlah nyonya, tak perlu dibayar," ucap sopir taxi tersebut.


Aiyla hanya menganggukan kepalanya sebagai ucapan terima kasih lalu keluar dari mobil taxi itu. Berlari menuju sekolah Azzam dan terlihat Fusun telah ada diruang kesehatan yang ada disekolah tersebut.


Dilihatnya Azzam terbujur tak sadarkan diri diatas tempat tidur. Tubuhnya dingin dengan muka pucat.


"Azzam...Azzam...Bangunlah putraku," teriak Aiyla seraya menangis tersedu.


Pihak sekolah yang telah menghubungi Aiyla memberitahukan bahwa putra Aiyla setelah berolahraga tiba-tiba tubuh Azzam kejang- kejang lalu tak sadarkan diri.


Pihak sekolah telah menghubungi rumah sakit dan meminta ambulan untuk segera menjemput dan membawa kerumah sakit.


Ambulan sedang dalam perjalanan menuju sekolah Azzam, tak berapa lama Aiyla disana terdengar bunyi sirine mobil tersebut.


Tubuh kecil Azzam segera diangkat oleh petugas kesehatan dan langsung diberikan pertolongan pertama.


Aiyla dan Fusun ikut masuk kedalam ambulan. Sepanjang perjalanan menuju kerumah sakit Aiyla tak hentinya menangis.


Dua wanita itu menangis dan saling mengengam erat kedua tangan mereka. Emosinya tak dapat dibendung, hatinya terasa sakit dan terasa sesak.


"Aku tak mau kehilangannya kak," ucap Aiyla dengan suara berat dan terbata-bata.


Mendengar perkataan Aiyla membuat tangis Fusun menjadi kuat. Sehingga petugas kesehatan yang berada diambulan Ikut larut dalam kesedihan mereka berdua.

__ADS_1


"Bersabarlah Nyonya... Perbanyaklah berdoa, agar putra anda segera dapat tertolong," ucap salah satu petugas kesehatan dengan raut wajah sedih.


Akhirnya mobil itupun sampai dirumah sakit yang dulu. Disaat Azzam pernah lama dirawat oleh dokter Ahmed.


__ADS_2