
Akankah Gul terbuka hatinya?
Tulis dikolom Komentarπ
Tetap beri dukungan untuk Author ya Guy's..
Dengan cara:
1. πLike diakhir bacaan π
2. π Love jadikan favorit π
3. π Gift sekuntum mawar lebih boleh π
4. π― Vote π
5. β Rate Star 5 π
Salam Manis & Hangat Teruntuk Reader setia ππ
Jom lanjut ngebaca...π¨π¨
πHappy Readingπ
πππ
Hembusan angin laut dimalam ini terasa dingin menyentuh kulit Gul. Jiwa dan raganya tak selaras saat ini.
Pikiran Gul melayang tak tentu arah sepanjang mata memandang, tatapan matanya yang kosong.
Terlintas kembali perkataan yang keluar dari mulut bekas atasannya itu dipikiran.
"Apakah lelaki itu benar merasa kehilangan diriku selama ini ? "
Besit dalam hatinya dengan mencoba percaya atas apa yang diucapkan Ergin pagi tadi.
Dilangkahkan kakinya memasuki kamar, dimana Gul telah berdiri cukup lama diteras belakang rumah yang menghadap lautan lepas.
Terlihat putrinya tengah tertidur pulas, dibelai lembut puncak kepala anak perempuan yang tertidur dengan tenangnya.
"Apakah kau ingin bertemu dengan ayah mu Nak ? Selama ini, maafkan ibu yang terlalu egois tak mempertemukan kau dengan sosok ayah kandung mu."
Besit Gul kembali dengan bulir bening telah membasahi wajahnya menatap wajah putri kecilnya.
Sekarang Gul merebahkan tubuhnya diatas kasur, agar ikut terlelap bersama putrinya.
Mencoba untuk memejamkan mata karena diliriknya kearah jam dinding yang tertempel disalah satu dinding menunjukkan diangka 01.00 dini hari.
Dicobanya untuk senyaman mungkin berbaring agar dapat tertidur dengan pulas. Namun matanya tak bisa diajak berkompromi, masih tetap terjaga tak dapat tertidur. Deru ombak memecah keheningan malam masih terdengar ditelinganya.
__ADS_1
Gul berusaha untuk dapat terlelap dan akhirnya matanyapun terasa berat setelah dua jam bergolak-golek diatas kasur.
"Gul... Gul... "
Terdengar seseorang memanggil namanya, suara yang lama tak terdengar ditelinga namun tak asing baginya.
"Murad... Dari mana kau mengetahui keberadaan ku?"
Tanya Gul dengan wajah heran saat laki-laki itu telah berada tepat dihadapannya. Tubuhnya langsung dipeluk erat oleh Murad.
"Kau begitu tega pergi tanpa sedikitpun memperhitungkan keberadaan ku, kenapa kau berbuat kejam terhadap ku ?"
Ungkap Murad seraya menangkup wajah Gul dengan kedua tangannya.
Tangan Gul melingkar dileher Murad seraya menatap dalam kemanik hitam milik lelaki dihadapannya.
Matanya berkaca-kaca ada gemuruh didada yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Gul hanya mampu menatap tanpa berkedip kewajah Murad.
"Gul.... Aku tak sanggup berpisah dari mu, tetaplah bersama ku. "
Ungkap Murad kembali seraya mencium dahinya dengan dangan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba terdengar tangis putrinya yang mengejutkan mereka berdua. Murad tak melihat box bayi yang ada dikamar Gul.
Dengan wajah heran Murad berdiri dan mencari kearah sumber suara. Terlihat putrinya yang telah duduk ditempat tidurnya.
Rupanya Dilec terbangun dari tidur, Gul sudah tahu bahwa putrinya akan meminta susu dijam segini.
Murad masih berdiri terdiam menatap Gul dan putrinya. Melihat wanita itu mengangkat tubuh kecilnya lalu menggendong anak perempuan tersebut.
Wajah Murad berubah seketika melihat pemandangan didepan matanya, langkah kakinya tanpa disadarinya mundur beberapa langkah menjauhi Gul dengan putrinya.
Lelaki itu tak percaya dengan apa yang ada didepan matanya, semakin memperlihatkan wajah keterkejutannya dan tak menduga adanya anak perempuan yang sedang digendong oleh Gul.
"Murad...Murad... Murad..."
Tedengar suara Gul yang semakin keras memanggil nama lelaki itu yang semakin menjauh dari mereka berdua.
Gul terbangun dari tidurnya dengan keringat membasahi dahi wanita tersebut. Gul mencari sosok lelaki yang dia sebut-sebut namanya disekitar ruangan tersebut.
Wanita itu masih dibawah pengaruh alam bawah sadarnya. Namun setelah melihat putrinya yang tengah tertidur pulas barulah tersadar bahwa Gul baru saja bermimpi.
Sebuah mimpi yang terlihat nyata, hadirnya Murad secara tiba-tiba dihadapan Gul bahkan sentuhan lembut lelaki itu masih terasa begitu nyata.
Gul berdiri lalu berjalan kedapur untuk mengambil segelas air guna menetralkan alam bawah sadarnya.
__ADS_1
Setibanya didapur dan telah membasahi kerongkongannya yang terasa kering dengan segelas air putih yang telah habis diteguknya.
Kemudian melanjutkan langkah kaki berjalan dan duduk disebuah sofa yang ada diruang tamu.
Diliriknya kembali jam yang berdetak terdengar ditelinganya disela-sela deburan ombak. Angka pada jarum jam menunjukkan diangka 03.45 dini hari.
"Apakah kau akan seperti dalam mimpi ku, pergi menjauh setelah mengetahui aku telah memiliki seorang putri kecil ? "
Batin Gul masih terbawa emosi setelah mengalami mimpi yang terlihat nyata baginya. Dalam mimpi terlihat bahwa Murad berjalan menjauhi Gul.
Meninggalkan mereka berdua begitu saja dengan raut yang masih bisa tergambar dipikiran Gul. Lelaki itu terlihat tidak menginginkan anak perempuan dari raut wajahnya yang telah berubah menjadi suram. Setelah tahu Gul bersama seorang anak perempuan Murad menjauh dalam mimpi tersebut.
Tatapan mata Gul mengisyaratkan kesedihan yang teramat mendalam dihatinya. Jika mimpi itu benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata sungguh membuat harapan putrinya hancur.
Selamanya putri kecilnya tak akan mengenali sosok ayah kandungnya. Gul semakin tak dapat memejamkan matanya kembali sampai pagi.
Terlihat sang fajar yang memancar keindahannya dilangit pertanda malam berganti dengan siang.
Dengan kelopak mata bengkak dan lingkaran hitam disekitar mata terlihat jelas bagi orang yang menatapnya, bahwa Gul tak dapat beristirahat dengan cukup hanya sekitar lebih kurang 1 jam tertidur.
Terdengar suara putrinya yang terbangun dan merengek. Gul kembali kekamar pribadinya dan mengangkat putrinya.
Barulah tak terdengar tangis setelah Gul menyumpal mulut anak perempuan itu dengan botol susunya. Dilec mengisap dotnya dengan kencang, dalam waktu sekejab satu botol besar itu habis tak bersisa.
"Oh... Putri ku terlihat sekali kalau kau kehausan. "
Batinnya dihati seraya membelai wajah putrinya yang telah berkeringat karena habis meminum susunya.
"Baiklah sayang ku...Ibu akan memandikan mu sekarang."
Ucap Gul terhadap putrinya, terdengar celotehan dari mulut sikecil yang seakan mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
Senyuman dan tawa terkekeh terdengar sehingga membuat Gul merasakan sedikit terhibur dari tingkah laku putrinya.
Anak perempuan tersebut tertarik dan berbicara dengan menggemaskan walau dengan gaya bahasa seorang anak balita.
Putri kecilnya telah menggenakan pakaian dress pendek dengan lengan panjang. Untuk menutupi sampai kakinya diberikan celana ketat atau leging yang bermotif polkadot.
"Duh... Anak ibu terlihat lebih segar, wangi dan cantik."
Ungkap Gul seraya mencium berulang-ulang kali menyentuh pipi Dilec.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian putrinya mulai merengek kembali untuk dibuatkan susu. Kebiasan Dilec setelah selesai mandi dipagi hari ia akan tertidur.
Suara bel terdengar sampai kekamar pribadinya. Gul meletakkan putrinya kedalam box tempat tidurnya. Melangkahkan kaki menuju pintu utama. Semoga tidak terjadi apapun, sebelum membukakan pintu melihat siapa tamu yang bertandang sepagi ini.
"Gul... Boleh aku masuk? "
__ADS_1
Ucap lelaki itu seraya duduk disofa dengan matanya yang mencoba mencari putrinya Gul.