
Ahay...Reader... yang aktif dong, Author melihat banyak yang baca namun pelit nih menghargai karya seseorang...
like, vote dan love itu gratis Reader... Freee ga pakai bayar...
Bermurah hatilah untuk memberikan suport Reader pada Author yang memberikan kegembiraan pada saat Reader suntuk ataupun mengisi waktu luang dengan cara membaca tulisan Author
Jadilah reader aktif no pasif
🍇🍇🍇
Semua telah dipersiapkan Aiyla, setelah pulang dari kantor untuk keberangkatannya ke kota x.
Sejujurnya Aiyla tak ingin pergi, dirinya ingin menemani putranya yang sedang berjuang mendapatkan kesembuhan.
Namun pekerjaan ini juga penting baginya, dengan mengingat betapa sulit untuk mendapatkan pekerjaan dikota sebesar ini.
Malam ini adalah jadwal putranya diberikan tindakan, proses transplantasi ginjal yang segera dilalui oleh Azzam dan Fusun.
Setelah semua selesai, Aiyla bergegas keluar dari apartemant dan menuju kerumah sakit.
Tanpa pikir panjang Aiyla langsung melihat kekanan dan kekiri guna mencari taxi yang akan mengantarkan dirinya
Diliriknya arlogi ditangan kanannya, tertera diangka 19.30. Akhirnya sekitar 5 menit menunggu, melintas sebuah taxi dan spontan Aiyla memberikan tanda untuk taxi itu agar segera berhenti.
"Ya Tuhan... Kuatkan mereka berdua dalam menjalani proses transplantasi itu," ucap Aiyla dengan menengadahkan kedua tangannya lalu kedua telapak tangan disapukan kewajahnya.
"Sudah sampai nona," ujar sopir taxi membuyarkan lamunannya.
Diberikannya beberapa lembar uang pada sopir taxi lalu segera berlalu memasuki ruang depan rumah sakit tersebut.
Aiyla langsung menemui dokter Ahmed, ternyata dokter tersebut sudah berada diruang operasi.
"Nyonya selama prosesnya, anda bisa menunggu disini. Kira-kira sekitar 3 sampai 4 jam proses itu berlangsung," ungkap petugas jaga.
Ditengah kesendirian dengan keadaan yang sekarang dialaminya membuat Ailya menjadi semakin sedih.
Dret... Dret... Dret...
Panggilan masuk pada ponselnya yang berada didalam saku mantel tebalnya. Panggilan dari nomer yang tak dikenal.
__ADS_1
Melihat nomer yang tak ada tersimpan dikontak ponselnya membuat Aiyla enggan untuk menerima panggilan masuk tersebut.
Panggilan itu terdengar lebih dari tiga kali dan dengan nomer yang sama. Untuk panggilan yang kesekian kali barulah Aiyla mau menerima panggilan tersebut.
Terdengar suara perempuan dari panggilan itu. Aiyla tak mengenal suara wanita dipanggilan tersebut.
Dengan antusias wanita itu bertanya mengenai putranya, keadaan putranya tanpa memberi tahu identitas siapa dirinya yang begitu penasaran dengan keadaan putranya.
Aiyla hanya terdiam dan tak menjawab satupun pertanyaan dari wanita yang sedang dalam panggilan masuk tersebut.
"Siapa nyonya?" tanya Aiyla yang ingin tahu alasan wanita itu terlihat antusias dan merasa cewas dan khawatir.
Aiyla terkejut setelah mengetahui identitas yang terdengar dari suara yang masuk kedalam telinganya itu.
Ternyata wanita tersebut adalah ibu dari suaminya, yang ingin mengetahui kabar putranya.
Aiyla teringat kejadian dirumah besar nan megah itu. Kedua kalinya dibuat kecewa dan merasa menyesal menginjakkan kakinya kesana.
Timbul pertanyaan yang besar dihati Aiyla, mengapa wanita itu terdengar berbeda disaat panggilan masuk ini.
Terdengar sangat perduli dengan keadaan putra Aiyla. Akhirnya Aiyla memberi tahu bahwa putranya sedang melakukan proses transplantasi tersebut malam ini.
Dirinya berpikir semakin banyak yang mendoakan kesembuhan putranya maka semakin memberikan kekuatan akan kesembuhan putranya itu.
Panggilan pun berakhir setelah wanita yang ada dipanggilan itu mendoakan permata hatinya.
Kini terlintas lagi kejadian yang terjadi dirumah besar nan megah dalam pikiran Aiyla. Sampai hati mereka tak perduli pada seorang anak lelaki yang terbaring lemah, memiliki darah dari dalam tubuhnya bagian keluarga besar tersebut.
"Mengapa wanita itu terlihat sangat perduli setelah penolakan yang dilakukan suaminya," batin Aiyla dalam hati.
Disaat dirinya berpikir keras mencari jawaban untuk alasan wanita itu berubah pikiran, terdengar suara yang tak asing ditelinga memanggil namanya.
"Aiyla... Aiyla... Maaf aku baru sampai," ucap Gul yang telah berada disampingnya dan memeluk tubuh Aiyla dengan eratnya.
Aiyla merasakan sebuah kehangatan dan kekuatan yang dibutuhkan dirinya sedari tadi.
Air mata jatuh membasahi dikedua pipi wanita yang saling berpelukan sangat erat tersebut.
"La... Ini ku bawakan makanan dan minuman hangat, aku tahu kau tak akan memikirkan masalah perut mu dalam kondisi seperti ini," ucap Gul dengan melepas pelukan dan menunjukan sesuatu yang ada ditangannya.
__ADS_1
Aiyla sangat bersyukur memiliki sahabat yang benar peduli dan tahu benar apa yang sedang terjadi pada dirinya. Memang benar bahwa Aiyla belum makan malam.
Sehabis pulang kerja Aiyla langsung menyiapkan barang serta berkas yang akan dibawa kekota x. Sehingga tak terpikir olehnya makan malam setelah selesai melakukan persiapan keberangkatannya itu.
Yang ada dalam pikirannya harus segera kerumah sakit dan segera bertemu dengan Azzam dan Fusun. Namun terlambat juga mereka berdua telah berada didalam ruangan yang sama bersama para dokter.
"Makanlah, sebelum dingin," ucap sahabatnya itu dengan memberikan kotak makan dan segelas kopi hangat buatan Gul.
Dengan perasaan bercampur baur Aiyla berusaha menelan makanan dan minuman untuk masuk kedalam lambungnya.
Sebenarnya tak ada nafsu makan yang dirasakan saat ini. Pikirannya tertuju pada putranya yang sedang berjuang untuk sembuh dari sakitnya.
"Aiyla...Aiyla, " terdengar suara dari jauh dari tempat duduk mereka berdua.
Secara bersama mereka berdua menoleh kearah suara, Aiyla terkejut melihat wanita dengan pakaian mewah melekat ditubuhnya berjalan mendekati kearah mereka duduk.
"Siapa wanita itu Aiyla," tanya Gul pada Aiyla yang terkejut menatap wanita yang memanggil namanya.
Aiyla tak memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya itu. Dirinya tertuju pada wanita yang telah berada tak jauh dari dirinya.
"Bagaimana keadaan cucu ku," ucap wanita itu dengan bulir bening terlihat jatuh diparas wajahnya yang tak muda lagi.
Mendengar wanita itu menyapa putra Aiyla dengan sapaan "cucu ku " membuat hati Aiyla bergetar.
Sejak kapan wanita itu mengakui akan keberadaan putra Aiyla dan apa alasan dibalik itu semua.
"Masih berada didalam sana," seraya melirikkan matanya kearah ruang yang berada tepat disamping kanan mereka bertiga.
Wanita itu menatap ruang operasi dengan tatapan sendu dengan bulir bening yang masih jatuh membasahi wajahnya.
Tak ada suara setelah itu yang keluar dari mulut mereka bertiga, semua terdiam dan hanyut akan perasan dan pikiran masing-masing.
Setelah 4 jam lamanya pintu ruangan yang tertutup itupun terbuka, spontas semua mata tertuju kearah yang sama.
Keluarlah seseorang yang berpakaian serba hijau yang menutupi seluruh tubuhnya. Setelah membuka masker yang dikenakan baru terlihat wajah dokter Ahmed.
"Bagaimana dokter?" secara bersamaan mereka bertiga berbicara.
Dokter menceritakan bahwa proses transplantasi ginjal sukses walau ditengah perjalan operasi sempat tubuh Azzam ngedrop, namun dapat diatasi dan distabilkan kembali sehingga proses transplantasi bisa dilanjutkan dan bisa dikatakan berhasil.
__ADS_1
Ditengah penjelasan yang panjang, dokter mengingatkan bahwa setelah tubuh pasien mendapatkan ginjal baru dari sang pendonor, maka tubuh pasien akan dipantau perkembangan kesehatan pasca operasi tersebut.