Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 19


__ADS_3

Semakin seru dan membuat penasaran dengan ceritanya ini... πŸ˜‰


Tulis dikolom KomentarπŸ“£πŸ“£πŸ“£


like, vote, and love jangan lupa Reader... 😍😍


Lanjut ngebaca....😘😘


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Shortdress berwarna hitam tanpa lengan yang menjadi pilihannya malam ini, dengan shal berwarna senada untuk menutupi bahu Aiyla.


Dengan make-up natural seperti biasa dan rambut yang sengaja diikatnya kebelakang. Berjalan dengan wajah penuh kesedihan, keluar dari apartemant.


Diliriknya arlogi yang menunjukkan angka 19.35. Tepat baginya untuk pergi dan tiba pada waktu yang telah dijanjikan.


Sebuah taxi telah berhenti dihadapanya, Aiyla memberikan alamat yang akan dituju pada sopir taxi.


Sebuah hotel bintang 5 yang biasa digunakan perusahannya untuk para tamu yang sedang melakukan perjalanan bisnis atau sekedar meeting diluar kantor dengan para relasi.


Hotel yang sering digunakan setiap ada relasi dari luar atau dalam negeri, karena hotel ini juga merupakan milik perusahaan tempat dirinya bekerja.


"Bertahanlah nak, ibu akan memberikan kesembuhan untuk mu, " besit Aiyla dalam hatinya yang hancur untuk menguatkan kakinya sampai dihotel.


Deru mobil taxi berjalan sesuai dengan kecepatan biasanya, tak harus menempuh jarak yang jauh taxi telah sampai didepan hotel Louis.


Berjalan memasuki hotel dengan gemuruh didadanya. Berusaha agar tak mengeluarkan bulir bening diujung matanya.


Aiyla dapat langsung menemukan Tuan Ergin disebuah restoran yang terdapat dihotel. Sedang duduk sendirian, Aiyla mendekati meja yang ditempati Tuan Ergin tanpa ikut duduk disana.


Tuan Ergin melihat dirinya dari atas kepala sampai ujung kaki Aiyla dengan tatapan yang sama. Dingin tanpa ada ekspresi diwajahnya yang tampan.


"Hitam...Kau kenakan baju berwarna hitam, biasanya warna hitam untuk berkabung, " ucap Tuan Ergin


Aiyla hanya menundukkan kepalanya dan masih tetap berdiri tanpa menatap wajah lelaki yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Sama seperti pekatnya malam ini," ungkap Aiyla masih dengan wajah tertunduk.


Tuan Ergin lalu berdiri karena melihat sikap Aiyla yang masih berdiri mematung dihadapannya. Sepertinya Aiyla tak ingin berlama-lama berada direstoran yang ada hotel.


Aiyla berjalan mengikuti lelaki dihadapannya itu menuju salah satu kamar dihotel ini yang telah Tuan Ergin booking.


Setibanya didepan pintu, Aiyla masih tak mengeluarkan suara dari mulutnya. Dirinya masih mencoba menahan gemuruh didadanya yang semakin kencang setelah masuk kedalam kamar hotel tersebut.


Tuan Ergin mengambil minuman yang telah disediakan oleh pihak hotel. Dengan menawarkan minuman pada Aiyla, lelaki tersebut mencoba mencairkan suasana tegang dan beku diantara mereka berdua.


"Kau benar malam ini pekat sekali," ucap Tuan Ergin seraya berdiri didepan dinding kaca dan memandang langit dimalam ini dari dinding kaca yang transparan.


Aiyla masih tak bergeming, berdiri dan diam tak jauh dari lelaki itu. Tubuhnya hanya mematung tanpa ada senyuman yang membingkai diwajahnya.


Masih dengan wajah yang mencoba untuk bertahan menanggung beban yang berat, yang sedang dilaluinya saat ini.


"Ini uangnya," ungkap Tuan Ergin dengan menunjuk sebuah tas besar diatas sebuah sofa yang ada dikamar hotel.


Aiyla hanya menatap dari jauh sebuah tas besar berwarna hitam.Tuan Ergin hanya mastikan pada Aiyla bahwa dirinya menepati janjinya.


"Malam ini hanya menjadi rahasia untuk kita berdua," ungkap Aiyla setelah melihat Tuan Ergin mendekatinya.


Sekarang mereka berdua telah berdiri satu sama lain, sangat dekat sekali, seakan tak ada pembatas bagi mereka berdua.


Bahkan hembusan nafas terasa diwajah mereka berdua. Tuan Ergin mulai melepas shal yang membalut bagian atas tubuh Aiyla, membiarkannya jatuh tepat disamping tubuh Aiyla.


Kemudian menarik lembut ikat rambut yang ada dikepala Aiyla sehingga rambut coklat bergelombag diujungnya itu terurai dengan indahnya.


Sebuah pemandangan yang menarik nafsu Tuan Ergin. Melihat wajah Aiyla yang cantik dari dekat. Tanganya mulai membuka sleting bagian belakang shordress hitam Ayla dengan posisi tubuh setengah memeluk tubuh Aiyla.


Gerakan refleks dari tangan Aiyla mencoba menghentikan tangan lelaki tersebut yang hendak menanggalkan shortdressnya itu.


Namun diurungkan niatnya kembali, membiarkan lelaki itu mendapatkan apa yang telah disepakati berdua.


Begitu juga dengan Aiyla harus menepati janji dari kesepakatan yang telah mereka buat berdua.

__ADS_1


Membiarkan tangan lelaki itu menanggalkan pakaiannya dan melekatkan bibirnya tepat disamping telinga Aiyla lalu turun dijenjang leher dan menuju bahunya.


Aiyla hanya diam dan merasakan saja setiap tindakan Tuan Ergin pada tubuhnya. Dalam diam Aiyla mengutuk dirinya yang telah mengkhianati cinta suci suaminya.


Sekarang tubuh mereka berdua telah bersatu tanpa sehelai kain pembalut tubuh, lelaki itu menikmati setiap inci dari tubuh Aiyla.


Bulir bening tak terasa jatuh diujung matanya tanpa disadari Tuan Ergin yang telah melambung nafsu sahwatnya. Menikmati setiap lekuk tubuh yang dimiliki Aiyla dengan kulit putih mulus nan bersih.


Ergin merasakan kenikmatan yang berbeda saat membelai dan mencium sekujur tubuh wanita yang ada didalam dekapannya saat ini.


Aroma tubuh Aiyla yang menjadi pemikat dan pendorong bagi Ergin untuk terus mencumbui tubuh indah yang ada didepan matanya itu.


Suara kenikmatan terdengar melalui mulut lelaki tersebut dengan wajah yang terlihat jelas menikmati setiap percumbuan yang dilakukannya.


Ditatapannya wajah Aiyla yang seperti mayat hidup tanpa ekspresi memandang dirinya. Tapi Ergin tak memperdulikan tatapan datar wanita yang memiliki tubuh begitu sempurna didalam dekapannya.


Tubuh ini membuat dirinya tak dapat berhenti melakukan kenikmatan-kenikmatan yang berulang kali dirasakannya. Sungguh sangat berbeda dengan wanita yang pernah tidur dengannya.


Akhirnya setelah beberapa kali menikmati semburan kenikmatan barulah lelaki itu tertidur tak berdaya disamping tubuh Aiyla.


Aiyla menangis dalam diam, air matanya mengalir tak tertahankan keluar dari sudut matanya.


Kini Aiyla telah terduduk disudut tempat tidur dengan posisi kedua lutut dirangkul dengan kedua tangannya.


Ergin tertidur pulas setelah menikmati tubuh wanita yang tanpa disadarinya sedang menangisi keterpurukan dan kehancuran harga dirinya.


"Cepatlah malam ini berlalu, mengapa aku merasa malam ini terasa amat panjang," besitnya dengan menatap kosong ruang didalam kamar hotel ini.


Pekatnya malam nan panjang berakhir juga, Aiyla telah mengenakan Shortdress hitam dan mengikat kembali rambutnya.


Berjalan dengan membawa tas besar berwarna hitam ditangan kanannya dan membawa shal ditangan kirinya. Tanpa disadari shal itu menyapu lantai sepanjang perjalanan Aiyla keluar dari kamar hotel tersebut.


Kepergian Aiyla diketahui oleh Ergin, ternyata dirinya telah terbangun pada saat Aiyla bersiap hendak keluar dari kamar hotel tersebut.


Bergegas turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju balkon yang ada dihotel tersebut. Ergin melihat Aiyla dari kejauhan sedang berjalan keluar hotel lalu menaiki sebuah taxi.

__ADS_1


"Setelah mendapatkan uang kau langsung pergi begitu saja," umpat Ergin masih memandang taxi yang membawa Aiyla sampai tak terlihat dimatanya lagi.


__ADS_2