
Author butuh suplement nih πͺπͺbiar tambah semangat ππdengan cara klikπππ
1. πLike diakhir bacaan π
2. π Love jadikan favorit π
3. π Gift sekuntum mawar lebih juga boleh π
4. π― Vote π
5. β Rate Star 5 π
Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author ππ Semoga masih tetap setia π dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam ππ
Jom lanjuuut ngebaca π¨π¨π¨
π₯Happy Readingπ₯
π π π
Pesta pernikahan telah usai, kini Gul dan Murad menikmati masa berbulan madu. Dilec sengaja dititipkan bersama Nyonya Syukran selama mereka berbulan madu.
Murad ingin menghabiskan waktu beberapa hari kedepan untuk bisa bersama wanita yang sangat dicintainya saat ini.
Lelaki itu seperti tak ingin membuang waktu dengan sia-sia seperti yang pernah dilakukannya. Murad merasa bersalah telah menyia-nyiakan waktu untuk hidup bersama seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
"Sayang... Ayo bangun. Kali ini kita akan menghabis waktu menikmati kota tua yang ada dinegara ini.
Terlihat senyum yang mengembang seraya melingkarkan tangan memeluk erat tubuh satu sama lain agar tak ada jarak bagi mereka berdua.
Mereka berdua menikmati masa berbulan madu yang begitu berkesan seperti tak akan pernah terlupakan dan begitu mesrah terlihat oleh orang lain yang melihat mereka berdua
Setelah mereka berdua puas berjalan, langkah kaki mereka terhenti dan mencoba mengistirahatkan kaki mereka yang telah berjalan jauh karena begitu menikmati kota tua yang ada dinegara ini
__ADS_1
Sebuah destinasi buat liburan para pasangan yang ingin melihat peninggalan dimasa peradapan terdahulu yang penuh dengan artistik dan penuh simbol kejayaan pada masa lampu.
Murad tak lepas tersenyum, menghiasi wajah tampannya dan sekali-kali tertawa riang karena perkataan lucu yang dilontarkan Gul padanya.
Gul dan kehadiran putri kecilnya membuat lelaki itu merasa hidupnya sekarang telah sempurna.
Ditatap wajah istrinya dengan sangat lama seraya menggengam erat kedua tangannya lalu mencium punggung tangan Gul berulang-ulang kali.
"Aku berharap ini adalah kebahagian yang selamanya kurasakan untuk sisa usia ku. Aku tak ingin berbagi pada yang lain, cukup hanya kau seorang yang mengisi didalam relung hati ku yang dalam."
Ungkap Murad dengan mata yang saat ini telah berkaca-kaca. Diluapkannya segala perasaan yang ada didalam hatinya. Murad seakan ingin istrinya tahu akan perasaan yang dirasakanya saat ini.
"Sayang... Akupun juga demikian tak ada dihati ini selain diri mu seorang."
Balas Gul seraya mencium punggung tangan suaminya dengan wajah berseri dan tersenyum cerah.
Disalah satu sisi disaat sepasang pengantin baru menghabiskan masa berbulan madu, ada seseorang yang merasa terbakar dan tersakiti atas tindakan Murad mempersunting wanita bekas pegawai diperusahaannya.
Seorang wanita dari kalangan atas yang ikut hadir dalam resepsi pernikahan Gul dan Murad yang sederhana tersebut.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, bahwa wanita tersebut menyimpan sebuah rencana yang berakibat fatal bagi hubungan mereka yang baru dalam hitungan hari.
Nadine adalah mantan kekasih Ergin yang sempat hubungan diantara mereka berdua sampai pada jenjang persiapan pernikahan.
Nadine merasa sangat sakit hati terhadap Murad, dan wanita ini menyalahkan semuanya kepada Murad atas pembatalan pernikahan yang satu hari lagi akan berlangsung.
Pada saat pesta pernikahan Murad Dan Gul, tak ada yang mengundang wanita itu hadir baik Murad ataupun Ergin. Wanita itu dengan percaya dirinya turut didalam pesta pernikahan yang lebih menekankan pada para tamu undangan yang terdekat seperti teman dekat, keluarga dan para client yang dianggap lebih dari sekedar client.
Disaat penjaga memberikan info ada seorang tamu undangan yang ikut hadir, tapi tak ada dalam daftar tamu undangan. Murad langsung menanyakan identitas tamu tak diundangpun tersebut.
Setelah mendengar identitasnya dan ingatan Murad kembali pada masa lalu akan sosok wanita atas nama Nadine.
Semenit kemudian wajah Murad berubah ada seseuatu yang dipikirkannya mengenang sebuah nama yang masuk ketelinga melalui panggilan ponsel dari penjaga pintu utama.
Namun Murad berusaha mengendalikan karena tak ingin merusak hari yang ditunggu-tunggunya selama ini.
__ADS_1
Toh kejadian itu telah berlalu sangat lama, tentu wanita itu kemari berkemungkinan bukan karena masa lalu. Namun juga tak dapat Murad cerna alasan mengapa Nadine hadir disaat diirinya tak diundang oleh Ergin ataupun Murad.
"Sayang... Mengapa tiba-tiba kau terdiam ? Berbagilah pada ku tentang apa yang sedang kau pikirkan saat ini? "
Terdengar suara Gul pelan namun mengandung rasa penasaran menyelimuti hatinya.
Murad yang sedari tadi tersenyum menghiasi wajah tampannya namun seketika terhenti dengan pandangan mata jauh menerawang.
"Aku hanya teringat dengan seseorang yang datang pada saat pesta pernikahan kita saat itu. "
Balas Murad masih dengan raut wajah penasaran dan terlihat sedang berpikir kelas. Gul memperhatikan perubahan raut wajah suaminya.
"Ya aku ingat wanita yang mengenakan longdress berwarna hitam berambut pirang. Benarkah wanita itu yang kau maksud sayang?"
Balas Gul seraya meraih wajah lelaki itu dengan perlahan agar menatap kearahnya. Murad mengikuti saja gerakan dari tangan istrinya yang sekarang mereka berdua saling menantap kemanik mata masing-masing.
"Sebenarnya apa hubungan my dengan wanita itu, kenapa dia hadir disaat kita tidak mengundangnya ? Dia bersikap ramah namun disaat bersamaan terlihat perubahan diwajah mu Dan Ergin. "
Ungkap Gul pada suaminya dengan Nada penasaran terlihat juga diraut wajahnya.
Sebenarnya Murad enggan untuk menceritakan sosok yang bernama Nadine. Wanita itu adalah masa lalu bagi dua laki-laki tersebut.
Masa lalu yang menyimpan sebuah pengkhiatan sehingga memberikan luka dihati keduanya.
"Nadine adalah calon istri Ergin yang tak jadi. "
Ungkap Murad seraya mengenggam kembali tangan istrinya. Gul menjadi sangat penasaran, rupanya laki-laki dingin seperti Ergin pernah sebelumnya menjalin cinta selain dengan sahabatnya itu.
"Sayang...Ayo kita kembali kehotel."
Ucap Murad secara tiba-tiba memutuskan pembicaraan disaat Gul menjadi lebih penasaran.
Dengan rasa penasaran dan begitu banyak pertanyaan yang berputar dikepalanya, kini berusaha diurungkan sampai disaat yang tepat ia akan bertanya kembali.
Iringan langkah kaki keduanya seirama dengan genggaman tangan yang tak lepas. Hotel yang mereka tempati adalah sebuah hotel berbintang 5.
Terletak dipinggir laut, jika dilihat dari jendela maka hotel tersebut seperti bwrada diatas laut biru. Sebagian bagunan hotel tersebut memang menjorok kelaut, itulah yang membedakan dari hotel lain yang Ada dikota besar tersebut.
__ADS_1
Gul dan Murad berbulan madu masih didalam negeri. Gul yang tak ingin berpergian keluar karena itu tidak diperlukan.
Selagi lelaki yang sangat dicintainya, kini telah berstatus suaminya. Berada selalu disampingnya maka dimanapun saja tempat berbulan madu bagi Gul memberikan kesan romantis dan penuh kasih sayang.