
Sibabang tampan suka bikin galau para emak...π
Udah nganggep orang asing...π
Eh...sekarang ketakutan Sienang pergi... πLieur dibuat nyaaak.. π¨
Jom lanjut ngebaca waee... π
Tapi tetap jangan lupa jejaknya yah maaak... π
Jempol manis, hadiah buat deg-degan plusπ vote buat mata bersinar terang....ππ
Salam hangat dari lemb@yung..ππ
πHappy Readingπ
πππ
Sebuah pesta kemenangan buat mereka berdua. Dishya langsung menemui ibu tiri Ergin dan memberikan kabar bahagia. Tentunya Nyonya Esma akan bersenang hati dengan berita yang dibawa wanita itu.
Apa yang diinginkan Nyonya Esma berhasil dan rasa sakit terbalaskan sudah. Sungguh ide yang pas saat wanita paruh baya itu menyulut sedikit emosi pada Dishya.
Semuanya berjalan rencana, penghancuran cinta Ergin dan selanjutnya mengambil alih kursi tertinggi diperusahaan Ozturk yang dipimpin oleh Aiyla.
"Cieerrs..."
Terdengar suara mereka berdua dengan gelas ditangan mereka. Merayakan awal kehancuran rumah tangga Ergin.
"Aku tak menyangka kau pandai menjadi Pelakor. "
Ucap Nyonya Esma dengan wajah senang seraya mengedipkan sebelah matanya. Mendapatkan julukan Pelakor tak serta merta wanita itu kesal ataupun bersedih.
Dishya malah merasa bangga dapat memikat laki-laki seperti Ergin Ozturk. Wanita itu seperti memang telah menjadi budaknya Nyonya Esma
tanpa disadari olehnya.
Betapa tidak, Dishya adalah wanita lugu dan tak berani melakukan itu sebelumnya. Namun dorongan dan kata-kata penyemangat yang selalu didengarkan ditelinganya membuat wanita itu lebih agresif.
__ADS_1
Nyonya Esma memang pandai mencekokin wanita baik seperti Dishya menjadi wanita murahan. Wanita paruh baya itu selalu mengisi dikepala Dishya bahwa laki-laki tak akan tahan dengan tubuh muda seperti dirinya.
Membangkitkan kepercayaan yang tinggi pada wanita muda tersebut. Walaupun ia menghilangkan urat malu dan harga dirinya didepan Ergin.
Dishya menjadi sosok yang 180 derajat berubah dari sosok Dishya yang sebelumnya. Mereka berdua tertawa, berpelukan dan begitu menikmati kemenangan mereka hingga mabuk.
Mereka berdua merayakan kemenangan mereka dengan cara minum minuman berakohol.
Nyonya Esma begitu bahagia sehingga ia minum dengan banyak. Membuat wanita itu meracau, mengatakan segala sesuatunya.
Sedangkan Dishya yang masih setengah sadar terdiam dan merasakan takut atas apa yang diucap oleh wanita paruh baya itu.
Wanita itu tak hentinya meracau dan menceritakan kehebatannya serta tindakan yang pernah dilakukannya.
Dengan tertawa terbahak-bahak merasakan kepuasan hatinya telah menghancurkan dua orang wanita didalam hidupnya.
Nyonya Esma bangkit lalu berjalan dengan sempoyongan memasuki sebuah ruangan dan kembali dengan sebuah file dalam maps berwarna biru.
Lalu memberikan itu pada Dishya, semula wanita itu tak paham maksud dari wanita paruh baya itu memberikan sebuah berkas padanya.
Tertulis disana sebuah perjanjian untuk tidak mengganggu suaminya Nyonya Esma dengan jaminan uang dan jaminan dari putra Elif Sadoglu.
Menerangkan bahwa Elif Sadoglu akan menerima sejumlah uang dan tak akan memberitahukan persoalan mengenai keberadaan putra yang merupakan hasil perselingkuhan suami Nyonya Esma.
Dengan uang tersebut sebagai uang penutup mulut kalaupun tak mau mengikuti perjanjian yang sengaja dibuat memberatkan sebelah pihak tersebut maka putra yang menjadi anak hasil perselingkuhan akan diambil oleh Nyonya Esma.
Terlihat ada beberapa photo dokumentasi perjanjian tersebut. Terlihat disana wajah Elif yang terpaksa menanda tangani surat perjanjian sepihak tersebut.
"Siapa Elif Sadoglu? "
Ucap Dishya dengan penasaran karena sedari tadi wanita itu mengumpat nama Elif dan Aiyla.
"Ibu kandung Ergin. " Ucap singkat wanita itu dengan mata sinis dan penuh kebencian.
Sontak Dishya yang berposisi duduk seketika berdiri, matanya terperanjat mendengar perkataan dari Nyonya Esma.
__ADS_1
Dishya jadi teringat disaat Ergin menunjukkan photo seorang wanita dan mengingikan untuknya mencari tahu tentang hubungan wanita ini dengan ibunya.
"Ya... Ini wanita yang sama dengan yang ditunjukkan pada ku. Aku tak salah lagi ini adalah wanita yang ada ditangan Ergin waktu itu."
Batin Dishya didalam hati dengan raut wajah senang, tak perlu ia tanya wanita ini menunjukan padanya." Batin Dishya dengan hati senang.
"Kau tahu sayang... Ergin adalah anak yang ku besarkan dengan segala rasa dihati ini. Aku tahu ia adalah hanya seorang bayi tak berdosa. Tapi kehadirannya membuat diriku hancur. Ia adalah anak dari perselingkuhan suami ku."
Ungkap Nyonya Esma dengan wajah penuh kebencian dan terlihat sekali disorot matanya saat menatap photo ia bersama Ergin.
Photo yang terletak diatas nakas yang tak jauh dari Nyonya Esma berdiri. Wanita itu meraih frame photo yang ada dinakas tersebut.
Memandangin photo itu cukup lama dengan tatapan penuh arti. Dishya yang shock hanya dapat berdiri mematung dan melihat wanita itu.
Dirinya begitu terkejut dan merasakan kembali pada masa lalu mereka berdua. Dishya ingat betul perkataan dari ayahnya. Bahwa anak laki-laki Tuan Ozturk itu sangat membutuhkan teman karena ia kurang mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya.
Wajar sekali dimasa kecil Ergin jarang berkumpul layaknya seperti keluarga normal lainnya. Ayahnya sibuk dengan pekerjaan sedangkan ibunyapun sangat jarang ada dirumah.
Ayah Dishya selalu mengajak berlibur bersama atau keluarga dari Murad yang mengajak Ergin saat itu.
"Nyonya Esma jika ini adalah surat perjanjian antara wanita itu dengan anda untuk melepaskan hubungannya dengan suami anda. Mengapa Ergin ada dengan anda? Apakah wanita itu masih menjalin hubungan setelah perjanjian ini?"
Terdengar suara Dishya yang begitu penasaran untuk mengetahui cerita dibalik adanya Ergin didalam kehidupan keluarga Ozturk dan Nyonya Esma.
Wanita itu kembali tersenyum sinis, dengan wajah angkuh dan sombong serta penuh kepuasan karena telah berhasil melakukan suatu tindakan kejam.
"Aku menculiknya..Wanita itu menepati janjinya. Bahkan uang yang ku berikan padanya tak satu senpun digunakannya. Uang itu masih utuh sampai anak dalam perutnya lahir. Aku tahu karena cek yang ku berikan tak pernah dicairkannya."
Ucap Nyonya Esma dengan suara bergetar menceritakan semuanya. Menengguk kembali minuman yang ada ditangannya.
"Wanita itu tak pernah bisa hilang dari hati suami ku, walaupun ia telah lama meninggalkan laki-laki itu. Rasa takut ku semakin menjadi jika suatu saat nanti suami ku menemukan keberadaan wanita itu bersama putranya. Jadi ku putuskan untuk menculik putranya yang masih bayi."
Terdengar tak ada penyesalan dari perkataan yang telah terucap dan tak terlihat juga diparas wajahnya rasa bersalah atas tindakan yang telah membuat bulu kuduk Dishya merinding mendengar kekejaman wanita dihadapannya itu.
Dishya terduduk, tubuhnya bergetar tak menyangka wanita itu memiliki hati yang keji. Dishya langsung teringat dengan perkataan Ergin. Memintanya jika mengetahui info tentang wanita yang merupakan ibu kandungnya itu untuk diberitahu olehnya.
__ADS_1
Tanpa sepetahuan Nyonya Esma, Dishya diam-diam mengdokumentasikan beberapa informasi tentang ibu kandung Ergin yang akan diberikan pada laki-laki itu.