Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 147


__ADS_3

Bagaimana Reader masih setia menunggu up per hari nya? Maaf ya sebisa mungkin Author akan memberikan up minimal 1 Bab perharinya.


Author butuh suplement nih πŸ’ͺπŸ’ͺbiar tambah semangat πŸ‘ŒπŸ‘Œdengan cara klikπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Jom lanjuuut ngebaca πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’₯Happy ReadingπŸ’₯


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Gul menuruti saran dari Aiyla, sebelum perutnya semakin membesar maka dirinya memutuskan untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Gul sadar bahwa hubungan mereka diawali dengan sebuah settingan. Murad dengan pandai memainkan perannya sehingga dirinya terlena akan peran lelaki tersebut.


Menyerahkan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Bagi wanita dikota besar tidur dan berganti pasangan asal saling menyukai itu adalah hal yang biasa.


Namun tidak bagi Gul, wanita itu begitu menjaga harga dirinya. Murad adalah satu-satunya laki-laki yang tidur dengan dirinya.


"Pagi nona Gul. "


Sapa pegawai yang bertemu denganya dilobi kantor. Sangking tak selarasnya antara raga dan jiwanya, Gul hampir menabrak seseorang sewaktu berjalan.


"Pagi... Maaf. "


Balasnya singkat dengan mempercepat langkah menuju kantor dilantai dua. Seperti biasa pada jam segini lelaki itu telah berada diruang kerjanya.


Gul meletakkan tas lalu naik satu lantai lagi menuju ruang kerja atasannya itu. Dengan detak jantung yang berdebar semakin kencang membuat dirinya semakin gugup.

__ADS_1


"Ayooo Gul... Kau harus mengatakan yang sebenarnya saat ini juga!!! "


Besit dalam hatinya seraya berjalan menuju lift. Selama didalam lift terasa lama baginya, irama dari nomor lift yang bergerak membuat jantungnya bertambah bergemuruh hebat.


Ting...


Pintu lift terbuka Dilangkahkanya kaki Gul melangkah keluar lalu menuju ruang kerja Murad. Diketuknya tiga kali pintu ruang kerja yang tertutup itu dan terdengar suara dari dalam meminta untuk segera masuk.


Perlahan dibukanya pintu dan terlihat Murad juga sedang melihat kearah Gul. Sebuah senyuman terukir diwajah lelaki itu, dengan berusaha mengendalikan rasa gugupnya Gul menyambut dengan senyum tipis diwajahnya.


"Ada apa? Mengapa wajah mu begitu Pucat? Apakah kau sedang sakit? "



Terlihat Murad begitu antusias melihat Gul yang telah berdiri dihadapannya. Lelaki itu lalu berdiri dari kursinya dan mendekati Gul.


"Ehmm... Saaa...yaa... Saya tidak apa-apa Tuan."


Balas Gul dengan tertunduk dan berusaha merangkai kata-katanya kembali untuk menyampaikan maksud dihatinya.


Disaat panik dan ketidak percayaanya membuat Gul merasa sedikit bisa mengendalikan emosi dan perasaannya karena melihat Murad menatapnya dengan sendu.


Ungkapnya dengan raut wajah sedikit dipaksakan untuk tersenyum. Murad merasa iri karena sahabatnya itu telah menemui kebahagian bersama wanita yang dicintainya.


"Gul... Sebenarnya ada apa kau kemari? Ingin menyampaikan apa?"


Ucap Murad dengan menatapnya penuh rasa penasaran pada wanita dihadapannya itu.


"Tuan... Anda tahu bahwa selama ini kita menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Kedua orangtua mengingikan kita untuk segera menikah. Bagaimana menurut Tuan? "


Masih dengan menundukkan wajahnya dan tak berani menatap laki-laki yang ada didekatnya itu. Gul semakin tak percaya diri untuk mengutarakan maksudnya.


"Aku rasa kita belum begitu mengenal satu sama lain, bisakah kita katakan pada mereka untuk tidak segera menikah karena aku sendiri belum siap menjadi seorang suami apalagi seorang ayah nantinya."


Bagai dihantam suatu benda keras membuat hati Gul hancur seketika. Mendengar perkataan belum siap menjadi seorang ayah yang keluar dari mulut lelaki disampingnya itu.


Bulir bening jatuh secara bersamaan disaat hatinya yang hancur, tak mampu Gul menahan rasa sakit dihatinya.

__ADS_1


"Hei.. Mengapa menangis. Aku hanya tak ingin cepat untuk menikah bukan berarti tak ingin. Kita harus mengenal lebih dekat dahulu sebelum memutuskan hal yang sangat penting didalam hidup ini. Aku tak ingin kau menyesal dan begitu juga aku jika pernikahan itu dilakukan secara terburu-buru."


Ungkap Murad seraya menggenggam tangannya dan menyeka bulir bening yang membasahi wajahnya Gul dengan telapak tangannya.


Gul tak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-katanya, apa yang ada didalam dugaanya terjadi. Lelaki itu memang belum siap untuk menjalin hubungan yang begitu serius.


"Baiklah Tuan... Saya mengerti, maaf telah membuat anda berpikir keras tentang masalah ini dan terima kasih atas bantuan Tuan. Saya permisi dulu."


Berlalu pergi meninggalkan lelaki yang sepertinya ingin berbicara lebih lanjut tapi melihat Gul berbalik badan dan tak memberikan Murad untuk berkata lebih banyak lagi.


Lelaki itu menghentikan maksud yang ingin disampaikan olehnya, namun tak diberikan kesempatan. Kini hanya melihat punggung wanita itu menjauh lalu keluar dari ruang kerjanya.


"Ada apa dengan mu? Mengapa kata-kata Gul seakan ingin pergi."


Besit Murad dalam hati sehingga bertanya-tanya seorang diri atas sikap Gul pagi ini. Sedangkan Gul secepatnya melangkahkan kaki meninggalkan Murad yang terpaku dengan rasa penasaran.


"Aku memang bodoh...Mengapa begitu mudah hanyut akan cinta yang semu. Sedangkan dirinya sendiri tak yakin akan hubungan yang dijalani selama ini. Toh!!! dari awal hubungan ini memang dibagun dari kesepakatan dan settingan."


Terdengar umpatan pada dirinya sendiri. Kini Gul sedang berada dilantai paling atas gedung tersebut. Dirinya duduk seraya menangis sepuas-puasnya.


Diatas ini tak ada pegawai yang kemari, tempat ini pas sekali buat seseorang yang lagi patah hati atau memiliki beban berat didalam hidup ini seperti Gul saat ini.


"Ya... Tuhan... Apa yang harus aku lakukan?"


Terdengar tangis yang sangat pilu menusuk kedalam jantung jika berada disaat itu. Akhirnya Gul memutuskan rencana yang dirancang dari awal.


Secepatnya ia akan resign lalu pergi dari kehidupan Murad. Melahirkan seorang diri disebuah tempat yang jauh dari orang-orang yang mengenal dirinya.


Dibangkitkan tubuhnya dan kembali keruang kerjanya. Gul mulai menulis surat pemberhentian saat itu juga.


Menitipkan pada salah satu staf nya dan meminta untuk memberikan tiga hari dari saat ini. Mengapa demikian karena Gul butuh waktu untuk mempersiapkan diri dan membereskan semua keperluan yang mesti dibawanya.


Tekadnya telah bulat ditambah dengan bantuan sahabatnya itu. Aiyla telah mempertimbangkan hal yang buruk sekalipun. Sahabatnya itu merasakan bagaimana saat pertama kali dirinya menginjakkan kaki kekota besar itu.


Aiyla telah mendapatkan sebuah tempat yang tepat dan terpencil, jauh dari keramaian kota. Gul akan bekerja untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosannya pada sebuah cafe.


Sebuah tempat diprsisir pantai dan hanya orang tertentu saja yang mengenal daerah tersebut. Aiyla mendapatkan daerah itu saat bersama Ali.

__ADS_1


Mereka sempat melarikan diri saat dulu, dimana Aiyla sampai saat ini tak mengetahui apa alasan Ali membawanya ketempat tersebut.


Mereka mengenal salah satu penduduk disana dan Aiyla telah dianggap sebagai putri sang pemilik cafe.


__ADS_2