Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 80


__ADS_3

Hai...Hai...Hai...πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Sampai pada bab ini saya harap Reader masih setia dan memberikan respon yang membangun buat AuthornyaπŸ‘Œ


Pliz mampir beri vote, like dan hadiahnya buat Author...πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


Salam hangat buat Reader tercinta...🌷🌷


Jom lanjut bacaπŸƒπŸƒπŸƒ


🌡Happy Reading🌡


πŸŒ€πŸŒ€πŸŒ€


Akhirnya lebih kurang 10 hari Aiyla berada diluar kota, dan saat ini dalam perjalanan menuju kota X.


Sudah sempat tertidur selama beberapa menit dari penerbangan yang sedang berlangsung, kini secangkir kopi telah berada dipangkuannya dengan sepotong chessecake.


Aiyla menikmati dengan menyeruput coffee latte dan memasukan potongan kue tersebut kedalam mulutnya.


Dibolak-baliknya surat kabar yang terbesar dikota ini. Pandangan tertuju pada judul yang ada pada surat kabar tersebut. Matanya membulat lalu tak percaya dengan tulisan yang ada disana.


" Apa!!! " Mengapa sampai seperti ini? Apa yang ada dipikiran Ergin!!!" Ucap Aiyla dengan mengerutkan dahinya.


Sudah hampir setengah bulan Aiyla tak menjalin komunikasi dengan lelaki itu, namun Ergin selalu menemui putranya tapi tak menghubungi dirinya.


Aiyla berniat akan menemui sahabatnya itu untuk mendapatkan kejelasan dari berita yang baru saja dibacanya.


Penerbangan sekitar setengah jam lagi hingga sampai dibandara kota X. Dengan hati dan pikiran berkecamuk Aiyla berusaha menenangi semua yang terlintas dikepalanya.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi ? " Batin Aiyla kembali masih dengan dahi berkerut.


Akhiri setengah jam itu berlalu, Aiyla telah berada didalam sebuah taxi. Diambilnya ponsel lalu menekan nomor kontak atas nama sahabatnya itu.

__ADS_1


Terdengar suara nada dering namun tak segera diterima oleh Gul. Dicobanya kembali sampai tiga kali, tapi masih sama tak ada jawaban dari panggilan yang dilakukan Aiyla itu.


Diliriknya arlogi yang melingkar indah ditangan kanannya. Jarum jam menunjukkan pada angka 17.00, artinya itu sudah waktunya jam pulang Gul dari kantor.


Beralih pada kontak telpon Fusun dan melakukan panggilan keluar. Dengan cepat nada dering itu terhenti karena panggilan masuk diterima oleh Fusun.


"Kak, aku sudah sampai. Sekarang ada didalam mobil taxi menuju apartemantnya Gul, Mana Azzam?" Tanya Aiyla dengan rasa rindu dihatinya.


Wanita yang ada didalam panggilan masuk tersebut mengatakan bahwa sedang berada ditaman bersama Ergin. Artinya saat ini putranya bersama laki-laki itu.


"Mengapa seperti itu...Dia masih berhubungan dengan putra ku tapi tidak ada sedikitpun penjelasan yang dia berikan pada ku," ucap kesal Aiyla dengan kedua alis hampir menyatu.


Memang sebelum Aiyla pergi keluar kota tak ada berbicara pada Fusun bahwa mereka berdua habis bertengkar. Sehingga Fusun merasa hubungan Ergin dan Aiyla sedang baik-baik saja.


"Aaakh...Terserah!!! Selagi Azzam merasa bahagia aku tak akan ambil pusing. Biarlah dia berhubungan dengan putra ku, aku tak mungkin melarangnya karena tak ingin kejadian dulu terulang kembali," batin Aiyla dengan segala rasa dihati dan pikirannya.


"Aiyla... Kamu akan sampai dirumah kira-kira jam berapa?" tanya wanita didalam pangilan itu.


Membuyarkan lamunan Aiyla yang masih dalam keadaan menelpon. Dirinya tersentak pada saat Fusun memanggil namanya.


Sebuah panggilan masuk terlihat diponselnya yang ada didalam genggaman Aiyla. Baru saja telpon itu berhenti dalam panggilan. Kini Gul memberikan panggilan balasan.


"Aiyla... Maaf aku tak mendengar baru selesai dari kamar mandi," ucap sahabatnya itu dengan nada terdengar bersalah.


Setelah mengetahui sahabatnya itu berada dikediamanya, maka Aiyla segera melangkahkan kaki dengan cepat pada saat telah keluar dari mobil taxi.


Menaiki lift dan menekan tombol yang ada disamping pintu sebelah kanan menuju lantai dari apartemantnya, tempat sahabatnya itu tinggal.


"Hai... Aku kangen dengan mu La, " ucap Gul dengan memeluk erat sahabatnya yang telah berdiri dihadapannya itu.


Gul begitu penasaran dengan perjalanan bisnis Aiyla kedaerah itu dalam waktu lama. Dengan memasang wajah lelah Aiyla masih bisa menceritakan semua pada sahabatnya itu.


"Semua berjalan sesuai harapan ku, semoga perusahaan kami berkembang dan mampu berjalan beriringan dengan perusahan besar," ucap Aiyla dengan wajah .

__ADS_1


Sangking banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Gul, membuat Aiyla lupa mempertanyakan tentang surat kabar yang dibacanya


"Sudag hampir setengah bulan Tuan Ergin tak masuk kantor, baru saja sebulan perusahaan itu ditinggalkan Ergin, seperti kehilangan sosok yang menjadi panutan dalsm mengambil segala keputusan dan kebijaksanaan," ucap Gul dengan raut wajah sedih.


Selama itu Ergin tak masuk kantor, sepertinya dihati laki-laki itu perusahan tak lagi menjadi prioritasnya. Ada rasa tertusuk dihatinya ketika mendengar perkataan dari Gul.


"Aiyla...Bagaimana dengan hubungan mu dengan Ergin?" Tanya Gul dengan wajah serius.


Betapa terkejut Aiyla tiba-tiba saja sahabatnya itu menanyakan hubungan mereka berdua. Aiyla bingung mau memulainya dari mana, karena ia sendiri tak yakin akan kelanjutan hubungan mereka berdua.


"Tuan Murad mengatakan bahwa Ergin akan memberikan sepenuhnya kepemimpinan perusahaan padanya, tentu saja itu membuat keterkejutan dan kepanikan Murad. Berusaha membujuk Ergin agar tak benar-benar resign dari perusahaan," cerita Gul dengan suara pelan.


Aiyla tertegun mendengar cerita yang disampaikannya sahabatnya itu. Lelaki itu benar-benar memiliki tekad untuk meninggalkan semua yang dimilikinya selama ini.


"La... Tuan Ergin adalah pemimpin yang membuat perusahaan itu maju dan berkembang tidak saja dikenal didalam negeri namun juga diluar negeri," ungkap Gul dengan wajah kesal.


Wanita disamping Aiyla terkejut ketika Aiyla menceritakan hubungan mereka yang tak dalam keadaan baik-baik saja. Gul menatap dalam masuk kemata Aiyla meminta kepastian dari sahabatnya itu.


"Apa penyebabnya?" Tanya Gul penuh dengan rasa penasaran.


Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut wanita itu, mereka berdua hening sejenak. Aiyla berusaha mengontrol emosi dan perasaannya dengan cara menarik nafas panjang lalu dikeluarkan secara perlahan berulang-ulang kali.


"Aku yakin telah terjadi sesuatu yang besar sehingga Tuan Ergin memgundurkan diri dengan tiba-tiba," ucap Gul dengan mencari alasan tepat dari yang baru diucapkannya.


Wajah Aiyla yang lelah kini bertambah cemas, bahwa dirinya adalah salah satu faktor berhenti Ergin.


"Semua karena aku !!!" Ucap singkat Aiyla.


Gul bertambah bingung dengan apa yang barusan dikatakan oleh wanita yang menjadi sahabatnya itu. Tak ada penyebab yang dapat masuk didalam akal pikiran Gul akan hubungan orangtua Ergin rusak karena asmara dari putranya.


"Baiklah...Aku rasa setelah mendengar cerita dari mu, aku yakin telah terjadi salah paham pada kalian berdua," ucap Gul dengan wajah penuh kesungguhan.


Aiyla tersentak dengan ucapan sahabatnya itu, dirinya tak melihat bahwa ada kesalah pahamannya diantara mereka berdua.

__ADS_1


Gul melihat bahwa Aiyla sedang menahan rasa perih dihatinya. Bulir bening diwajahnya keluar tak tertahankan lagi.


Terdengar suara dering dari nada ponselnya Aiyla. Fusun kembali menelpon Aiyla dengan menanyakan padanya tentang putranya yang tak ingin pulang dari tempat lelaki bermata biru.


__ADS_2