Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 9


__ADS_3

Ditunggu kerjasamanya Reader...πŸ˜‰


Jangan menikmatinya dengan kesendirian...πŸ˜€


Berbagilah dengan like, vote and comment pada tulisan Author ini😘😘


Bagi yang telah memberikan dukungannya Author haturkan terima kasihπŸ™πŸ™


Jom lanjut.... Ngebaca...


🐝🐝🐝


"Gul, setelah makan siang ini aku akan minta izin untuk tidak masuk kekantor lagi, kalau-kalau bos bertanya akan keberadaan ku, " Ucap Aiyla dengan tatapan matanya yang sendu.


Gul yang lagi asik memandang laptop jadi terhenti setelah mendengar perkataan sahabatnya


Setelah satu pekan terjadinya kecelakan yang menimpa Aiyla, terlihat perubahan sikap pada sahabatnya itu. Aiyla semakin tertutup, dan Gul yakin ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


"Aiyla ada apa? Kau mau kemana?" Tanya sahabatnya itu dengan nada penasaran bercampur khawatir.


Gul menatap dalam wajah wanita yang ada dihadapannya, seakan memberikan isyarat bahwa dirinya dapat diandalkan.


Mata Aiyla mengerti akan besarnya simpati yang diberikan pada dirinya, namun lidahnya keluh tak dapat mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.


Bulir bening yang jatuh tanpa bisa Aiyla tahan menandakan bahwa dirinya memang ada suatu masalah lain yang sedang menerpa.


Gul tak ingin memaksa sahabatnya itu untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, dirinya paham bahwa pusat pikiran Aiyla adalah kesembuhan putranya dan ia telah mengetahui itu.


Pasti ada sesuatu hal yang teramat penting yang harus Aiyla selesaikan secepat mungkin, kalau tidak karena hal yang penting Aiyla tidak pernah meminta izin untuk pulang sebelum waktunya.


Sesibuk dan secapeknya Aiyla dapat mengatur dan membagi waktu, bagaimana saat bekerja dan saat menjaga serta menemani putranya dirumah sakit.

__ADS_1


"Pergilah Aiyla... Urusan kantor dan bos biar aku yang handle, " Ucap Gul seraya menggenggam erat kedua tangan sahabatnya itu.


Seakan ada aliran yang masuk disekujur tubuhnya, sebuah rasa yang tak dapat diungkapkan namun dapat dirasakannya.


Bahwa dirinya mendapatkan dukungan penuh dari sahabatnya itu untuk terus tetap semangat menghadapi segala terpaan ujian didalam kehidupan ini


"Terima kasih untuk semua sahabat ku, aku pergi dulu," balas Aiyla seraya berlalu pergi dengan menghapus bulir bening yang telah membasahi pipi


Pandangan mata Gul tak lepas dari kepergian sahabatnya itu, rasa sedih terasa sekali dihatinya. Gul yakin bahwa Aiyla adalah wanita yang tegar dan mampu untuk menghadapi segala dugaan yang Tuhan berikan didalam hidup ini.


Berjalan seraya menundukkan kepala dan berusaha untuk tidak menatap pegawai yang menyapa dirinya pada saat berpapasan.


Secepatnya keluar dari kantor tempat dirinya bekerja. Tak ingin semua orang mengetahui kesedihan ataupun permasalahan yang sedang dihadapi Aiyla.


Tidak semua orang memberikan respon yang baik atas apa yang terjadi didalam kehidupan kita dan turut merasakan kesedihan itu tanpa ada rasa mengasihani.


Bahkan akan ada sebagian yang mengganggap remeh dan merasa senang jika kita terpuruk dan hancur. Seakan menikmati penderitaan yang sedang terjadi dan merasakan kebahagiaan atas penderitaan orang lain


Itu semua tak diharapkan Aiyla, biarlah ia simpan dan pendam sendiri. Semakin sedikit orang mengetahui beban berat yang sedang dihadapi maka itu akan semakin baik pula untuk dirinya dan permata hatinya.


Tubuhnya saja yang ada namun pikirannya tidak pada tempatnya. Suara klakson bus menyadarkan lamunannya.


Beruntung dirinya terkejut mendengar klakson, dan tak melewati bus yang tengah ada tepat dipemberhentian. Bergegas dirinya naik kedalam bus dan memberikan tiket masuk.


Ditatapnya kearah kaca bus yang terletak disamping kiri, tempat duduknya itu dengan pikiran melayang tak tentu arah kembali


"Nyonya...Nyonya". Sapa seseorang yang terdengar ditelinga memanggil dirinya seraya memegang pundaknya.


Aiyla mencari kearah sumber suara tersebut, dan ternyata seorang pria yang duduk disebelah kanan kursinya.


Lelaki itu memberitahu sesuatu dengan tatapan matanya tanpa berbicara lagi. Matanya melirik memberikan isyarat kearah bawah tepat dibawah kursinya.

__ADS_1


Ternyata file yang dibawa dari kantor kini telah berserakan dibawah tempat duduk nya. Aiyla sengaja membawa pekerjaanya kerumah karena hari ini dia keluar lebih awal dari biasanya.


Tak ingin yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya dikantor terbelengkalai karena sibuk mengurus putranya, sebisa mungkin dirinya dapat menyelesaikan pekerjaan seperti pegawai lain yang tepat waktu.


"Oh... Ya Tuhan, terima kasih Tuan," Balas Aiyla dengan senyum tipis membingkai paras cantiknya seraya mengambil berkas yang berserakan.


Lelaki itu tersenyum kembali dengan melihat respon yang diberikan wanita disebelahnya atas apa yang barusan lelaki itu lakukan. Menyelamatkan file wanita yang berserakkan dibawah kursi wanita tersebut


Akhirnya bus berhenti tepat didepan rumah sakit, yang tak terhitung lagi Aiyla harus bolak-balik kesini. Dengan sebuah harapan dan semangat yang terus dipupuknya melangkahkan kaki memasuki rumah sakit tersebut


Dokter Ahmed telah membuat janji diruangan kerjanya, meminta Aiyla untuk bertemu disana melalui pesan singkat yang dikirim pagi tadi.


Ada gemuruh didalam dada Aiyla pada saat mengetuk pintu ruangan dokter Ahmed. Terdengar suara dari dalam memintanya untuk segera masuk


Dibuka pintu itu secara perlahan dan menatap kesegala penjuru yang ada didalam ruangan kerja itu. Terlihat lelaki paruh baya yang tengah menatap dan dihadapan dokter itu duduk seorang wanita yang tak terlihat wajahnya.


Posisi wanita itu yang membelakangi Aiyla, terlihat wanita itu menoleh melihat Aiyla berjalan memasuki ruangan tersebut.


"Selamat datang Aiyla... Perkenalkan ini Nyonya Fusun yang akan menjadi pendonor putra anda, " Ungkap dokter Ahmed langsung to the poin dengan kedatangan Aiyla.


Aiyla mengulurkan tangannya lalu memeluk tubuh wanita itu sangking rasa bahagia dan rasa berterima kasihnya terhadap wanita yang belum dikenalnya sama sekali itu.


Ungkapan rasa bahagia bisa bertemu terlihat jelas dimata Aiyla pada wanita yang ada dihadapannya itu. Aiyla meminta untuk berbicara ditempat lain dan dokter Ahmed menyetujuinya.


Dirinya ingin lebih dekat dan mengenal dengan sosok wanita yang telah memberikan kesempatan dan harapan besar terhadap kesembuhan putranya


Aiyla memilih sebuah tempat duduk yang ada ditaman rumah sakit yang biasa tempat Aiyla menyendiri setelah melihat Azzam


Pertemuannya dengan wanita ini tak ingin diketahui oleh orang, apalagi yang akan dibicarakan mereka berdua nantinya


"Terima kasih nyonya Fusun telah memberikan harapan yang telah lama aku tunggu, aku tak dapat berkata lebih banyak terhadap anda. Pertemuan ini seperti mata air ditanah yang tandus. Sebuah harapan akan kesembuhan putraku, aku tak ingin kehilangan penyemangat hidupku satu-satunya didunia ini," Ungkap Aiyla seraya berderai air mata.

__ADS_1


Air mata Kebahagian dan kesedihan tercampur menjadi satu. Tak berbeda jauh dengan wanita dihadapanya, wanita itupun turut mengeluarkan air matanya seakan turut merasakan kesedihan yang sama.


Kedua tangan mereka saling menggenggam erat, seperti memberikan kekuatan satu sama lain. Aiyla merasakan hal yang sama, bahwa wanita yang sekarang dalam pelukannya itu juga memiliki ujian hidup yang teramat berat


__ADS_2