Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 138


__ADS_3

Hai... Hai... Hai... ๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Salam hangat dan manis teruntuk Reader setia dan tercinta ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ yang selalu memberikan dukungan dan semangat melalui jejaknya ๐Ÿ˜‰


Seperti biasa tekan ๐Ÿ‘setiap habis ngebaca, tekan ๐Ÿ’™ untuk dapat notis up perharinya, ๐ŸŒŸ untuk retingnya, hadiah๐ŸŽbuat Author, dan terakhir tekan Vote ๐Ÿ’ฏ untuk sumbangsi Reader terhadap tulisan Author.


Jom lanjuuut ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


โ™ฅHappy Readingโ™ฅ


๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Sayang... Anak lelaki ini sedang dalam mimpi indah saja... Kau jangan khawatir."


Ucap laki-laki itu santai seraya mendekati Aiyla dengan matanya yang penuh gairah menatapnya dan terselip juga amarah.


Lelaki itu mengoceh tentang hubungan Aiyla dengan Ali dan kemudian hubungannya dengan Ergin. Kemudian lelaki itu tertawa terbahak-bahak dengan sorot mata berkaca-kaca setelah berkata dengan panjang lebar.


Aiyla tak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan laki-laki itu dari ocehan yang keluar dari mulutnya.


"Kau... Tahu!!! Aku lebih dahulu menyukai mu dari mereka berdua!!!"


Teriakkannya terdengar kembali dengan mata menatap kearah yang berbeda. Sejenak tatapan mata laki-laki itu kosong seakan larut kembali kemasa lalu.


Kemudian terdengar kembali suara laki-laki itu berkata tanpa menatap kearah Aiyla. Dirinya seakan mengulang kembali kejadian dimasa lalu terlihat jelas diraut wajahnya.


"Saat itu...Kita bertemu disebuah cafe... Kau bersama teman-teman mu. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, entah apa sebabnya semenjak itu aku sangat tertarik pada mu sehingga selalu mengikuti mu!."


Lelaki itu dengan mata berkaca-kaca lalu menatap Aiyla. Kemudian ada raut kesedihan dan rasa sakit hati terlihat jelas diwajahnya.


Seraya memberikan beberapa photo dimasa lalu tentang semua aktivitas Aiyla disaat kuliah, kumpul bersama teman bahkan pada saat ia bersama Ali.


Sungguh benar apa yang telah disampaikan laki-laki dihadapan Aiyla. Hampir semua rutinitas dimasa lalunya terlihat pada photo yang diberikan pada Aiyla.


Wajar pada saat itu selalu ada yang mengirim buket bunga disetiap minggu tanpa ada nama pengirimnya. Namun buket itu terhenti setelah Aiyla dekat dengan Ali.


Awalnya Aiyla berpikir hanya seseorang yang iseng atau seseorang pengagum rahasia saja. Buktinya setelah lebih kurang tiga bulan buket bunga itu tidak lagi diterima oleh Aiyla.

__ADS_1


Tidak ada prasangka sejauh ini karena kejadian tersebut sudah puluhan tahun. Lelaki ini masih memendam rasa terhadap Aiyla.


"Kau ingat bunga mawar yang selalu ku kirim itu adalah pertanda cinta ku pada mu, aku belum berani mencantumkan nama ku dibuket bunga itu."


Ucapnya lirih setelah tertawa dengan kerasnya. Lelaki ini begitu tersiksa dengan cinta yang belum sempat diutarakan namun harus kandas ditengah jalan.


"Aku tidak tahu... Lagian itu adalah masa lalu. Sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kau dengan istri dan anak-anak mu. Begitu juga dengan kehidupan ku. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama, hanya ditakdirkan memiliki hubungan sebagai seorang adik ipar tidak lebih dari itu."


Balas Aiyla dengan mencoba masuk kedalam hati Akshal. Entah apa yang merasuki laki-laki itu, sehingga tak dapat berpikir dengan jernih.


"Apa... Aku ingin lebih dari itu. Aku sudah berusaha menyingkirkan Ali!!! Tapi sekarang akan ku singkirkan Ergin."


Terdengar suara Akhsal dengan nada keras kembali. Ergin yang sedari tadi telah menguping pembicaraan mereka berdua berusaha menahan emosi dan amarahnya.


"Brengsek...Istri ku dibentak laki-laki itu!! Aku saja tak pernah berbuat seperti itu padanya, apalagi sekarang istri ku sedang hamil. Tunggu ku cari peluang untuk menyumbat mulut mu itu!!! "


Umpat Ergin dengan kepalan tinju ditangannya.


Dilihatnya kedalam melalui sebuah celah yang ada diruang tersebut. Ergin mulai bergerak dan telah memberitahukan aba-aba sebelumnya pada Buraq.


Asisten pribadinya menjalankan perintah atasannya, kini bersama dengan beberapa pengawal pribadi Ergin menyusuri bekas gudang pabrik sepatu tersebut.


Kata-kata yang keluar dari mulut Akhsal membuat Aiyla teringat kembali. Sebuah praduga dari kepolisian bahwa kecelakaan Ali tidaklah murni. Ada unsur kesengajaan didalam kecelakaan tragis yang menimpa suami Aiyla.


Namun kasus itu ditutup karena kurangnya bukti dan saksi-saksi yang mengarahkan pada seseorang yang sengaja membuat rem pada kendaraan yang dikendarai Ali menjadi lost.


"Ya...Kau mau tahu? Bahwa sesungguhnya itu adalah pekerjaan ku. "


Dengan suara keras Akhsal kembali tertawa puas merasa tak bersalah sama sekali akan apa yang telah terjadi pada saudara laki-lakinya.


Akhsal sedari dulu memang merasa dirinya tidak mendapatkan rasa kasih sayang dan keadilan dikeluarga besar Othman. Namun itu hanya perasaan Akhsal saja.


Keluarga Tuan Mustafa adalah keluarga yang tidak mungkin berlaku tidak adil antara anak kandung dan ponakan.


Akhsal memiliki tempramen yang labil sehingga terkesan mudah tersulut amarahnya bahkan menjadi berlebih ketika sakit hati dan merasa terbakar didalam dadanya.


"Akhsal kau kejam sekaligus keji, Ali adalah saudara mu walau bagaimanapun ia adalah sepupu bagi mu."

__ADS_1


Aiyla refleks berlari dan memukul tubuh Akhsal sekuat-kuatnya dengan rasa kesal bercampur amarah. Akhsal tidak merespon hanya membiarkan saja Aiyla melampiaskan apa yang ada dihatinya.


Lelaki itu memang sangat mencintai Aiyla terlihat disorot matanya, setelah puas dipukul dengan menggunakan kedua tangan tepat didada Akhsal. Ia meraih kedua tangan Aiyla dan menatap dalam kemanik coklat yang dimiliki Aiyla.


"Sayang... Mengapa kau tak mencintai ku? Aku bisa memberikan lebih dari pada mereka berdua bahkan nyawapun aku sanggup melakukannya."


Terdengar suara lirih dengan mata berkaca-kaca, laki-laki ini memang memiliki temperamen yang labil.


Tadi terlihat gairah seorang laki-laki yang hendak menerkam Aiyla, kemudian berubah menjadi sangat mengerikan disaat terbakar api amarah dan cemburu. Namun kini terlihat sangat menyedihkan terselip kepedihan dan kesedihan yang mendalam dimatanya.


"Akhsal...Aku tak tahu kau mencintai ku sedalam ini. Jika aku tahu bisa saja aku jatuh cinta pada mu. Sekarang Aku mohon lepaskan putra ku, apa yang telah kau lakukan padanya. Lihatlah dia Akhsal."


Dengan suara lembut Aiyla mencoba meluluhkan hati laki-laki dihadapannya itu. Akhsal mulai melepaskan gengaman tepat dipergelangan tangannya.


"Aku hanya membiusnya, dia akan bangun setelah biusnya habis. Kau perlu khawatir sayang, sekarang kau bisa menerima ku menjadi suami mu kan? "


Terdengar tak masuk diakal atas ucapan yang keluar dari mulut Akhsal, terlihat sekali mental laki-laki itu tak stabil. Akhsal seperti orang yang mengalami ganguan jiwa.


"Sayang... Ku mohon, putra ku terlihat tak berdaya disana. Kita bawa ia kerumah sakit untuk memastikannya. Setelah itu aku akan ikuti semua perkataan mu."


laki-laki yang mengantarkan Aiyla diawal memasuki gudang itu mengikuti perkataan Akhsal, ia menggendong putra Aiyla berjalan keluar ruangan yang ada digudang bekas pabrik sepatu tersebut.


Ergin yang sedari tadi menunggu Akhsal mengambil kesempatan sebelum mereka berangkat membawa Aiyla dan putranya.


"Lepaskan istri ku!! "


Tiba-tiba terdengar suara Ergin seraya menodongkan senjata kearah Akhsal. Begitu juga Akhsal menodongkan sejatanya kearah Ergin.


Aiyla yang melihat mereka berdua saling mengarahkan senjatanya masing-masing membuat wajahnya pucat dan panik.



Akhsalpun refleks langsung meraih tubuh Aiyla yang berada disampingnya. Menodongkan senjata dikepala Aiyla karena panik.



"Lepaskan senjata mu, atau ku ledakkan kepala istrimu ini! "

__ADS_1


Teriak keras Akhsal dengan ancaman yang tidak main-main pada Ergin. Aiyla melirik menatap suaminya untuk mengikuti isyarat yang diberikan oleh dirinya.


__ADS_2