Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 84


__ADS_3

Duuuh Sibabang Ergin main bawa Sineng aja yaaa....Kira-kira Aiyla dibawa kemana ya?๐Ÿ˜Š


Tulis dikolom komentar yaaa๐Ÿ‘‡


Don't forget to like, love, vote and star rate 5 ๐Ÿ˜


๐ŸŒธHappy Reading๐ŸŒธ


Jom Lanjuuut... ๐Ÿ”œ


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Deru mobil membawa Aiyla melintasi sepanjang jalan pohon pinus. Dari kaca mobil Aiyla melihat daerah yang hijau dan begitu asri.


Mereka berdua sedang berada jauh diluar kota dengan daerah yang belum pernah Aiyla ketahui.


Mobil memasuki sebuah jalan dengan kiri kanan jalan terdapat rumah penduduk yang masih tradisional.


Berhenti pada sebuah rumah berbahan kayu yang terkesan unik. Rumah itu memiliki taman bunga yang ada didalam perkaranganya.


Aiyla semakin penasaran sedang berada dimana dan akan bertemu dengan siapa. Lelaki itu tak berbunyi hanya meminta Aiyla untuk. mengikut dirinya saja.


"Permisi...Permisi... Permisi..." Teriak Ergin dengan mengetuk sebuah benda yang melingkar terbuat seperti gagang dari besi yang terpaku pada dinding pintu.


Cukup lama Aiyla dan Ergin berdiri didepan pintu namun tak terdengar penghuni rumah ada didalam rumah unik tersebut.


Terjadi perubahan diwajah Ergin yang semula antusias dan terlihat secercah kebahagian diparas tampannya kini berubah kecewa dan terlihat sedih.


Pada saat mereka membalikkan tubuh terdengar pintu rumah tersebut terbuka. Seorang lelaki paruh baya dengan tatapan penasaran akan kehadiran mereka berdua.


Dengan ramah dan sopan meminta Aiyla dan Ergin masuk kedalam rumah. Mata biru lelaki itu memperhatikan kesekeliling ruang tamu.

__ADS_1


Matanya tertuju pada sebuah bingkai photo yang terletak diatas nakas tak jauh darinya. Ergin berdiri dan mengambil bingkai photo tersebut.


"Maaf Tuan dan Nyonya ini siapa? Ada keperluan apa jauh-jauh datang kerumah saya?" Ucap Lelaki paruh baya dengan wajah penasaran.


Ergin meletakkan kembali photo pada tempat semula dan kembali duduk. Aiyla tak bisa berkata karena dia sendiripun tak mengerti mengapa diajak menemui lelaki dihadapannya itu.


"Perkenalkan nama saya Ergin Ozturk, saya datang kemari untuk mendengar cerita dimasa lalu tentang lelaki yang ada didalam photo tersebut," ungkap Ergin dengan wajah serius seraya menunjuk bingkai photo yang tadi dipegangnya.


Lelaki itu terlihat tersenyum bahagia menatap Ergin begitu dalam sehingga bulir bening mengalir diujung matanya.


Terlintas kisah masa muda lelaki paruh baya itu dengan seseorang yang ada didalam photo tersebut. Photo dua orang lelaki dimasa muda dengan latar belakang sebuah tempat yang tak asing dikota X. Sebuah tempat yang terletak dijantung kota, ya sebuah taman kota yang terkenal bahkan sampai saat ini masih ada.


"Itu diambil sewaktu kami pulang dari kerja, kebiasaan kami berdua duduk ditaman itu dan pada saat itu ada tukang photo keliling dan entah mengapa kami berdua ingin mengabadikan moment pertemuan sore itu, " ungkap lelaki paruh baya masih dengan raut sedih.


Aiyla semakin penasaran dan menyimak betul cerita yang dikeluarkan dari masa lalu lelaki dihadapannya.


"Sudah lebih dari 30 tahun silam tapi moment disore itu membekas sekali diingatan ku," ucap lelaki itu berusaha menghapus air matanya.


Ergin larut dalam kenangan yang disampaikan lelaki yang merupakan sahabat dekat ayahnya. Ergin merasa sekan ayahnya hadir saat ini melalui lelaki yang ada dihadapannya.


Bulir bening kerinduan Ergin pada ayahnya telah keluar dari sudut matanya yang telah memerah menahan tangis sedari tadi.


"Habis pertemuan tersebut aku tak pernah bertemu dengan ayah mu dan terakhir ku ketahui bahwa ayah mu mendadak terkena serangan jantung yang mengakibatkan beliau meninggal dunia," ungkap lelaki itu yang tak tahan meneteskan bulir bening diujung matanya kembali.


Aiylapun larut dalam cerita sedih yang mengalir dari mulut laki-laki itu. Sedangkan Ergin pada saat kejadian ayahnya meninggal baru berusia sekitar 4 tahun.


Ergin tak begitu tahu penyebab meninggal ayahnya karena usianya yang sangat muda. Dirinya mengetahui setelah dewasa, ibu Murad memberitahukan bahwa ayahnya meninggal karena mendadak mendapatkan serangan jantung saat itu.


Cerita lelaki ini sama persis dari yang diceritakan oleh ibu Murad. Namun Nyonya Esma tak pernah berbicara tentang kematian suaminya.


"Apakah anda tahu siapa wanita yang dekat dengan ayah ku saat itu? " Ucap Ergin dengan nada pelan dan penuh tanda tanya diwajahnya.

__ADS_1


Aiyla dan lelaki paruh baya dihadapan Ergin terkejut. Mereka berdua sama-sama memasang wajah terkejut dan tak menduga pertanyaan yang keluar dari mulut Ergin.


"Apa yang dimaksud dengan wanita yang dekat? " batin Aiyla bertanya-tanya dihatinya.


Ada rasa berat dihatinya disaat ujung lidahnya ingin menceritakan apa yang diketahui olehnya. Ergin dan Aiyla menunggu penjelasan dari lelaki paruh baya tersebut dengan gemuruh didada.


Lelaki itu menatap dalam kearah Ergin tanpa mengeluarkan suaranya. Berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju nakas yang terdapat photo dirinya dengan ayah Ergin.


Cukup lama lelaki itu menatap photo yang sekarang ada ditangannya. Berusaha mengusap bulir bening yang jatuh membasahi wajahnya.


"Aku tak begitu mengenal wanita itu, aku hanya mengenal dari cerita ayah mu. Bahwa ia telah memiliki anak dari seorang wanita yang sangat dicintainya... Ya pertemuan ku sore itu ditaman itu. Wanita itu bernama Elif, dia adalah wanita yang telah membuat ayah mu tertarik dan bahkan jatuh cinta padanya," ungkap Lelaki itu.


Ergin berdiri lalu mendekati lelaki yang ada dihadapannya. Sedangkan Aiyla bagai disambar petir mendengar perkataan yang terucap dari lelaki itu.


"Nyonya Esma bukan ibu kandung Ergin, berarti apa yang disampaikan oleh Murad padanya tempo itu adalah benar. Ergin resign dari perusahan besar itu bukan karena dirinya melainkan karena masalah internal keluarga dan Inilah penyebabnya," besit Aiyla didalam hati.


Aiyla memandang lelaki berdua yang sedang berdiri dihadapannya itu. Ada rasa bersalah dihatinya telah terjadi kesalahpahaman dengan lelaki bermata biru itu. Sahabatnya Gul benar pada saat Aiyla menceritakan petengkaran diantara mereka berdua pagi itu.


Gul meminta Aiyla untuk memikirkan kesalahpahaman yang terjadi padanya. Namun karena keegoisan dirinya dan prasangka buruknya menyebabkan kesalahpahaman berlarut dan menjauhkan dirinya dengan lelaki yang ada dihadapannya itu.


"Apakah anda tahu dimana wanita itu atau masih adakah ia didunia ini? " Tanya Ergin seperti seorang anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada orangtuanya.


Lelaki itu menatap Ergin dengan kedua tangannya dipundak Ergin. Dari isyarat matanya lelaki itu tidak memiliki jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Ergin padanya.


"Tolong anda ingat-ingat kembali, mungkin saja ada petunjuk keberadaan wanita yang anda maksud itu," ucap Ergin dengan matanya yang mengharapkan sesuatu yang lebih dari lelaki dihadapannya itu.


Masih dengan isyarat matanya memberikan jawaban yang sama bahwa lelaki itu tak dapat memberikan informasi lebih dalam tentang ibu kandungnya.


Saat ini Ergin hanya mengetahui bahwa ibu kandungnya bernama Elif tanpa tahu nama keluarga dan keberadaan dari ibu kandungnya itu saat ini.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pamit dari rumah unik bergaya tradisional itu. Ergin dengan setitik harapan melangkah keluar dari ruang tamu diikuti oleh Aiyla, walaupun Ergin tak mengetahui seperti apa wajah ibu kandungnya.

__ADS_1


Pada saat mereka meninggalkan halaman rumah lelaki paruh baya tersebut langkah mereka terhenti dengan kata yang didengar ditelinga mereka.


Sontak mereka membalikkan tubuh secara bersamaan. Ada secercah harapan dihati Ergin dan begitu juga Aiyla.


__ADS_2