Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 161


__ADS_3

Author butuh suplement nih πŸ’ͺπŸ’ͺbiar tambah semangat πŸ‘ŒπŸ‘Œdengan cara klikπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Jom lanjuuut ngebaca πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’₯Happy ReadingπŸ’₯


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Gul dan Murad telah bersiap akan pergi ketempat kedua orangtuanya. Sebelum kerumah orangtua Gul, mereka berdua memutuskan untuk meminta restu dari Nyonya Syukran terlebih dahulu.


Murad berniat akan mengajak ibunya untuk turut serta pergi kerumah orangtua Gul.


Malam ini dengan *long*dress berwana hitam Gul telah siap bertemu dengan ibu kandung Murad.


Murad telah memangkas rambutnya dan merapikan janggutnya kali ini. Terlihat lebih segar dan lebih rapi daripada diawal pertemuan mereka.



Dalam perbincangan yang terjadi diantara mereka bertiga, Nyonya Syukran menyetujui niat mereka untuk segera menikah.


Awalnya wanita itu meminta pada Gul untuk tidak lagi meninggalkan putranya. Berusaha untuk memperjuangkan cintanya jika memang benar-benar memcintai putranya.


Wanita paruh baya itu sungguh sangat senang kalau dia telah menjadi seorang nenek. Dilec sangat diterima dikeluarga Murad.


Awalnya Nyonya Syukran masih ragu untuk merestui niat baik mereka berdua karena melihat Gul yang dengan mudah meninggalkan putranya.


Nyonya Syukran tak ingin putranya terlalu patah hati dan merusak kehidupannya sendiri lantaran seorang wanita. Tapi setelah wanita paruh baya itu melihat anak perempuan yang terlihat mirip sekali dengan putranya.


Hati wanita itu luluh melihat senyum manis dan menggemaskan putri dari Gul dan Murad.


"Nyonya...Maaf telah membuat anda kecewa selama ini. Aku tak ingin berbuat demikian namun keadaan ku yang mengharuskan aku pergi meninggalkan putra mu. Tapi aku berjanji pada mu ini adalah yang terakhir kali, aku akan berusaha mempertahankan apa yang menjadi milik ku."


Ungkap Gul dengan suara pelan dan penuh kesungguhan. Nyonya Syukran sangat senang mendengar perkataan dari bakal menantunya itu.


Ditambahkan dengan cucu yang diberikan padanya saat ini. Gul menceritakan bagaimana ia dan putrinya berjuang untuk hidup berdua didaerah yang asing.

__ADS_1


"Aku bangga pada mu, mempertahankan garis keturunan kami seorang diri. Jangan panggil aku Nyonya. Sekarang kau dan Dilec telah menjadi bagian dari keluarga ini, cukup panggil aku dengan sapaan ibu."


Ungkap Nyonya Syukran seraya memeluk tubuh Gul dengan erat. Hati kedua wanita ini sungguh bahagia. Gul merasa mimpi dapat dipeluk oleh ibunya Murad.


Gul sadar karena ia bukanlah seorang anak yang lahir dari keluarga yang berada. Namun sepertinya Nyonya Syukran tidak melihat status sosial seseorang. Wanita itu hanya menginginkan putranya berbahagia dengan pilihannya.


"Gul... Jaga Murad jangan sampai ia dilirik oleh wanita lain. Kau harus pandai menjadi seorang istri dan pastikan tak ada wanita lain dihati putra ku."


Bisik wanita paruh baya itu seraya membelai lembut punggung Gul. Sentuhan wanita itu begitu lembut dan perkataan yang baru saja didengarnya adalah sebuah nasihat untuknya.


Murad adalah sosok yang tentunya tak lepas dari wanita yang dengan sengaja ingin mendekatinya. Sosok lelaki mapan dengan status sosial yang tinggi, tentu menjadi daya tarik dan daya pikat seseorang untuk dapat masuk menjadi bagian dalam kehidupan lelaki itu.


"Baiklah bu, aku akan berusaha mempertahankan cintaku dan membuat Murad tak dapat berpaling hati."


Dengan suara penuh kesungguhan Gul membisikan kembali kewanita paruh baya yang masih mengeratkan pelukannya.


"Ada apa... Kenapa kalian berbicara berbisik begitu? "


Ucap Murad setelah melihat ibu dan wanita yang sangat dicintainya berbicara dengan suara pelan. Murad mendengar pembicaraan mereka berdua tapi berpura-pura saja mempertanyakan kembali.


"Tenang ibu... Gul adalah satu-satunya wanita yang ada dihati putra mu ini. Telah banyak aku mengenal wanita namun dia sungguh berbeda dari kebanyakan wanita yang aku temui. "


Ucap Murad dengan merangkul pinggal Gul dan memberikan sentuhan mesrah tepat dipipi Gul.


"Baiklah...Ibu akan selalu berdoa agar hubungan kalian akan berbahagia seperti ini selamanya. "


Balas Nyonya Syukran yang kini telah menggendong cucu perempuannya itu.


Malam ini semua orang yang ada dikediaman Nyonya Syukran telah diliputi hati yang berbunga-bunga. Kehadiran putri kecil Gul dan Murad merubah suasana menjadi berbeda dimana dulu hanya ada keheningan dirumah ini.


"Cucu nenek harus tidur disini malam ini ya karena nenek ingin lebih mengenal mu sayang."


Murad dan Gul saling berpandang satu sama lain, melihat wanita paruh baya tersebut begitu antusias dengan kehadiran putri mereka.


"Baiklah ibu.. Besok kami akan pergi kerumah orangtua Gul. Ibu juga harus ikut bersama kami untuk melamar Gul pada kedua orangtuanya. "


Ungkap Murad dengan serius dimana tangannya masih merangkul pinggang Gul dalam posisi duduk berdampingan.


"Tentu saja aku akan ikut, oya aku berikan cincin ini sebagai tanda untuk meminang mu. Ini adalah cincin turun temurun dari keluarga Sharken untuk menantu didalam rumah ini. "


Balas Nyonya Syukran seraya menunjukkan sebuah cincin yang belum pernah dilihat oleh Gul. Begitu indah dan sangat mewah dengan sebuah batu permata berwarna merah maron.


Setelah selesai berbicara diruang makan dan lanjut diruang keluarga. Rumah sebesar ini hanya dihuni wanita paruh baya tersebut dengan beberapa asisten rumah tangga yang mengatur semua yang ada dirumah besar tersebut.


Dilec mendapatkan kasih sayang yang besar dari nenek, wanita itu tak melepaskan putri kecil mereka. Setelah puas bermain dan saatnya untuk Dilec tidur namun anak perempuan itu masih tak ingin tidur.

__ADS_1


Nyonya Syukran yang menyebabkan Dilec tak ingin tidur karena Nyonya Syukran menuruti saja semua kehendak dari cucunya tersebut.


Akhirnya wanita paruh baya tersebut merasa kelelahan juga mengikuti semua kehendak cucunya yang terus mengajak bermain.


"Ibu... Biarkanlah. Silahkan ibu beristirahat karena sudah larut. Biarkan Dilec bersama ku, aku yang akan mengajaknya tidur."


Ucap Murad pada ibunya karena melihat putrinya tak ingin juga tidur padahal sudah lewat dari jam biasanya tidur.


"Putri ayah sengaja ya...Buat nenek lelah... sudah waktu tidur masih mau main juga."


Ucap Murad sengaja mencubit lembut hidung putrinya. Dilec mengerti bahwa ayahnya berbicara padanya.


"Nen... Nek... Nenek...Nenek."


Satu kata keluar dari mulut putrinya, biasanya hanya sapaan ibu, ayah dan kata-kata saat hendak makan dan minum. Suara yang keluar dari mulut putrinya karena melihat Nyonya Syukran berjalan meninggalkan dirinya.


Nyonya Syukran tentu saja berbunga-bunga mendengar cucunya memanggil dirinya. Sebuah senyuman terukir diwajah wanita yang tak muda lagi. Mencium cucunya kembali baru memasuki kamar pribadi untuk beristirahat.


"Nenek sudah lelah, Dilec tidur dulu bersama ayah. Besok kita akan bermain kembali. "


Ungkap Nyonya Syukran seraya mengelus lembut puncak kepala cucu perempuannya itu.


Murad membawa putrinya kekamar pribadinya yang ada dirumah besar tersebut. Setelah membuka pintu secara perlahan terlihat Gul bingung melihat isi lemari yang ada didalam kamar tersebut.


"Ada apa sayang? Mengapa kau terdiam disana? Apa yang sedang kau cari? "


Ucap Murad seraya berdiri disamping wanita yang tak mengarahkan pandangan pada dirinya, masih pokus menatap isi dari lemari pakaian.


"Aku bingung.. Kita tidak ada rencana untuk menginap disini. Tidak mungkin aku tidur dengan menggunakan pakaian ini."


Balas Gul masih tak mengarahkan pandangannya pada Murad.


"Bersihkan saja tubuh mu, aku akan mencari pakaian yang cocok untuk mu, pakai handuk ini."


Ucap Murad dengan mengulurkan tangannya yang telah memegang sebuah handuk.


"Baiklah kalau begitu."


Balas singkat Gul seraya berlalu dari hadapan Murad. Namun langkahnya terhenti setelah lelaki itu berkata : "Apakah kau tak meminta bantuan ku untuk melepaskan bagian belakang baju itu?"


Gul tersipu malu, walau bagaimanapun Gul masih belum terbiasa tinggal bersama Murad ditambah dengan tidur dirumah calon ibu mertuanya.


Dikehidupan kota untuk tinggal bersama sebelum memiliki hubungan yang sah adalah hal yang biasa saja. Tapi Gul tak pernah melakukannya, baru dengan Murad dirinya hidup bersama dalam satu atap.


Murad membantu melepaskan sleting pakaian yang memang sulit untuk Gul membuka sendiri pakaian tersebut tanpa bantuan. Sebelumnya Murad juga yang membatu memasangkannya, jadi wajar saja laki-laki itu menawar kembali bantuannya.

__ADS_1


__ADS_2